
Satu minggu berlalu, Bari tengah bersiap menemui Sanu. Hari ini cuaca tampak berawan,
Jalanan sedikit lengang. Bari melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai ke tempat Sanu. Minggu kemarin Bari sudah berjanji akan menjemput Sanu pukul delapan pagi.
Sanu terlihat berdiri di jembatan menunggu jemputan dari Bari.
"Hey, Sanu," sapa Bari.
Sanu menoleh, tersenyum kepada Bari.
"Sudah siap?" tanya Bari.
Sanu mengangguk.
Bari memberikan helm kepada Sanu. Bari mulai menghidupkan mesin motornya. Sanu melingkarkan tangannya di perut Bari sambil bersandar manja di punggung Bari.
Bari tersenyum, sedetik itu, Bari melajukan motornya menuju rumah nyonya Mira Suganda.
Sanu terpukau melihat rumah yang ditempati Bari. Rumahnya begitu besar dan luas, Sanu juga melihat dua orang yang menculik Bari berdiri gagah di depan pintu. Sanu sedikit kaget saat dua orang itu menyapanya. Sanu dan Bari turun dari motornya. Sanu mulai canggung, dia bingung harus berbicara apa dengan ibunya Bari nanti. Sanu takut nanti ditanya macam-macam dengan ibunya Bari.
"Hey, Sanu. Kamu kenapa masih berdiri disana? Ayo masuk, akan aku kenalkan dengan mamaku," ucap Bari.
"Iya." Sanu dengan langkah kecil berjalan di belakang Bari memasuki rumah. Sanu di persilahkan duduk di ruang tamu. Tangan Sanu bergetar hebat, dia begitu gugup hendak bertemu dengan orang tuanya Bari.
"Kamu di sini dulu ya, Sanu. Aku mau memanggil mama di lantai atas."
Sanu mengangguk.
Bari berjalan cepat menaiki tangga menuju kamar Mira.
"Ma ...! Mama ...!"
Mira keluar dari kamarnya dengan wajah ceria. "Apa Sanu sudah datang?"
Bari mengangguk, "Sudah, Ma?"
Mira cepat-cepat turun menemui Sanu.
"Hay, Sanu."
Sanu menoleh ke sumber suara. Alangkah terkejutnya Sanu saat melihat wajah Mira. Dada Sanu tiba-tiba sesak. Mira adalah istri mantan majikan Sanu yang hendak memperkosanya. Sanu mengulum bibir bawahnya, cairan bening menetes di pipi Sanu. Seketika Sanu kembali teringat kejadian saat mantan majikannya ingin memperkosanya. Sanu perlahan mundur menjauhi ibunya Bari.
Mira merasa heran, kenapa Sanu seperti takut melihatnya.
"Kamu kenapa, Sanu?" tanya Mira.
Mira memang sudah mengenal wajah Sanu. Tapi, Mira belum tau kalau mantan suaminya pernah mencoba memperkosa Sanu.
Sanu pun berlari sambil menyeka pipinya. Bari yang melihatnya segera mengejar Sanu. tanpa bertanya kepada mamanya apa yang terjadi.
Bari terus memanggil Sanu, tetapi, Sanu tidak mempedulikannya. Hingga Sanu dengan sendirinya berhenti bersandar di dinding masih dalam kondisi menangis.
Dengan napas terengah Bari bertanya. "Kamu kenapa, Sanu."
Sanu tidak menjawab.
Bari mendekat hendak memeluk Sanu. Tapi, Sanu menolaknya.
"Antarkan aku pulang," ucap Sanu lirih tapi tegas.
"Apa ..." Bari mencoba mengartikan perkataan Sanu.
"Aku tidak mau bertemu dengan bajingan itu," tegas Sanu.
"Siap yang kamu maksud, Sanu?" Bari tidak mengerti maksud Sanu.
Sanu menatap Bari tajam lalu berjalan meninggalkannya.
Bari meraih tangan Sanu lalu memeluk Sanu. "Tenanglah, Sanu. Aku akan menjagamu."
Sanu tersentak, dia merasa ada kehangatan saat Bari memeluknya. Sanu mulai tersadar dari traumanya. Batinnya mulai tenang.
"Kak Bari, maafkan aku."
Bari melepas pelukannya menatap lekat Sanu.
"Aku tidak bisa menemani Kak Bari ke pesta pernikahan papanya Kak Bari."
"Tidak apa-apa, Sanu. ceritakanlah kepadaku apa yang terjadi."
Sanu mulai menceritakan kenapa dia berlari saat melihat Mira.
"Papamu adalah mantan majikanku yang hendak memperkosaku dulu."
Bari terkejut memegang kepalanya. "Jadi dia adalah ..." Bari tidak bisa melanjutkan ucapannya. Kebencian kepada papanya semakin dalam saat mendengar cerita Sanu. Kalau saja Atmaja bukan orang tua kandungnya, Bari sudah memberi perhitungan kepadanya.
"Lebih baik kita pulang ke rumahku dulu, Sanu. Supaya mama tidak salah paham terhadapmu."
"Kamu harus melawan, Sanu. Kalau kamu terus mengiyakan, selamanya kamu akan selalu di hantui rasa trauma. Aku akan membantumu Sanu." Bari memeluk Sanu mencoba menyakinkannya.
Apa yang dikatakan Bari ada benarnya, dia tidak mau selamanya dihantui rasa trauma yang berkepanjangan.
Sanu akhirnya mencobanya, Berjalan memegang erat tangan Bari.
"Ma ...?"
"Ada apa, kenapa anak itu masih di sini," ucap Mira kesal terhadap Sanu.
Sanu terpejam melihat Mira.
"Aku bisa jelaskan sama, Mama."
"Lihatlah anak ini, menatap Mama pun tidak mau?
"Sanu, coba pelan-pelan, lihat Mama."
Sanu pelan-pelan membuka matanya. Sanu tersentak, ingatan itu muncul lagi di benak Sanu. Bari mencoba membisikan sesuatu untuk melawan ingatan itu.
"Lawan, Sanu. Kamu pasti bisa."
Sanu seperti bertarung dengan dirinya sendiri, hingga dia berteriak kencang yang membuat Mira terperanjat. Sanu pun pingsan di pelukan Bari.
"Sebenarnya ada apa dengan Sanu, Brian."
"Nanti saja aku jelaskan, Ma." Bari merebahkan Sanu ke sofa panjang yang ada di ruang tamu.
"Sanu mengalami trauma, Ma."
"Trauma apa?" tanya Mira menyelidik.
"Sebelumnya, aku mau bertanya sama Mama."
"Apa?"
"Apa Mama, pernah melihat Sanu di rumah papa?"
Mira mengangguk, "Aku melihatnya saat sedang makan dengan Atmaja."
"Sanu pernah hampir diperkosa papa, Ma? Itu sebabnya dia mengalami trauma."
Mira membulatkan mata. "Bajingan kamu Atmaja. Apa layak orang seperti itu disebut manusia."
Bari pun mendengus kesal dengan kelakuan ayahnya itu.
Sanu mulai terbangun memegang kepalanya, Bari dengan cepat membantu Sanu bersandar di sofa. Mata Sanu lamat-lamat menatap Bari.
"Sanu, kamu tidak apa-apa?"
Sanu tersenyum menatap Bari.
"Kamu sudah sadar, Sanu." Mira menyapa Sanu.
Kini Sanu sedikit bisa memghilangkan trauma. Sanu sudah bisa tersenyum melihat Mira.
"Maafkan Sanu, Tante."
"Tidak apa-apa, Nak." Mira duduk disamping memegang lembut kepala Sanu.
"Aku ingin menghadiri pernikahan papamu? Aku ingin menghilangkan trauma ini. Tolong Bantu aku." Sanu menatap Bari.
"Kamu yakin, Sanu?"
Sanu mengangguk pelan. "Bukankah kamu yang menyuruku untuk melawan rasa trauma ini."
Bari tersenyum, menatap Sanu.
"Acaranya di mulai nanti siang, masih ada waktu," ucap Mira.
Mira lalu memanggil penata rias untuk mendandani Sanu secantik mungkin. Sanu diantar ke kamar atas yang penuh baju perempuan.
"Kamu bisa pilih baju yang cocok untukmu, Sanu," ucap Mirna.
Sanu duduk di depan cermin siap untuk di dandani.
Bari sudah siap dengan setelah jas berwarna biru gelap menunggu Sanu di ruang tamu.
Sepuluh menit menunggu, Sanu turun dengan langkah anggun memakai dres panjangnya selutut bewarna merah dengan tali yang melingkar di pinggangnya.
Bari yang melihat sejenak mematung tanpa berkedip. Sanu begitu cantik saat menuruni tangga. Rambutnya panjang terurai berkilauan.
Sanu tersenyum melihat Bari. "Aku sudah siap."
"A-ayo kita berangkat," ucap Bari.