Sanubari

Sanubari
Persaingan yang sehat



Hari minggu, Sanu lebih memilih untuk berdiam di kost. Minggu kemarin, Sanu hanya bisa membuktikan hukum rata-rata sebanyak tiga kali. Masih jauh untuk menjadi seorang trainer.


Ada banyak faktor yang membuat prestasi minggu kemarin menurun. Yang paling menjengkelkan Sanu, pitcing dengan Muna. Sanu merasa tidak nyaman kalau harus fighting sama seniornya itu.


Sanu masih merebahkan diri di kamar sambil evaluasi kinerja minggu kemarin. Minggu depan harus lebih baik, sampai standart trainer.


Tok...


Tok...


Tok...


Suara pintu memecahkan konsentrasi Sanu. Itu Muna membuka pintu yang memang tidak di kunci.


"Kak Muna."


"Di panggil pak Nazar di kantor." Muna datang dengan nada judesnya.


"Ada apa Memangnya."


"Sudah ... tidak usah banyak tanya, cepetan. Pakai pakaian yang rapi ya."


Sanu segera ganti baju menuju kantor.


Pak Nazar duduk di lantai dua sambil menghisap asap tembakau.


"Siang Pak Nazar," sapa Sanu lengkap dengan tas ranselnya dan baju kantornya.


"Mau kemana?" tanya pak Nazar heran.


"Kata kak Muna, Pak Nazar manggil aku?"


"Iya ...? Tapi, tidak usah pakai baju pitcing sama baw tas segala, Sanu. Pakai baju biasa saja."


Sanu mendengus kesal, Dia sedang dikerjai oleh Muna.


"Ada apa Pak Nazar memanggilku hari libur seperti ini." ucap Sanu yang masih kesal.


Tak berselang lama Muna datang menaiki tangga.


"Kita ke lantai tiga saja, supaya ngomongnya lebih enak," ucap pak Nazar.


Sanu, Muna dan pak Nazar duduk bersila berhadapan.


"Kita ngobrol sebentar buat goal untuk satu minggu."


Sanu mengambil buku dari dalam tas nya. Sanu sudah membuat perencanaan untuk satu minggu kedepan bahkan satu bulan ke depan Sanu sudah membuatnya.


"Goal kamu untuk satu minggu ke depan apa, Sanu?"


"Sanu ingin mencapai target sebagai trainer pak Nazar."


"Kalau kamu, Muna?"


"Saya untuk satu minggu ke depan ingin punya dua orang baru dan bisa masuk top guys."


"Sudah buat goal satu minggu. Di kejar, kalau bisa melebihi ekspektasi. Karena goal adalah janji kita terhadap diri sendiri. Kamu yakin, Sanu. Goal kamu akan tercapai."


"Yakin Pak Nazar." Sanu mengangguk dengan mantap.


"Kamu yakin, Muna. Goal kamu tercapai minggu ini."


"Yakin Pak Nazar." Muna mengangguk dengan mantap.


"Sebelum saya bubarkan ada pertanyaan?"


Sanu mengangkat tangan. "Top guys itu apa Pak Nazar."


"Top guys itu orang-orang dengan standart luar biasa. Tiap minggu akan muncul di papan pengumuman. Minimal untuk masuk top guys itu tujuh pcs, Sanu."


Sanu mengangguk mulai paham.


"Besok senin sore kamu lihat di papan pengumuman siapa-siapa saja yang sering masuk top guys. Itu dari berbagai kantor, Sanu. Kalau nama kamu sering muncul di top guys kamu akan terkenal di kantor lain."


"Benarkah Pak Nazar?" Sanu jadi terlecut membuktikan dirinya.


Pak Nazar mengangguk. "Ya sudah, kembali ke kost masing-masing, istirahat. Jangan lupa besok berangkat pagi."


Di kamar Sanu masih penasaran orang-orang yang sering masuk top guys. Sanu bertekad terus berlatih untuk mempertajam komunikasi.


...***...


Pagi hari Sanu berangkat lebih pagi dari siapapun. Bahkan pintu kantor belum di buka, Sanu sudah ada di depannya.


"Pagi Sanu ... semangat sekali hari ini?" sapa pak Nazar.


Sanu tersenyum sambil melakukan tos tangan ke pak Nazar.


"Sanu minggu ini bertekad masuk top guys, Pak Nazar."


Pak Nazar terkekeh. "Bagus. Nanti kamu pitcing sama pak Nazar ya, Sanu."


"Beneran!" Sanu terlihat senang.


Pak Nazar mengangguk.


Sanu masuk ke dalam kantor begitu antusias hari ini. Sanu seperti biasa mengikuti program pagi hingga berangkat ke lapangan.


Kali ini Sanu dan pak Nazar menaiki kereta listrik. Kereta yang hanya ada di Ibu Kota. Sanu dan Pak Nazar pitcing ke arah Depok turun di stasiun Citayem.


Pak Nazar memberi pengarahan kepada Sanu untuk pitcing long street. Sanu mengikuti perintah pak Nazar. Pagi hingga sore Sanu menyisir jalanan, tidak satupun rumah terlewatkan Sanu. Hasilnya Sanu bisa membuktikan hukum rata-rata sebanyak dua kali.


Sanu begitu gembira, dia pulang ke kantor dengan kepala tegap.


Sore hari setelah Sanu menyetor alat dan uang ke receptionist. Sanu naik ke lantai tiga untuk melihat siapa saja minggu ini yang masuk top guys.


Nama Bari masuk di peringkat teratas dengan lima belas pcs, Rina juga masuk dengan delapan pcs. Sanu jadi merasa gergetan, dia satu langkah kalah dari Rina. Jika Rina minggu depan masuk top guys lagi, sudah di pastikan dia menjadi trainer.


Pak dasar datang menemui Sanu untuk Evaluasi.


"Kamu kenapa, Sanu. Seperti orang kebakaran jenggot?"


"Gak pa-pa Pak Nazar. Kak Bari dan Rina masuk top guys."


"Bagus. Itu berarti mereka semangat disana. Kamu jangan mau kalah dengan Rina. Di sini kamu juga harus semangat."


"Siap Pak Nazar."


Handphone pak Nazar berbunyi, Bari menelpon pak Nazar hendak mengabarkan sesuatu.


"Halo."


"Pak Nazar! Bagaimana di Ibu Kota."


"Semangat lah, Sanu saja hari ini bisa dua*."


Itu suara Bari, Sanu jadi salah tingkah jika mendengar nama Bari. Pak Nazar terus mengobrol dengan Bari. Hingga suara perempuan terdengar di telinga Sanu. Rina hendak bicara dengan Sanu. Pak Nazar memberikan handphone nya kepada Sanu.


"*Halo Sanu, masih ingat dengan kesepskatan kita."


"Masihlah, Rina."


"Kalau begitu, setibanya aku di Ibu Kota, kamu siapkan uang traktir aku."


"Enak saja? Aku yang akan mendapat traktiran dari kamu, Rina*."


Rina tertawa, Sambungan kembali ke percakapan Bari dan pak Nazar. hari ini begitu menggembirakan buat Sanu. mendengar Rina yang semangat membuat Sanu tidak mau kalah.


Malam ini Sanu maju ke depan mengucapkan kunci sukses. Semua orang memuji Sanu karena keinginan Sanu menjadi trainer. Pak Nazar pun siap membantu menjadikan Sanu trainer dalam dua minggu ini.


Di kamar Sanu benar-benar belajar menggapal sistem, membuat goal untuk besok dan tidur tidak terlalu malam. Sanu begitu fokus dengan komitmennya.


Satu minggu pertama Sanu masuk top guys dengan sepuluh pcs. Ini luar biasa bagi seorang MD baru. Tapi, Sanu belum merasa puas, sebelum Sanu menjadi trainer.


Hari senin di minggu kedua setelah kesepakatannya dengan Rina. Papan top guys sudah di tempel oleh receptionist. Kembali nama Bari menuncaki urutan pertama dengan empat belas pcs. Nama Sanu juga tercantum sebagai MD baru yang masuk top guys. Rina juga masuk top guys konsisten dengan delapan pcs.


Itu artinya Rina sudah menjadi trainer sebelum Sanu. Betarti Sanu harus mentraktir Rina makan di restoran Padang.


Bagi Sanu tak apalah, Sanu tetap fokus dengan tujuannya, minggu ini harus masuk top guys lagi.


...***...


Top guys disini orang yang bisa menjual alat terapi minimal sebanyak tujuh pcs selama satu minggu.