Sanubari

Sanubari
Menemui Aida.



Ali dan Bondan meneruskan perjalanannya menuju keluarganya Kampleng. Bondan tidak tega harus menutupi kematian Kampleng ke kelurga kecilnya. Bondan tidak marah dengan Kampleng, dia masih mengganggap Kampleng adalah teman seperjuangannya.


Istri dan anak perempuan yang mendengar bahwa Kampleng meninggal terlihat sock. Mereka tidak percaya kalau Kampleng telah meninggal. Bondan berusaha menguatkan keluarga Kampleng. Bondan berjanji kepada istrinya Kampleng akan menemukan pelakunya.


Ali dan Bondan meneruskan perjalanannya ke rumah Bos nya. Mira yang memakai dres panjang berwarna krem terlihat duduk merenung di ruang tamu, matanya kosong menatap ke depan, wajahnya terlihat sedih, mungkin memikirkan Bari. Bahkan Mira tidak mendengar saat Ali memanggil-manggil namanya. Hingga beberapa detik kemudian dia baru tersadar.


"Kalian ...." Mira menyeka ujung matanya.


"Kami sudah tau siapa yang mencelakai mas Bari," ucap Bondan.


"Siapa!" Mira memperbaiki posisi duduknya wajahnya serius menatap Bondan.


"Kampleng," jawab Bondan singkat.


Mira memukul meja yang ada di depannya. "Brengsek kamu, Kampleng! Dari miskin aku rawat kamu. Hingga aku merelakan kamu ikut Atmaja. Jadi ini balasanmu!"


"Kampleng sudah meninggal, Bu? Keracunan sianida," ucap Ali.


Mira menatap Ali tajam.


"Mungkin Kampleng disuruh orang untuk mencelakai Atmaja. Saya curiga dengan satu orang, bu."


"Katakan, jangan bertele-tele."


"Arya, teman mas Brian. Dia bersama Kampleng saat kejadian itu. Bahkan dia mengaku keluarga satu-satunya kepada dokter yang mengautopsi Kampleng."


"Kamu awasi bocah itu, siapapun yang mencelakai keluarga Mira Suganda, dia tidak akan bisa tidur nyenyak."


"Polisi sudah menyelidikinya, Bu. Kita tinggal memberi bukti dan penjelasan kepada kepolisian."


"Walau begitu, kalian juga harus membantu? Supaya kasus ini segera terselesaikan," perintah Mira.


Bondan dan Ali mengangguk.


Di apartemen, Glenca merayakan keberhasilan Arya membunuh Kampleng. Dia belum tau kalau polisi mencurigai Arya. Glenca terlihat mabuk, entah sudah berapa botol dia minum. Dia duduk terkapar di sofa dengan mata sayu. Bicaranya mulai nglantur. Arya yang masih setengah sadar nafsu melihat tubuh molek Glenca. Apalagi Glenca hanya memakai celana pendek di atas lutut dan kemeja berwarna putih transparan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.


Arya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dia langsung membopong Glenca menuju kamar untuk disetubuhinya. Glenca yang mabuk berat hanya bisa pasrah menerima perlakuan Arya.


Sore tiba, Dara, Rina dan Elfa hendak pergi menjenguk Sanu di rumah sakit. Mereka menaiki busway selama dua puluh menit untuk sampai kesana. Sanu sampai saat ini belum tersadar. Disana hanya ada seorang pria tinggi besar duduk di ruang tunggu. mereka bertiga menghampiri pria itu.


"Temennya mana, Om?" tanya Dara dengan santainya.


Rina menyenggol lengan Dara, berbisik. "Memang kamu kenal dengan orang itu?"


Pria tinggi besar itu tersenyum sambil menganggukan kepala kepada Rina.


"Kalian temanya Sanu, kan?" tanya pria tinggi besar itu.


Dara mengulurkan tangan, tersenyum kepada pria itu. "Namaku, Dara? Nama Om, Siapa."


Pria itu terkekeh, mengulurkan tangannya. "Jaka."


Rina dan Elfa pun ikut berkenalan. mengobrol dengan Dara, Elfa dan Rina.


"Ayo kita jenguk Sanu," desak Rina kepada Dara.


"Kak Sanu belum boleh di jenguk, dia belum sadarkan diri. Kalau mau lihat kondisinya dari kaca saja," ucap Dara.


Elfa dan Rina melihat Sanu dari kaca jendela. Sanu telihat tertidur dengan beberapa selang yang menempel di tubuhnya. Rina merasa aneh dengan bagian kaki Sanu yang ditutupi selimut tebal, terlihat janggal. Tapi Rina menepis pikiran buruknya.


Rina menghampiri Dara teringat sesuatu. "Apa keluarga Sanu sudah tau tentang hal ini."


Dara menggeleng. "handphone nya kak Sanu hancur, jadi aku tidak bisa menghubungi keluarganya."


Rina menepuk dahinya. "Aku kira kamu sudah memberi tau keluarganya."


Dara mengangkat bahunya.


"Bukankah Sanu punya teman yang kerja di apartemen? Kita bisa menemuinya supaya keluarga Sanu bisa dihubungi," ucap Rina.


Dara dan Elfa tersenyum, mengangguk setuju. Mereka menuju tempat kerja Aida menggunakan mobil online. Jaraknya tidak terlalu jsuh dari rumah sakit tempat Sanu dirawat. Kurang dari lima belas menit mobil yang dikendarai mereka bertiga sudah sampai tujuan.


"Ini tempatnya?" tanya Elfa.


Rina mengangguk. "Kita kita masuk kedalam."


Mereka bertiga menuju Loby bertanya pada penjaga untuk bertemu dengan Aida. Petugas loby mengantarkannya sampai ke depan lift. Mereka bertiga menaiki lift menuju lantai dua puluh tiga.


"Ini tempatnya," ucap Rina sambil mengetuk pintu kamar apartemen.


Seorang gadis berkulit coklat keluar dia adalah Aida.


"Ada apa ya?" Aida terlihat heran.


Aida menatap Rina dengan seksama, cukup lama hingga dia mengingat Rina.


"Kamu temanmu Sanu, kan?" ucap Aida riang.


Rina tersenyum lebar. "Betul, Aida. Aku kesini untuk mengabarkan tentang Sanu."


"Memang kenapa dengan Sanu?"


Rina menatap Elfa dan Dara, berwajah murung. "Sanu mengalami kecelakaan, sekarang dia dirawat di rumah sakit."


Aida terbelalak menutup mulutnya seolah tidak percaya apa yang didengarnya.


"Sekarang Sanu ada di rumah sakit mana? Aku ingin menemuinya?" tanya Aida mendesak Rina.


"Tidak jauh dari sini, mari aku antar kamu menemui Sanu," jawab Rina pelan.


Aida segera mengambil jaketnya, lalu berjalan mengikuti Rina. Aida tampak cemas mengkhawatirkan Sanu.


Sesampainya di rumah saki,. Aida melihat Sanu dari kaca jendela terbaring lemah dengan beberapa selang menempel di tubuhnya.


Rina mendekati Aida. "Bisakah kamu memberitahu ibunya Sanu."


Aida duduk diruang tunggu menghembuskan napasnya secara kasar.


"Bisa saja, tapi aku tidak tega kalau ibunya mendengar kabar ini."


"Kamu harus memberitahukan ini, Aida."


Aida menatap Rina, mengangguk, lalu tersenyum.


"Baiklah, Rina."


Aida mengetikan jarinya ke satu nomor telpon.


📱"Halo, Ibu."


📱"Aida, ada apa?"


📱"Bisa pergi ke rumah bulek Nur."


📱"Nurjanah sudah punya handphone, lebih baik kamu telpone langsung saja.


📱"Kalau begitu, kirimkan nomornya bulek Nur ke handphone ku, Bu."


Nomor ibunya Sanu sudah dikirim. Aida segera menelpone.


📱"Halo ..."


📱"Halo Bulek, ini Aida."


📱"Ooo ... Aida. Ada apa, Nak?"


Aida terdiam sejenak, menghela napasnya dalam-dalam.


📱"Sa-Sanu kecelakaan, Bulek."


Pembicaraan terhenti sejenak


📱"Kamu tidak bohong 'kan, Aida?" Suara Nurjanah terdengar serak. Sepertinya sedang menangis.


📱"Iya, Bulek. Sekarang terbaring di rumah sakit." Aida ikut menangis.


Sambungan tiba-tiba mati.


"Halo, Bulek. Bulek."


"Kenapa, Aida?" tanya Rina.


"Sambungannya mati, mungkin bulek belum bisa terima kabar duka ini. Aku jadi menyesal telah memberitahukan ini," jawab Aida.


"Kamu sudah benar, Aida. Dari pada terlambat."


Aida tersenyum menatap Rina.


"Aku harus kembali ke apartemen, Rina? Aku tidak bisa lama-lama di sini," ucap Aida.


"Kami juga mau pulang ke kost. Sudah malam," ucap Rina.


Aida pulang menaiki bajaj, sedangkan Rina, Elfa, dan Dara menuju halte busway terdekat.