Sanubari

Sanubari
Kembali ke Ibu Kota.



Empat hari berlalu semenjak Sanu tiba di kampungnya. Nurjanah pun sudah sehat dan bisa beraktifitas lagi. Sudah saatnya Sanu kembali ke Ibu Kota. Suara gunung merapi kembali terdengar di telinga Sanu. Suara seperti reruntuhan bangunan itu membuat siapapun bergidik ngeri mendengarnya.


Sanu hendak berpamitan dengan Clara dan Ibunya. Uang yang di amplop coklat masih tersisa satu juta. Sanu memberikan setengahnya dari uang itu kepada Nurjanah.


Sanu pamit, mencium punggung tangan ibunya dan mencium kening adiknya. Ojeg online sudah ada di depan rumah Sanu. Siap mengantar sampai ke stasiun.


"Clara jaga Ibu, ya?" ucap Sanu sambil membungkukan badan.


Clara mengangguk dengan mantap.


Sanu pun berangkat menuju stasiun kereta.


Setiba di stasiun Maguwo Sleman, Sanu mendapat pesan dari Bari.


"Balik ke Ibu Kota kapan?"


"Ini Aku mau balik, Kak?"


"Oh, hati-hati ya.'


Bibir Sanu merekah karena diperhatikan Bari.


Sanu masuk stasiun, kereta sudah tiba. Waktunya Sanu duduk selama kurang lebih enam jam di kereta. Hal yang melelahkan bagi Sanu.


Siang itu cuaca mendung, pas kereta berangkat hujan turun mengguyur bumi, memberikan kehidupan bagi makhluknya. Sanu benci hujan. Lebih baik dia menghindari hujan dari pada harus bermain dengan hujan. Baginya, hujan mengingatkan Sanu saat bencana gunung merapi tiga setengah tahun lalu yang menelan banyak korban. Termasuk ayah Sanu.


Kereta tiba di stasiun Pasar Senen pukul tujuh malam. Sanu harus menaiki kereta listrik menuju stasiun Pasar Minggu.


Saat Sanu hendak mengantri kartu trip. Sanu melihat seorang pemuda memakai kemeja biru dan membawa tas punggung melambaikan tangan memanggil nama Sanu.


"Kak Bari?" Sanu menghampiri Bari.


"Aku sudah lama menunggumu di dini, Sanu."


"Aku tidak tau kalau Kak Bari menungguku di sini."


"Ayo kita pulang, aku sudah membelikanmu kartu trip." Bari menyerahkan kartu trip kepada Sanu.


Sanu tersenyum menerima kartu trip itu. Mereka berdua duduk di peron menunggu kereta ke arah pasar minggu.


"Bagaimana keadaan ibumu, Sanu?"


"Alhamdulilah, sudah sehat."


"Syukurlah kalau begitu."


"Ini berkat Kak Bari."


Bari menaikan satu alisnya.


"Kalau Kak Bari tidak memberikan uang kepada ku, mungkin Ibuku tidak bisa di operasi."


"Hey! Sudahlah, Sanu. Lagian, aku juga tidak terlalu membutuhkan uang itu. Kebetulan saja aku punya uang untuk membantumu."


"Kak Bari dapat uang sebanyak itu dari mana."


"Aku kan setiap hari bisa membuktikan hukum rata-rata, Sanu. uang itu hasil dari lapangan."


Sanu juga menduga seperti itu. Tapi kenapa masih ada yang mengganjal di hati Sanu.


Kereta listrik tiba, Sanu dan Bari duduk berdampingan. Sanu terlihat lelah hingga dia bersandar di pundak Bari menutup matanya. Bari dengan sengaja memegang tangan Sanu yang sudah terlelap di atas pundaknya.


Tiga puluh menit perjalanan, kereta listrik sudah tiba di stasiun Pasar Minggu. Sanu sudah terbangun, tapi tangan mereka masih tetap bertautan erat. Sanu dan Bari sepertinya sengaja tidak ingin melepaskan tautan tangan mereka.


"Kamu ingin langsung ke kost atau ke kantor dulu, Sanu."


"Aku ingin langsung kembali ke kost saja, Kak."


"Ya sudah, Selamat istirahat ya, Sanu. Jangan lupa besok berangkat pagi."


"Kak Bari mau kemana?"


"Aku mau setoran dulu ke mbak Dian?"


Sanu baru menyadari kalau Bari tidak mengikuti jam malam.


"Kak Bari mulai nakal ya," ucap Sanu.


Sanu melambaikan tangan kepada Bari berjalan ke arah yang berbeda.


Kost dikunci, Sanu lupa tidak memberitahu Rina soal kedatangannya. Kunci kost dibawa Rina. Sanu memilih menunggu Rina pulang duduk di anak tangga sambil memainkan handponnya. Di kost Sanu memang tidak ada halaman untuk duduk bersantai. Hanya bangunan tingkat dua yang memanjang berwarna putih.


Tak berselang lama Rina pulang dengan pakaian serba longgarnya.


"Sanu ...! Kapan pulang." Rina terkejut melihat Sanu.


"Baru saja, Rina?"


"Kenapa tidak ke kantor dulu, Sanu? Crew kamu itu sering menanyakanmu, untung saja ada Kak Bari." Rina menaiki tangga di ikuti Sanu dari belakang.


"Kak Bari?"


"Kak Bari yang setiap hari mengajak crew kamu pitcing, Sanu. Crew kamu empat hari ini juga konsisten."


Sanu tersenyum, Bari bagaikan malaikat baginya. Dia selalu menolong Sanu saat di butuhkan.


"Oiya Rina, ini aku punya oleh-oleh dari kampung." Sanu memberikan kue kenyal warna-warni. Makanan dari Yogyakarta.


"Kue apa ini, Sanu?". tanya Rina.


"Itu namanya geplak, makanan khas daerahku."


Rina mencicipi satu kue yang diberikan Sanu.


"Enak ... di dalamnya ada gula merahnya."


Rina terus memakan satu persatu kue geplak itu. Tidak tau sudah berapa kue yang dihabiskan Rina. Walaupun tubuhnya kecil, tapi nafsu makannya Rina tergolong besar."


Sanu menoleh ke arah meja tempat menaruh vas berisi bunga melati. Bunga melati itu semakin mekar dan tumbuh indah. Rasanya senang melihat bunga melati itu mekar.


"Aku setiap hari yang merawatnya, Sanu."


"Memang kamu bisa!"


"Enak saja, di kampungku juga banyak bunga melati yang tumbuh liar di pekarangan." Rina masih saja memakan kue geplak itu sampai mulutnya penuh dengan makanan.


Sanu menaikan kedua alisnya.


"Kue geplaknya masih, Sanu?"


"Ini buat crew ku, Rina." Sanu menyembunyikan kue geplak di belakang punggungnya.


"Ya sudah lah, aku juga sudah kenyang. Waktunya mandi dan tidur," ucap Rina.


Pagi hari Sanu berangkat ke kantor memberikan kue geplak kepada teman sekantornya. Semua teman kantor sangat menikmati oleh-oleh yang Sanu berikan itu.


Muna yang melihat keramaian di lantai tiga datang ikut mencicipi kue geplak itu.


"Kue nya enak, dari mana ini?"


"Dari Sanu!" sahut teman kantor.


Muna langsung memuntahkan kue itu ke luar.


"Kue apa ini rasanya kayak kotoran, kamu mau meracuniku ya cewek murahan."


Semua karyawan kantor terdiam. Sanu dengan senyum sinis mendekati Muna. Kali ini Sanu tidak mau mengalah dengan Muna. Sanu sudah mennjadi leader, harus berani demi crew yang di bawanya.


"Kalau kamu tidak suka, jangan dimakan. Gak usah menuduh orang seperti itu. Teman-teman yang lain menikmati kue nya. Kamu saja yang sirik denganku." Anak kantor yang lain mengangguk setuju dengan Sanu.


Muna melihat sekelilingnya yang sepertinya mendukung Sanu. Muna pun tidak bisa berbuat lebih lagi.


"Tunggu saja pembalasanku!" Muna langsung turun ke lantai bawah.


"Sial! Sudah berani rupanya cewek murahan itu kepadaku," gumam muna dalam hati.


Rina datang, melihat Muna tampak kesal sambil memandang cermin di sudut ruangan lantai dua.


"Kak Muna kenapa? pagi-pagi sudah memasang wajah cemberut."


"Tidak apa-apa. Sudah kamu naik ke atas sana!" perintah Muna.


Rina menghela napas lalu naik ke atas.