
"Kak Dara juga pernah cerita kepada kita kalau dia punya bulek yang tinggal di daerah Sawah Besar."
"Daerah itu ada di Depok," ucap Sanu.
"Bagaimana kalau kita pitcing kesana, kali aja bisa bertemu dengan kak Dara," ucap Agus.
Sanu mengangguk setuju. "Oke, kita berangkat."
Mereka bertiga pun menaiki angkot menuju Sawah Besar. Sanu, Agus dan Eko turun di Masjid besar untuk melakukan persiapan.
"Kita tetap pitcing seperti biasa, tapi kali ini kita berpencar. Nanti waktu Ashar kita kumpul di sini lagi," perintah Sanu.
Eko dan Agus setuju dengan ide leadernya itu. Mereka bertiga mulai berpencar, pitcing sekaligus mencari keberadaan Dara.
Eko dan Agus setiap terapi castamer, mereka bertanya tentang Dara serta ciri-cirinya berambut panjang sepunggung serta memiliki gigi gingsul. Castamer tidak ada yang tau, sebab Sawah Besar sangatlah luas. Kalau mencari secara manual, bisa sampai satu bulan baru bisa menemukannya.
Sore tiba, Mereka bertiga kumpul di Masjid besar. Hari ini tidak ada yang menemukan Dara. Eko dan Agus hari ini juga zero, hanya Sanu yang bisa membuktikan hukum rata-rata.
"Tidak masalah kita tidak bisa menemukan keberadaan Dara. Yang penting kita jangan menyerah.Kita sisir setiap perkampungan yang ada di sini," ucap Sanu.
Eko dan Agus mengangguk setuju.
"Ayo kita pulang, sebelum hari gelap," ucap Sanu.
Malam hari setelah program malam selesai, Sanu bergegas menelpone Dara. Tapi, handphone Dara tidak aktif. Rina menyuruh Sanu terus menghubunginya supaya Dara merasa diperhatikan.
Sudah beberapa kali Sanu menghubungi Dara, tapi tetap saja, handphone nya tidak aktif.
"Jangan-jangan handphone nya Dara dibawa sama buleknya," ucap Rina.
"Atau memang Dara tidak mau lagi ada di sini." Sanu terlihat bersedih menundukan kepala.
"Kamu tidak boleh bicara seperti, Sanu. Kamu harus tetap berpikir positif. Kamu bilang Dara akan kembali, kan?" Rina mencoba menyemangati Sanu.
"Kamu benar, Rina. Aku akan berusaha mencari Dara."
Rina tersenyum, menepuk pundak Sanu. "Itu Sanu yang aku kenal."
Hari-hari dilalui Sanu dan kedua MD nya dengan mencari keberadaan Dara. Mereka bertiga pitcing menyusuri setiap perkampungan yang ada di Sawah Besar. Selama beberapa hari ini informasi tentang Dara belum ditemukan.
Hari ini hari Sabtu, mereka bertiga melanjutkan pitcing di Sawah Besar.
"Sudah satu minggu kita mencari Kak Dara, tapi belum ketemu juga," ucap Eko.
"Sabar Eko ...? Kita jangan mudah putus asa sebelum ada kejelasan dari Dara," ucap Sanu.
"Kita pitcing sampai malam saja, Kak. Mumpung hari sabtu."
"Kali ini pitcingnya jangan berpencar, kita harus bersama," ucap Sanu.
"Kenapa?" tanya Agus.
"Kalian sudah zero tiga hari," tegas Sanu.
Agus dan Eko tersenyum nyengir, mereka tidak sadar kalau mereka sudah tiga hari tidak membuktikan hukum rata-rata.
Mereka bertiga mulai pitcing sambil bertanya keberadaan Dara. Sore setelah Sanu menunaikan kewajibannya sebagai muslim, Sanu melihat sosok perempuan paruh baya dengan pakaian kantor, sepertinya perempuan itu baru pulang kerja. Sanu mengikuti perempuan paruh baya itu, disusul Agus dan Eko yang ada di belakang Sanu.
"Kak Sanu kenapa?" tanya Agus pelan.
Sanu menempelkan jari telunjuk ke mulutnya menyuruh agus diam. "Ikut saja, nanti aku jelaskan."
Mereka bertiga mengendap mengikuti perempuan paruh baya itu. Perempuan paruh baya itu masuk ke sebuah rumah kecil bewarna kuning cerah nan asri. Halaman rumah itu banyak tanaman hias dan pohon rambutan yang rindang. Sanu, Eko dan Agus mengamati rumah itu dari kejauhan.
"Itu buleknya Dara," ucap Sanu.
"Kenapa kita masih ada di sini, ayo kita masuk." Agus hendak menemui Dara, tapi Sanu dengan cepat menahan tangannya Agus.
"Jangan dulu, sepertinya buleknya Dara baru pulang kerja. besok saja kita kesini lagi."
"Ya sudah, terserah Kak Sanu saja," ucap Eko.
Mereka bertiga pun pulang menaiki angkutan umum ke Pasar Minggu.
...***...
Tak berselang lama mereka datang dengan senyum tanpa dosa. Sanu bertolak pinggang menatap tajam mereka berdua.
"Jam berapa ini?"
"Jam Sembilan, Kak," jawab Agus.
"Kita janjian jam berapa?"
Mereka berdua tersenyum nyengir.
"Maaf, Kak. Si Agus ini mandinya lama," ucap Eko.
"Kamu yang lama, aku dari tadi nungguin kamu mandi sampai ketiduran," elak Agus.
"Aku nunggu kamu mandi sambil nonton drakor sampai selesai, kamu belum juga selesai." Eko tidak mau kalah.
"Sudah-sudah! Kalian ini malah saling menyalahkan. Ayo berangkat."
"Iya, Kak Sanu ...," ucap Agus dan Eko bersamaan.
Agus dan Eko berjalan mengekor di belakang Sanu. Mereka bertiga menaiki Angkot arah Sawah Besar. Perjalan mereka tampak lengang, tidak begitu padat seperti hari biasanya. Mereka bertiga turun di gang rumah buleknya Dara.
"Ingat ya, jaga kesopanan."
"Iya, Kak Sanu," ucap Eko dan Agus bersamaan.
Sanu menghela napas dalam-dalam. Suasana rumah tampak sepi, tapi pintu rumah terbuka lebar.
"Assalamualaikum ...!"
"Walaikum salam!" seorang perempuan paruh baya menghampiri Sanu.
"Pagi, Bulek," sapa Sanu.
Perempuan paruh baya itu tampak tidak senang dengan kedatangan Sanu.
"Kamu teman salesnya Dara, kan."
"Iya, Bulek." Sanu mengangguk sambil tersenyum.
"Dari mana kalian tau rumahku?" tanya buleknya Dara.
"Kami tidak sengaja kemarin melihat bulek masuk rumah ini, sebenarnya kemarin kita mau masuk tapi takut mengganggu," ucap Sanu.
"Ada urusan apa kalian kesini?"
"Kami ingin bertemu dengan Dara, Bulek."
"Dara tidak ada di sini, dia sudah pulang di kampung halamannya."
Wajah Sanu tertunduk lesu. "Kalau begitu kita pamit dulu, Bulek."
"Silahkan." buleknya Dara tersenyum sinis.
Sanu, Eko dan Agus berbalik badan hendak pulang. Tapi sesosok perempuan cantik dengan rambut dikuncir memanggil namanya. Sanu menoleh ke sumber suara, itu Dara menghampiri Sanu. Dara terlihat cantik dan kulitnya terlihat lebih bersih.
"Dara ...!" Mereka berdua pun berpelukan melepas rasa rindu.
"Kenapa bulek tidak menyuruh teman Dara masuk?"
Bulek memalingkan wajah sambil melipat kedua tangannya.
Dara mempersilahkan Sanu, Eko dan Agus masuk rumah. Duduk di ruang tamu.
"Kalian mau minum apa?" tanya Dara.
"Air putih saja, tapi yang ada warnanya, kalau bisa pakai es," ucap Eko.
Sanu mendelikan mata ke arah Eko dan Agus.
Dara menahan senyumnya, "Maksudnya sirup?"
Agus dan Eko mengangguk setuju.