
Sanu kembali berangkat kelapangan dengan pak Nazar, kali ini Bari juga ikut. Ada Bari membuat Sanu gugup, Sanu belum mengerti apa yang terjadi dengan dirinya. Perasaannya terhadap Bari terlihat berbeda.
Seperti biasa pagi hari kereta listrik menuju arah timur sangat padat berdesakkan dengan manusia. Sanu sedikit mengerti kenapa setiap pagi kereta penuh sesak, karena orang-orang dari daerah sekitar Ibu Kota rata-rata naik kereta listrik, selain murah juga bisa terhindar dari macet.
Sanu, Bari dan pak Nazar turun di stasiun Gondangdia. Istirahat di Masjid kemarin.
"Nanti kalau kamu bisa terapi sepuluh orang, Kak Bari traktir kamu makan malam."
Sanu mengangguk tersenyum. "Bener ya, Kak?"
Sanu menjadi lebih tertantang untuk menunjukan kalau dia bisa menjawab tantangan Bari dan Muna.
"Sanu," panggil pak Nazar setelah selesai mengecek peralatannya.
"Iya, Pak."
"Nanti kamu kamu mulai coba alatnya ya. Aku akan memberimu contoh satu dua kali, selanjutnya kamu wajib untuk mencobanya.
Sanu mengangguk, dalam hati Sanu juga tidak sabar mencobanya. Dia ingin mendapat hadiah dari Muna dan Bari.
"Kamu pegang ini, Nanti kamu catat nama castamernya." Pak Nazar memberikan selembar kertas dan pulpen untuk mencatat nama castamer yang hendak di terapi.
"Bari, kamu ke RW sebelah, biar aku dan Sanu melanjutkan teritory yang kemarin."
"Siap, Pak."
Bari berjalan meninggalkan Sanu dan pak Nazar. Sanu terus melihat punggung Bari yang semakin jauh dari tatapannya. Diam-diam Sanu mendoakan Bari.
"Sudah siap, Sanu?"
"Siap, Pak?"
Seperti biasa pak Nazar terlihat lancar berbicara, pak Nazar memang pandai membuka pola pikir castamer yang tadinya tidak mau diterapi menjadi mau.
Giliran Sanu melakukan terapi, hanya menggeser geser alat berbentuk dolpin itu. Yang berbicara membuka pola pikir castamer tetap saja pak Nazar.
Sore telah tiba, Alat yang ada di dalam tas pak Nazar tinggal satu. Sanu hanya bisa terapi dua belas orang. Itu artinya Sanu dapat makan malam dari Bari.
"Ayo pulang, Sanu?"
"kak Bari mana, Pak Nazar?"
"Bari pulang agak sore. Kita pulang dulu untuk mengevaluasi kinerjamu hari ini."
Sanu mengikuti perintah pak Nazar.
Sesampainya di kantor, pak Nazar mengajak Sanu naik ke lantai tiga, Sanu kembali menulis sebuah papan panjang dengan judul Formula 4. Setelah selesai menulis, Sanu dipanggil pak Nazar untuk Evaluasi duduk bersila berhadapan.
"Bagaimana hari ini, Sanu?"
"Seru, Pak." Sanu berkata dengan mantap.
"Kenapa kita harus kelapangan, Sanu?" tanya pak Nazar.
Sanu menggeleng tidak tahu.
Pak Nazar tersenyum tipis. "Tujuan kita ke lapangan untuk melatih diri Sanu. Supaya kita kuat mental, gak gampang down saat mendapat masalah. Alat yang kita bawa sehari-hari ini hanya sebagai media saja."
Sanu mendengarkan ucapan pak Nazar dengan seksama. Walaupun Sanu belum begitu paham.
Bari datang melakukan tos tangan ke pak Nazar dan Sanu.
"Kenapa kamu terlihat ragu, Sanu."
"Eh, Aku hanya belum mengerti," alasan Sanu.
"Tadi itu namanya juice. Kamu harus sering-sering melakukannya Sanu. Supaya kamu memiliki semangat seperti ku," canda Bari membanggakan diri.
Sanu tersenyum simpul, Sebenarnya Sanu hanya gugup saja melihat Bari.
"Sanu kamu boleh kembali ke kost."
"Oiya Sanu ... berapa hari ini orang yang kamu terapi?" tanya Bari.
"Dua belas, Kak?"
"Bagus, itu berarti nanti malam aku harus mentraktirmu."
Sanu mengangguk lalu beranjak dari tempatnya menuju ke kost.
***
Malam hari Bari menepati janjinya mengajak Sanu makan malam. Sanu masih memakai seragam training yang diberikan Muna.
"Kita mau makan dimana, Kak?" tanya Sanu.
"Warung langganan ku, Sanu? Teman-teman kita juga biasanya makan disana.
Sanu mengerutkan dahi. Sanu di antar di sebuah warung kecil berwarna hijau. di depan warung tertempel baliho kecil bertulis 'warung budhe.'
Bari masuk diikuti langkah malu Sanu.
"Kamu mau pesan apa, Sanu?"
Bari mengangguk lalu memanggil pemilik warung. "Budhe ...! Makan."
Seorang perempuan paruh baya bertubuh besar dengan rambut dikuncir seperti patih gajah mada keluar.
"Pesen opo?" Orang yang biasa di panggil budhe itu memiliki logat jawa yang medok.
"Nasi sama sayur sop dua, makan di sini saja, Budhe."
Budhe segera membuatkan Nasi pesanan Bari.
"Kamu pacarnya Bari, ya?" ucap Budhe sambil memberi pesanan Bari.
"Eh. Bukan Budhe." Sanu dengan cepat menggeleng.
Bari hanya menahan senyum sambil memainkan garpu dan sendoknya.
Selesai makan Bari mengajak Sanu ke pasar.
"Kita mau ngapain kesini, Kak?"
"Jalan-jalan saja, dari pada di kost jenuh."
Sanu menghela napas, sebenarnya Sanu lebih ingin istirahat di kost, karena Sanu besok ingin berangkat pagi lagi. Sanu sudah tidak sabar pergi ke lapangan.
"Gimana, kamu suka kerja di sini?"
"Suka Kak, orangnya seru-seru dan mudah bergaul."
"Oya ... syukurlah Sanu kalau kamu betah."
"Apa lagi waktu di lapangan, banyak orang berbeda karakter. Tadi saja aku waktu mulai intro dimarahi castamer, dikira mengganggu tidur siang. Aku sedikit takut Kak. Untung pak Nazar langsung menghampiriku memberi penjelasan kepada castamer itu. Tapi setelah itu kita tertawa, merasa lucu saja."
"Kamu hebat Sanu sudah dapat bentakan dari castamer."
Sanu mengangkat satu alisnya. "Maksudnya gimana, Kak?"
"Kata pak Nazar, anak pitcing kalau belum di bentak itu belum terbentuk mentalnya," ucap Bari menjelaskan.
"Anak pitcing itu siapa, Kak."
Bari tersenyum. "anak pitcing ya kita ini, orang yang berproses di lapangan."
Sanu mengangguk baru tau.
"Besok kalau kamu jadi MD, nanti aku belikan kamu baju."
"MD itu apa lagi, kak?"
"Nanti juga kamu tahu, Sanu."
Sanu mengangkat bahu.
"Kita pulang, yuk. Aku antar kamu sampai depan kost."
Sanu membuka pintu kost melihat Rina yang kelihatannya baru pulang.
"Kamu baru pulang, Rina?"
"Iya." Seperti biasa Rina duduk di depan kipas angin mendinginkan badannya.
"Aku boleh tanya sama kamu, Rina."
"Tanya saja, Sanu. Kalau bisa aku jawab."
"MD itu apa, Rina."
"MD itu artinya Mercandiser Display. Jadi di sini itu ada tingkatannya, Sanu."
"Tingkatan." Sanu memicingkan mata.
"Kalau kamu ini masih training, kalau aku sudah MD, kalau kak Bari itu sudah Trainer, Kalau kak Muna itu posisinya leader, kalau pak Nazar itu sudah manager."
Sanu sedikit memahaminya. "Pak Nazar itu manager?"
Rina mengangguk. "Oiya ... kamu habis dari mana, Sanu?"
"Aku habis makan sama kak Bari."
"Berdua." Rina penasaran tersenyum menyeringai.
Sanu mengangguk kaku.
"Kamu suka ya sama kak Bari?" tanya Rina.
Sanu menunduk, wajahnya bersemu merah. "Aku itu makan malam sama kak Bari karena berhasil menjawab tantangannya, Rina."
Rina mengangguk. "Tapi kak Bari ganteng, kan?"
"Apaan sih, Rina." Sanu berlari ke kamar mandi sebelum Rina terus mengejeknya.
Rina hanya tertawa melihat tingkah Sanu.