Sanubari

Sanubari
Merawat Atmaja.



Setelah sampai di rumah Atmaja, Bari mengajak Sanu naik ke lantai atas menemui papanya. Sanu melihat mbok yem yang terlihat sedang membersihkan rumah.


"Mbok Yem ...! panggil Sanu.


Mbok Yem sejenak mengingat wajah gadis cantik yang memanggilnya.


"Kamu ... Sanu, kan?"


"Iya, Mbok."


Mbok yem tampak kagum melihat penampilan Sanu. "Kamu semakin cantik saja, Sanu. Dari mana saja kamu? Mbok dengar dari satpam katanya kamu kabur dari rumah."


Bari menyela pembicaraan. "Mbok kita ke atas dulu ya."


"Iya, Den."


Mbok yem dalam hati bertanya-tanya. "Kok Sanu sama den Brian ya."


Sanu dan Bari menghampiri Atmaja. Sanu sudah tidak ada rasa trauma lagi semenjak Atmaja meminta maaf kepadanya.


Bari membuka pintu kamar Atmaja. "Papa."


Atmaja tersenyum menandakan dia senang dengan kedatangan Bari dan Sanu.


"Hari sudah mulai terik, apa papa mau jalan-jalan di belakang rumah?" tanya Sanu ramah.


"Mbok Yem ...!" panggil Bari dari lantai atas.


"Iya, Den!" Mbok Yem segera naik ke lantai atas menemui Bari.


"Tolong bantu saya menggendong papa turun ke bawah. Papa ingin jalan-jalan sebentar.


"Baik, Den."


Bari dan mbok Yem membopong turun dari tangga, sedangkan Sanu membawa kursi roda Atmaja.


"Terima kasih ya, Mbok," ucap Bari setelah meletakkan tubuh Atmaja duduk di kursi roda."


Mbok Yem pergi melanjutkan tugasnya. Sanu mendorong kursi roda menuju kolam renang belakang rumah. Sanu berkeliling kolam renang Sambil bercerita tentang peekerjaannya yang sekarang. Atmaja terlihat diam, tapi dia sebenarnya mendengarkan perjuangan Sanu selama menjadi sales MLM.


Hari mulai terik, Bari memanggil Sanu untuk masuk ke dalam rumah. Sanu mengindahkan panggilan Bari. Makan siang sudah di hidangkan di meja makan.


"Mbok Yem ...," panggil Bari.


"Tolong nanti kamar papa di pindah ke bawah saja, kasihan yang menjaga papa harus naik turun tangga."


"Iya, Den," ucap wanita paruh baya yang sering menguncir rambut berbentuk bantalan itu.


"Nanti saja, Mbok. Biar Sanu bisa bantu Mbok yem. Lebih baik Mbok Yem istirahat saja dulu."


Mbok yem mengangguk tersenyum kepada Sanu.


Sanu menyuapi sedikit demi sedikit bubur ke mulut Atmaja hingga habis tak tersisa.


"Wah ... habis. Baru kali ini bubur pak Atmaja habis," ucap Mbok Yem.


"Siapa dulu dong yang nyuapin?" sahut Bari.


"Siapa, Den?" tanya mbok Yem.


Bari mengendikan kepalanya ke arah Sanu.


"Kamu yang menyuapi Pak Atmaja?" tanya mbok Yem.


Sanu mengangguk tersenyum.


"Hebat kamu, Sanu. Lebih baik kamu kerja di sini lagi saja," ucap mbok Yem.


Sanu tertawa. "Ayo Mbok, bersihin kamar papa, nanti Sanu ceritakan semuanya."


Mbok yem dan Sanu membuka kamar yang dulu di tempati oleh Atmaja dan istri lamanya. Sambil bersih-bersih kamar, Sanu menceritakan kejadian mengapa dia pergi dari rumah Atmaja. Hingga dia sekarang menjadi manager di kantor Pasar Minggu. Mbok Yem pun kagum dengan perjuangan Sanu yang berhasil sampai sejauh ini.


"Kamu perempuan yang kuat, Sanu." Mbok Yem mulai terlihat minder dengan posisi Sanu sekarang


Sanu tersenyum. "Mbok Yem biasa saja dengan Sanu. Tidak usah bersikap formal. Sanu tetap menganggap Mbok yem orange tua Sanu di sini."


Mbok Yem semakin kagum dengan Sanu. Wanita bertubuh gempal itu tersenyum sumringah kepada Sanu.


Kamar sudah selesai di bersihkan. Atmaja masuk ke dalam kamar barunya.


"Lebih baik Mbok Yem tidur di sini saja dulu, kasihan papa, tidak ada yang mengurus."


"Iya, Den."


Suara langkah sepatu terdengar jelas masuk ke dalam rumah. Itu Glenca, memandang sinis ke arah Sanu dan Bari. Untuk saat ini Glenca tidak mau berdebat dengan Bari. Posisinya saat ini tidak menguntungkan. Dia lebih baik masuk ke kamar, menyusun rencana untuk menyingkirkan Bari dan Atmaja secara bersamaan.


"Tumben tidak cari gara-gara," gumam Bari.


Bari mengangguk mengantar Sanu pulang.


"Kita nanti mampir dulu ke toko swalayan ya, Kak."


"Memang kamu mau beli apa?" tanya Bari.


"Aku mau beli makanan ringan untuk Dara." Biar nanti pas aku pulang dia tidak banyak bertanya dari mana aku pergi."


Bari menahan tawa.


"Kak Bari mengejekku ya?" Sanu mencubit manja lengan Bari.


"Maaf, Sanu. Kamu itu memiliki crew yang lucu lho."


Sanu tersenyum.


"Ini dipakai helmnya," ucap Bari


Sanu mengambil helm dari tangan Bari lalu memakainya. Bari menghidupkan motor sportnya. Sanu duduk di belakang Bari melingkarkan tangan mulusnya ke perut Bari.


"Sudah Siap," ucap Bari.


Sanu mengangguk mantap. Bari melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Jalanan Ibu Kota terlihat cukup lengang. Mungkin karena sebagian warga kota masih menikmati liburan akhir tahun ke luar kota.


Sanu sampai di terminal pasar minggu dengan lancar. Bari melambaikan tangan pamit kepada Sanu. Sanu membalas lambaian tangan Bari sambil menebarkan senyum manisnya.


Sanu berjalan menuju kost, pintu kost masih tertutup. Sanu membukanya, ternyata Dara masih tertidur pulas.


"Dara bangun, ini jam berapa?"


Dara menggeliat malas, lamat-lamat menatap Sanu.


"Bangun Dara? Ini sudah sore. Tidak baik anak gadis tidur seharian," ucap Sanu.


"Aku masih malas bangun, Kak Sanu." Dara kembali menarik selimutnya.


"Ya sudah kalau kamu tidak mau bangun. Berarti aku berikan camilan ini untuk Elfa saja."


Dara langsung beranjak dari tidurnya. "Jangan ...!"


Sanu tertawa kecil. "Kamu itu mirip Rina, tubuhnya kecil tapi makannya banyak."


Dara memajukan bibirnya. "Jangan samakan aku dengan Kak Rina. Tubuhku bukan kecil, tapi seksi."


Sanu tertawa lepas.


"Ngledek ya," ucap Dara.


"Lha ...orang cuma tertawa."


"Iya tapi tertawanya Kaka Sanu tertawa ngledek."


"Memang." Sanu menjulurkan lidahnya.


Dara mengambil kripik kentang lalu memakannya dengan wajah kesal.


Sanu mengambil gayung berisi air menyiram bunga melati. "Jangan di habiskan ya, Dara. Sebagian buat Elfa sama Rina."


"Iya ... Kak Sanu habis dari mana?" tanya Dara.


"Habis keluar membeli kripik buat kamu dan Rina."


"Halah, bohong. Memang Dara tidak lihat, Kak Sanu keluar dengan Kak Bari."


"Kalau sudah tau kenapa bertanya?"


"Aku tidak bertanya, aku cuma ingin mengetes kejujuran Kak Sanu saja." Dara berbisik kepada Sanu. "Kak Sanu tukang bohong."


Sanu pun tak mau kalah. "Biarin."


"Dara mau mau mandi dulu, sebel lihat Kak Sanu."


Sanu tidak peduli, toh dia sudah jadi manager jadi tidak akan dilarang kalau punya pacar.


Malam hari, di kediaman Atmaja tampak sepi, disana hanya ada satpam penjaga dan Kampleng yang sedang asyik bermain catur.


Tiba-tiba Glenca datang menemui satpam penjaga dan Kampleng.


"Kampleng, aku ingin bicara denganmu?"


Kampleng beranjak dari tempatnya mengikuti langkah Glenca di halaman belakang.


Bersambung ...