
Eko dan Agus berbalik ke arah Sanu. "Kak Sanu serius ... ingin kita maafkan," ucap Agus dengan nada datar.
Sanu mengangguk pelan.
"Traktir kita makan," ucap Agus tersenyum nyengir.
Sanu sudah bisa menebak, ini hanya akal-akalan mereka saja. Sanu pun kembali menjewer telinga mereka berdua. Tidak peduli penumpang kereta melihat tingkah mereka bertiga.
"Kalian ingin lepas dari tanggung jawab. Kalian pura-pura ngambek karena kalian tidak mau mentraktir Kak Sanu, kan?"
"Aduh, aduh ... sakit Kak."
Sanu melepas jewerannya. Eko dan Agus memegang telinganya yang memerah.
"Makanya jangan nakal, nanti kualat lho?"
"Bukannya umur Kak Sanu lebih muda dari pada kita? Kok kita yang kualat, harusnya kan sebaliknya."
"Tapi, aku kan leader kalian, orang yang mengajari kalian lima langkah komunikasi."
Eko dan Agus kompak memajukan bibirnya. Sedangkan Kampleng terus mengawasi Sanu dari kejauhan.
Sore kini menjadi malam, Kampleng menghadap ke rumah Atmaja. Disana hanya ada Glenca, Atmaja belum pulang dari kantor. Glenca tampak sibuk menelpone teman-teman sambil tertawa riang berbagi cerita tentang barang-barang mewahnya.
Tak berselang lama Atmaja datang, Glenca langsung menghampiri Atmaja membawakan tas dan tas berwarna hitam yang ada di tangan Atmaja lalu menaruhnya di kamar. Atmaja duduk di ruang tamu bersama dengan Kampleng sambil melepas dasi panjangnya.
"Jangan bicara di sini, nanti saja," ucap Atmaja yang mmcegah Kampleng berbicara tentang Sanu.
Glenca kembali menghampiri Atmaja bergelendotan manja.
"Sayang, uang belanja kita sudah habis."
"Baru minggu kemarin aku tranfer dua ratus juta, sekarang sudah habis?"
Glenca mengangguk sambil memajukan bibir bawahnya menatap Atmaja.
Atmaja menghembuskan napas kasar menatap Glenca. "Baiklah, nanti aku transfer ke rekeningmu.
"Terima kasih, sayang ...." Glenca mencium pipi Atmaja lalu pergi ke kamar yang ada di lantai atas.
Atmaja hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan sifat boros istri barunya itu.
"Gimana, Tuan. Apa sekarang sudah aman."
Atmaja mengangguk, mempersilahkan Kampleng bicara.
"Tidak ada yang mencurigakan tentang Sanu, Tuan. Dia bekerja seperti orang pada umumnya. Bahkan dia jadi asisten manager di kantor itu."
"Apa kamu melihat Bari disana?" tanya Atmaja.
"Tidak, Tuan."
Atmaja mengeraskan rahangnya. "Sebenarnya ada hubungan apa gadis itu dengan Bari. Lalu dimana Bari berada. Kenapa mereka datang ke pesta pernikahanku? Siapa yang mengundangnya?"
Atmaja sepertinya harus mencari tau tentang hubungan Sanu dan Bari.
"Sekarang kamu boleh pulang, besok awasi kembali Sanu. Kalau ada perkembangan segera Kabari aku." perintah Atmaja.
"Siap, Tuan. Saya permisi dulu."
Glenca dari lantai atas tersenyum sinis, diam-diam memantau pembicaraan Kampleng dan Atmaja. walaupun dia tidak mendengar apa yang mereka bicarakan. Tapi, Glenca tau, pasti tidak jauh dari Bari.
...***...
Program malam sudah selesai, Sanu dan Rina hendak mencari makan. Sanu ingin memberi kejutan kepada Rina karena hari ini dia berulang tahun.
"Kita makan di warung Budhe, yuk?" ajak Rina.
Sanu setuju, menyunggingkan senyum. "Sudah lama aku tidak ke tempat Budhe."
"Itu karena kamu sibuk memikirkan Bari." cibir Rina.
"Biarin ...," ucap Sanu sambil mengibaskan rambut panjangnya.
"Ihh ... mulai centil deh," ucap Rina.
"Sudahlah, Rina ... ayo kita makan, perutku ini butuh di isi. Jangan menggodaku terus."
Rina dan Sanu berjalan berdampingan menuju warung Budhe.
"Malam Budhe ...," sapa Sanu.
"Kak Muna di mutasi di Surabaya, Budhe," alasan Rina.
Sanu mengangguk sambil menyunggingkan senyum ke arah Budhe.
"Kalian mau makan, kan? Ambil saja sendiri," ucap Budhe.
"Yang benar, Budhe?" tanya Rina memastikan.
Budhe mengangguk, "Hari ini anaknya Budhe yang paling kecil berulang tahun, jadi anggap saja ini hidangan untuk pesta ulang tahun anak Budhe."
"Terima kasih ya, Budhe," ucap Sanu dan Rina serentak.
Selesai makan mereka hendak pulang.
"Mau kemana kalian?" tanya Budhe dengan logat medoknya.
"Pulang Budhe," jawab Rina.
"Kalian belum bayar?"
Sanu dan Rina saling pandang, mereka pikir makanan ini gratis karena anaknya Budhe ulang tahun.
"Berapa, Budhe?" tanya Sanu.
"Seratus ribu."
Sanu dan Rina tersentak.
"Mahal sekali Budhe, biasanya berdua cuma dua puluh ribu," protes Rina.
"Itu karena kalian jarang makan di sini, sekarang harga bahan makanan sudah naik," alasan Budhe.
"Kira-kiralah, Budhe." Rina tidak mau kalah.
"Mau bayar tidak!" bentak Budhe.
Di kantong Rina hanya ada uang tiga puluh ribu. Sedangkan Dikantong Sanu tujuh puluh ribu. Pas jika di gabungkan.
"Sudahlah, Rina. Bayar saja," ucap Sanu.
"Padahal sisa uang ini buat berangkat pitcing besok, jahat sekali Budhe malam ini sama kita."
Budhe bertolak pinggang memasang wajah seram. Perempuan bertubuh besar itu terus memelototi Rina dan Sanu.
Dengan wajah cemberut. Rina dengan terpaksa membayar makanan yang terlalu mahal baginya.
"Ini uangnya Budhe? Semoga berkah ya?"
Budhe masih betolak pinggang menatap tajam Rina. Tiba-tiba dari belakang muncul semua crew nya Rina yang berjumlah lima orang dan semua crew Sanu yang berjumlah sepuluh orang. Mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Rina. Ternyata hari ini Rina berulang tahun. Rina tidak menyangka semua teman memberi kejutan untuknya. Bahkan Rina baru tau kalau hari ini dia ulang tahun. Kesibukannya sebagai leader membuat lupa ulang tahunnya. Rina merasa malu sekaligus haru di buatnya.
Budhe pun tertawa lepas hingga membuat lemak yang ada di tubuhnya ikut bergetar.
"Selamat ulang tahun ya, Rina. Jangan marah sama Budhe. Teman-temanmu yang memberikan ide ini."
"Ulang tahun yang ke berapa, Kak Rina?" tanya Elfa.
"Dua puluh," jawab Rina sambil menyeka pipinya.
Kue ulang tahun berbentuk bulat dengan satu lilin di siapkan di hadapan Rina. Rina meniup lilin itu, lalu memotong kue itu.
"Siapa orang yang pertama kali kamu beri kue itu," ucap Sanu.
"Sebenarnya sih mau aku beri ke ibuku, cuma karena beliau di kampung, jadi aku berikan kue ini untuk ..."
Mereka yang berada disana tidak sabar, siapa orang yang akan di berikan kue pertama Rina.
"Untuk kamu, Sanu! Sahabat terbaikku yang selama ini menemaniku baik susah maupun duka."
Sanu terharu menutup mulutnya. "Terima kasih, Rina."
Semua yang ada disana bertepuk tangan, Sanu dan Rina berpelukan. Rina lalu memotong kecil kue bolu itu supaya semuanya bisa mendapatkannya. Sederhana memang, tapi ini sudah cukup membuat Rina bahagia dengan keluarganya saat ini.
"Terima kasih ya, Budhe." Rina dengan spontan memeluk tubuh besar Budhe hingga tubuhnya terlihat sangat kecil.
Budhe terkekeh, Malam yang spesial untuk Rina. Selamat ulang tahun Rina.
Bersambung ....