
Nurjanah menunduk, Latif tidak sengaja mendengar percakapan terakhir Nurjanah. Hatinya terasa remuk saat mendengar Sanu sudah bertunangan. Tapi Latif berusaha bersikap biasa, toh dia bukan siapa-siapanya Sanu.
Latif tersenyum kepada Mira, memperkenalkan dirinya.
"Apa anda saudaranya, Sanu?" tanya Mira.
"Saya seorang dokter yang ditugaskan di kampungnya Sanu. Kebetulan Bu Nur menjadi pasien rutin saya."
Mira tersenyum menatap Latif. "Mulia sekali anda."
"Sebagai seorang Dokter saya harus menjalankan tugas dari atasan saya." Latif sedikit menunduk.
"Kalian mau tidur dimana?" tanya Mira.
"Saya Sudah izin kepada Dokter di sini, untuk menginap satu malam bersama dengan Bu Nur dan Clara."
"Lebih baik ke rumah saya saja, lebih nyaman. Kebetulan saya sendiri di rumah," ucap Mira menawarkan diri.
Latif dan Nurjanah saling memandang, memang lebih baik tinggal di rumah. Dari pada di rumah sakit harus tidur di kursi tunggu terkena angin malam. Apalagi dengan kondisinya Nurjanah yang punya riwayat penyakit paru-paru basah. Udara malam pasti bisa membuat kondisinya memburuk.
"Kalau Bu Mira tidak keberatan." Latif mengangguk menerima tawaran dari Mira.
"Tentu saja tidak! Justru saya senang ada teman yang mau menginap."
Clara terlihat sedang bermain lari-larian dengan Aida. Anak enam tahun seusia Clara belum tau apa-apa. Dia hanya ikut gembira jika ibunya gembira, ikut sedih jika ibunya sedih.
"Clara! Sini, Nak?" panggil Nurjanah.
Clara berlari menghampiri ibunya.
"Hari ini kita nginap di rumah tante Mira."
"Tante Mira siapa?" tanya Clara yang mulai jelas nada suaranya.
"Itu Tante Mira." Nurjanah menunjukan perempuan berambut lurus sebahu dengan pakaian modisnya serta kaca mata hitam yang yang di jungkal ke atas rambutnya.
"Terima kasih ya Tante cantik," ucap Clara.
"Sama-sama ... kamu juga cantik dan ngegemesin." Mira mencubit gemas pipi Clara.
"Kalau begitu Aida pamit dulu, Bulek, Tante, Dokter Latif."
Nurjanah tersenyum tipis. "Terima kasih lho, Aida."
"Sama-sama, Bulek." Aida pamit mencium punggung tangan Nurjanah.
"Kamu pulang naik apa, Aida?" tanya Latif.
"Aku pulang naik bajaj, tempat kerjaku dekat daru sini."
Latif tersenyum. "Sekali lagi terima kasih, Aida?"
Aida membalas senyuman Latif, lalu berjalan menuju pintu keluar.
Nurjanah dan Mira menatap punggung Aida yang semakin jauh dari pandangan dan menghilang saat berbelok arah.
"Ayo Bu, mari ikut saya," ucap Mira.
Nurjanah, Latif dan Clara mengikuti Mira menuju parkiran. Terlihat mobil alpard berwarna hitam terparkir gagah di antara mobil yang lain. Nurjanah takjub melihatnya, jangankan naik mobil mewah, naik mobil biasa saja dia jarang. Pintunya bisa terbuka sendiri dengan tombol key pas.
"Mari naik, Bu?" Mira mempersilahkan Nurjanah naik di kursi belakang.
Nurjanah tersadar dari lamunannya, dia segera masuk di kursi belakang bersama dengan Clara. Sedangkan Latif duduk disamping Mira. Clara berjingkrak-jingkrak kesenangan di atas jok mobil Mira. Nurjanah menyuruh Clara duduk, tapi Mira memakluminya karena masih kecil.
Mira melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Suasana jalan begitu macet dengan antrean kendaraan yang mengular. Sekitar satu jam perjalanan Mira memarkirkan mobilnya tepat di halaman rumah.
Nurjanah lagi-lagi takjub dengan rumah besar serta dua pilar menjulang tinggi di teras rumah. Jauh sekali dari bentuk rumahnya yang kecil dan hanya berdinding tembok tanpa dilapisi semen.
"Mari masuk, Bu. Anggap saja rumah sendiri," ucap Mira ramah.
Nurjanah dan Latif masuk menggandeng Clara. Di ruang tamu ada foto Mira dan anak laki-laki yang berukuran besar.
"Apa anak Laki-laki yang tampan itu anak Bu Mira?" tanya Nurjanah sedikit gugup.
Mira mengangguk. "Betul, anak saya sangat mencintai anaknya Ibu. Sanu sering kesini dengan Brian sekedar ngobrol dengan saya. Sanu anak yng pintar dan pekerja keras. Dia seorang manager di kantornya."
Nurjanah terharu mendengarkan cerita dari Mira. Dia tidak menyangka kalau anaknya bisa mendapat posisi yang penting di kantornya.
Esok harinya, Glenca terlihat panik saat mendengar kabar bahwa Arya telah ditangkap.
"Bodoh kamu Arya!" Hardik Glenca di dalam kamar.
Cepat atau lambat, polisi akan menemukan buktinya. Glenca segera berkemas bersembunyi di suatu tempat.
Mbok Yem yang melihat Glenca membawa koper besar hendak bertanya, "Non Glenca mau kemana?"
"Diam kamu! Bukan urusanmu aku mau kemana!" bentak Glenca.
Mbok Yem terperanjat, lalu menundukkan kepala. Glenca berjalan cepat memasukan koper ke mobilnya. Lalu mengendarai mobilnya entah bersembunyi dimana.
Di tempat lain, Polisi berhasil menemukan obat sianida yang di buang Arya di samping tempat sampah. Arya kurang cermat karena membuang tidak pada tempatnya.
Polisi segera mengintrogasi Arya kembali berusaha membuatnya mengaku, lalu melakukan tes uji forensik sidik Jari. Ternyata sama dengan sidik jarinya Arya.
"Sidik jari botol suadina ini sama dengan kamu. Mau alasan apalagi."
"Bisa saja alatnya salah, Pak."
"Baik, terserah Saudara, yang jelas bukti sudah kuat. Tinggal kita menuju sidang pengadilan."
Arya kembali di masukan ke sel bersama tahanan yang lain.
Sedangkan Ali memberitahu Mira Kalau Arya sudah ditetapkan sebagai tersangka.
"Bagus ... aku ingin orang yang mencelakai anakku membusuk di penjara."
Nurjanah dan Clara yang menginap Di rumah Mira datang.
"Maaf, Bu. Saya mau pamit ke rumah sakit?"
"Makan dulu, Bu?" sarapan sudah ada di meja."
"Saya sudah makan tadi di dapur."
"Waduh, Ibu ...? Kenapa tidak makan di sini saja!"
Nurjanah tersenyum, lalu berbalik menuju pintu keluar.
"Siapa itu, Bu?" tanya Ali.
"Itu Ibunya Sanu, cepat antar kerumah sakit," ucap Mira pelan.
"Ibu ...!" panggil Ali sambil berlari menghampiri Nurjanah.
Nurjanah menoleh.
"Ibu mau ke rumah sakit?"
Nurjanah mengangguk.
"Mari saya antar, Kebetulan saya juga mau menjenguk Brian," alasan Ali.
"Terima kasih, Nak."
"Om mau mengantar Clara ya?" tanya Clara polos.
"Iya adik cantik," jawab Ali mencubit gemas pipi Clara yang cabi.
Nurjanah dan Ali masuk mobil, duduk di jok belakang.
"Kapan Ibu datang ke Ibu Kota?" tanya Ali saat menyetir.
"Kemarin malam, Nak. Ibu belum tau siapa nama kamu?"
"O iya ... nama saya Ali, Bu? Temannya Sanu dan Brian"
"Saya Nurjanah, panggil saja saya Bu Nur."
"Iya, Bu Nur," ucap Ali.
Sesampainya di rumah sakit, Nurjanah yang di temani Ali masuk ke ruangannya Sanu. Dokter sudah membolehkan keluarganya memasuki ruangan IGD. Sanu masih belum sadarkan diri. Nurjanah melihat ada yang janggal dengan Kaki Sanu. Nurjanah penasaran, meraba kaki anaknya, lalu membuka kain yang menutupi kaki anaknya. Seketika Nurjanah menangis cukup keras saat melihat kedua kaki Sanu terpotong sampai ke lutut. Ali yang melihatnya langsung masuk ke ruangan. Ali pun shock saat melihat kedua kaki Sanu diamputasi.
bersambung ...