Sanubari

Sanubari
Cerita Aida.



Pagi hari di rumah Atmaja, mbok Yem sedang menyiapkan bubur untuk Atmaja. Glenca yang melihatnya pura-pura baik menawarkan diri untuk menyuapi Atmaja. Namun, Atmaja menolaknya. Glenca memaksa Atmaja untuk memakan bubur itu, tapi Mulut Atmaja tidak mau membuka.


"Sepertinya Pak Atmaja tidak mau disuapi sama Nyonya," ucap mbok Yem.


"Apa kamu bilang!" bentak Glenca.


Mbok Yem hanya menundukkan kepalanya.


"Kamu tau 'kan aku istrinya yang sah. Jadi tidak mungkin suamiku tidak mau aku suapi." Dengan wajah geram, Glenca memaksa Atmaja membuka mulutnya. Namun, Atmaja bersikeras menutup rapat mulutnya.


Glenca tidak sabar, dia lantas membanting mangkok bubur itu hingga menjadi pecahan beling. Mbok yem hanya bisa memgeryitkan wajahnya.


Bari dan Ali tiba-tiba datang melihat Glenca marah.


"Ada apa ini?" tanya Bari.


Glenca mendengus saat melihat Bari, matanya tajam melihat sinis Bari. Mbok Yem mrngambil pecahan mangkok yang tercecer di lantai. Namun, Bari melarangnya.


"Bersihkan! Seenaknya saja lempar tanggung jawab," ucap Bari.


"Kalau aku tidak mau kamu mau apa!" tantang Glenca.


"Keluar dari rumah ini!" tegas Bari.


"Kamu tidak punya perasaan ya. Aku ini sedang mengandung, tidak boleh bekerja terlalu keras."


Bari menatap tajam Glenca. "Kamu mau membersihkan pecahan mangkok bubur ini, atau keluar dari rumah ini."


Glenca menghentakan kakinya, tangannya mengepal kuat. Seolah ingin menantang Bari. Glenca tidak punya pilihan, dia terpaksa mengikuti perintah Bari.


Bari membawa Atmaja menuju kamar, diikuti Ali dari belakang, sedangkan Glenca masih mengumpulkan pecahan piring yang berserakan di lantai satu per satu.


"Awas kamu, Brian. aku akan membalas perbuatanmu" gumam Glenca.


Di kamar, Bari menyampaikan kabar bahagia untuk Atmaja. Perusahaannya Atmaja mendapat mendapat investor baru. wajah gembira terpancar di Atmaja.


"Terima kasih," ucap Atmaja dengan suara parau nan pelan.


Ali sejenak mendengar Atmaja berbicara. "Sepertinya pak Atmaja sedang mengucap sesuatu."


Ali dan Bari mendekatkan telinga mereka ke wajah Atmaja.


"Terima kasih," ucap Atmaja lagi dengan suara parau.


"Papa bisa bicara." Bari terlihat gembira.


"Mungkin karena pak Atmaja mendengar kabar gembira gari ini!" seru ali.


Bari segera menghubungi dokter langganan Atmaja. Tak berselang lama dokter itu datang memeriksa Atmaja.


Dokter itu tersenyum kepada Bari dan Ali. "Kondisi pak Atmaja jauh lebih baik dari yang kemarin, ini kemajuan yang cepat. Disarankan pak Atmaja secara rutin di ajak jalan pagi. Dan jangan lupa di minum obatnya."


"Apa Papa bisa sembuh total, Dok?"


"Kalau kondisinya seperti ini terus, kemungkinan besar bisa, asal rutin periksa."


"Baik, Dok. Terima kasih."


Dokter itu pun pamit kepada Atmaja dan yang lainnya. Mata Atmaja berkedip-kedip seolah ingin memanggil Bari. Ali yang melihatnya menyuruh Bari untuk menghampiri Atmaja. Bari menghampiri Atmaja, mendekatkan telinganya ke wajah Atmaja.


"Sanu." Suara Atmaja terlihat serak dan pelan.


"Apa Papa ingin Sanu menemani papa di sini," ucap Bari.


Atmaja mengangguk pelan.


Bari tersenyum tipis kepada Atmaja. "Tenang, Pa. Besok aku akan membawa Sanu ke rumah ini."


Atmaja tersenyum dengan raut wajah yang terlihat lesu.


"kita pamit dulu ya, Pa? Bari masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan."


Atmaja mengangguk merestui anaknya. Bari memanggil mbok Yem untuk menjaga Atmaja. wanita bertubuh gempal itu dengan senang hati menjalankan perintah Bari.


"Sebenarnya apa sih yang hebat dari Sanu?" tanya Ali sambil berjalan beriringan dengan Bari menuju garasi.


"Aku tidak tau, yang jelas Sanu berbeda dengan wanita pada umumnya," jawab Bari.


Ali menggaruk kepalanya, tidak mengerti dengan penjelasan Bari.


Di tempat lain, Sanu sedang bersama Aida di halaman apartement tempat Aida bekerja. Aida begitu pangling dengan penampilan Sanu yang modis dan semakin cantik tentunya.


"Apa kamu sudah naik pangkat, Sanu?"


Sanu mengangguk. "Aku sekarang sudah tidak di lapangan lagi."


"Traktirlah aku makan, Sanu."


Sanu tersenyum. "Aku kesini memang ingin mengajakmu jalan, Aida."


Aida tersenyum. "Kebetulan hari ini aku tidak ada tugas, majikanku sekeluarga sedang liburan ke Jepang."


"Kalau begitu, mari kita bersenang-senang." Sanu memesan dua ojeg online untuk mengantarkannya ke Mall terdekat.


Suasana Mall begitu ramai pengunjung. Aida dan Sanu naik ke lantai dua berjalan mengitari Mall.


"Kita makan yuk, Aida. Perutku sudah lapar."


Aida mengangguk. Sanu dan Aida mampir di outlet KFC memesan ayam lengkap dengan nasi dan minuman dingin.


"Pelan-pelan makannya, Aida. Nanti tersedak," ucap Sanu yang melihat Aida makan dengan lahapnya.


"Hey, Sanu. Aku jarang sekali menikmati makanan enak seperti ini. Seriap hari aku memasak dengan sayur yang itu-itu saja," terang Aida sambil makan.


"Memang majikanmu tidak pernah memberimu makanan dari luar?" tanya Sanu.


"Majikanku jarang di rumah, beliau selalu pulang malam jika datang ke apartemen. Aku selalu pusing dibuatnya."


"Kenapa?" tanya Sanu.


"Beliau rewel, minta dibuatkan makanan, kadang aku disuruh memijatnya. Tak Jarang anaknya nangis gara-gara kedatangannya yang berisik."


"pantas saja wajahmu tampak lesu," ucap Sanu.


"Aku kurang tidur, Sanu."


"Semangat, Aida."


"Aku dengar dari Ibuku kamu mau dijodohkan dengan dokter Latif ya?" tanya Aida penasaran.


"Dari mana kamu kenal dokter Latif, Aida?"


"Siapa yang tidak mengenalnya, di desa kita dokter latif itu terkenal, banyak orang tua yang ingin menjodohkan anak perempuannya dengan nya. Aku juga ingin punya pasangan seperti dokter Latif," ucap Aida sambil membayangkan wajah dokter Latif yang tampan itu.


Sanu baru tau kalau dokter Latif se terkenal itu di desanya.


"Hey, Sanu. Kamu belum menjawab pertanyaanku?"


"Yang Mana?" Sanu mengangkat bahunya.


"Tentang dokter Latif yang hendak dijodohkan denganmu."


Sanu menahan tawa. "Tidak, Aida. Aku ingin fokus bekerja dulu saja."


"Baguslah kalau begitu, itu berarti aku masih punya kesempatan mendekati dokter Latif," ucap Aida sambil tertawa.


"Kenapa kamu tiba-tiba genit, Aida.?"


"Aku tidak genit, Sanu? Ini expresi orang yang kasmaran."


"Memangnya dokter Latif suka denganmu?" goda Sanu.


"Kamu jangan membuyarkan kegembiraanku, Sanu. Aku ini sedang berkhayal. boleh, kan?"


Sanu tertawa lepas melihat kelakar Aida.


Selesai makan, mereka berdua melanjutkan jalan melihat outlet baju.


"Kalau kamu mau, ambil saja, Aida. Tapi cuma dua stell ya?"


"Benarkah, Sanu!"


Sanu mengangguk sambil tersenyum.


Aida begitu gembira, dia langsung memilih baju yang cocok untuknya. Sanu juga mau beli kemeja dan celana untuk jalan santai. Aida begitu bersemangat memilih baju dan Celana. Akhirnya Aida memilih ham kotak-kotak berwarna merah serta celana jeans berwarna biru gelap, sedangkan Sanu memilih kemeja berwarna hijau tua dan celana skinny berwarna hitam.


Setelahnya Sanu segera membayar ke kasir. Aida berterima kasih ke Sanu karena telah di traktir makan dan dibelikan baju.