
"Ya sudahlah, Sanu. Ayo kita cari teeitory lain saja."
Rina dan Sanu kembali menaiki busway mencari teritory lain. Busway yang ditumpangi Rina terus melaju hingga ke terminal Pulo Gadung.
Rina dan Sanu mencari Masjid untuk persiapan. Mereka berdua istirahat di teras masjid yang sejuk. Sanu tidak mengeluarkan apapun dari tas punggungnya.
"Hey Sanu, kamu tidak mau pitcing?" tanya Rina.
Sanu menggeleng menelingkupkan tubuhnya.
Rina mengerti apa yang dirasakan teman satu kamarnya itu.
"Ya sudah ... kamu tetap di sini ya, Sanu. Aku mau putcing dulu."
Sanu mengangguk, matanya masih sembab.
Sanu masih trauma mengingat kejadian waktu dia hampir diperkosa oleh mantan majikannya. Sanu sangat ketakutan saat melihat gapura kompleks itu.
Sore berlalu, Rina menghampiri Sanu yang masih duduk di teras masjid.
"Ayo kita pulang Sanu?"
Sanu berdiri.
"Hari ini aku bisa membuktikan sistem, Sanu."
Sanu tidak merespon ucapan Rina. Wajahnya terlihat datar. Rina hanya bisa menghela napas melhat expresi Sanu. Kali ini mereka pulang Menaiki kereta listrik supaya terhindar dari kemacetan. Turun stasiun Pasar Minggu, Rina melihat Bari sedang membeli buah di pinggir jalan.
"Kak Bari ...!" Panggil Rina.
Bari menoleh, lalu tersenyum kepada Rina dan Sanu.
"Hay Rina, Sanu." sapa Bari.
Bari melihat Sanu yang terlihat seperti orang ketakutan.
"Sanu," panggil Bari pelan.
Sanu tidak merespon wajahnya menatap kosong.
"Ada apa dengan Sanu, Rina?"
"Tadi aku tidak sengaja mengajak Sanu ketempat mantan majikannya. Dia sepertinya masih trauma.
Bari kemudian memegang kedua lengan Sanu mencoba menyadarkannya. Bari terus memanggil-manggil nama Sanu. Sanu melihat lekat Bari sambil menggigit ujung jarinya. Lama sanu memandang Bari hingga dia mulai tersadar.
"Kak Bari." Sanu secara spontan memeluk Bari, "Aku takut," ucap Sanu lirih. Bari pun mendekap tubuh Sanu. Orang-orang yang berlalu lalang melihat mereka berpelukan. Rina hendak menegur Bari dan Sanu. Namun, Muna dan trainer yang lainnya melihat Bari dan Sanu berpelukan.
"Woy ...! Ngapain kamu mesum!" teriak Muna.
Bari langsung melepas pelukannya. Dengan wajah geram Muna menghampiri Bari dan Sanu.
"Kalian berdua memalukan." training yang lain menimpali Bari dan Sanu.
"Aku bisa~~"
"Diam kamu!" Muna memotong pembicaraan Bari, Sanu masih menangis di belakang Bari.
"Teman-teman, kalian lihat sendiri, kan. kelakuan mereka."
"Muna!" bentak Bari.
"Apa ...! balas Muna, "Otak mesum, aku sudah melihat kamu dua kali bermesraan dengan perempuan murahan ini," cibir Muna kepada Bari.
Sanu berlari sambil menangis, Rina mengejarnya berusaha menenangkan Sanu.
"Kamu keterlaluan, Muna." Bari ikut mengejar Sanu.
Muna tersenyum sinis melihat mereka kejar-kejaran.
"Kita harus laporkan ini kepada Manager utama, Muna," ucap trainer yang lain.
"Pastilah, besok mereka bakal di sidang sama pak Hasan." Muna tertawa lepas.
Di kost, Sanu melipat tubuhnya sambil menangis. Rina membelai rambut Sanu sambil menasehatinya agar tetap tegar. Sedang Bari duduk bersandar di daun pintu.
"Tenanglah Sanu," ucap Bari.
Suasana tampak hening cukup lama. Bari hanya ingin memastikan keadaan Sanu.
"Hey Sanu, makanlah. Ini yang belikan makanannya Kak Bari."
Sanu menggeleng.
"Kamu tidak usah memikirkan ucapan kak Muna. Kamu tau kan, kak Muna itu orangnya seperti apa?"
Sanu masih terdiam.
Rina memghela napas. "Ya sudahlah, aku mau mandi dulu. Jangan lupa makanannya dimakan ya, Sanu."
Sanu merasa hari ini adalah hari yang buruk. Pitcing di daerah mantan majikannya, dapat cacian dari Muna. Besok Sanu pasti dimarahi pak Nazar.
Selesai mandi, Rina masih melihat nasi bungkus yang dibawakan Bari belum disentuh oleh Sanu.
"Sanu ... makanlah nasinya, kasihan kak Bari susah-susah membelikannya untukmu."
"Nanti aku makan, Rina."
Rina tersenyum tipis. "Akhirnya kamu bicara juga?"
"Maafkan aku, Rina. Membuatmu repot."
"Tidak Sanu, aku tidak merasa kamu repotkan. Justru aku senang bisa membantumu di saat kamu sedang membutuhkan seorang teman."
Sanu terharu dengan ucapan Rina, kemudian memeluk Rina dari belakang.
Rina terperanjat, "Sanu lepaskan, kamu belum mandi, badanmu bau keringat."
Sanu langsung melepas pelukannya sambil menciumi aroma badannya.
Sanu dan Rina saling memandang dan tertawa satu sama lain.
"Aku senang Sanu kamu bisa tertawa lagi?"
Paling tidak Sanu punya teman yang selalu menghiburnya di kala susah.
...***...
Pagi hari, beberapa trainer mendesak manager untuk mengeluarkan Sanu dan Bari dari kantor ini. Perbuatan mereka berdua menurutnya sudah melampaui batas. Para trainer takut akan berimbas ke perkembangan mereka.
Sanu dan Bari pun di panggil manager utama, pak Hasan namanya.
Sanu dan Bari duduk di depan pak Hasan selaku manager utama. Ruangannya begitu gelap, terdapat layar besar di depan meja kerjanya. Wajah pak Hasan terlihat dingin mungkin orangnya karena jarang senyum.
"Aku dengar kalian pacaran ya?"
Sanu dan Bari kompak bilang tidak.
"Apa buktinya kalau kalian tidak pacaran, trainer di sini ingin aku mengeluarkan kalian."
Bari dan Sanu masih terdiam terlihat pasrah.
"Sesuai aturan kantor yang ada di sini, kalau ada yang pacaran salah satunya akan di keluarkan dari sini."
"Kemarin mereka salah paham dengan kita, Pak?"
"Coba jelaskan kepadaku, alasan apa yang membuat mereka salah paham kepada kalian?"
Bari menjelaskan kepada pak Hasan alasan Sanu memeluknya itu karena dia trauma pernah mau diperkosa oleh mantan majikannya. Bari juga tidak segan mengatakan kepada pak Hasan kalau dia memang mencintai Sanu, tapi dia tidak pernah ingin merusak masa depan Sanu.
"Kamu pemuda yang menarik, Bari."
Sanu begitu lega mendengar penjelasan dari Bari. Selama ini apa yang dipertanyakan melalui hatinya sudah terjawab dengan di panggilnya Sanu dan Bari ke ruangan manager utama. Tanpa sadar mata Sanu menunduk menutupi mata sembabnya.
"Bagaimana denganmu, Sanu. Kamu terima tidak, cintanya Bari. Kalau dipasangkan serasi juga. Sanubari," canda pak Hasan.
"Eh." Sanu baru tau kalau namanya dan nama Bari serasi kalau di gabungkan. Ternyata pak Hasan orangnya tidak segalak yang Sanu dengar. Bahkan penilaian Sanu, pak Hasan ini orangnya ramah.
Sanu dengan malu-malu menjawab pertanyaan pak Hasan. "Sanu ingin jadi manager dulu."
"Deal ya, awas kalau kamu tidak jadi manager, Sanu." Pak Hasan mengulurkan tangan ke arah Sanu, Sanu dengan ragu menyambutnya.
"Ya sudah, kalian boleh naik ke lantai tiga lagi."
Sanu sejenak mematung, mulutnya mengangga, Sanu kira akan mendapat hukuman atau bahkan di keluarkan. Tapi ternyata, Sanu seolah dapat restu dari pak Hasan selaku yang punya kantor. Sanu pun jadi semangat lagi proses di sini. Sanu harus bisa membuktikan diri kalau dia mampu jadi manager.