
Esok harinya Sanu melaporkan perbuatan Muna kepada pak Nazar. Sanu juga memberi bukti chat mantan crew nya yang memang benar Muna adalah orang yang menyebabkan ketiga mantan MD Sanu keluar. Pak Nazar langsung memanggil Muna ke ruang observasi. Pak Nazar begitu marah dengan Muna. Dia tidak menyangka ada duri dalam daging di tim nya. Tapi Muna tetap tidak mau mengakuinya. Bahkan Muna menuding kalau Sanu telah memfitnahnya.
Pak Nazar tidak kehabisan akal, Dia memanggil Sanu masuk ke ruang observasi.
"Sanu, coba perlihatkan chat mantan crew kamu." Sanu memperlihatkan chat itu kepada Muna.
Muna membulatkan mata menatap chat yang di kirim Sanu.
"Mereka pasti telah bersekongkol untuk menjatuhkanku," ucap Muna.
"Kamu tidak usah mengelak, kemarin aku bertemu Dengan Lukman. Dia sudah menceritakannya kepadaku."
kali ini Muna sudah tidak bisa lagi beralasan.
Pak Nazar menatap tajam Muna. "Kenapa kamu melakukan itu, Muna. Bukankah kita satu tim harusnya kamu bisa saling bekerja sama."
Muna terdiam, suasana menjadi lengang.
"Kenapa kamu diam saja."
Muna menatap tajam mengeraskan rahangnya. "Karena aku iri dengan Sanu. Semenjak ada dia, sikap pak Nazar berubah. seakan aku tidak ada di tim ini. Bahkan saat Sanu membuat kesalahan pun, pak Nazar masih membela Sanu. Aku yang setiap hari berjuang untuk tim ini tidak pernah pak Nazar anggap!" jelas Muna menimpali kekesalannya kepada pak Nazar.
"Itu hanya pikiranmu saja, Muna. Aku tidak pernah membedakan crew. Saat kamu zero dua minggu siapa yang menginves kamu."
"sudah salah, nyari kambing hitam," sahut Sanu.
"Diam kamu. Ini semua gara-gara kamu!" Muna menggebrak meja dngan kerasnya lalu dia keluar dari ruangan observasi.
pak Nazar menyuruh Muna kembali karena obrolannya belum selesai. Tapi Muna tidak menggubris Suara pak Nazar.
Sanu sempat berpikir kalau yang menaruh hp di tas Sanu adalah orang yang sama. Pak Nazar menyuruh Sanu untuk memanggil Rina.
"Rina, coba bujuk Kak Muna kesini."
Rina mencari Muna di semua ruangan kantor, tetapi dia tidak menemukannya.
"Tidak ada Pak Nazar. Aku sudah mencarinya ke semua ruangan tapi tidak menemukannya."
"Cari di kost. ajak crew kamu juga." perintah pak Nazar.
Rina berbisik kepada Sanu. "Ada apa, Sanu."
"Kak Muna mu dapat kasus."
"Ngapain kalian bisik-bisik, cepat panggilkan Muna!" titah pak Nazar.
Rina dan salah satu crew nya segera bergegas menuju kost Muna. Disana Muna juga tidak ada. Rina sudah bertanya kepada orang sekitar kost, Mereka tidak melihat Muna pagi ini.
"Tidak ada pak Nazar."
Kejadian ini pun dilaporkan kepada pak Hasan selaku Manager utama. Pak Nazar seakan sudah menyerah dengan Muna. Biar Manager utama yang akan mengambil keputusan terhadap Muna.
Muna terlihat di sebuah warung makan yang tidak jauh dari kantor. Muna menatap tajam ke depan, tangannya mengepal erat tidak terima dengan semua ini.
Rina secara tiba-tiba menganggil namanya yang membuat Muna terperanjat.
"Akhirnya ketemu juga ... Kak muna dipanggil ke kantor."
"Aku tidak mau."
"Yakin tidak mau ... yang manggil pak Hasan lho?"
Muna membulatkan mata menatap Rina. "Ini kan urusan tim, kenapa pak Hasan mesti ikut campur." Muna segera ke ruangan pak Hasan.
Kalau berhubungan dengan pak Hasan Muna tidak bisa menolaknya lagi. Muna merasa minder jika melihat kharisma pak Hasan.
Muna duduk di depan pak Hasan di ruang manager utama.
"Kamu panggilkan dulu Sanu kesini," ucap pak Hasan.
"Aku mendapat laporan dari pak Nazar, kalau kamu membujuk crew nya Sanu keluar?"
Muna terdiam menundukan kepalanya.
"Aku menyuruhmu menjawab, bukan menundukan kepala." hardik pak Hasan.
"Aku tidak membujuknya, mereka saja yang tidak kuat dengan zero," alasan Muna.
"Kalau kamu tidak mempengaruhi crew ku untuk keluar, mereka tidak akan menuruti omonganmu, Muna. kenapa saat itu tidak memotifasi crew ku di saat mereka sedang bimbang. Bukankah pak Nazar mempercayakan semua crew ku ke kamu." Sanu tampak tidak terima dengan penjelasan Muna.
"Aku sudah melihat pesan chat dari crew nya Sanu. Seharusnya kamu sebagai leader itu membimbing mereka bukan malah menjerumuskan mereka. Kamu kan tau, betapa susahnya bangun orang. Kamu dengan enaknya menyuruh crew nya Sanu yang sedang bimbang keluar." jelas pak Hasan.
"Tapi ..."
"Sudah tidak usah membantah lagi, aku sudah tau semua, Muna. Aku juga tau kalau kamu itu yang menaruh hp mantan crew kamu ke tas Sanu."
Muna terkejut, wajahnya mendadak pucat.
"Saat itu aku melihatmu dari pintu ruangan ini. Cuma aku sengaja membiarkan masalah ini aku serahkan kepada Haris. Makanya pada saat itu Haris tidak menuduh Sanu mengambil hp crew mu."
Muna sudah tertangkap basah, wajahnya yang dari tadi masam kini berubah menjadi memelas.
"Kamu tega, Muna. Aku selama ini selalu mengalah kepadamu. Apa tidak cukup perlakuanmu kepadaku yang semena-mena itu." cibir Sanu.
"Sesuai peraturan yang ada di kantor, kamu harus dikeluarkan, Muna. Kami tidak bisa menerima karyawan yang tidak jujur sepertimu. Kecuali Sanu memaafkan perbuatanmu," ucap pak Hasan.
Muna pun memelas agar tidak di keluarkan dari kantor ini.
"Aku minta maaf sama kamu, Sanu. Aku janji akan merubah sikapku terhadapmu. Asal aku tidak di keluarkan dari kantor ini."
Sanu tidak bergeming, dia masih tidak terima dengan semua ini.
"Tolonglah, Sanu. Ibuku adikku sedang menungguku di rumah. Kalau aku gagal di sini aku tidak tau harus bilang apa kepada ibu dan adikku," ucap Muna menangis.
Sanu mulai menatap Muna, hatinya mulai luluh mendengar Muna menceritakan tentang adik dan ibunya.
"Baiklah, Muna. Demi ibu dan adikmu, aku akan memaafkanmu. Tapi, jika kamu berbuat jahat kepadaku lagi, aku tidak akan memaafkanmu, Muna."
"Terima kasih, Sanu." Muna memeluk Sanu.
"Karna Sanu bersedia memaafkanmu, kamu diberi kesempatan kembali proses, Muna."
Muna mengucapkan terima kasih.
Malam hari, Sanu menceritakan semua masalahnya kepada Rina. Sambil menikmati angin malam yang menusuk tulang di rooftop.
"Jadi kamu memaafkan, Kak Muna."
Sanu mengangguk.
"Tunggu Sanu, ada yang mengganjal dari ceritamu itu."
"Apa?" tanya Sanu singkat.
"Setahuku, kak Muna tidak memiliki adik. Dia anak bungsu dari tiga bersaudara. Dia juga pernah bercerita kepadaku kalau dia anak seorang polisi."
"Benarkah itu, Rina."
Rina mengangguk, "Kamu harus tetap waspada denganya, Sanu."
"Terus apa yang harus aku lakukan, Rina."
"Pitcing seperti biasa saja, Sanu. Aku yakin para manager akan melindungimu."
Sanu tersenyum, " Ayo kita pulang, Rina. Di sini udaranya sangat dingin."
Rina dan Sanu pun pulang ke kost nya masing-masing.