Sanubari

Sanubari
Terganggu



Sanu tidak bisa fokus dengan gang yang Muna pilih. Terlalu banyak penolakan dari castamer membuat Sanu terkuras energinya. Dari pagi sampai siang belum ada castamer yang mau di terapi. Sanu pun berinisiatif pindah gang yang belum digarap Muna.


Hasilnya Sanu lebih mudah di terima castamer. Bahkan Sanu bisa membuktikan hukum rata-rata di gang ini. Itu membuat Sanu lebih bersemangat.


Tanpa sengaja Muna melihat Sanu dari kejauhan.


"Sanu!" panggil Muna.


Sanu menoleh.


"Kenapa kamu ada di sini, Sanu. Bukankah aku menyuruh pitcing di gang sebrang."


"Disana keras, Kak. Dari siang aku dapat penolakan. Jadi aku Pindah di sini."


Muna menghela napas menatap tajam Sanu. "Kamu pengen jadi trainer, kan? Kalau pengen jadi trainer harus kuat dengan tolakan, jangan lembek."


Sanu menunduk.


"Cepat kembali lagi!" titah Muna.


Sanu dengan terpaksa mengikuti perintah Muna. Untung saja hari ini Sanu sudah bisa membuktikan hukum rata-rata. Jadi Sanu lebih tenang sekarang, nanti malam bisa maju ke depan mengucapkan kunci sukses.


Sore telah tiba, matahari tidak bisa dikatakan senja karena sinarnya masih terang bukan keemasan. Sanu menunggu Muna di Masjid tempat mereka melakukan persiapan. Sanu sudah menunggu sekitar setengah jam, tapi Muna tak kunjung datang. Padahal Muna yang menyuruh Sanu menunggu di Masjid ini.


Sanu tidak punya handphone, jadi dia tidak bisa menghubungi Muna. Terpaksa Sanu kembali ke teritory mencari muna. Sanu mencari ke segala arah, bertanya kepada orang sekitar, tapi Muna tetap tidak ada. Sanu kembali menunggunya di Masjid awal mereka melakukan persiapan. Sampai angin malam menusuk tulang Sanu, Muna tetap belum memperlihatkan batang hidungnya.


Sanu pun terpaksa pulang sendiri menaiki metro mini. Pak Nazar sudah menunggu di depan pintu melihat Sanu dengan wajah letih.


"Kok pulang malam, Sanu?" tanya pak Nazar.


"Aku tadi nunggu kak Muna, Pak Nazar."


"Muna dari tadi sudah pulang, Sanu. Katanya kamu tadi menghilang di teritory."


"Aku tidak menghilang, Pak Nazar. Aku sudah menunggu kak Muna di tempat kita melakukan persiapan. Tapi kak Muna tidak kunjung datang." Sanu membela diri.


"Sudahlah, yang penting kamu tidak apa-apa. kamu tidak usah ikut jam malam. setoran langsung pulang."


Sanu mengangguk lalu berjalan menuju receptionis untuk setor alat dan uang penjualan alat.


...***...


Di kamar, Sanu merasa kesepian, tidak ada Rina yang selalu membuatnya ingin berdebat. Sanu merebahkan tubuhnya di kasur, memejamkan matanya yang mulai rapuh. Sepintas Sanu teringat sosok Bari, Sanu rindu pitcing dengan Bari yang selalu ramah dengannya. Senyum dari bayangan Bari, membuat Sanu mengakhiri petualangan hari ini. Tidur terlelap hingga esok menyapa.


Pemandangan pagi yang tidak biasa, pak Nazar tidak ada di depan ruko menyambut anak kantor. Sanu bertanya kepada receptionist, katanya pak Nazar ada di lantai tiga. Sanu segera ke lantai tiga menemui pak Nazar.


Pak Nazar terlihat duduk berhadapan dengan Muna. wajah Muna tampak tidak bersahabat, seperti mau marah tapi dipendam, entah kenapa sanu tidak tahu. Sanu duduk lesehan disamping Muna.


"Nah, Sanu. Nanti kamu masih pitcing sama Kak Muna. fighting saja, jangan menghilang.


"Siap," ucap Sanu.


"Muna ... Sanu dibantu, jangan egois. Jadikan bulan ini Sanu trainer."


"Siap," ucap Muna.


"Itu saja, ikut program pagi." Pak Nazar membubarkan kultum nya.


Muna mendekati mendekati Sanu saat pak Nazar sudah turun ke lantai dua.


"Kemarin kamu ngomong apa dengan pak Nazar," bisik Muna.


Sanu membulatkan mata. "Aku tidak ngomong apa-apa, Kak Muna?"


Sanu tidak mengerti apa yang di maksud dengan seniornya itu. Sanu lalu menjauh dari Muna. Sanu baru tau sifat Muna, ternyata dia tidak bersahabat. Bahkan cenderung membenci Sanu.


Sanu lagi-lagi di ajak Muna di teritory yang sama. Sanu hanya bisa berdoa di dalam Masjid 'Mudah-mudahan dia tidak di suruh mengerjakan bekas garapannya lagi''


Selesai berdoa Sanu dipanggil Muna.


"Nanti kita fighting ya, Sanu. Jangan mengadu lagi sama pak Nazar." Muna menatap Sanu tajam.


Sanu hanya bisa menundukkan kepala. Sebagai seorang junior Sanu tidak bisa berbuat apa-apa. dia hanya bisa mengikuti apa kata senior. Dalam hal ini Munalah yang lebih tau.


Sanu mulai menyisir setiap gang dengan Muna. Mengetuk pintu rumah satu ke rumah yang lain. Muna bukannya pitcing malah mengikuti Sanu. Itu membuat Sanu terganggu.


"Kak Muna kok ngikutin aku, sih."


"Kenapa? Gak boleh. Sebagai seorang senior, aku hanya ingin tau komunikasi kamu ke castamer."


Sanu mendengus kesal. Dia tidak bisa konsentrasi jika Muna terus mengikutinya. Muna terus mengganggu Sanu. Setiap Sanu presentasi ke castamer Muna selalu memotong pembicaraannya. Itu membuat Sanu tidak fokus. Kalau begini terus Sanu tidak akan bisa membuktikan hukum rata-rata.


Sanu pun istirahat sebentar untuk sejenak berpikir.


"Kamu ini, baru pitcing sebentar sudah istirahat," omel Muna.


"Aku haus Kak, mau cari minum dulu," alasan Sanu.


Sanu pun meninggalkan Muna pitcing di gang sebelah. Tapi Muna sudah tau apa yang dipikirkan Sanu.


"Mau kemana kamu? Mau kabur lagi, terus mengadu ke pak Nazar," ucap Muna saat sudah di hadapan Sanu.


"Tidak, Kak. Aku hanya ingin melihat-lihat gang ini saja. Sepertinya bagus untuk digarap besok."


Muna menatap tajam Sanu. "Kamu pikir aku anak kecil, yang bisa kamu bodohi. Sudah cepat, kembali ke gang tadi, jangan merusak teritory."


"Iya kak."


Hari ini Sanu tidak bisa fokus karena seharian di ganggu Muna. Hasilnya, Sanu Zero. Sudah hari ketiga Sanu baru mengumpulkan satu pcs. Masih jauh untuk menjadi trainer.


Di kantor, pak Nazar mulai melakukan evaluasi dengan Sanu Dan Muna.


"Semangat yang lalu biarlah berlalu, besok mulai lembaran baru. Sanu ... kenapa hari ini."


"Kurang fokus, Pak Nazar."


"Kenapa kurang fokus?" tanya pak Nazar lagi.


manik mata Sanu melirik ke arah Muna. "Mmm ... kepikiran kampung." Sanu terpaksa membohongi pak Nazar dan dirinya sendiri.


"Mau pulang? Katanya mau jadi trainer. Kalau ingin jadi trainer serius Sanu. Jangan memikirkan rumah dulu. Rina saja disana semangat lho. Hari ini Rina bisa dua pcs. Masak kamu kalah dengan Rina."


Sanu tersentak, itu artinya Rina sudah melangkahi Sanu kedepan. Jiwa bersaing Sanu mulai timbul, dia tidak boleh kalah dengan Rina. Ini bukan masalah tentang perjanjiannya dengan Rina. Tapi, ini masalah gengsi, Sanu tidak mau kalah dari Rina.


Muna tersenyum Sinis yang melihat Sanu kebakaran jenggot.


"Minggu ini kamu masih pitcing sama Kak Muna. Amati cara ngomongnya Kak Muna."


Sanu mengangguk pasrah.


...***...


fighting disini melakukan persaingan secara sehat dan saling membantu.


zero \= tidak bisa menjual alat yang dibawa.