Sanubari

Sanubari
Mencari Sanu.



Sanu tertawa. "Bisa saja kamu, Gus. Kak Sanu jadi malu."


"Kalau gombalin leadernya saja pintar, suruh gombalin castamer tidak bisa," cibir Dara.


Sanu begitu senang dengan kedatangan mereka. seolah seperti tumbuhan kering yang kembali mendapat percikan air.


"Kalian kesini lotrip?" tanya Sanu.


"Iya, Kak. Kita sengaja memilih Sleman supaya bisa ketemu dengan Kak Sanu," ucap Dara.


Sanu menempelkan tangan di atas dadanya terharu mendengar penjelasan dari Dara. Mereka seharian mengobrol melepas rindu. Dara melihat kalung bertuliskan SanuBari di leher Sanu. Warungnya pun bertulis SanuBari.


"Sepertinya Kak Sanu masih mencintai Kak Bari," batin Dara


Terdengar gemuruh gunung merapi. Agus, Eko dan Dara terkaget. dikira suara mobil buldozer raksasa suaranya betul-betul memekakan telinga.


"Suara apa itu, Kak?" tanya Dara.


"Tidak usah khawatir, itu suara gunung merapi. Warga kampung sini sudah biasa mendengarnya," ucap Sanu menjelaskan.


"Tak kira suara apa." Agus mengusap dadanya.


Dara mengajak Sanu masuk ke dalam rumah, alasannya ingin berbicara urusan wanita.


"Kak Sanu masih mencintai Kak Bari?" tanya Dara.


Sanu melihat lekat Dara, lalu mengangguk pelan. Tampak kesedihan di raut wajah Sanu.


"Selama di Ibu Kota aku belum mendengar kabarnya," ucap Dara yang sepertinya tidak bisa membantu Sanu.


"Bari lupa ingatan, saat itu kondisinya masih lemah. Dia dilarang berpikir keras," ucap Sanu.


"Jadi karena itu Kak Sanu mengundurkan diri dari kantor?" tanya Dara.


Sanu mengangguk pelan.


"Dara akan berusaha mencari kabar dari Kak Bari." Dara memegang lembut lengan Sanu.


Sanu tersenyum berterima kasih kepada Dara.


"Kalau begitu kita pamit dulu ya, Kak Sanu?"


Sanu mengangguk.


Dara melangkah keluar memanggil Agus dan Eko mengajaknya pulang. Mereka tidak berubah dari dulu, yang dipikirkan hanya makanan saja. Sudah berapa piring Agus dan Eko menghabiskan mie instan di warung Sanu. Gratis lagi.


"Kami pulang dulu, Kak. Kapan-kapan kita mampir lagi." Mereka bertiga melambaikan tangan. Sanu melihat punggung mereka bertiga yang semakin jauh dari pandangannya.


Di tempat lain Bari sudah sembuh seratus persen. Dengan peralatan canggih dari rumah sakit Bari bisa sembuh lebih cepat dari yang diperkirakan dokter. Bari sudah mengingat semuanya, termasuk ingatannya kepada Sanu. Bari sebenarnya ingin menyusul Sanu, tapi Mira melarangnya. Alasannya karena kondisi Bari masih dalam tahap pemulihan.


Bari tau itu alasan dari Mira saja karena Mira tidak ingin punya menantu cacat. Pengawasan yang ketat membuat Bari tidak bisa keluar dari rumah. Setiap akan keluar rumah, pasti harus minta persetujuan dari Mira. Apa kabar Sanu? Apakah dia baik-baik saja.


Tidak, Sanu pasti sedang tidak baik-baik saja. Kakinya hilang, dia sekarang pake kursi roda. Bagaimana dengan pekerjaannya. Apakah dia masih bekerja di kantor Pasar Minggu. Pikirannya selalu memikirkan Sanu.


Mira datang menemui Bari yang duduk bersandar di ruang tamu.


"Brian .. sudah makan, Nak?"


"Sudah, Ma ... Brian mau melihat makam papa, Ma. Brian kangen sama papa?"


"Nanti ya, Sayang. Tunggu kondisimu pulih seratus persen," jawab Mira.


"Sudahlah, Brian. Mama malas berdebat denganmu."


Bari mengibaskan tangannya ke udara, memalingkan wajahnya dari mamanya. Mira menghela napas, beranjak dari tempat duduknya dari hadapan Bari. Mira sebenarnya takut kalau anaknya akan menemui Sanu. Ketakutan Mira seolah hanya menunggu waktu saja. Cepat atau lambat Bari pasti akan mencari Sanu. Mira ingin mencari cara supaya Bari tidak bisa bertemu dengan Sanu.


...***...


Malam tiba, Bari yang ada di kamar hendak menyusun rencana kabur dari rumah. Bari melihat dari jendela banyak penjagaan di halaman rumah. Depan pintu rumah, pagar hingga depan pintu kamarnya Bari penuh dengan penjaga memakai pakaian serba hitam. Sepertinya Mira memang sengaja membuat penjagaan ketat supaya Bari tidak bisa kabur. Tapi Bari tidak patah semangat, dia menunggu tengah malam saat para penjaga mulai terlelap.


Pukul Satu malam terlihat penjaga mulai terlelap, beberapa masih ada yang terjaga, tapi terlihat mata mereka tidak kuat menahan ngantuk.


Bari keluar dari kamar beralasan ingin membeli nasi goreng yang ada di sebrang jalan. seorang penjaga melarangnya.


"Biar saya saja yang membelikan nasi goreng untuk Mas Bari," ucap salah satu penjaga.


"Oke ... jangan pedas ya?" Bari memberikan uang kepada penjaga, dia menutup pintu rumah, lalu kabur lewat pintu belakang. Bari sudah menyusun rencana ini dari tadi menaiki tangga yang berada di belakang rumah lalu kabur dari kompleks perumahannya.


Dengan segera dia memesan Ojeg online menuju stasiun Gambir. Lima belas menit perjalanan tukang ojeg memberhentikan motornya di depan pintu stasiun. Bari segera membeli tiket menuju Sleman. Beruntung bagi Bari, ada kereta yang berangkat pukul dua dini hari arah Sleman.


Pukul delapan pagi, Bari sudah sampai di stasiun Maguwo Sleman. Masalah datang, dia tidak tau alamat rumah Sanu. Bari hanya tau desanya Sanu terletak di lereng gunung merapi. Bari pun searching melalui handponnya, ada dua desa yang terletak di lereng gunung merapi. Bari menuju ke desa yang pertama menaiki ojeg yang ada di depan stasiun, Jalanan berkelok-kelok, naik-turun gunung.


Tiga puluh menit perjalanan Bari sampai di desa Gampil. Bari bertanya tentang keberadaan Sanu, lengkap dengan ciri-cirinya. Warga desa satu pun tidak ada yang mengenalnya. Bari mencoba berkeliling desa berharap Sanu ada di desa ini.


Sampai sore, Bari tetap tidak menemukan Sanu. Mungkin Sanu tidak tinggal di desa ini. Bari duduk di gardu sambil merebahkan tubuhnya yang lelah.


Tanpa terasa seorang Bapak paruh baya membangunkan Bari.


"Mas ...Mas ...."


Bari terbangun, mengucek matanya.


"Sampun dalu, Mas (Sudah malam, Mas)"


Bari menyandarkan tubuhnya di tiang gardu yang terbuat dari bambu.


"Mas nya sepertinya bukan orang sini?" tanya Bapak paruh baya yang memakai blangkon itu.


"Saya Dari Ibu Kota, Pak." Bari bersalaman dengan Bapak itu.


"Wah ... jauh sekali, mau KKN ya?" tanya Bapak itu.


Bari tersenyum. " Bapak tau desa yang terletak di lereng gunung merapi selain desa ini?"


Bapak yang memakai blangkon itu menggaruk tengkuknya. "Banyak e, Mas."


Bari semakin bingung.


"Kalau boleh tau, Mas ini mau cari siapa ya?"


"Saya mau cari calon istri saya. dia katanya tinggal di lereng gunung merapi."


"Calon istri?" Bapak paruh baya itu semakin bingung. "Lebih baik ke rumahnya pak Lurah saja, siapa tau beliau bisa membantu."


"Bisa Bapak antarkan saya ke rumahnya pak Lurah?"


"Bisa. Monggo saya antar."


Bari pun berjalan mengikuti langkah pria paruh baya itu menuju rumah pak Lurah.


Bersambung ...