Sanubari

Sanubari
Bertemu Dengan Sanu



Enam bulan berlalu, usaha warung Sanu samakin maju. Bahkan Sanu merambah usahanya dengan mendirikan warung kopi disamping warung kelontongnya. Halaman depan rumah Sanu memilki tanah yang luas. Sanu juga memiliki dua karyawan untuk bergantian membantu Sanu. Rumah Sanu pun sudah di renovasi lebih baik dari sebelumnya.


Dengan keterbatasan dirinya, Sanu masih bisa membuktikan kalau dia bisa sukses.


"Hay, Sanu?" sapa Aida yang baru datang dari Ibu Kota memakai celana jeans dan kaos oblong biasa serta rambut lurus hasil salon.


"Aida!" Sanu terlihat riang di kunjungi Aida.


Aida melihat rumah Sanu yang terlihat lebih bagus.


"Enam bulan kemarin kamu melamun seperti hilang semangat, tapi sekarang kenapa kamu bisa se sukses ini Sanu?" tanya Aida.


"Aku 'kan buka warung, Aida. Alhamdulilah banyak pembelinya."


"Iya aku tau, maksudku, apa yang membuatmu bisa bangkit secepat ini," tanya Aida penasaran.


"keluarga dan ada mimpi yang harus aku kejar."


"Kamu memang hebat, Sanu. Tidak heran teman kantormu sering menanyakan keberadaanmu."


Sanu mengernyitkan dahi. "Teman kantor?"


Aida mengangguk. "Dara, Rina, sama Elfa, mereka cukup sering menemuiku."


"O ya ...! Bagaimana kabar mereka!" Sanu terlihat gembira.


"Satu bulan yang lalu katanya mereka akan pindah ke semarang.


Sanu teringat saat meeting manager membahas tentang expansi ke Semarang. Sanu ikut senang mendengar kabar dari mereka.


Sementara di tempat lain, Dara dan Rina sudah menjadi asisten manager. Dara duluan, satu bulan berikutnya Rina menyusul. Dara dan Rina kini berproses di Semarang di bantu Pak Nazar. Tim Dara mengusulkan untuk lotrip, pak Nazar menyetujuinya. Tim Dara ingin lotrip di Sleman sekalian mencari Sanu. Dara tidak sabar ingin bertemu dengan Sanu. Dara ingin menceritakan banyak hal bagaimana proses tanpa dia.


"Kita ikut dong, Kak?" Agus dan Eko juga mau ikut.


"Tidak boleh," balas Dara memalingkan wajahnya dari Eko dan Agus


"Wah ... main-main sama kita dia, Gus."


"Kita tau Kak Dara lotrip sekalian ingin ketemu Kak Sanu, kan?" Eko menyringai menatap Dara.


Dara terkjut membuka mulutnya. "Dari mana kalian tau."


Mereka masih menyeringai. "Kalau Kak Dara tidak mengajak kita, Kak Dara tau 'kan akibatnya."


Dari pada mulut comel mereka sampai ke telinga pak Nazar, lebih baik Dara memutuskan mengajak mereka.


"Oke ... kalian boleh ikut, tapi jangan beritahu pak Nazar."


"Siap, Bos!" Eko membentuk sikap sempurna memberi hormat kepada Dara."


Dara mengangkat bibir atasnya terlihat kesal dengan Eko dan Agus. Dara segera pergi dari hadapan mereka menuju ruangan pak Nazar.


Agus dan Eko tertawa puas melakukan tos tangan.


Esok harinya mereka berangkat menggunakan bus ke arah Yokjakarta. Jarak tempuh sekitar tujuh jam untuk sampai ke Sleman. Mereka menghabiskan waktu perjalanan dengan tidur di bus karena lelah mengangkat kardus besar berisi alat berbentuk dolpin.


Sesampainya di Sleman mereka segera mencari tempat kost. Hanya tujuh orang berangkat lima perempuan dua laki-laki yaitu Agus dan Eko. Wajah mereka berdua terlihat kesal karena disuruh Dara mengangkat kardus besar dari terminal sampai ke tempat kost yang jaraknya tidak dekat.


"Kita di kerjain sama Kak Dara, Gus." Eko berjalan berkeringat sambil membawa kardus besar di atas punggungnya.


"Sudahlah tidak apa-apa, yang penting nanti kita bisa ketemu dengan Kak Sanu."


"Terima kasih, kalian memang perkasa," ucap Dara saat Agus dan Dara sampai ke tempat kost.


"Tidak usah memuji deh, badan kita sudah pegal semua. Kamar dimana?" tanya Agus.


"Di ujung." Dara memberikan kunci kamar kepada Agus.


"Ingat ya, kalau ke rumah Kak Sanu kita bareng," ucap Dara pelan.


"Sip." Eko mengacungkan jempolnya ke arah Dara.


...***...


Esok harinya, mereka bertiga pitcing sekaligus mencari tempat tinggal Sanu. Dara sudah mendapat alamat rumah Sanu dari Aida.


"Naik apa kita, Kak?" tanya Eko.


"Yang bayarin Kak Dara, Kan?"


"Enak saja, kita patungan. Tidak ada traktir hari ini. Kalau mau makan enak kerja keras di lapangan."


Agus dan Eko kompak bermuka masam menatap punggung Dara.


Jarak antara terminal dari rumah Sanu cukup jauh, butuh waktu setengah jam untuk sampai kesana. Jalan yang harus di tempuh pun berkelok-kelok karena harus menaiki gunung. Dara, Eko dan Agus tekjub melihat pemandangan pepohonan yang terhampar di depan mata. Udara yang sejuk dan sesekali melihat burung endemik yang dilindungi berkicau.


Mobil telah Sampai di sebuah Desa, mereka bertiga turun, lalu bertanya kepada orang dimana rumah Sanu. Kata orang itu rumah Sanu berada di perbatasan desa ada warung di halaman rumahnya.


Dara, Eko, dan Agus bergegas menuju alamat yang dituju. Jaraknya sekitar lima ratus meter dari perbatasan desa. Mereka sampai rumah dengan halaman luas dan di depannya ada sebuah warung.


Seorang wanita menghampiri mereka bertiga menawarkan kopi.


"Badhe pesen nopo, Mbak, Mas. (Mau pesan apa)"


Dara tersenyum. "kami hanya ingin bertanya, apa benar ini rumahnya Sanu?"


Pelayan wanita itu mengangguk.


Seorang wanita berambut panjang berwarna keemasan keluar dari warung memakai kursi roda. Dara yang melihatnya tertegun, matanya berkaca-kaca.


"Kak Sanu!" panggil Dara.


Sanu menoleh, menatap nanar wajah Dara.


"Dara!" senyum haru terpancar di wajah Sanu.


Dara menangis berlari memeluk Sanu.


"kak Sanu apa kabar?" tanya Dara merengkuh pundak Sanu.


"Baik."


"Ehem ... ada kita di sini lho ...?" terang Eko.


"Eko, Agus! Kalian tidak berubah ya," ucap Sanu tersenyum sumringah.


"Iya, masih aja ngeyelnya tidak ketulungan." Dara menjulurkan lidahnya ke Agus dan Eko.


Sanu tertawa kecil. "Duduk dulu, kalian mau minum apa?"


"Apa saja deh, kak. yang penting ada warnanya," ucap Agus.


Mereka duduk di kursi panjang, lengkap dengan mejanya.


"Kalian tau alamat rumahku dari mana?" tanya Sanu.


"Dari Aida temen satu kampungnya Kak Sanu," jawab Dara.


"Oalah ... aku dengar Dari Aida katanya kalian proses di Semarang ya?"


Dara mengangguk, lalu tersenyum bangga. "Aku dan Rina sekarang sudah jadi asment.


"Wah ...Syukurlah aku ikut senang mendengarnya."


"Kak Sanu proses lagi, dong?" biar kita semangat!" seru Eko.


Dara dengan cepat menonyor kepala Eko. "Mana mungkin Kak Sanu proses lagi."


"Aku sekarang usaha kecil-kecilan di rumah, Eko?"


"perempuan cantik pake baju hitam dan celemek itu siapa, Kak Sanu" tanya Agus.


"Itu namanya Narti salah satu karyawanku. Aku punya dua karyawan di sini, bergantian dua sifh. Satu laki-laki satunya lagi perempuan."


"Wah ...! Kak Sanu hebat. Kayak pohon kelapa," ucap Agus.


"Maksudmu?" tanya Dara.


"Pohon kelapa, dimanapun tempatnya dia akan tumbuh. Persis kayak Kak Sanu. Dimanapun Kak Sanu berada dia akan sukses." Agus berkata riang yang diikuti anggukan dari Dara dan Eko.


Bersambung ...