Sanubari

Sanubari
Kehidupan Yang Sempurna.



Malam minggu tiba, Sanu berdandan cantik dengan memakai dress warna merah yang panjangnya selutut. Dres itu pemberian Mira saat Sanu menghadiri pesta pernikahan Atmaja. Tidak Lupa Sanu juga memakai syal berwarna hijau pemberian Bari. Sanu terlihat cantik dan anggun dengan rambut tegerai indah.


Dara, Elfa dan Rina yang baru datang mematung melihat penampilan Sanu yang cantik.


"Sanu ... kamu cantik sekali," puji Rina.


Sanu tersenyum lebar mendapat pujian dari Rina.


"Kak Sanu mau kemana?" tanya Dara.


"Aku mau pergi dengan Kak Bari." Sanu sedikit mengibas rambutnya ke belakang.


"Kencan nie ceritanya," ucap Elfa.


Suara handphone berbunyi dari dalam tas gantung Sanu. Itu Bari, mengabarkan kalau dia sudah berada di bawah. Sanu segera menemui Bari.


"Hay, Kak?"


Bari mematung, mulutnya menganga saat melihat Sanu menuruni tangga. Bari terbelalak melihat paras Sanu yang cantik jika berdandan. Selama ini Sanu memang jarang merawat tubuhnya. Setiap keluar kost, dia selalu memakai celana dan kemeja dengan make up seadanya.


Bari merasa panas dingin melihat Sanu. Matanya tidak lepas melihat Sanu.


"Kak Bari ...." Sanu menjentikan jarinya di depan wajah Bari.


"A-ayo kita jalan," ucap Bari terpukau dengan Sanu.


Mereka berdua jalan berdampingan, Tangan Sanu dan Bari di sepanjang jalan saling bertautan. Kali ini Bari memakai mobil, terparkir di dekat terminal Pasar Minggu.


"Kamu cantik sekali, Sanu," ucap Bari memegang gemas dagu Sanu.


Sanu tersenyum mengucapkan terima kasih.


"Kita jalan-jalan dulu mengitari Ibu Kota."


Sanu mengangguk. "Terserah Kak Bari saja, Aku ikut kemanapun kamu pergi."


Bari tertawa riang, lalu nenghidupkan mesin mobilnya. Mereka berdua jalan-jalan mengelilngi Ibu Kota Sampai pukul sembilan malam. Sampai tibalah Bari mengajak ke salah satu Mall terkenal di Ibu Kota. Mereka berdua menaiki lift sampai ke lantai atas. Bari menutup mata Sanu dengan sebuah kain berwarna merah.


"Kita mau kemana Kak Bari?" tanya Sanu.


Bari tidak menjawab, diajaknya Sanu menaiki tangga sampai di rooftop. Bari membuka kain yang membungkus mata Sanu. Sebuah lampu warna-warni berbentuk love mengelilingi meja kursi serta karpet panjang yang siap membawa Sanu sampai ke meja kursi itu. Sanu terperanga menutup mulutnya.


"Indah sekali, Kak."


Bari memegang lembut telapak tangan Sanu, lalu berjalan di atas karpet merah duduk di meja kursi yang telah di siapkan. Mereka berdua duduk berhadapan.


Bari menepuk tangan memanggil seorang pelayan berbaju putih dengan suiter berwarna hitam. Pelayan itu segera menghidangkan steak dan minuman bersoda untuk Sanu dan Bari.


"Silahkan makan Tuan Putri," ucap Bari yang menjadikan Sanu putri semalam.


Sanu tersenyum haru melihat Bari yang begitu romantis.


Seorang pemusik membawa biola datang, menggesek alat musiknya memainkan nada melankolis yang membuat Suasana malam menjadi lebih romantis.


Bari mengajak Sanu berdansa, menari-nari menggunakan kaki lincahnya. Sanu terlihat Kaku, tapi dengan arahan Bari, Sanu mulai terbiasa. Musik terus mengalun, Sanu dan Bari menikmatinya.


Bari tiba-tiba berlutut di hadapan Sanu saat musik terhenti. Mengambil kotak cincin dari jasnya, lalu membukanya di hadapan Sanu.


"Sanu, maukah kamu menikah denganku," ucap Bari dengan bibir bergetar.


Sanu terharu menutup mulutnya dengan mata berkaca-kaca, tanpa ragu dia memganggukan kepala. Sanu sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Semenjak menjadi manager kehidupannya sempurna. Semua perih yang di alaminya di masa lalu seakan sirna. Bari melingkarkan cincin berlian itu ke jari manis Sanu. Bari kemudian berdiri memeluk erat Sanu. Mereka berpelukan cukup lama. tubuh Bari yang sejengkal lebih tinggi dari pada Sanu, membuat Sanu lebih nyaman bersandar di dada bidang Bari. Malam yang indah buat Sanu dan Bari.


Malam semakin larut. Bari mengajak Sanu pulang. Di sepanjang jalan Ibu Kota, Sanu tak henti bersandar di pundak Bari. Jalanan Ibu Kota agak lengang, mungkin karena busway dan kendaraan umum lainnya sedang berhenti beroperasi. Bari menyetir mobil dengan kecepatan sedang.


Tak berselang lama, mobil yang dikendarai Bari berhenti di terminal Pasar Minggu. Sanu dengan dengan sedikit malu mencium kening Bari, lalu turun dari mobil. Bari tersenyum sambil memegang kening bekas bibir Sanu. Melihat Sanu berjalan dari kaca jendela mobil yang terbuka.


Di kost, Dara sudah tertidur dengan pulas. Wajar saja ini sudah larut malan. Sanu segera memberisihkan badannya, lalu segera tidur sampai esok pagi.


Dara sudah bersiap untuk berangkat pitcing. Sanu yang masih mengantuk melihat Dara sedang berkaca di depan cermin.


"Pitcing dengan siapa, Dara?" tanya Sanu dengan suara parau.


"Sama Elfa sama Kak Rina?"


"Kak Sanu saja malas-malasan gitu menyuruh Dara semangat," protes Dara.


Percuma saja mata Sanu sudah terpejam.


Di rumah Mira Suganda, wajah Bari tampak cerah sehabis berolah raga. Susu dan Roti sudah ada di meja makan. Bari duduk sarapan bersama Mira.


"Bagaimana kencan kamu semalam?" tanya Mira.


"Sukses, Ma."


"Bagus, kapan kamu menikahi Sanu."


"Brian belum bertanya dengan Sanu, Ma."


"Kamu ini bagaimana? Harusnya kemarin malam kamu berunding dengan Sanu."


"Nanti deh, Ma? Kalau Brian ketemu dengan Sanu. Minggu ini jadwal kantor sibuk."


"Keadaan papa kamu bagaimana sekarang?" tanya Mira.


"Papa ada kemajuan, Ma."


"Syukurlah."


"Mama sudah tidak marah dengan papa?" tanya Bari penasaran.


"Mama tidak akan pernah bisa melupakan perbuatan papa kamu. Tapi mama mencoba memaafkannya. Demi anak Mama." Mira tersenyum penuh makna.


Bari terasa lega Mamanya mau mencoba membuka hati untuk memaafkan papanya.


Ali datang menyapa Mira dan Bari.


"Pagi sekali kamu datang kesini, Ali?"


Ali tersenyum.


"Makan dulu sini," ajak Bari.


"Tidak usah, aku sudah makan. Aku ingin bicara denganmu sebentar."


Bari mengajak Ali bicara di teras rumah sambil menikmati segelas susu hangat.


"Ada apa?"


"Ini tentang Glenca."


"Kenapa dengan Glenca? Apa dia berbuat macam-macam lagi?"


"Aku mulai curiga dengan kehamilannya."


"Maksud kamu?"


"Apa kamu tidak memperhatikan perutnya? Selama tiga bulan ini perutnya tidak ada perubahan. Dia bahkan tidak pernah ngidam layaknya orang hamil pada umumnya.


"Jangan-jangan dia menipu kita dengan memberitahukan surat kehamilan yang palsu." Bari tampak berpikir.


"Tidak ... aku sudah mengerti hasil tes nya. Dia benar-benar hamil," ucap Ali.


"Hasil bisa saja dimanipulasi."


Ali mengubah posisi duduknya menatap Bari. "Jangan-jangan dia menyewa dokter palsu untuk memanipulasi kehamilan."


"Glenca memang licik. Aku tidak heran dengan perbuatan itu," ucap Bari geram.


"Kita harus ke rumah pak Atmaja sekarang. Aku curiga Glenca punya rencana yang buruk untuk papamu." Ali mendesak Bari.


"Baik, ayo kita berangkat."


Mereka berangkat menggunakan mobilnya ali.


Bersambung ...