
Bondan dan jaka tiba di rumah barunya bu Mira. Disana ada Bari yang sedari tadi menunggu kedatangan Bondan dan Jaka. Bari ternyata menyuruh Bondan dan Jaka mengambil kalung yang di belinya di Kota Tua dan beberapa barang penting miliknya.
"Ini kuncinya, Mas." Bondan mengembalikan kunci kost Bari.
"Besok siang kalian kesana lagi buat bayar kost selama satu tahun."
Bondan dan Jaka saling melihat.
"Kenapa? Apa ada kendala."
"Tidak, Mas. Cuma ..."
"Cuma apa." Bari memotong ucapan Bondan.
"Tadi ada seorang wanita hendak menghalangi. Tapi itu tidak jadi masalah, kami sudah membereskannya."
"Wanita ... coba sebutkan ciri fisiknya.
"Orangnya cantik, rambutnya disemir kuning terang seperti emas," ucap Jaka.
"Apa ...!" Bari sontak berdiri dari tempat duduknya. Lalu mencengkram kerah jaketnya Jaka. "Kamu apakan gadis itu."
"Ka-kami buat pingsan, Mas." Jaka susah berbicara karena lehernya sedikit tercekik.
"Aku peringatkan kalian, jangan sekali-kali menyakiti gadis itu!" titah Bari.
"Ma-maaf, Mas."
Mira datang menuruni tangga. "Ada apa, Brian? Ramai sekali keliatannya."
Bari melepas cakalan tangannya dari jaket hitam Jaka. Mira melihat wajah kedua anak buahnya yang lesu sehabis dimarahi Bari.
"Kenapa wajah kalian lesu seperti itu. Lebih baik kalian kembali bekerja."
"Baik Nyonya." Bondan dan Jaka kembali ke postnya.
Mira duduk di samping Bari. "Kenapa kamu marah kepada Bondan dan Jaka. Mereka itu setia lho sama Mama."
"Anak buah Mama itu, menyakiti Sanu, Ma."
"Memang kamu perintahkan apa mereka. Lagian mereka berdua kan tidak tau Sanu."
"Cuman ambil kalung sama barang Brian."
"Mama bisa menebak ... pasti Sanu memergoki Bondan dan Jaka, bukan?"
Bari mengangguk pelan.
"Ya wajarlah, Brian. Mereka berdua tidak ingin keberadaan mereka diketahui. Mama yakin Sanu baik-baik saja."
Bari beranjak dari tempatnya menuju kamar. Mira hanya menggeleng kepalanya melihat anaknya yang bertindak tidak sopan kepada dirinya.
Bari memang setiap satu minggu sekali harus pulang untuk melaporkan perkembangan pabrik baru kepada Mira. Bari bisa saja mengirim laporan perusahaan lewat email atau dokumen. Tapi, Mira tidak mau, Mira hanya ingin menerima laporan pabrik langsung dari mulut Bari. Entah apa alasannya, Bari tidak tau.
Bari merebahkan diri di kamar sambil menatap lama kalung bertuliskan SanuBari itu. Dia ingin bertemu dengan Sanu, tapi keadaan belum memungkinkan. Pabrik ban yang Bari pegang masih belum stabil, mungkin satu dua minggu ini Bari bisa mentabilkan pengeluaran dan pemasukan di pabrik baru yang Bari tempati.
Esok harinya, Bari bergegas berangkat kerja menaiki motor sport berwarna biru. Bari selalu memakai warna biru, mungkin dia menyukai warna biru. Setiap senin sampai jum'at, Bari selalu lembur supaya segera menyelesaikan urusannya.
Karyawan pabrik sangat menyukai manager barunya itu. Walaupun usia bari masih muda, tapi dia bisa memberikan rasa aman kepada para buruh. Bari juga setiap minggu mengadadakan suatu kegiatan dengan hadiah-hadiah yang membuat para karyawan semangat bekerja. Tujuan Bari mengadakan perlombaan, untuk meningkatkan etos kerja karyawannya.
...***...
Hari ini Sanu tidak berangkat kerja, kepala masih terasa pusing terkena hantaman orang bertubuh besar itu. Rina di suruh pak Nazar Membelikan Sanu obat dan nasi bungkus untuk meredakan rasa sakitnya.
"Terima kasih, Rina."
"Itu dari pak Nazar. Semalam kamu kemana, Sanu. Aku melihatmu keluar kamar. Pas aku bangun tau-tau badanmu sudah menggigil."
"Semalam aku belum ngantuk, jadi aku keluar mencari angin. Aku melihat kedua orang yang mengejar Bari. Aku mengikuti dua orang itu masuk ke kost nya Bari. Pas aku mencegah kedua orang itu, mulutku dibekap lalu salah satu orang itu memukulku dari belakang hingga aku pingsan." Jelas Sanu menceritakan kepada Rina.
Rina terkejut menutup mulutnya. "Kenapa kedua orang itu bisa masuk ke kost nya Bari? Dari mana mereka dapat kunci kost nya?"
"Aku juga tidak tahu, Rina."
"Mereka berdua pasti ada hubungannya dengan Bari."
Bunyi pesan terdengar di handpone Rina. pak Nazar menyuruh Rina kembali ke kantor.
"Aku harus kembali dulu, Sanu. Masalah ini bicarakan nanti malam saja."
Sanu mengangguk. Sanu percaya dengan Rina, dia tidak akan menceritakan kepada siapapun apa yang Sanu alami.
Siang hari perut Sanu terasa lapar, mungkin ini efek obat yang Sanu minum. Sanu keluar dari kost untuk membeli makan. Tanpa disengaja, Sanu melihat lagi dua orang dengan tubuh besar itu. Kali ini dia tidak mau gegabah, diam-diam Sanu mengikuti kemana dua orang itu.
Mereka terlihat memberikan sejumlah uang kepada ibu kost nya Bari. Lalu mereka berdua masuk ke dalam rumah membicarakan sesuatu. Sanu tidak bisa mendengarnya, jarak Sanu terlalu jauh. Dengan langkah pelan, Sanu mendekati rumah ibu kost Bari. Tapi, kaki Sanu tesandung batu yang ada di sekitaran rumah.
Sanu mengerang kesakitan hingga terdengar kedua orang misterius itu.
"Kamu ...!" bentak Jaka. Bondan membisikan ke telinga Jaka supaya jangan menyentuh gadis ini atas perintah Bari.
Jaka pun bersikap lembut dengan Sanu. "Anda tidak apa-apa."
Jaka hendak membantunya, tapi Sanu segera menepis tangan Jaka. Sanu menjadi heran, kenapa dua orang ini tiba-tiba bersikap lembut terhadapnya.
"Kenapa kalian kesini lagi!" Hardik Sanu sambil membersihkan bajunya yang kotor.
Bondan dan Jaka saling pandang.
"Kami kerumah saudara. Ibu ini saudara kami," ucap Bondan sambil mengedipkan mata ke arah ibu kost.
"Dimana Bari ...kalian apakan Bari!" bentak Sanu.
"Maaf, mungkin anda salah orang. Kami kesini hanya ingin berkunjung kerumah kakak kami," ucap Jaka.
"Betul itu, Nak. Mereka ini adik-adiknya Ibu," ucap pemilik kost.
Sebelumnya Bondan dan Jaka memang merahasiakan ini kepada siapapun. Mereka juga sudah memberitahukan hal ini kepada ibu kost Bari.
Sanu mendengus kesal, dia tidak percaya kepada kedua orang ini.
"Kamu bilang tadi mencari Bari ya, Nak. Bari memang belum pernah pulang kesini," ucap pemilik kost.
Sanu terdiam menatap tajam kepada Bondan dan Jaka. Sanu sebelumnya tidak pernah semarah ini kepada seseorang.
"Kita mau pamit dulu, Kak. ada pekerjaan yang harus diselesaikan."
Bondan dan Jaka pun pulang, Sanu mengekor dari belakang.
"Kenapa anda masih mengikuti kami berdua."
"Aku tau kalian berdua berbohong kepadaku. Cepat katakan dimana Bari."
Bondan mengeraskan rahangnya lalu menunjuk ke arah belakang Sanu. "Itu Bari."
Sanu menoleh ke belakang, seketika itu Bondan dan Jaka berlari menjauh dari Sanu. Sanu melihat mereka berdua lari lalu mengejarnya. Mereka berdua terlalu cepat langkahnya, Sanu kehilangan jejak, napas Sanu memburu hebat seperti habis lari marathon. Sial bagi Sanu terkecoh oleh mereka berdua.