
Sanu mengangguk menatap Bari.
Bari menghela napas menatap ke depan. "Aku ingin membuktikan kepada orang tuaku, kalau aku bisa hidup tanpa mereka."
"Kak Bari ada masalah dengan keluarga?tanya Sanu lirih.
Bari tersenyum sambil mengacak- acak rambut Sanu. "Yang penting kamu proses di sini serius, gak usah neko-neko."
Sanu terkejut dengan perlakuan Bari, baru kali ini Sanu tidak marah kepada lelaki yang berani memegang rambutnya. Sanu memajukan bibir bawahnya menyembulkan udara ke atas merapikan rambutnya.
"Ayo kita ke bawah, sebentar lagi jam malam di mulai."
Sanu mengikuti langkah Bari menuju lantai tiga. Di sana sudah ada banyak teman-teman Sanu duduk membentuk setengah lingkaran. Hari ini Sanu memang tidak di panggil maju ke depan. Tapi, entah kenapa hari ini Sanu merasa senang. Mungkinkah karena seharian bersama Bari? Tidak. Sanu menggeleng- gelengkan kepala segera menepis pemikirannya itu. Dia harus fokus bagaimana caranya menjadi trainer.
Tanpa diduga Rina di panggil moderator maju ke depan untuk menyampaikan kunci suksesnya hari ini. Sanu menjadi terlecut, besok Sanu tidak boleh kalah dari Rina. Dia berambisi besok bisa maju ke depan.
Di kamar kost, Rina terlihat kelelahan duduk di depan kipas angin kesayangan.
"Hey Rina? Kenapa setiap habis pulang kantor kamu selalu berada di depan kipas angin."
"Entahlah Sanu, aku merasa sejuk saja kalau berada di depan kipas angin. Di kantor membuatku pusing, jadi aku butuh penyejuk biar pikiranku tidak kalut."
Memang setiap pulang kantor wajah Rina terlihat pucat seperti orang yang punya penyakit darah rendah. Mungkin karena tubuhnya kecil dan kurus.
"Kamu sedang membaca apa, Sanu?"
"Aku sedang menghafalkan sistem yang ada di kantor. Jangan ganggu Rina."
"Hey ... aku tidak mengganggumu, aku hanya sedang bertanya."
Sanu memicingkan mata hingga membentuk kerutan di antara alisnya. Sanu hanya tidak ingin kalau Rina menggodanya tentang Bari. Tapi, kenapa Sanu tiba-tiba memikirkan Bari. Sanu tiba tiba tersenyum merapikan rambutnya.
"Hey Sanu, kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" tanya Rina menyelidik.
Sanu terkaget, "Tidak apa-apa, aku hanya baru tau kalau rambutku berbeda dari orang-orang pada umumnya."
"Rambut kamu memang indah Sanu, lurus berwarna keemasan," ucap Rina.
Tok...
Tok...
Tok...
Suara pintu terdengar, Rina membuka pintu. Muna dan Bari bertamu hendak memberi buah.
"Ini Kak Muna dan Kak Bari belikan buah mangga untuk tambah imun."
"Terima kasih, kak? Tidak mampir dulu, Kak," ucap Rina basa-basi.
"Gak usah, aku dan Bari mau makan dulu, sudah lapar," ucap Muna.
Sanu melihat tidak suka melihat kedekatan Muna dan Bari.
"Mereka mau kemana, Rina?" tanya Sanu.
"Mau makan ..." Rina melihat wajah Sanu yang tampak cemberut. "Kenapa wajah kamu cemberut, Sanu."
"Tidak apa-apa," ucap Sanu.
"Kamu cemburu ya, melihat mereka jalan berdua?" tebak Rina.
"Tidak Rina, aku hanya kurang enak badan." Sanu langsung merebahkan tubuhnya lalu menarik selimut membelakangi Rina.
"Tapi sikapmu itu terlihat sekali, kalau kamu cemburu dengan kak Muna."
Sanu menutup telinganya, tidak mau mendengarkan Rina berceloteh.
"Ya sudahlah kalau begitu. Aku mau mandi dulu, sebelum tidur alangkah baiknya mandi, Sanu. Kamu belum mandi, baju kantormu saja belum kamu ganti?!" teriak Rina dari dalam kamar mandi.
Sanu pun salah tingkah sendiri, dia lupa kalau belum mengganti bajunya. Sanu mengangkat tubuh dan melepas selimutnya menunggu giliran Rina mandi. Sanu mendengus kesal.
...***...
Pagi ini, Sanu begitu semangat berangkat ke kantor. Hari ini dia bertekad maju kedepan. Sanu sudah melakukan persiapan tadi malam. Seperti apa kata pak Nazar, Sanu harus fokus dan memakai sistem saat di lapangan.
"Pagi, sanu ...." Pak Nazar menyapa Sanu di depan pintu kantor.
"Pagi Pak Nazar." Sanu melakukan tos tangan sebagai tanda semangat.
Hari ini Sanu berangkat ke lapangan dengan Bari lagi.
"Hari ini sistem apa yang akan kamu lakukan, Sanu?" tanya Bari.
"Tenang dan kerja keras, Kak." Salah satu sistem yang ada di kantor
"Jika hari ini kamu bisa membuktikan sistem, nanti malam aku akan traktir kamu makan di warung Budhe."
Sanu menyunggingkan senyum.
"Nanti sore kumpul di sini lagi, ya."
Seperti biasa Sanu dan Bari mengetuk pintu rumah menawarkan terapi gratis hingga sore hari.
Sepuluh orang yang Sanu terapi belum membuahkan hasil. Hingga orang ke dua belas tepat waktu Ashar, Sanu baru bisa membuktikan hukum rata-rata. Sanu begitu puas dengan pencapaian hari ini. Sanu Tidak sabar menceritakannya kepada pak Nazar.
Bari sudah menunggu Sanu di Mushola. Sanu berjalan dengan riang menenteng tasnya.
Bari tersenyum melihat Sanu. "Kamu hebat, Sanu."
Sanu mengangguk lalu tersenyum. "Orang ke dua belas baru bisa, Kak."
Ayo kita pulang, nanti kita sambil evaluasi di kantor.
Sesampai di kantor, pak Nazar mengumpulkan timnya untuk evaluasi. Tim pak Nazar cuma ada empat orang, Sanu, Rina, Bari dan Muna. Mereka duduk bersila membentuk lingkaran di lantai tiga.
"Hari ini di syukuri saja yang penting kita masih diberikan keselamatan. Di lapangan kita anggap saja sebagai batu loncatan. Di lapangan, anggap saja sedang membentuk mental kita, dengan tolakan, bentakan dari castamer itu membuat mental kita terbentuk. Di lapangan anggap saja kita sedang belajar melatih komunikasi kita. Sanu, Rina semangat jadi trainer."
"Siap Pak Nazar!" ucap Sanu dan Rina bersamaan.
"Rencana jadi trainer kapan?" tanya pak Nazar.
"Satu bulan Pak Nazar," jawab Sanu.
"Kalau kamu, Rina?"
"Rina mah ngalir aja Pak Nazar."
"Yang penting harus punya perencanaan dan tujuan yang jelas," ucap Pak Nazar.
"Siap!" Serentak.
"Sudah mau magrib, yang mau sholat silahkan, habis itu ikut jam malam." Pak Nazar menutup evaluasinya.
Jam malam di mulai, Sanu dipanggil ke depan untuk mengucapkan kunci sukses. Wajah Sanu terlihat berseri karena bisa membuktikan hukum rata-rata di jam akhir.
seusai program malam, Bari mengajak Sanu makan malam di warung Budhe.
"Kak Bari tidak mengikuti pengarahan dari manager?"
"Tidak, aku sudah izin dengan pak Nazar mengajak makan malam kamu."
"Mamang boleh, ya?"
"Sanu, tunggu!" panggil Rina menuruni anak tangga. "Mau makan ya, bareng."
"Boleh," ucap Bari.
"Makan dimana, Kak?" tanya Rina.
"Biasalah, warung kebanggaan kita, Warung Budhe."
Rina terkekeh.
"Hari minggu kita jalan lagi, yuk?" usul Bari.
"Boleh, mau jalan kemana?" tanya Rina.
Bari memegang dagunya tampak berpikir sejenak.
"Kita ke kota tua saja, yuk. nanti sekalian foto-foto."
"Sanu, kenapa kamu diam saja, kamu tidak mau jalan hari minggu," ucap Rina.
"Bukan begitu, aku terserah kamu saja, Rina?" Wajah Sanu bersemu merah.