Sanubari

Sanubari
Kecelakaan Hebat.



Bari mengambil mobil dari garasi rumah, di ikuti Sanu dari belakang mendorong kursi roda yang diduduki Atmaja.


Glenca dari balik jendela kamar tersenyum sinis mengintai mereka bertiga. Dia lantas menelopone Kampleng yang beralasan sakit untuk bersiap-siap.


Bari melajukan mobil dengan sempurna, Atmaja dan Sanu duduk di belakangnya. Sebuah motor matic diam-diam mengikuti mobil yang di kenderai mereka bertiga. Bari tidak menyadarinya.


Mobil terparkir sempurna di depan rumah sakit. Bari turun menyiapkan kursi roda yang ada di belakang jok mobil, lalu memapah Atmaja dibantu Sanu meletakkan di kursi roda. Sanu mendorong Atmaja masuk ke dalam rumah sakit beriringan dengan Bari.


Orang yang mengikuti mobil Bari membuka helmnya, ternyata dia adalah Kampleng dengan kumis tebalnya. Kampleng menuju parkir dengan membawa tank dan gunting. Kampleng mengendap mendekati mobil yang dikendarai Bari. Kampleng terbiasa menyetir mobil ini saat mengantar Atmaja cek up, jadi dia sudah paham letak onderdil mobilnya. Kampleng merayap kebawah mobil, lalu memutus kabel rem mobil. Ini rencana yang sudah di rencanakan sejak lama. Kampleng dan Glenca tinggal menunggu waktu yang tepat. Dengan seribu langkah Kampleng dengan cepat menjauh dari tempat parkir itu. Petugas parkir tidak melihat keberadaan Kampleng.


Kampleng tersenyum menelpone Glenca, tugasnya sudah selesai. Kini tinggal menunggu hasil dari perbuatannya.


Bari, Sanu dan Atmaja sudah keluar dari rumah sakit. Kondisi Atmaja semakin membaik, mungkin jika rutin cek up Atmaja akan segera pulih.


Bari menaiki mobil menyetir dengan kecepatan sedang. Sanu dan Atmaja duduk di belakang. Tidak ada masalah di sepuluh menit perjalanan, hingga mobil bari berada di tanjakan, lalu menurun, Bari mulai merasa ada yang tidak beres dengan mobil yang dikendarainya. Bari mencoba mengerem, tapi rem nya blong. Mobil masih ada di turunan jalan dengan kecepatan tinggi. Sanu berteriak panik, Bari tidak bisa mengendalikan laju mobilnya, di depan ada sebuah truk yang melaju pelan. Bari sudah tidak tau lagi apa yang harus dia lakukan, dia membelokan mobilnya hingga menabrak dengan keras pembatas jalan, mobil terguling-guling beberapa meter, terbalik. Atmaja ikut terpental jauh dengan kepala penuh dengan darah tergeletak di jalan. Lalu lintas yang padat berhenti dengan seketika karena ada sebuah kecelakaan tunggal.


Bari dan Sanu masih ada di dalam mobil. orang-orang sekitar segera menolongnya. Ambulans segera dihubungi. Bari pingsan dengan wajah belumuran darah, sedangkan Sanu pingsan, kakinya terjepit diantara besi mobil yang sudah remuk. Bari berhasil dikeluarkan dari mobil, tapi Sanu butuh perjuangan, kakinya terjepit, membutuhkan Alat untuk menghancurkan besi yang menjepitnya. Sanu sedikit tersadar, tapi samar-samar melihat orang mengerumuninya, kepalanya mulai pusing, lalu dia kembali pingsan darah becucuran mengalir di besi yang menjepit kakinya.


Sirine Ambulan mulai terdengar, Bari segera di masukan ke ambulan mendapat pertolongan pertama. Sanu masih ada di mobil, warga berusaha mengeluarkannya. Alat bantu pernapasan dipasang di mulut dan hidung Sanu.


Polisi datang membantu evakuasi, beberapa jam kemudian besi mobil yang menjepit kaki Sanu terlepas. Sanu segera masuk ke ambulans di bawa ke rumah sakit. Atmaja nyawanya tidak tertolong, dia meninggal seketika saat tubuhnya terpental.


Mira yang ada di rumah mendapat kabar dari rumah sakit kalsu anaknya kecelakaan. Mira shock seakan tidak percaya. Bondan dan Jaka segera mengantar Mira menuju rumah sakit tempat Bari dan Sanu dirawat.


Bari dan Sanu berada di ruang IGD belum sadarkan diri.


"Dok bagaimana keadaan anak saya." Mira bertanya panik.


"Kami segera meneriksanya, Bu. Kondisinya masih kritis.


"Beri pelayanan terbaik, Dok. Berapapun akan saya bayar."


"Ibu tenanglah, kami sekuat tenaga akan menyelamatkan anak Ibu." Dokter segera masuk ke ruangan IGD untuk memeriksa kondisi Bari dan Sanu.


Glenca yang berada di apartemen arya begitu senang setelah mendengar kabar dari Kampleng kalau mobil yang ditumpangi Atmaja kecelakaan dan terguling.


Glenca merayakan keberhasilannya dengan Arya dengan menari sambil menenggak minuman keras sepuasnya. Tak berapa lama Kampleng datang membuka pintu apartemen.


"Kerja yang bagus, Kampleng."


Kampleng tersenyum tipis.


"Bagaimana kondisi Atmaja?" tanya Arya.


"Atmaja meninggal di tempat."


Glenca dan Arya bersorak gembira layaknya menang lotre.


"Kalau Brian?" tanya Glenca.


Glenca tertawa puas. "Aku suka dengan cara kerjamu, Kampleng."


"Aku sudah melakukan tugasku, sesuai perjanjian, empat puluh persen harta Atmaja adalah hartaku," ucap Kampleng dengan mata tajam.


"Tenang saja, Kampleng. Aku tidak akan mengingkari ucapanku. Setelah aku mendapat hak waris dari Atmaja, aku akan membagikan sebagian hartanya untukmu."


"Kampleng! Bagaimana kalau nanti malam kita bersenang-senang ke diskotik, untuk merayakan keberhasilan kita," ucap Arya.


Kampleng menatap kaku mereka berdua.


"Tidak usah tegang seperti itu, kamu sudah berjasa untuk Glenca. Anggap saja kita berdua ini saudara."


"Betul Kampleng, ikut saja dengan Arya. Kamu belum pernah 'kan merasakan indahnya dunia malam dengan dikellingi wanita-wanita cantik yang bisa kamu pakai sesuka hatimu," rayu Glenca menjamah dada bidang Kampleng.


Kampleng tersenyum simpul. "Baiklah, jemput aku di depan rumah."


Arya terkekeh menepuk-nepuk pundak Kampleng. "Siap saudaraku.


Kampleng pamit hendak mengurus jenazah Atmaja.


Glenca menatap tajam punggung Kampleng. Arya menutup pintu rapat-rapat saat Kampleng keluar ruangan apartemen.


"Kamu tau 'kan tugasmu berikutnya?"


Arya tersenyum liciik menatap jendela luar. "Kamu tenang saja, aku akan segera menyingkirkannya."


Glenca memegang lembut pundak arya. "Aku percayakan urusan ini padamu. Jangan sampai gagal."


Glenca pun keluar dari apartemen hendak pulang ke rumah Atmaja. Sesampainya di rumah, terlihat banyak orang memakai pakaian serba hitam. mereka berkabung atas meninggalnya Atmaja. Glenca kembali memainkan perannya. Dia menjerit, menangis seolah merasa kehilangan. Beberapa karyawan kantor mencoba nenenangkannya, beberapa lagi tidak ambil pusing dengan teriakan Glenca. Sebab mereka tau wanita seperti apa Glenca.


Glenca lalu berjalan gontai memeluk peti mati suaminya. Menangis sesenggukan.


Ali yang melihatnya merasa jijik dengan aktingnya Glenca.


Ambulans datang siap mmbawa Peti mayat Atmaja ke TPU. Glenca ikut menaiki mobil di belakang ambulans, menyeringai, seakan ini adalah hari kemenangannya.


Ali dan para karyawan kantor memberi penghormatan terakhirnya. Glenca masih duduk berpimpuh di pusara terakhir Atmaja.


"Mau sampai kapan kamu akan bersandiwara. Bukankah ini yang kamu inginkan," ucap Ali dengan nada bergetar.


Glenca hanya melihat Ali yang berdiri disampingnya sambil menangis. Ali kemudian pergi meninggalkan Glenca. Suasana begitu lengang. Glenca menyeka sudut matanya tertawa bahagia di kuburan Atmaja.


"Kini hartamu akan menjadi milikku pak tua." Glenca berdiri, lalu meludahi kuburan Atmaja. Pergi dengan segera.


Beraambung ...