Sanubari

Sanubari
Menjadi MD Baru.



Tak terasa sudah satu minggu Sanu bekerja sebagai anak sales marketing. Ini hari terakhir Sanu menjalani masa traning. Kata pak Nazar, hari ini Sanu harus bisa membuktikan hukum rata-rata. Sanu belum mengerti Apa itu hukum rata-rata. Kali ini pak Nazar sendiri yang mengajari Sanu lima langkah komunikasi di rooftop


"Apa itu hukum rata-rata, Pak?"


"Semakin banyak kata tidak semakin mendekati kata iya."


Sanu mengangkat satu alisnya, dia belum mengerti apa yang di maksud pak Nazar.


"Jadi gini Sanu, intinya hari ini kamu kerja keras sampai sore hingga bisa membuktikan sistem. Jika kamu hari ini bisa membuktikan sistem, itu namanya hukum rata-rata."


"Jadi intinya hari ini alatnya bisa terjual ya, Pak Nazar," ucap Sanu dengan polosnya.


Pak Nazar terdiam sejenak lalu tertawa melihat kelakar lugu Sanu. Suara kendang terdengar dari lantai tiga. Pak Nazar menyudahi aktifitasnya, menyuruh Sanu untuk mengikuti atmosfer.


Sanu ikut bergabung dengan teman-teman yang lainnya. Sanu terlihat sudah tidak kaku lagi, berbeda saat awal mengikuti atmosfer. Dia bergoyang dan bernyanyi Bersama teman-teman yang lainnya.


Selesai atmosfer, seorang moderator memanggil Sanu maju ke depan sebagai MD baru. Sanu melakukan tos tangan ke semua teman-temannya. Para trainer maju memberi tantangan untuk Sanu, jika bisa membuktikan hukum rata-rata, Sanu akan dapat hadiah. Semangat Sanu terlecut, dia harus bisa menjawab tantangan dari para trainer.


Tibalah Sanu kelapangan, Kali ini Sanu membawa alat pijat sendiri. Bari menyemangati Sanu. Pak Nazar berjanji akan membelikan tas jika hari ini Sanu bisa membuktikan sistem.


Untuk yang kesekian kalinya, pak Nazar membawa Sanu ke teritory yang sama. Sudah satu minggu Sanu dan Pak Nazar pitcing di kampung padat penduduk ini. Bosan juga, tapi Sanu harus semangat agar bisa menjawab tantangan dari semua trainer.


Sanu mulai menyiapkan kertas untuk mencatat nama castamer.


"Sudah siap, Sanu?"


Sanu mengangguk.


Sanu mulai mengetuk pintu ke pintu menawarkan terapi gratis. Banyak penolakan di sini, Sanu pantang menyerah, satu castamer sudah berhasil di terapi, tapi tidak mau beli alatnya. Tidak masalah bagi Sanu, lumayan buat impas untuk castamer berikutnya. Hingga castamer keenam Sanu masih belum bisa membuktikan apa yang dinamakan hukum rata-rata. Castamer ketujuh terlihat antusias dan penasaran, Kali ini Sanu tidak boleh membuang kesempatan.


"Bapak kenal pak Ruslan sama pak Wagi yang rumahnya dekat mushola."


"Kenal, Mbak?" ucap bapak yang di terapi Sanu.


"Tadi mereka sudah ambil alatnya, Pak?"


"Beneran!" ego bapak itu naik.


"Tapi mereka ambil dengan harga diskon, Pak?"


"Bapak itu mendengarkan Sanu dengan kidmat.


"Harusnya kan harganya satu juta, tapi karena kita mau mengadakan pameran, jadi kita potong harga menjadi tiga ratus lima puluh ribu."


Bapak dengan kumis tebal itu tertarik dengan harga yang di tawarkan Sanu.


"Wah murah ... mau satu dong?"


Sanu mengeluarkan alatnya dari tas menunjukan alat pijat berbentuk dolpin itu.


"Ada garansinya juga, Pak?"


Bapak itu segera mengambil empat lembar uang seratus ribuan di berikan kepada Sanu.


"Yang lima puluh ribu buat kamu saja."


"Terima kasih, Pak?" Sanu menyerahkan alatnya dan juga garansinya.


Sanu begitu senang, dia berlarian mencari pak Nazar.


"Pak Nazar ...! Sanu berhasil jual alatnya," ucap Sanu menghampiri pak Nazar yang sedang duduk di depan Mushola.


"Hebat," Pak Nazar mengacungkan jempolnya.


"Aku diberi bonus lima puluh ribu, Pak Nazar."


"Itu namanya rezeki, Sanu. sekarang kamu buktikan lagi hukum rata-rata." Pak Nazar memberi alat yang ada di tasnya. Tas pak Nazar terlihat masih penuh.


"Alat Pak Nazar belum terjual, ya?" ejek Sanu.


Pak Nazar terkekeh. " Ayo pitcing lagi. Kita fighting."


Sanu mengangguk mengikuti pak Nazar.


Di penghujung waktu ashar Sanu berhasil membuktikan hukum rata-rata kembali. Sanu begitu gembira dengan pencapaian yang didapat hari ini. Sanu menunggu pak Nazar di Mushola tempat mereka melakukan persiapan.


Tak berselang lama, pak Nazar datang, tersenyum kepada Sanu.


"Luar biasa Pak Nazar." Sanu dengan semangat mengacungkan jempolnya.


Pak Nazar tersenyum lebar, bangga dengan Sanu.


Sehabis Sholat Ashar mereka berdua pulang. Sanu diberikan evaluasi sebentar dari pak Nazar.


"Nanti kamu ikut program malam ya, Sanu. Sampai jam tujuh."


"Iya Pak Nazar." Sanu mengangguk dengan mantap.


Para karyawan atau yang disebut anak pitcing sudah pulang, mereka sudah melakukan evaluasi masing-masing sesuai kelompoknya.


Rina mendekati Sanu yang sedang duduk di pojok.


"Sanu, hari ini kamu bisa?"


Sanu mengangkat satu alisnya. "Maksudnya."


Rina mencondongkan tubuhnya berisik kepada Sanu. "Kamu hari ini bisa jual alatnya?"


"Bisa." Sanu mengangguk.


Rina memajukan bibir doernya terlihat iri dengan Sanu sebab, waktu dia jadi MD, Rina tidak bisa membuktikan Sistem.


"Berarti besok uang kamu banyak dong, Sanu?"


"Tadi aku juga dapat lima puluh ribu dari castamer."


Rina membulatkan mata. "Serius. Traktir lah aku, Sanu."


Sanu mengangguk dan tersenyum kepada Rina.


"Nanti malam kita makan bersama."


Malam tiba, semua anak pitcing duduk lesehan membentuk barisan setengah lingkaran di lantai tiga. Kali ini Pak Nazar yang bertindak sebagai modetator.


"Kita panggil orang-orang berprestasi, gaes." Seru pak Nazar.


"Yes, I like it." balas serentak.


beberapa trainer dipanggil kedepan untuk mengatakan kunci suksesnya hari ini. Disitu juga ada Bari. Sanu terlihat memperhatikan Bari.


"Kak Bari ganteng ya," bisik Rina yang ada disamping Sanu.


Sanu tanpa sadar mengiyakan ucapan Rina hingga beberapa detik dia tersadar.


"Bu-bukan itu maksudku." Sanu mencoba mengelak menggelengkan kepala.


Rina hanya tertawa kecil melihat Sanu yang salah tingkah.


Tiba giliran Sanu. Pak Nazar menyebut nama Sanu dengan lantang. Sanu terlihat gugup dipanggil kedepan. Dia bingung harus bicara apa.


"Sekarang ucapkan kunci sukses kamu saat ada di lapangan."


Sanu menghela napas mencoba mengatasi rasa gugupnya.


Dengan kepala menunduk Sanu mengucapkan kunci suksesnya malam ini. "Tadi yang saya lalukan cuma semangat saja."


Sanu langsung duduk merasa lega, para trainer dan MD bertepuk tangan untuk Sanu. sehabis itu para MD boleh pulang untuk istirahat.


Sanu dan Rina makan di warungnya Budhe.


"Tadi kenapa kamu tidak dipanggil, Rina."


Sambil makan Rina menjelaskan kepada Sanu selaku MD baru.


"Aku tidak bisa buktikan sistem, Sanu."


"Jadi yang dipanggil kedepan hanya yang bisa jual alat," balas Sanu.


"Di sini kamu jangan bilang jual alat, Sanu. Bahasa harus diperhalus soalnya kamu sudah MD. Nanti kalau. ketehuan trainer, kamu bisa ditegur."


"Terus aku harus bilang apa, Rina."


"Nanti kamu bisa tanya kak Bari," ucap Rina menyeringai.