Sanubari

Sanubari
Pengejaran Asisten Manager



ke esokan harinya, seorang polisi datang menemui pak Hasan. Ternyata itu adalah ayahnya Muna. Meminta pertanggungjawaban patah tulang yang di derita anaknya.


"Bapak sebagai manager utama harus bertanggung jawab. Kalau tidak kasus ini akan kami usut!" ancam polisi itu.


"Bapak tenang dulu, kita bisa bicarakan secara baik-baik."


"Tenang bagaimana, gara-gara kelakuan karyawan Bapak, anak saya mengalami patah tulang." Ayahnya Muna terus saja meracau.


"Karyawan siapa, Pak. Anak Bapak jatuh karena ulahnya sendiri?"


"Bapak jangan memutar balikan fakta, anak saya terjatuh gara-gara di dorong oleh karyawan Bapak yang bernama Sanu."


"Bapak dapat informasi dari mana?" tanya pak Hasan.


"Dari anak saya sendiri. Dan saya percaya kepadanya. Dia anak yang baik."


Pak Hasan terkekeh. Pak Hasan lalu memutar rekaman cctv saat Muna mendorong Sanu ke kolam yang menyebabkan Sanu tenggelam.


Ayahnya Muna pun terkejut, ternyata anaknya lah yang berbuat jahat kepada Sanu.


"Anak Bapak patah tulang itu karena terjatuh dari lubang perahu saat dia merajuk ketahuan dialah yang mencelakai Sanu. Sebenarnya kami sudah ingin menanggung biaya pengobatan anak Bapak. Tapi, anak Bapak sudah tidak ada di kost."


Alanngkah malunya ayahnya Muna, bahkan ayahnya pun bisa di kelabuhinya.


"Dia bilang sudah satu minggu ada di kost, tidak di perhatikan."


"Bapak bisa lihat sendiri, kan. kapan anak bapak melakukan tindakan itu."


"Saya minta maaf atas kelakuan anak saya. Untuk masalah biaya pengobatan, biar saya sendiri yang menanggungnya." Ayahnya Muna pun bersalaman dengan pak Hasan. Masalah selesai, kini Muna tidak bisa lagi mengganggu Sanu dan anak kantor lainnya.


Hari-Hari di kantor pun belangsung seperti biasanya. Sanu dan Rina begitu semangat di lapangan, mereka bersaing siapa yang lebih banyak mendapatkan crew. Setiap hari Sanu dan Rina selalu membuktikan hukum rata-rata serta senantiasa menyebarkan brosur lowongan pekerjaan.


Mereka bekerja keras siang malam, melatih crew nya masing-masing. memberi motivasi saat crew mereka sedang bimbang. Bekerja sama membentuk tim yang solid.


Tiga bulan berlalu, tanpa sadar crew Sanu sudah ada sembilan orang dan memiliki tiga trainer. Itu artinya Sanu layak menjadi asisten manager, tinggal pengejarannya saja. Butuh empat puluh pcs selama dua minggu berturut-turut untuk menjadi asisten manager.


Pak Nazar pun merekomendasikan Sanu untuk lotrip, supaya dia bisa lebih muda untuk pengejaran asisten manager. Sanu menyetujui usulan pak Nazar. Sanu segera meminta persetujuan dari pak Hasan untuk melakukan pengejaran asisten manager di luar daerah.


"Daerah mana yang ingin kamu tuju, Sanu."


"Kerawang, Pak."


Pak Hasan langsung menyetujuinya. "Rencana mau berangkat kapan?"


"Minggu depan," ucap Sanu singkat.


"Baiklah, semoga sukses, Sanu."


"Terima kasih, Pak." Sanu begitu gugup setelah keluar dari ruangan pak Hasan. Dia tidak percaya akan melakukan pengejaran sebagai asisten manager.


Sanu betul-betul mempersiapkan diri untuk keberangkatannya satu minggu ke depan. Setiap hari dia memotivasi dan membantu crew nya membuktikan hukum rata-rata.


perasan campur aduk mulai menghantui Sanu saat mendekati hari H.


Sanu duduk di rooftop menunggu kedatangan Rina. Rina juga sudah memiliki enam crew, walaupun tidak sebanyak Sanu. Tapi, Rina puas dengan pencapaiannya selama tiga bulan ini.


"Hey, calon asisten manager?" ucap Rina menghampiri Sanu.


"Aku sudah lama menunggumu, Rina."


Sanu mendongak melihat bintang yang bertaburan di langit Ibu Kota. "Waktu berlalu begitu cepat. Aku juga tidak menyangka saat pertama kali mengenalmu dengan baju kedodoran. Sampai sekarang pun masih kedodoran," canda Sanu.


"Itu karena tubuhku kecil, Sanu. Bilang saja kamu mau mengejekku."


Sany tertawa lepas. "Maaf, Rina. Aku tidak bermaksud mengejekmu. Aku hanya mengucapkan sesuai fakta saja."


"Itu namanya mengejek, Sanu."


Sanu tidak berhenti tertawa. Rina adalah orang yang selalu membuat Sanu tertawa setiap berbicara dengannya.


"Bagaimana perasaanmu, dua hari lagi kamu akan pengejaran?" tanya Rina.


"Deg-degan, Rina. kalau malam sulit tidur."


"Mungkin aku suatu saat juga akan merasakan hal yang sama."


"Tentu saja, Rina."


Hari yang dinantikan pun tiba, Sanu dan semua crew nya berangkat naik bus menuju kerawang. Pak Nazar pun ikut untuk sekedar mengawasi keberangkatan Sanu.


Butuh waktu sekitar tiga jam rombongan Sanu sampai di terminal Klari. Semua crew Sanu berpencar mencari tempat kost untuk dihuni sepuluh orang. Salah satu crew Sanu merekomendasikan ada kost murah yang terletak di belakang terminal. Sanu dan Dara kesana untuk melihat tempat kost nya.


Tempat kost nya terlihat bersih dan memiliki dua ruangan. Sanu memesan tiga kamar kost untuk di tempati. Dara menelpone salah satu crew nya untuk menuju kost menyewa angkot.


Jarak antara terminal dan kost yang akan di tempati tim Sanu sebenarnya dekat. cuma, mereka membawa tiga kardus besar yang tidak mungkin di bawa bergantian.


lima menit menunggu, angkot yang mengantarkan tim Sanu datang, mereka menaruh barang mereka di masukan ke dalam kost.


"Karena kalian sudah dapat kost, Pak Nazar pulang dulu."


"Yahhh ...." suara kecewa dari crew Sanu menggelora di telinga.


Pak Nazar terkekeh, " kalian semangat ya."


Pak Nazar adalah manager favorit di kantor. tingkah lucu dan gaya bicaranya yang ceplas ceplos sangat di sukai anak-anak kantor. Apalagi dalam perjalan menuju terminal Klari, pak Nazar tidak henti mengocok perut dengan celetukannya itu.


"Untuk hari ini kita istirahat dulu teman-teman. Besok kita baru mulai pitcing."


"Siap Kak." Serentak tim Sanu.


Ini adalah pertama kalinya Sanu lotrip ke daerah. Sanu mendapatkan suasana baru yang lebih segar. Entah kenapa dia ingin sekali mencoba pitcing di sini.


Esok hari, tim Sanu mulai pitcing menyebar di Kota Kerawang. Tujuan awal perkampungan padat penduduk. Masyarakat perkampungan begitu antusias, bahkan warga berkerumun ingin mencoba terapi gratis. Tapi, jika di suruh untuk membeli alatnya bahkan dengan harga diskon, mereka menjauh dengan sendirinya. Itu berlangsung sampai sore hari.


Sebagian besar crew Sanu mengeluh karena mereka hanya ingin mencoba terapi gratis tanpa mau membeli satu alat pun. Sanu pun merasakan hal yang sama. Hari ini, hanya Sanu yang bisa membuktikan hukum rata-rata. Itu pun di jam akhir.


Sanu merubah strateginya. "Besok kita coba pitcing di perumahan. Kak Sanu lihat banyak perumahan di sini."


"Siap Kak Sanu." serentak crew Sanu.


"Hari ini kita tidak masalah jatuh, tapi jangan patah semangat. Masih waktu teman-teman."


"Siap Kak Sanu."


Bersambung ...