
Sanu melambaikan tangan menatap Bari yang semakin jauh dari pandangannya. Sanu tidak boleh terbawa suasana, dia harus bangkit bekerja keras seperti Bari. Demi masa depannya.
Di jalan Sanu bertemu Rina yang hendak membeli makan.
"Baru pulang, Sanu?"
Sanu mengangguk.
"Bagaimana kencanmu dengan Bari, menyenangkan?"
Sanu menoleh ke arah Rina yang menyeringai. Dari mana Rina bisa tau kalau dia habis jalan dengan Bari.
"Sudah lah, Sanu. Kamu tidak akan bisa menutupi rahasia dariku."
Sanu pun menyerah kepada Rina, Dia terpaksa menceritakan semuanya kepada Rina tentang pertemuannya dengan Bari selama dua bulan ini. Termasuk kepindahan Bari ke Surabaya minggu depan.
"Tapi kamu tidak apa-apa kan ditinggal Bari?"
"Tidak, Rina. Selama Bari tidak menemaniku aku akan fokus terhadap diriku sendiri."
"Baguslah, Sanu. Aku pikir kamu akan zero-zero seperti dulu," canda Rina.
"Kamu mengejekku, Rina."
Rina bergegas berlari sebelum Sanu menangkapnya.
Di kamar kost, Dara tampak serius mempelajari sistem.
"Kak Sanu sudah pulang."
"Malam Dara ..." Sanu membawakan camilan untuk Dara.
"Untukku ..."
Sanu mengangguk.
"Terima kasih, Kak Sanu."
Dara memang suka ngemil, Tapi, tubuhnya tetap saja langsing, tidak seperti orang yang suka ngemil pada umumnya bertubuh gendut atau berpipi cabi.
Sanu melihat bunga melati yang ada di meja, semakin lama bunga melati itu berkembang dengan indah. Sanu memang senantiasa merawatnya, seperti cintanya terhadap Bari, yang semakin lama merekah indah.
"Kak Sanu kenapa senyum-senyum sendiri melihat bunga melati itu?" tanya Dara.
"Tidak, Dara. Aku teringat masa kecilku saja. Di kampungku banyak tumbuh bunga melati liar," alasan Sanu.
"Aku pikir bunga melati itu pemberian dari pacarnya Kak Sanu." Dara tertawa menutup mulutnya.
"Kamu jangan asal, Dara."
Bagaimanapun juga Dara tidak boleh tau tentang Bari. Sanu takut itu akan mengurangi respect ke dirinya. Yang harus Sanu lakukan adalah melatih Dara supaya menjadi training dengan standart yang tinggi.
Hari demi hari berganti, Sanu begitu semangat di lapangan. Dia ingin membuktikan kepada pak Nazar kalau dia layak untuk diandalkan. Sanu bukankah gadis lugu saat baru pertama kali datang kesini. Sekarang dia telah berubah menjadi gadis dengan jiwa kepemimpinan di lapangan.
Satu minggu berlalu, Standar Sanu melebihi expektasinya, begitupun dengan Dara. Jika minggu depan konsisten, Dara akan diangkat jadi trainer.
Suara pesan berbunyi dari habdpone Sanu. Itu pesan Dari Bari. Besok Bari akan berangkat naik pesawat jam Sebelas siang. Bari berharap Sanu bisa datang ke bandara untuk mengantar kebetangkatannya. Sanu jelas mau mengantarkan keberangkatan Bari. Sanu juga hendak memberi hadiah untuk Bari.
Sanu pun segera menuju ke mall terdekat mencari hadiah yang sekiranya pantas untuk Bari. Lama Sanu berkeling mall itu. Hingga dia melihat sebuah topi berwarna biru yang bagus dan harganya juga bisa di jangkau Sanu.Dia pun membeli topi itu.
Setiba di kost, Dara mengomel kepada Sanu karena kunci kost nya di bawa. Dara sedari tadi menunggu Sanu di depan pintu.
"Kak Sanu kemana saja sih!" Dara menghentakan satu kakinya.
"Maaf Dara, aku tadi habis membeli sesuatu untuk teman." Sanu menahan tawa sambil membuka pintu kost.
"Teman apa teman ...." Goda Dara.
"Teman, Dara. Besok dia ulang tahun jadi aku tadi membelikan hadiah untuknya."
"Cewek." jawab Sanu singkat.
"Aku kira cewek, Kak Sanu tidak asyik."
"Kamu jangan centil Dara, fokus saja dulu proses. Nanti kalau sudah sukses cowok akan ngantri dengan sendirinya.
"Itu kan ucapannya pak Nazar, Kak Sanu. Tidak kreatif," cibir Dara.
...***...
Di rumah Mira Atmaja, Bari terlihat bersiap pergi mamakai jaket bomber berwarna biru.
"Mau kemana kamu, Brian?" tanya Mira.
"Aku mau menemui papa, Ma."
"Ngapain kamu menemui orang tua yang tidak punya moral itu."
"Bagaimanapun juga dia papa ku, suami Mama juga."
"Iya ... tapi Mama sudah mengajukan talak untuk pria hidung belang itu."
"Apa ...! Kenapa Mama baru bilang kepadaku."
"Buat apa kamu tau, Brian. Kamu tau sendiri, kan. Kelakuan pria hidung belang itu. Bagaimana laki-laki hidung belang itu terhadap pacar kamu."
Bari menghela napas menatap mamanya berjalan menuju garasi. Bari memang pernah memergoki papanya bersetubuh dengan Glenca, pacarnya Bari sewaktu masih kuliah. Papanya yang tukang selingkuh sedang mamanya yang sibuk dngan dunianya sendiri, membuat Bari memutuskan untuk meninggalkan rumah. Tapi semenjak bertemu dengan Sanu, Amarah Bari perlahan mereda. Mungkin karena Bari sudah menemukan tambatan hati yang baru.
Bari tiba dirumah papanya, pintu pagar terbuka dengan sendirinya. Satpam penjaga bertanya ada urusan apa.
Bari membuka helm nya. "Papa ada?"
Satpam penjaga itu kaget melihat Bari datang ke rumah. "Den Brian.
"Papa ada di rumah?" tanya Bari sekali lagi.
"Ada Den, tapi ..."
Bari tanpa mendengar ucapan satpam penjaga masuk rumah memanggil-manggil papa nya.
"Ah ... ah ... terus sayang." Suara ******* wanita terdengar di lantai dua. Itu kamar yang di pakai Bari dulu. Bari menuju lantai dua tetapi satpam penjaga menghadangnya.
"Den Brian tidak boleh masuk ke kamar itu."
"Jangan halangi aku ya!" Bari menabrakan tubuh satpam penjaga itu menuju sumber suara. Suara ******* itu semakin jelas di telinga Bari. Tapi, satpam penjaga masih menahannya. Bari dengan terpaksa melumpuhkan satpam penjaga itu. Dengan rasa penasaran Bari mendobrak pintu itu. Alangkah terkejutnya Bari saat melihat papanya dan Glenca tanpa memakai sehelai benang pun.
Bari menatap geram papa dan mantan pacarnya itu. Tanpa banyak bicara Bari berlari meninggalkan rumah papa nya. Pak Atmaja berusaha mengejar anaknya itu. Tapi Bari sudah melajukan motornya, decitan ban motor Bari seolah menandakan kemarahannya.
Bari sungguh Kecewa dengan papanya. Ternyata, kekakuannya sama sekali tidak berubah. Padahal Bari kesana hendak meminta restu untuk berangkat ke Surabaya. Kini Bari tau kenapa mamanya mengajukan permohonan cerai terhadap papanya.
Bari tiba di rumah dengan wajah merah dan rahang yang masih mengeras. Mira yang sedang menonton tv menghampiri Bari duduk di meja dapur mengambil air mineral.
"Kamu kenapa, Brian?"
"Papa itu memang tidak bisa di maafkan."
"Mama kan sudah bilang sama kamu sayang? Papa kamu itu bajingan. Orang seperti papa kamu, kalau bukan Tuhan yang menghukumnya, dia tidak akan berubah."
Bari mendengus kesal, ingin sekali dia berteriak melihat kelakuan papanya.
"Lebih baik kamu bersiap buat besok, Brian."
Bari mengangguk, masuk ke kamar mempersiapkan barang yang hendak di bawa untuk besok.
"Mudah-mudahan Sanu besok bisa datang," gumam Bari dalam hati.
Bari hendak memberi hadiah untuk Sanu sebagai salam perpisahan. Semoga Sanu menyukainya.