
Esok harinya, pengacara Atmaja hendak mengurus perceraian kliennya. Glenca dengan senyum sinis menahan langkah pengacara itu.
"Mau kemana anda?"
Pengacara yang bernama Ali itu tidak menjawab. Dia hanya menggelengkan kepalanya lalu melewati Glenca.
"Aku tau anda ingin mengurus surat perceraian, kan! Kamu tidak bisa melakukannya, karena aku sedang hamil!" teriak Glenca saat Ali berjalan membelakanginya.
Ali pun menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Glenca.
"Mana buktinya."
Glenca menunjukan tespect kehamilannya. Ali melihat tanda dua garis yang tertera di tespect itu. Ali mendengus kesal, dia kembali ke atas untuk memberikan Atmaja.
"Maaf, Pak. Kita tidak bisa mengajukan permohonan perceraian. Istri Bapak sedang hamil."
Atmaja hanya menggeleng kepalanya sambil meracau tidak jelas. Ali berusaha memahami gerakan Atmaja.
"Sepertinya Bapak sedang tidak nyaman, apa Bapak meragukan kehamilan istri Bapak."
Atmaja kembali meracau sambil mengangguk. Ali mulai memahami maksud kliennya itu. Atmaja lalu mengendikan kepalanya ke arah foto keluarga Atmaja yang tergeletak di atas kasur. Ali mengambil foto itu lalu memberikannya kepada Atmaja. Dengan tangan bergetar Atmaja menunjuk Wajah Bari.
"Itu anak Bapak?" tanya Ali.
Atmaja mengangguk sambil memutar-mutar jarinya ke foto Bari.
"Bapak menyuruh saya mencari anak Bapak."
Atmaja mengedipkan matanya kepada Ali.
"Baik, Pak. Akan saya lakukan." Ali segera berangkat mencari Bari.
Ali adalah pengacara muda berumur 30 tahun. Dia terkenal jujur dan suka membantu orang yang tertindas tanpa biaya sepeserpun. perawakannya tinggi, berkulit putih dengan janggut tipis di dagunya. Ali sudah tau keburukan Glenca dari Kampleng sewaktu dia disuruh Atmaja membuntuti Glenca.
Glenca masih menunggu di bawah tangga menatap Ali tajam.
"Pak Atmaja akan menunda proses perceraian ini, sampai tau siapa ayah di dalam kandunganmu itu," ucap Ali.
"Hey, pengacara bodoh. Kamu menuduhku selingkuh." Glenca menjadi naik pitam.
Ali tidak memperdulikan ocehannya Glenca, dia terus berjalan hingga ke halaman rumah masuk ke dalam mobilnya.
Glenca yang emosi berteriak keras mengutuk ucapan Ali. Mobil silver yang dikendarai Ali melaju melewati pagar rumah. Ali segera menuju kantor Mira Suganda untuk menemui Bari. Sekitar tiga puluh menit perjalanan Ali sudah sampai di depan kantor Mira Suganda. Ali masuk bertanya kepada receptionist hendak bertemu dengan Brian Atmaja/ Bari. Recepcionist menelpone Bari.
📞"Siang, Pak Brian. Ada yang ingin bertemu dengan Bapak. Katanya pengacara Pak Atmaja."
📞"Suruh menemui saya sekarang."
📞"Baik, Pak." sambungan berakhir.
"Bapak disuruh Pak Brian menemuinya sekarang. Mari saya antar ke ruangan Pak Brian."
Ali mengikuti receptionist itu.
Tok ...
Tok ...
Tok ...
"Masuk," ucap Bari.
Receotionist itu membuka pintu mempersilahkan Ali masuk. Ali tersenyum tipis melihat Bari, lalu mereka berjabat tangan.
"Silahkan duduk," ucap Bari.
Ali pun duduk di depan meja kerja Bari.
"Ada urusan apa anda kesini?" tanya Bari.
"Saya kesini atas amanat ayah anda."
Bari memicingkan matanya. "Ada apa dengan papa?"
"Pak Atmaja terkena stroke, dia menyuruh saya memanggil anda."
Bari membulatkan mata. "Apa! Bagaimana sekarang keadaannya."
"Baiklah, mari kita kerumah papa." Bari segera menuju di kediaman keluarga Atmaja.
Bari menaiki motor sportnya dengan kecepatan tinggi. Dia meninggalkan jauh mobil yang dipakai Ali.
Sesampainya di rumah Bari bertemu dengan Mbok yem.
"Den Brian." Mbok Yem terlihat sumringah saat melihat Bari.
"Papa dimana, Mbok?"
"Ada di kamarnya Den Bari yang dulu," jawab Mbok Yem.
Bari segera memasuki rumah menuju kamar atas. Atmaja yang lemah duduk di kursi roda dengan mulut mencong menatap samar Bari. Tatapan itu semakin jelas saat Bari mendekati papanya.
Atmaja tersenyum melihat Bari, lalu dengan tangan bergetar mencoba meraih tangan Bari. Namun, Bari seketika itu mundur satu langkah sehingga Atmaja terkaget menaikan sebelah bahunya.
Bari masih bingung, apa yang harus dilakukannya. Di satu sisi Atmaja adalah ayah kandungnya. Tapi Bari juga tidak bisa melupakan perbuatan bejat yang dilakukan selama ini. Apalagi saat Bari tau kalau Atmaja hampir memperkosa Sanu.
Mungkin Atmaja telah menerima karma atas perbuatannya selama ini. Ali datang melihat Bari dengan wajah yang merah dan rahang yang mengeras.
Ali menepuk bahu bari. "aku tau kamu belum bisa menerima kelakuan pak Atmaja yang dulu. Tapi demi perusahaan dan hak waris yang akan diberikan ke kamu. Tolong bantu papamu menyelesaikan masalahnya."
"Maksud anda?"
"Pak Atmaja telah memutuskan untuk mewariskan hartanya ke anak kandungnya, yaitu kamu, Brian. Glenca yang menyebabkan pak Atmaja seperti ini. Kamu tau siapa Glenca, kan?"
Seketika itu jiwa Bari tersentak. "Jadi ini perbuatan Glenca. Dimana dia sekarang?"
Ali mengangkat bahunya. "Mungkin dia sedang pergi bersama selingkuhannya. Pak Atmaja sudah menyadari kesalahanya. Beliau sudah tau siapa Glenca sebenarnya. Jadi maafkanlah papamu itu."
Bari tersenyum sinis menatap Atmaja. "Itu hukuman buat orang yang telah memilih nafsunya dari pada keluarganya. Tapi baiklah, aku akan membantu papa dengan syarat papa harus minta maaf dengan gadis yang bernama Sanu."
"Siapa itu?" tanya Ali.
"Dia mantan asisten rumah tangga di sini, yang hampir saja di perkosa oleh orang tua itu," ucap Bari tegas.
Ali melhat Atmaja. "Pak Atmaja dengar sendiri, kan. Apa Bapak bersedia minta maaf kepada gadis yang bernama Sanu."
Atmaja mengangguk sambil mengedipkan matanya.
"Kamu bisa lihat sendiri, kan?"
"Baik, aku akan membantumu," ucap Bari.
"Bisa kamu antarkan aku kepada Sanu."
"Nanti malam saja?"
Ali mengangguk. "Kabari saja aku."
Tik, tak, tik ,tak ... suara sepatu sangat jelas sedang menaiki tangga. Glenca dengan sadar melihat Bari dan Ali. Dengan langkah pelan dia menghampiri Bari.
"Apa yang kamu lakukan di sini!"
Bari menatap sinis Glenca. "Memangnya kenapa, ini rumah papaku. Aku berhak tinggal sesuka hatiku di sini. Termasuk mengusirmu."
"Tidak tau malu, kamu itu telah diusir dari rumah ini!" hardik Glenca.
"O ya ... kita lihat, siapa yang akan meninggalkan rumah ini." Bari berbicara elegan dengan Glenca.
"Kamu tidak bisa mrngusirku, Aku istri sah dari Atmaja. Dan aku telah mengandung anak dari papamu. Kamu boleh memanggilku Mama sekarang." Glenca melipat kedua tangannya di dada.
Bari terkekeh. "Aku tidak yakin kalau rahim yang ada dalam kandunganmu itu anak dari papa."
"Brengsek." Glenca hendak menampar Bari. Tapi dengan sigap Bari menangkisnya lalu memegang erat tangan Glenca.
"Kali ini aku akan melawan. Kamu siap-siap saja akan diusir dari rumah ini," ancam Bari.
"Auw, sakit. Lepaskan tanganku," ucap Glenca.
Bari dengan segera melepaskan cakalannya.
Glenca dengan mata tajam menatap Bari, terpaksa harus mengalah.
"*Kalau Brian ikut campur, ini akan menjadi gawat. Aku harus mencari cara untuk me*nyingkirkan Brian," batin Glenca.