Sanubari

Sanubari
Meminta Bantuan.



Pagi harinya, mbok Yem sudah menyiapkan sarapan di atas meja. Mira dengan wajah ketus menunggu Bari datang hendak sarapan bersama. Bari datang dengan pakaian kantornya duduk di kursi sebelah Mira.


"Apa kamu masih ingin pergi ke kantornya Atmaja?" Mira bertanya dengan nada ketus.


Bari mengangguk pelan. "Brian mendapat Laporan perusahaan Mama lancar, jadi Brian mau mengurusi perusahaan papa yang bermasalah.


"Mau sampai kapan kamu akan diperalat oleh Atmaja. Apa kamu sudah lupa bagaimana dulu Atmaja merebut Glenca dari sisimu."


"Mama ...! Itu masa lalu. Sekarang papa sudah mulai berubah. Bahkan papa sudah minta maaaf kepada Sanu." Bari berdiri dari tempat duduknya.


"Mama tidak percaya kalau bajingan itu bisa berubah."


"Bukankah Mama pernah bilang, papa akan berubah jika mendapat hukuman dari Tuhan. Sekarang papa sudah mendapat hukuman dari Tuhan. Beliau teserang stroke dan lumpuh, papa hanya bisa memakai kursi roda."


Mira hanya terdiam sambil mendengus kesal. Suasana lengang sejenak.


"Brian mau berangkat dulu, Ma." Bari berpamitan mencium punggung tangan Mira.


"Apa betul Atmaja terkena stroke dan mulai berubah. Atau ini hanya akal-akalannya saja supaya Bari bersimpati terhadapnya," batin Mira.


Di kantor, Bari terlihat duduk bersama dengan Ali sambil menikmati kopi.


"Bagaimana, Brian. Kamu sudah bilang sama mama kamu?" tanya Ali.


"Mama tidak mau membantu, bahkan kemarin malam beliau sangat marah kepadaku."


"Ada kemungkinan tidak, mama kamu bisa berubah pikiran?"


Bari menggeleng.


"Atau kita minta bantuan seseorang supaya mama kamu mau membantu perusahaan pak Atmaja."


"Siapa?" tanya Bari.


Ali menaikan bahunya. Bari tampak berpikir siapa orang yang bisa membujuk mamanya.


"Bagaimana kalau Sanu," ucap Bari.


"Coba saja, selama ini Sanu banyak membantumu, kan?" Ali tampak setuju.


"Baiklah, kalau begitu nanti malam aku akan menemui Sanu."


"Sekalian jalan-jalan, mumpung malam minggu," canda Ali.


Bari tersenyum menatap Ali.


...***...


Di kantor Pasar Minggu, di sore yang sedikit mendung, Sanu dengan kidmat memberi arahan kepada crew nya. Dara yang sudah memiliki banyak crew diberikan solusi bagaimana cara menjaga crew. Pak Nazar juga tidak segan membantu Dara supaya secepatnya jadi asisten manager. Selesai evaluasi, anak kantor sebagian besar ke rooftop untuk sekedar mengobrol atau istirahat sebelum program malam di mulai.


Eko dan Agus mendatangi Sanu ingin menagih janjinya.


"Nanti malam jadi ya, Kak?" ucap Agus.


"Iya ... sudah ah, Kak Sanu mau ke lantai dua ada urusan dengan manager." Sanu beranjak dari tempatnya berjalan menuju lantai dua.


Malam pun tiba, Bari dan Ali menaiki mobil menuju Pasar Minggu.


"Kenapa kamu tidak menghubungi Sanu terlebih dahulu," ucap Ali sedang menyetir.


"Tidak usah, Sanu pasti ada di kost."


Setengah jam perjalanan Bari dan Ali sampai di terminal Pasar minggu. Ali segera memarkirkan mobilnya ke tempat parkir pasar. Bari dan Ali berjalan menuju kost nya Sanu hendak memberi kejutan. Seperti biasa, topi dad hat berwarna biru pemberian Sanu selalu di pakainya.


Kost Sanu masih tekunci. Bari dan Ali menunggu di bawah sambil memesan kopi hitam di warung sebelah.


"Kita ke kantornya sajalah," desak Ali.


"Tidak usah, tunggu saja di sini, sebentar lagi Sanu juga pulang."


Tak beselang lama Rina dan Elfa datang.


"Rina ...!" panggil Bari.


"Kak Bari, sedang mencari Sanu ya," tebak Rina.


Bari mengangguk.


"Sanu berada di Mall, sedang jalan-jalan dengan crew nya."


Bari dan Ali saling menatap.


"Mall mana, Rina."


Rina mengangkat bahunya. "Coba Kak Bari hubungi Sanu."


"Baik, terima kasih ya, Rina." Bari tersenyum simpul.


Rina naik ke atas menuju kos nya. Bari menelpon Sanu, tapi nomor telponnya sedang tidak aktif.


"bagaimana?" tanya Ali.


Ali terlihat kesal, duduk membuka kakinya.


"Ya sudahlah kita tunggu saja, sambil minum kopi," ucap Bari.


"Oke, tidak masalah."


Setelah cukup lama menunggu, Sanu datang dengan wajah yang terlihat lelah.


"Kak Bari, Kak Ali ... kalian ..." Sanu tampak bingung dengan kedatangan Bari dan Ali.


Bari berdiri tersenyum kepada Sanu. "Hey, Sanu."


Sanu terkekeh. "Katanya Kak Bari ada di Surabaya?"


"Ceritanya panjang, Sanu. Aku butuh bantuanmu."


"Bantuan apa." Sanu tampak tidak mengerti.


"Aku ingin kamu membujuk mama."


Sanu semakin tidak mengerti. "Maksudnya."


Bari menyuruh duduk Sanu, sedangkan Ali mulai menjelaskan tujuannya menemui Sanu.


"Begini, Sanu. Perusahaan pak Atmaja mau bangkrut. Kita sudah mencoba mencari investor kesana kemari, tapi tawaran kami ditolak. Satu-satunya cara, adalah meminta bantuan kepada bu Mira. Namun, kamu tau sendiri 'kan betapa bencinya bu Mira dengan pak Atmaja," jelas Ali.


Sanu mengangguk mulai paham. "Jadi kalian kesini untuk membujuk bu Mira mau membantu perusahaan pak Atmaja, lewat Aku?"


Ali mgangguk.


"Mana mungkin bisa, apa yang harus aku lakukan. aku tidak terlalu mengenal bu Mira. Harusnya 'kan Kak Bari yang ngomong."


"Aku sudah mencobanya, Sanu. Mama malah marah kepadaku, menyuruhku untuk tidak membantu papa."


Sanu tampak bingung menatap Bari dan Ali. "Kalian yakin aku bisa membujuk bu Mira?"


Ali dan Bari mengangguk mantap.


Sanu menghela napas. "Baiklah, akan ku coba."


"Terima kasih ya, Sanu." Bari dengan spontan mencubit gemas dagu Sanu.


Sanu sejenak terdiam, lalu menundukan kepala, menutupi wajahnya yang bersemu merah.


"Baik, kalau begitu besok kita akan kesini lagi, Sanu. Sekali lagi terima kasih atas bantuannya."


"Tapi aku tidak janji ya, Kak. akan berhasil."


Bari mengangguk. "aku percaya padamu, Sanu."


Bari dan Ali pun pergi meninggalkan Sanu, berjalan membelakangi Sanu.


"Kamu yakin Sanu bisa membujuk bu Mira?" tanya Ali.


"Tidak tau, tapi Sanu punya aura untuk memikat semua orang."


"Pantas saja seorang Brian Atmaja jatuh cinta kepada gadis kecil yang bernama Sanu."


Bari tersenyum, sambil menatap kaca jendela mobil.


Tak terasa Ali mengantarkan Bari di depan pagar rumah. Bari mengucapkan terima kasih, lalu berjalan ke dalam rumah. Terlihat Bondan dan Jaka sedang bermain catur. Bari menyapa mereka berdua.


Mira sedang duduk di ruang tamu sambil menikmati jeruk berwarna kuning yang terlihat segar.


"Ma ..." Bari menghampiri Mira, lalu duduk disampingnya.


Mira melihat anaknya itu dengan seksama.


"Wajahmu tampak cerah, apa yang membuatmu gembira?"


"Tadi Bari habis ketemu dengan Sanu. Besok katanya dia mau main kesini menemui Mama," ucap Bari.


"Baguslah, Mama jadi ada teman ngobrolnya."


Bari tersenyum sambil melipat lengan panjang kemejanya sampai ke siku.


"Bari mau ke kamar dulu ya, Ma."


"Tunggu dulu, Bari," sergah Mira.


Bari kembali duduk di tempatnya. "Ada apa, Ma."


Mira menatap Bari lekat. "Tidak jadi, nanti saja."


"Oke." Bari pun beranjak dari tempat duduknya menuju ke kamar.


Bersambung ...