Sanubari

Sanubari
Keputusan Yang Berat.



sore harinya, Rina, Elfa, dan Dara menjenguk Sanu. Mereka bertiga membawa buah apel untuk di berikan kepada Sanu.


Tok ...


Tok ...


Tok ...


Sanu membuka pintu. Mereka bertiga berteriak riang. Sanu terkaget dengan kedatangan mereka bertiga.


"Kalian bolos program malam ya ...." tuduh Sanu.


"Enak saja, kita sudah izin sama pak Nazar," timpal Dara.


"Kak Sanu kapan balik ke kantor? Pak Nazar selalu menanyakan Kak Sanu?" tanya Elfa


"Iya, kapan kamu kembali, Sanu?" Rina ikut bertanya.


Sanu hanya tersenyum, tidak menjawab pertanyaan Rina dan Elfa.


"Jangan desak Kak Sanu dulu, Kak Sanu 'kan sedang sakit, belum sembuh benar. nanti kalau sudah fit dia pasti balik lagi ke kantor," ucap Dara.


Sanu tersenyum simpul. Dara belum tau kalau Sanu sudah diperbolehkan pulang. Sanu sendiri saja yang tidak mau.


"Ya sudah, Sanu. Kami tunggu kamu ke kantor, jangan lupa apelnya dimakan, itu dari pak Nazar," ucap Rina.


"Kami pulang ya, Kak Sanu," sahut Elfa.


Sanu menatap punggung mereka bertiga berjalan keluar gerbang rumah sakit. Sanu sebenarnya tidak tega meninggalkan crew dan teman-temannya. Kedatangan mereka bertiga kesini, membuat Sanu semakin berat untuk meninggalkan crew dan Taman-temannya.


Tapi Sanu juga sadar diri, kondisinya yang tanpa kaki tidak memungkinkan untuk melanjutkan pekerjaannya. Nanti pastinya akan merepotkan mereka.


Di kamar 4x4 meter itu Sanu berpikir untuk membuat semuanya ikhlas untuk melepas kepergiannya.


Sehari sebelum keberangkatan, Sanu memaksakan diri berkunjung ke kantor Pasar Minggu di temani oleh Aida. Sanu kemarin malam sudah menghubungi Aida untuk mengantarnya ke Pasar Minggu. Aida mendorong kursi roda yang di tempat Sanu ke ruko tiga lantai itu.


"Ini tempatnya?" tanya Aida yang baru pertama kali datang ke kantornya Sanu.


Sanu mengangguk.


"Assalamualaikum ...!"


"Walaikum salam." Dian, seorang receptionist kantor datang menghampiri Sanu.


Dian pun terkejut melihat Sanu datang. Dian sudah tau kalau Sanu Sudah Tidak memiliki kaki. Kabar itu tanpa sepengetahuan Sanu sudah tersebar di kantor.


Dian mempersilahkan Sanu dan Aida masuk ke ruang observasi.


"Pak Hasan atau pakb Nazar ada, Mbak?" tanya Sanu.


"Ada, sebentar aku panggilkan." Dian menuju lantai dua.


"Tempat kerjamu ternyata asyik juga ya, Sanu. Receptionist nya ramah," ucap Aida memutar kepala melihat isi ruangan observasi yang berwarna hijau.


Sanu teringat saat pertama kali duduk di ruangan ini, bertemu dengan pak Nazar dan teman-teman yang lain. Dengan sendirinya bulir bening menetes di pipi Sanu. Dengan segera Sanu menyeka kedua matanya sebelum dilihat oleh Aida.


Pak Nazar dan pak Hasan tiba menyapa Sanu dengan riang.


"Sudah sehat keadaanmu, Sanu?" tanya Pak Hasan duduk disamping pak Nazar.


Sanu tersenyum tipis.


"Kapan mulai kerja lagi, crew kamu pada nanyain kamu. Kangen katanya sama leadernya yang cantik." Pak Nazar mencoba menghibur Sanu.


Sanu menunduk terasa keluh mengucapkan kata. Sanu menatap Aida memberi tanda menyuruh dia keluar.


Aida mengangguk, permisi kepada pak Hasan dan pak Nazar.


"Ada apa, Sanu. Wajahmu tegang sekali, apa kamu masih sakit?" tanya pak Hasan.


"Tidak, Pak? kedatangan saya kesini ..." Sanu terdiam.


Pak hasan dan pak Nazar menatap Sanu serius.


"Kedatangan saya kesini ingin meminta resign," ucap Sanu jelas.


Suasana lengang, pak Nazar dan pak Hasan terdiam mengernyitkan dahi.


"Saya ingin mengndurkan diri, Sanu ingin pulang kampung," ucap Sanu sekali lagi.


"Kenapa, crew kamu banyak lho, Sanu. Sayang kalau kamu keluar." pak Nazar tampak menggebu-gebu bicara.


"Apa karena kondisimu yang sekarang, Sanu?" tanya pak Hasan


Sanu mengangguk menundukan kepalanya dalam-dalam.


Pak Hasan menghela napas. "Kalau hanya itu, pihak kantor tidak mempermasalahkannya, Sanu. Kamu bisa tetap kerja di sini."


"Betul itu Sanu, para manager sudah berunding tentang hal ini," ucap pak Nazar menyakinkan Sanu.


Sanu semakin bingung, sebenarnya Sanu ingin keluar karena kesedihannya kepada Bari. Sanu pasti tidak akan fokus kalau terus memikirkan Bari. Seperti yang sudah-sudah.


Sanu menghela napas terpaksa jujur kepada dua manager itu.


"Saya keluar bukan karena kondisi saya yang cacat, tapi karena ...." Sanu menatap tajam pak Nazar dan pak Hasan.


Mereka berdua mengerti apa maksud Sanu.


"Bagaimana keadaannya Bari?" tanya pak Nazar.


"Dia lupa ingatan, Ibunya menjauhkannya dariku. Kondisinya masih lemah, tidak boleh mengingat sesuatu yang membuatnya merasa tertekan," jawab Sanu sambil terisak.


"Pertimbangkan lagi, Sanu. Dengan kondisimu yang seperti ini, kamu mau kerja apa?" Pak Hasan mencoba membujuk Sanu kembali.


Sanu terdiam, Sanu juga memikirkan hal itu. Mana ada orang mau menerimanya kerja dalam kondisi tanpa kaki. Tapi Sanu sudah membulatkan tekadnya, demi kesembuhan Bari dia rela bersusah payah.


"Keputusan saya sudah bulat, Pak? Mohon para manager menerimanya," ucap Sanu.


Pak Hasan dan pak Nazar menghela napas.


"Baik, karena itu sudah menjadi keputusanmu, kami tidak bisa menghalanginya. Semoga kamu lebih sukses di luar sana." Pak Hasan mengulurkan tangan kepada Sanu. mereka bertiga brrsalaman.


Dengan perasaan sedih, Sanu harus meninggalkan kantor yang membuat Sanu bisa belajar banyak hal dan mempunyai teman yang baik. Sanu pasti akan merindukan mereka, centilnya Dara, lucunya Rina saat berbicara, dan sahabat yang lain.


Sanu tersenyum menghampiri Aida.


"Sudah selesai?"


Sanu mengangguk.


Aida mengantar Sanu kembali ke rumah sakit. Masih ada waktu satu hari untuk berangkat.


"Terima kasih ya, Aida."


Aida tersenyum tipis. "Tidak masalah, Sanu. Kalau kamu sedang butuh bantuan panggil saja aku."


Sanu tersenyum, mengucapkan terima kasih untuk yang kesekian kali.


Esok harinya, Travel yang di pesan Sanu dan Aida sudah sampai di depan rumah sakit. Aida memasukan barang Sanu dan Barangnya ke jok belakang. Sanu dibantu Aida dan supir untuk bisa duduk di dalam mobil.


"Jalan, Pak." ucap Aida kepada sopir travel.


Mobil berjalan dengan kecepatan sedang menuju Sleman.


Sanu menatap kosong jendela mobil terpenjara oleh pikirannya sendiri.


"Apa rencanamu selanjutnya, Sanu." tanya Aida.


"Aku ingin buka warung kecil-kecilan Aida. Aku tidak mungkin mencari pekerjaan dengan kondisi seperti ini."


Aida mengangguk. "Bagaimana dengan tunanganmu?"


Sanu menunduk saat Aida bicara tentang Bari. Batinnya begitu rapuh saat membicarakan tentang Bari.


"Maaf kalau aku salah bicara," ucap Aida lirih.


Sanu menatap Aida. Dia berusaha kuat di depan Aida. "Tidak apa-apa, Aida. Aku dan kak Bari mungkin tidak akan bertemu lagi."


Aida ikut bersedih mendengar penjelasan dari teman satu kampungnya itu. Aida seperti bisa merasakan betapa sakitnya hati Sanu saat ditinggal kekasihnya dalam kondisi tanpa kaki. Aida memegang lembut bahu Sanu, berusaha menguatkan sahabatnya itu.


Bersambung ...