
Sanu mulai dikucilkan saat sedang mengikuti program pagi. para trainer seolah menjauh dari Sanu. Manager yang memimpin program pagi pun memberi pengararahan tentang masalah dilarang pacaran di kantor ini beserta akibat yang akan ditimbulkan. Sanu dan Bari seolah menjadi racun di kantor ini.
Rina mendekati Sanu memegang halus pundaknya. "Sabar, Sanu."
Sanu tersenyum menatap lekat Rina.
Pak Nazar kali ini tidak akan membiarkan Bari dan Sanu pitcing bersama. Tak disangka, Ilham anak baru yang dibawa Sanu datang. Walaupun terlambat, Sanu menyambutnya dengan gembira. Walaupun di sisi lain hatinya bersedih. Sanu tidak boleh memperlihatkan kesedihannya kepada anak baru.
"Mas Ilham sini gabung," ucap Sanu.
Tim pak Nazar menyambut baik kedatangan anak baru kecuali Muna. Dia terlihat tidak menyukai Ilham. Pak Nazar yang melihatnya pun menegur Muna.
"Muna, senyum." tegur pak Nazar.
Muna menyungggingkan senyum yang tidak ikhlas.
"Bari, kamu pitcing sama Muna. Biar Rina pitcing dengan Sanu."
"Siap Pak Nazar." serentak.
"Sanu, kamu didik itu Ilham, jangan berbuat yang aneh-aneh dulu."
"Siap Pak Nazar."
"Ya sudah, silahkan kalian ambil alat masing-masing."
"Aku tunggu kamu di depan kantor ya, Sanu?" ucap Rina.
Sanu mengagguk. Sanu sedang memberi pengarahan kepada Ilham tentang hari ini apa yang harus dia lakukan.
"Nanti Mas Ilham, Belajar ketuk pintu ya. Beranikan."
"Siap, Kak Sanu."
Sanu tersenyum, "Ya sudah, ayo kita ke bawah, ambil alat."
Sanu keluar menemui Rina yang menunggu di depan kantor.
"Kita pitcing kemana, Sanu?" tanya Rina.
"Masih ke Bojong Gede, Rina. disitu teritorynya masih banyak."
Mereka bertiga turun di stasiun Bojong Gede melakukan persiapan di Mushola.
"Mas Ilham, kesini sebentar," panggil Sanu.
Sanu memberikan kertas castamer list kepada Ilham untuk mencatat nama castamer yang di terapi.
"Nanti catat nama castamer yang saya terapi ya, Mas Ilham."
"Iya, Kak."
"Sama nanti sehabis zduhur Mas Ilham belajar ketuk pintu."
"Siap."
Rina terlihat kagum dengan teman sekamarnya itu. Baru kemarin bawa orang, Sanu seperti sudah bisa mengusai cara membuat crew bertahan.
"Dari mana kamu bisa secepat itu mengontrol orang baru, Sanu?" bisik Rina.
"Aku belajar, Rina. Kamu kan lihat sendiri setiap malam aku belajar sistem."
Rina memang setiap malam melihat Sanu membaca sistem. Tapi kalau hanya membaca tanpa pernah dipraktekkan sama saja bohong.
Rina menarik lengan Sanu menjauhkan diri dari Ilham.
"Hey Sanu. Kamu jangan berbohong denganku. Kalau membaca saja tanpa ada praktek itu sama saja bohong. Kamu kan baru pertama bawa orang. Katakan kepadaku, dari mana kamu bisa secepat itu belajar bawa anak baru."
Sanu pun dengan terpaksa mengatakan kepada Rina. Percuma juga Sanu menyembunyikan.
"Kak Bari," ucap Sanu pelan.
"Aish ... mana mungkin, kak Bari kan tidak pernah mau bawa orang baru." Rina semakin tidak mengerti.
"Itu kenyataannya, Rina. Kak Bari sangat pandai membuka pola pikir anak baru. Bahkan, mungkin lebih pandai dari pak Nazar.
"Dari mana kak Bari bisa seperti itu?"
Sanu mengangkat bahunya. "Entahlah, Rina. Aku tidak heran jika kak Bari setiap hari bisa membuktikan sistem."
Sanu dan Rina pun mulai pitcing mengetuk dari pintu satu ke pintu yang lain.
Ilham terlihat sangat menikmati pitcing dengan Sanu. Kadang kala Sanu juga sesekali menggoda Ilham yang membuat wajah Ilham bersemu merah. Itu di lakukan Sanu supaya Ilham bisa bertahan.
...***...
Matahari sudah condong ke arah barat, Sanu dan Ilham bersiap untuk pulang. Sanu sudah izin kepada Rina untuk pulang lebih awal.
"Bagaimana hari ini, Mas Ilham."
"Seru, Kak. apalagi pitcing dengan Kak Sanu." Ilham sepertinya mulai tertarik dengan Sanu.
Sanu tersenyum, "Ayo kita pulang."
Sanu dan Ilham pulang naik kereta menuju stasiun Pasar Minggu. Ilham di ajak ke lantai tiga, disana sudah ada pak Nazar yang memback up Ilham. Sanu sendiri berada di ruang receptionist hendak menyetor alat dan uang setoran kepada mbak Dian. Hari ini Sanu bisa membuktikan sistem sesuai standart trainer.
Sanu kembali ke lantai tiga memberikan uang kepada Ilham untuk sekedar ongkos lalu mengantar Ilham sampai ke parkiran.
"Semangat ya, Mas Ilham. Besok jangan lupa berangkat pagi."
"Siap, Kak." Ilham tersenyum kepada Sanu lalu pulang menaiki motornya.
Sanu kembali ke lantai tiga hendak evaluasi dengan pak Nazar dan yang lainnya. Disana sudah ada Rina Muna dan Bari sedang mendengarkan arahan dari pak Nazar.
Pak Nazar terlihat memarahi Muna yang sudah satu minggu lebih tidak membuktikan sistem.
"Muna! Kamu ini, zero-zero terus. Mau makan apa kalau kamu terus seperti ini. Bagaimana bisa kamu bangun orang kalau kamu saja tidak bisa bertanggung jawab terhadap diri kamu sendiri."
"Siap, Pak Nazar."
"Kendala kamu apa sih, Muna?"
"Siap, kurang fokus."
"Ya sudah lah istirahat saja di kantor terlebih dulu. Besok kamu tidak usah pitcing dulu. Dari pada kamu tidak fokus di lapangan."
Muna tidak menjawab, sepertinya dia pasrah dengan keputusan pak Nazar.
"Hari ini kamu bagaimana, Sanu?"
"Hari ini aku bisa dua Pak Nazar."
Rina dan Bari bertepuk tangan melihat pencapaian Sanu. Muna menunduk, diam-diam menatap tajam ke arah Sanu menunjukan ketidak sukaannya terhadap Sanu.
"Pertahankan, Sanu. Fokus bangun orang. Jangan fokus yang lain." Pak Nazar kembali menyindir Sanu.
"Siap, Pak Nazar."
Jam malam di mulai, hari ini Sanu maju kedepan menceritakan pengalamannya membawa anak baru. Para trainer bertepuk tangan tidak menyangka di tengah isu miring tentang Sanu dan Bari. Sanu hanya ingin membuktikan kalau yang dituduhkan selama ini tidak benar. Sanu memang mencintai Bari mungkin juga sebaliknya. Namun, Sanu bertekad tidak pacaran dulu sebelum dia menjadi manager.
"Kamu hebat, Sanu. Kamu membalas cacian dengan prestasi malam ini," ucap Rina seusai jam malam.
"Terima kasih, Rina."
"Hay, Sanu." Bari menyapa. "Ayo kita makan."
Sanu dan Rina mengangguk mengikuti langkah Bari.
"Aku minta maaf ya, Sanu. Gara-gara aku kamu jadi dikucilkan teman sekantor."
Sanu tersenyum simpul. "Tidak perlu minta maaf, Kak Bari juga sama, kan. Dikucilkan juga."
"Biarkan saja mereka bicara, kita cukup menunjukan prestasi saja di lapangan."
Sanu mengangguk setuju.
"Kalian berdua sering membuktikan sistem, tidak adakah yang mau mengajariku?"
"Apa yang harus aku ajarkan ke kamu, Rina. Kamu sudah trainer."
"Tapi standart ku tidak seperti kalian," ucap Rina.
"Tenang dan tulus saja di lapangan," ucap Bari.
"Kalau itu aku juga tau, memang tidak adakah formula khusus untuk membuatku berprestasi di lapangan."
"Tidak ada, Rina."