Sanubari

Sanubari
Sahabat lama.



Minggu ini Sanu harus punya orang lagi, dia menyebarkan brosur sebanyak banyaknya berharap ada yang tertarik. Sanu juga membeli handpone bekas hasil dari tabungannya di lapangan, supaya mempermudah dirinya membangun orang. Satu minggu belum ada rekrutan dari Sanu.


Satu minggu berikutnya, rekrutan Sanu mulai berdatangan. Sanu mulai membawa orang untuk dijadikan crew. Satu dua orang yang dibawa ke lapangan hilang. Tidak masalah buatnya, Sanu terus membawa orang tiap minggunya. Prestasi Sanu di lapangan pun tidak buruk. Setiap hari dia selalu membuktikan Sistem.


Tiga bulan berlalu, Sanu sudah memiliki satu trainer dan dua MD. Sanu juga sering ikut meeting leader. Lelah memang, Tapi Sanu mencoba menghilangkan rasa lelah itu.


Hari ini libur, Sanu ingin menemui Aida, teman satu kampungnya.


"Kamu mau kemana, Sanu?"


"Aku mau menemui teman satu kampung, Rina."


"Ajaklah aku, Sanu. Aku bosan kalau harus seharian di kost."


"Boleh, tapi kamu janji jangan beritahu temanku kalau aku kerja di lapangan?"


"Baiklah, aku janji." Rina mengangkat jarinya membentuk huruf V.


Rina dan Sanu naik busway arah Tanah Abang. Tiga puluh menit duduk di busway, Sanu dan Rina turun di sebuah apartemen tempat Aida bekerja. Sebelumnya Sanu belum melakukan janji dengan Aida. Sanu tidak punya nomor Aida, tapi Sanu masih ingat lantai berapa Aida bekerja.


"Kamu mau tunggu di sini atau ikut aku, Rina."


"Aku ikut kamu saja, Sanu."


Sanu masuk lobi minta tolong kepada receptionis yang ada di lobi. untuk membukakan pintu litf.


Sanu dan Rina naik ke lantai lima belas.


"Banyak sekali ruangannya, Sanu. Aku baru tau kalau di sini banyak ruangan. Cocok sekali dijadikan teritory." Rina tersenyum nyengir.


"Jangan berisik, Rina."


Sanu mengetuk kamar nomor sepuluh.


"Assalamualaikum."


"Walaikum salam." Seorang menjawab panggilan dari dalam kamar.


"Sanu ...!" Aida terkejut melihat Sanu.


Sanu tersenyum memandang lekat Aida. Mereka berdua pun saling bepelukan.


"Ya ampun, Sanu ... kamu kemana saja. Aku dengar dari ibu yayasan kamu keluar dari tempat kerja," ucap Aida yang terlihat khawatir dengan Sanu.


"Aku baik-baik saja, Aida. Kenalkan, ini temanku namanya Rina."


Aida dan Rina berjabat tangan saling memperkenalkan diri.


"Wajahmu terlihat kusut, Sanu. Sekarang kamu kerja dimana?" Aida merapikan rambut Sanu yang sedikit berantakan.


"Aku kerja di perusahaan distribusi, Aida. Setiap hari aku turun ke jalan menyebarkan brosur. Makanya wajahku terlihat hitam." Sanu tersenyum berbohong kepada Aida.


"Kita turun ke taman saja, Sanu. tidak enak kalau ngobrol di sini. Takut mengganggu penghuni yang lain."


Sanu mengangguk. Aida mengajak Sanu dan Rina ngobrol di taman apartemen.


"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, Sanu. semenjak aku dengar kamu keluar dari tempat kerja, aku khawatir tentang keselamatanmu. Kenapa kamu keluar dari tempat kerjamu, Sanu?"


"Aku tidak betah, Aida." jawab Sanu singkat. Rina terus mendengarkan obrolan mereka. Rina di sini seperti obat nyamuk. hanya mendengarkan cerita mereka berdua.


"Apa kamu tidak kasihan dengan ibu kamu, Sanu."


"Sudahlah, Aida. Aku kesini tidak ingin membahas hal itu. Aku hanya ingin menanyakan kabar ibu dan adikku di kampung."


"Aku tidak tau, Sanu. kalau kamu ingin berbicara dengan ibumu, nanti akan aku sampaikan lewat ibuku."


Sanu mengangguk, "Sekalian aku minta tolong denganmu, berikan ini ke ibuku." Sanu memberikan sejumlah uang kepada Aida. tidak banyak memang, hanya lima ratus ribu. Tapi ini cukup untuk hidup satu bulan di kampung.


"Baiklah, Sanu. Aku terima uang ini. Sekalian catat nomorku dan nomor ibuku supaya mempermudah kamu untuk menghubungi ibu dan adikmu."


Sanu dan Rina berpisah dengan Aida setelah Aida mengantar Sanu ke pintu loby.


"Sekarang kamu sudah lega, Sanu."


Sanu mengangguk sambil tersenyum kepada Rina.


Setiba di kost, Bari terlihat duduk di depan pintu membawa bungkusan kotak makanan.


"Hey ... dari mana kalian. Aku sudah lama menunggu. Aku bawakan makanan, ini dari ibu kost ku yang kebetulan sedang mengadakan hajatan. Aku diberi tiga nasi kotak, jadi aku kesini ingin makan bersama kalian."


"Kebetulan sekali, Kak. Kami seharian belum makan," ucap Rina yang tampak senang.


Mereka bertiga pun makan bersama di kamar kost.


Sanu terlihat senang bisa bertemu dengan Bari. Semenjak Sanu sibuk bangun orang, Sanu jarang sekali mengobrol dengan Bari. Waktunya terforsir untuk bagaimana caranya mengembangkan bisnis kecilnya.


Selesai makan, Sanu duduk di luar berdua dengan Bari untuk sekedar mengobrol. Padahal dalam hati mereka, ini adalah waktu yang ditunggu-tunggu melepas rasa rindu.


"Bagaimana perkembangan kamu, Sanu."


"Baik, Kak. Sanu sudah punya tiga orang. Ka Bari kapan punya orang."


Bari terkekeh, "Tenang saja, Sanu. Aku tidak akan mengecewakanmu."


Sanu menaikan satu alisnya, menatap Bari penuh pengharapkan.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu, Sanu." Bari mengacak-acak rambut Sanu.


Sanu merasa diperhatikan Bari hari ini. Sanu teringat saat berada di rooftop, Bari pertama kalinya mengacak-acak rambutnya. Mungkinkah ini tanda sayang Bari kepadanya.


"Terima kasih, Kak. Atas makanannya."


"Sama-sama, Sanu."


Hari mulai malam, Bari berpamitan dengan Sanu. Mata Sanu tidak lepas menatap punggung Bari saat Bari berjalan membelakanginya hingga punggung kekar itu tidak terlihat dari manik matanya.


Sanu masuk ke dalam kost hendak melanjutkan tugasnya yang belum selesai, merawat bunga melati. bunga itu semakin berkembang, Sanu merawatnya dengan baik.


Suara telpon berdering di saku celana Sanu. Nomor tidak di kenal masuk. Sanu menggeser tombol hijau lalu mendekatkan benda pipih itu ke telinganya.


"Halo."


"Uhuk ...." Suara batuk mengawali sambungan telpon. Sanu mengenal suara batuk itu. Itu Nurjanah ibu Sanu.


Tanpa Sadar bulir bening menetes di pipi indah Sanu.


"Ibu ..."


"Sanu, bagaimana kabar disana, Nak."


"Baik. Ibu sehat?"


"Ibu baik-baik saja di sini, Nak. Kenapa suara kamu seperti orang sesenggukan. Kamu menangis, Sanu."


"Sanu rindu dengan, Ibu."


"Ibu juga rindu dengan kamu, Nak. Terima kasih ya atas kiriman uangnya."


"Iya Bu. Maaf Sanu hanya bisa memberi sedikit uang."


"Tidak apa-apa, Nak. Ini sudah cukup buat Ibu."


Sanu menyeka pipinya, Rina yang selesai mandi melihat Sanu sedang menangis menelpone seseorang.


"Sudah dulu ya, Nak. Ibu tidak bisa lama-lama menelponmu."


"Iya, Bu. Ibu jangan lupa jaga kesehatan."


Sambungan berakhir.


Sanu merasa lega sekarang bisa tau kabar Ibunya baik-baik saja.


"Siapa itu, Sanu."


"Ibuku, Rina."


"Pantas saja kamu menangis, saat menelponnya."


Sanu segera membersihkan diri. Besok besiap lagi untuk pergi ke lapangan mencari hukum rata-rata.