Sanubari

Sanubari
Ditolak.



Malam mulai tiba, Sanu pamit kepada pak Nazar untuk menemui temen lama.


"Kamu mau kemana, Sanu?" tanya Rina saat melihat Sanu hendak keluar dari kantor.


"Aku mau ketemu dengan teman lama, Rina."


Rina mengangguk, menatap Sanu curiga.


Sanu segera siap-bertemu dengan dokter Latif. Sanu memakai kemeja garis berwarna merah tua serta celana skinny yang ujungnya dilipat sehingga memperlihatkan mata kakinya. Sanu menaiki kereta listrik menuju stasiun Universitas Indonesia.


Disana Latif terlihat duduk di taman siswa di dekat lampu penerangan taman. Sanu melambaikan tangan memanggil Latif. Pria berkaca mata itu tersenyum melihat Sanu.


"Hey, Sanu? Apa kabar?"


"Baik, Kak." Sanu duduk di depan Latif.


"Oiya, ini kiriman dari Ibu kamu." Latif memberi dua kotak kue bakpia kepada Sanu.


"Kue bakpia?" Sanu memandang curiga Latif. Ibunya tidak mungkin memberi kiriman kue, karena ibunya tidak bisa membuat kue.


"Ibumu menyuruhku untuk membelikan hadiah jika bertemu denganmu, jadi aku membeli kue bakpia saja di dekat stasiun Maguwo." Latif tertawa nyengir untuk menutupi rasa gugupnya.


Sanu mengangguk, tidak mempermasalahkan.


"Bagaimana keadaan ibu, Kak?" tanya Sanu.


"Ibu kamu semakin sehat, Sanu. Clara juga sudah masuk SD minggu kemarin."


Sanu tersenyum tipis. "Syukurlah kalau begitu? Terima kasih ya, Kak."


"Sama-sama, Sanu. Aku senang membantu ibumu."


Sanu tersenyum, itu perkataan yang sering dikatakan Bari saat masih proses.


"Tujuan utama dokter ke Ibu kota, ada urusan apa?" tanya Sanu.


Latif menghela napas. "Sebenarnya aku kesini untuk menemuimu, Sanu."


Sanu membulatkan mata. "Untuk apa menemuiku, Kak?"


"Sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah mulai jatuh cinta denganmu." Latif memegang telapak tangan Sanu.


"Maaf, Kak. Aku tidak bisa. Aku ..."


"Kenapa, Sanu? Apa kamu sibuk kerja? Aku bisa mengerti, aku tidak akan menyuruhmu berhenti bekerja."


Sanu melepaskan telapak tangan dari genggaman Latif. Berkata lirih, "Aku sudah punya kekasih."


Suasana hening, Latif terdiam memandang Sanu samar. Angin malam yang menyentuh kulit, sepertinya tidak mendukung Latif.


"Kenapa dari awal kamu tidak bilang?" tanya Latif.


"Aku tidak tau kalau Kak Latif suka denganku. Aku hanya menganggap Kak Latif teman baik."


"Apa kamu tidak bisa melihat, usahaku untuk mendekatimu. Berusaha menyembuhkan ibumu, mengajak bermain Clara." Latif mulai mengungkit-ungkit kebaikannya kepada Sanu.


Sanu kini mengerti, Latif baik terhadap Ibu dan adiknya karena ingin mendekati Sanu.


"Aku sudah punya kekasih, dan aku mencintainya. Dia salah satu motivasiku untuk menjadi sekarang ini," tegas Sanu.


Latif tersenyum getir. "Baiklah, aku terima keputusanmu."


"Maafkan aku, Kak. Semoga Kak Latif memperoleh wanita yang lebih baik dariku."


Tanpa sepatah kata Latif pergi meninggalkan Sanu. Sanu masih duduk disamping lampu taman menatap punggung Latif yang semakin menjauh.


Latif mencoba menerima penolakan ini. Walaupun hatinya terasa hancur.


"Semoga Kak Latif tidak kecewa dengan keputusanku," ucap Sanu menghembuskan napas kasar.


Setelah beberapa menit duduk di taman siswa, Sanu beranjak dari tempat duduknya, pulang ke kost.


Bari datang bertanya kepada Rina kemana Sanu.


"Tadi katanya Sanu ingin bertemu dengan teman lama."


"Siapa? Laki-laki atau perempuan?" tanya Bari.


Rina mengangakat bahunya.


Bari terlihat cemas memutuskan untuk menunggu Sanu pulang.


Tak berselang Lama Sanu pulang ke kost.


"Sanu ...!" panggil Bari yang duduk di kursi tunggu berada di bawah tangga.


Sanu menoleh, tersenyum melihat Bari.


"Aku dengar dari Rina kamu bertemu dengan teman lama."


Sanu mengangguk memegang tangan Bari.


"Ada apa Kak Bari kesini?"


"Aku ingin mengajakmu keluar sebentar."


"Boleh, mau keluar kemana?" ucap Sanu yang terlihat lelah.


"Kita makan saja, bagaimana?"


"Dara ...!"panggil Sanu membawa bingkisan.


"Iya, Kak!" Dara membuka pintu.


"Ini untukmu, jangan lupa satunya buat Rina."


Dara tersenyum lebar. "Beres. Sering-sering saja keluar sama temen, biar Dara bisa dapat jajan yang banyak."


Sanu menonyor lembut kepala Dara. "Dasar kamu ini. Sudahlah, Kak Sanu mau keluar dulu sama my honey."


"Cie ... sudah berani sebut my honey."


Sanu tidak memperdulikan cibiran Dara, dia berjalan menuruni tangga membelakangi gadis bergigi gingsul itu.


"Kita makan dimana, Kak?" tanya Sanu.


"Di dekat sini saja, lagian Sudah malam." Bari mengajak Sanu ke restoran empek-empek yang ada di dekat terminal.


Wajah Sanu tampak kusut, matanya memeerah tidak sehat.


"Kamu kenapa, Sanu? Sakit?" tanya Bari.


Sanu tersenyum simpul. "Tidak apa-apa, Kak. hanya lelah saja."


Bari lalu memesan susu ditambah madu kepada pelayan resto untuk kesegaran tubuh Sanu.


"Makasih, Kak."


"Kamu habis dari mana Sanu, wajahmu terlihat sedang memikirkan sesuatu," ucap Bari.


"Kelihatan ya, Kak."


Bari mengangguk.


"Aku tadi bertemu dengan dokter yang merawat ibuku."


"Terus," ucap Bari.


"Dia datang kesini hanya untuk mengatakan suka kepadaku."


Bari terbelalak. Nadanya sedikit meninggi. "Respon kamu apa!"


"Kak Bari cemburu ya ...?" goda Sanu.


Bari berdehem, memperbaiki posisi duduknya.


"Ya aku tolaklah, Kak. Aku hanya menganggap dia teman. Tapi yang aku khawatirkan ..."


"Apa, Sanu. katakan saja."


"Aku takut kalau ibu dan adikku tidak diperlakukan sama lagi. Selama ini beliau sangat akrab dengan adik dan ibu."


"Kalau itu kamu tidak usah khawatir, Sanu. Aku bisa mengirimkan dokter untuk merawat ibu kamu."


Sanu menggeleng. "Tidak usah, Kak."


"Kenapa?" tanya Bari menyelidik.


"Ihh ... kak Bari ini! banyak tanya." Wajah Sanu berubah menjadi cemberut.


"Kamu tambah cantik kalau cemberut, Sanu."


"Gombal." Sanu menjulurkan lidahnya.


Bari terkekeh.


Dua mangkok empek-empek ditambah mie di dalamnya datang. Sanu dan Bari memulai makan malamnya. Kebetulan mereka berdua belum makan.


"Besok malam minggu kita jalan lagi, yuk. Aku ada kejutan untukmu."


"Kejutan apa?" tanya Sanu penasaran.


"Namanya juga kejutan, ya harus rahasia dong!" seru Bari.


Sanu tersenyum riang, menyetujui ajakan Bari.


"Pakai baju yang paling bagus ya, karena malam minggu besok kita akan dinner."


Sanu mengangguk menyunggingkan senyum.


Bari mengajak Sanu pulang setelah membayar makanannya. Sanu dan Bari berhenti di parkir motor samping terminal. Sanu berdiri di samping pintu keluar parkir. Bari menaiki motor melambaikan tangan kepada Sanu. Sanu tersenyum memandangi Bari pergi.


Di kamar kost Dara terlihat masih menonton drakor kesukaannya.


"Dara tidur, ini sudah malam."


"Sebentar, Kak. Tanggung." Dara masih fokus menatap layar handphone nya.


Sanu menggeleng melihat tingkah Dara.


"Kenapa anak jaman sekarang suka sekali dengan korea?"


"Karena cowoknya ganteng-ganteng, Kak," jawab Dara.


"Jadi karena itu?" Sanu kemudian menarik selimutnya. Selamat tidur.


Bersambung ...