
Di lantai tiga, Rina melihat banyak anak kantor mengerubungi kue geplak dari kampung Sanu.
"Pantas saja, kak Muna cemberut. Jadi karena ini," gumam Rina.
Tak berselang lama Bari datang mengucapkan selamat pagi kepada Rina. Bari tampak senang melihat Sanu sudah mulai proses lagi.
Seorang moderator berteriak lantang tanda program pagi segera di mulai. Semua trainer berdiri mengikuti arahan moderator.
Sanu berdiri diantara para crew, memulai semangat baru untuk mencapai tujuannya.
Hari-hari yang dilalui Sanu hanya pitcing dan pitcing. Membuat perencanaan, supaya tujuannya segera tercapai.
Satu bulan berlalu belum ada perkembangan sama sekali. Sudah bangun orang tapi belum ada yang mau. Tidak masalah bagi Sanu, ini hanya masalah waktu.
Rina sudah memiliki crew baru. Masih training, sebentar lagi akan diangkat jadi MD. Hari ini pengangkatan crew nya Rina menjadi MD. Seperti biasa, para trainer memberikan tantangan kepada MD baru yang bernama Esky Siregar. Orang Medan yang sudah lama tinggal di Ibu Kota.
Rina dan Muna rencananya pitcing ke arah utara. Sanu pitcing dengan crew nya ke arah timur. Bari pitcing sendiri, akhir-akhir ini Bari memang suka menyendiri. Sanu diam-diam memperhatikannya. Sudah satu bulan lebih Sanu tidak ngobrol berdua dengan Bari. Tapi, ya sudahlah, Sanu percaya dengan Bari. Walaupun Bari terlihat cuek saat di kantor, tapi Sanu yakin Bari diam-diam juga memperhatikan Sanu.
Sore tiba, MD barunya Rina tidak bisa membuktikan sistem. Muna saat evaluasi terus saja memarahi Rina. Mungkin kalau tidak Ada crew, Rina akan membantah omongannya Muna. Cuma, dia menjaga image karena ada crew barunya.
Jam malam di mulai, semua crew Sanu maju ke depan. Sebaliknya, crew dari Muna tidak ada yang maju ke depan. Wajah Muna menjadi Masam melihat semua crew Sanu maju ke depan mengucapkan kunci sukses di lapangan.
Setiap hari kalau masalah standart, Muna selalu kalah dengan Sanu. Apalagi pak Nazar selalu membandingkan dirinya dan Sanu. Sepertinya Muna sudah mengalami puncak kesabarannya. Dia merencanakan sesuatu yang buruk buat Sanu. Selesai jam Malam, Para MD dipersilahkan untuk pulang. Muna dengan cepat mengambil telpon genggam milik Esky yang di cas di lantai dua, lalu memasukan ke tas Sanu yang bertumpukan dengan tas trainer yang lainnya. Kebetulan sat itu Esky sedang ke kamar kecil.
Esky yang keluar dari kamar kecil pun kaget, melihat handphone nya tidak ada di tempat. Dia mencari ke segala arah, tapi tetap saja tidak menemukan. Muna yang melihat Esky panik, pura-pura bertanya.
"Mas Esky, kenapa?"
"Hp ku hilang, Kak Muna?"
"Tadi ditaruh dimana?"
"Tadi aku cas di dekat toilet sini, tapi, pas aku keluar sudah tidak ada. Bagaimana pula ini," ucap Esky dengan logat khasnya.
Muna pun memberi tahu kepada pak Nazar tentang hilangnya handphone crew barunya itu.
Selesai jam malam, pak Nazar dan manager yang lainnya memberikan intruksi kepada yang lain untuk tidak pulang dulu. Karena ada MD baru yang kehilangan handphone. semua tas di periksa satu persatu oleh manager.
Pak haris manager senior di kantor, menemukan sebuah handphone yang ada di tasnya Sanu.
"Tas siapa ini?" tanya pak Haris.
Sanu mengacungkan tangan.
"Apa betul ini handphone kamu, Esky."
"Betul, Pak."
Sanu pun terkejut, dia tidak merasa mengambil handphone Esky. Pasti ada yang ingin menjatuhkannya.
Semua mata tertuju kepada Sanu. Mata yang memandang dengan keterkejutan.
"Bu-bukan aku, Pak. Ini pasti ada kesalahan."
"Tidak usah mengelak kamu, sudah Tau itu hp ada di tas kamu!" hardik Muna.
"Betul Pak, Kak Sanu dari tadi di lantai tiga, belum sempat ke lantai dua," bela Ilham
"Kamu ngecas hp pukul berapa, Esky?" tanya pak Nazar.
"Selepas magrib, Pak."
"Berarti bukan Sanu, dari tadi Sanu kan di lantai tiga, evaluasi crew nya." Kali ini Bari yang membela Sanu.
Perdebatan terjadi di antara para anak kantor, sebagian membela Sanu, sebagian lagi masih mencurigai Sanu.
Sanu dan Esky pun mengikuti langkah pak Haris menuju ruangannya. Mereka duduk di kursinya masing-masing.
Pak Haris memandang Sanu dan Esky dengan serius. "Saya tau kamu tidak mengambil hp milik esky, Sanu. Tapi, yang ingin saya pertanyaan di sini adalah, kenapa hp nya Esky bisa berpindah ke tas kamu. Apa ada orang di kantor ini yang tidak suka dengan kamu?"
"Tidak tau, Pak." Sanu lega pak Haris percaya kalau dia tidak mengambil hp nys Esky.
"Orang yang turun bersamamu ke lantai dua terakhir kali siapa, Esky?"
"Aku tadi mau diantar pulang sama Kak Muna."
"Ada orang selain Muna? MD baru mungkin?" tanya pak Haris.
"Setauku MD yang lain juga banyak, Pak. Cuma, aku tidak tau namanya."
"Ya sudahlah, yang penting hp kamu tidak jadi hilang," ucap pak Haris.
"Betul itu, Pak. Yang penting hp kesayanganku tidak hilang. Kalau sampai hilang, bisa dimarahi sama mamakku," ucap Esky menepuk keningnya.
"Ya sudah. kalian boleh pulang."
Sanu lega akhirnya masalah ini bisa di selesaikan, walaupun dia belum tau, siapa yang memfitnahnya.
Rina sudah menunggu Sanu di depan kantor. Tersenyum mengajak Sanu makan.
Rina sepertinya juga tidak marah dengan Sanu.
"Kamu tidak marah denganku, Rina? Karena hp crew kamu ada di tas ku."
"Kalau aku marah, tidak mungkin aku mengajak kamu makan?"
Sanu tersenyum berjalan bergandengan dengan Rina layaknya sahabat.
"Malam ini kamu traktir aku ya, Sanu."
"Kenapa begitu, Rina."
"Hari ini aku zero, tidak ada uang untuk makan."
Sanu tertawa kecil. "Jadi sebab itu kamu mengajakku makan."
Rina mengangguk.
"Tidak masalah, Rina."
Di warung Budhe terlihat ada Muna dan para trainer lainnya. Sanu meminta Rina cari tempat makan yang lain saja. Tapi, Rina memaksa Sanu untuk tetap makan di warungnya Budhe. Beberapa trainer masih melihat sinis Sanu.
"Hey pencuri hp. Mau apa kamu ada di sini," cibir Muna.
"Terserah aku lah, mau aku di sini mau aku disana. memang urusanmu apa."
Muna tersenyum sinis mendekati Sanu. "Sudah mulai berani ya, kamu."
Sanu sebenarnya malas meladeni Muna. Tapi, karena Muna terus saja mengganggunya, mau tidak mau dia harus melawan Muna.
"Woy ...! Kalau bertengkar jangan di sini," sergah Budhe dengan bahasa medoknya.
Muna langsung terdiam melihat tajam Sanu. " Urusan kita belum selesai.
Tangan Muna ditarik teman trainernya untuk pulang ke kost.
Sanu menghela napas dalam-dalam merasa lega Muna sudah pergi.