Sanubari

Sanubari
Undangan.



Sanu kembali ke kost, Disana sudah ada Dara yang hendak mengintrogasinya sedang bertolak pinggang menatap Sanu tajam.


"Ada hubungan apa Kak Sanu dengan pria tampan itu."


Sanu tersenyum nyengir. "Dia hanya teman."


"Aku tidak percaya, pasti kak Sanu ada hubungan spesial, kan. Dengan Kak Bari?"


"Tidak, Dara." Sanu terus mengelak.


"Aku pernah tanpa sengaja melihat handphone kak Sanu ada nama Bari mengirim pesan."


"Kamu buka handphone ku?"


"Siapa yang membuka hp Kak Sanu."


"Terus."


"Handphone Kak Sanu ada di kasur, aku tidak sengaja melihat pesan dari Kak Bari. Jadi waktu Kak Sanu bilang mau ke tempat teman perempuan Kak Sanu, berbohong ya sama aku dan Kak Rina."


"pantas saja saat itu Rina tau aku jalan dengan Bari. Pasti Dara yang menceritakannya," batin Sanu.


"Kak Sanu kenapa diam Saja." Dara membangunkan lamunan Sanu.


"Itu ..."


"Sudahlah Kak Sanu, jangan membuat alasan lagi, aku sudah tau."


Sanu menyerah, akhirnya dia menceritakan siapa Bari kepada Dara. Tentang pertama kali dia mengenal Bari. Sikap lembutnya Bari. Tapi, Sanu masih merahasiakan hubungannya dengan Bari kepada Dara.


"Jadi Kak Bari itu, orang yang pertama kali mengenalkan bisnis ini kepada Kak Sanu."


Sanu mengangguk.


"Terus kenapa dia keluar?"


"Dia ingin bekerja di tempat lain?"


Dara mengangguk, tersenyum iseng kepada Sanu. "Aku minta nomornya Kak Bari dong?"


"Buat apa?"


"Siapa tau dia mau sama aku? Kak Bari ganteng banget ...." Dara menghayal kesenangan memeluk coklat pemberian Bari.


"Tidak boleh, kamu fokus saja bangun orang."


Dara menggerutu kesal. "Dasar pelit."


"Kak Sanu dengar itu, Dara."


Dara dengan segera menutup mulutnya menuju kamar mandi. "Aku mau mandi dulu."


"Handuk kamu masih di luar, Dara."


Dara membuka pintu kamar mandi segera mengambil handuk yang di gantung di dinding.


...***...


Bari menuju rumah mamanya, Mira sudah bercerai dengan Atmaja tiga bulan yang lalu. Mereka juga sudah sepakat membagi harta gono-gini perceraian mereka.


Semenjak bercerai dari pak Atmaja, Mira sering pulang di rumah. Tidak seperti dulu yang hanya satu bulan sekali. Itupun pasti bertengkar dengan papanya Bari.


"Mas Brian ... ini ada undangan dari pak Atmaja," ucap Jaka.


Bari menerima undangan itu, ternyata undangan pernikahan papanya Bari dan mantan pacarnya Bari yang bernama Glenca. Acaranya akan diselenggarakan minggu depan.


Bari masuk ke rumah mencari Mira.


"Mama ...!" panggil Bari dari lantai bawah.


Mira keluar dari kamar menuruni tangga kesal terhadap Bari. "Ada apa sih, Brian. Jangan teriak-teriak dong?"


"Maaf, Ma. Bari sedikit emosi saja melihat undangan ini." Bari memperlihatkan undangan berwarna krem kepada Mira.


"Undangan dari siapa?" Mira mengambil undangan itu dari tangan Bari Lalu melihat tulisan Atmaja Pranata dan Glenca Monica.


"Jadi manusia bajingan itu mau menikah dengan selingkuhannya. Baguslah." Mira tersenyum sinis.


"Menurut Mama aku harus datang atau tidak?" tanya Bari.


"Lebih baik kamu datang, Brian. Kamu bisa mengajak Sanu, kan."


Bari mengangguk setuju. "Oke. Ide Mama tidak buruk."


esok harinya di kala senja menampakan cahayanya. Bari datang ke kantor Pasar Minggu hendak menemui Sanu.


Dara melihat Bari berdiri di depan pintu.


"Kak Bari ...." Dara menuruni tangga dengan cepat.


Bari tampak berpikir mengingat-ingat wajah Dara.


"Ini Dara, Kak Bari. Crew nya Kak Sanu yang paling cantik," ucap Dara tersenyum sambil mengedip-ngedipkan matanya.


"Oh, kamu yang aku beri coklat itu, ya."


"Kak Sanu mana?"


"Ada di atas?"


"Boleh minta tolong panggilkan Kak Sanu?"


"Kak Sanu itu sedang sibuk, kalau pengen ngobrol, sama Dara saja?"


Bari tersenyum Nyengir. "Kak Bari ada urusan sama leadermu."


Dara menarik sebelah bibirnya. "Ya sudah deh, aku panggilkan Kak Sanunya."


Dara naik ke lantai tiga memanggil Sanu. Kebetulan evaluasi sudah selesai.


"Kak Sanu ... ada yang nyariin."


"Siapa Dara, jangan teriak, ah."


"Kak Bari," jawab Dara.


Sanu membulatkan mata., "Dimana Kak Bari."


"Ada dibawah." Jari telunjuk Dara menunjuk ke bawah.


Sanu dengan segera menemui Bari.


"Hey, Sanu. Maaf aku menggganggumu," ucap Bari.


"Ada apa, Kak."


"Aku hanya menawarkan sesuatu kepadamu."


"Apa?"


"Hari minggu, maukah kamu menmaniku ke pernikahan papaku?"


"Boleh ...."


Tiba-tiba Sanu mendengar suara berisik dari balik tangga. Sanu menoleh, ternyata itu crew nya Sanu sedang mengintip. Ini pasti keisengan Dara.


'Hey! Kalian sedang apa? Tidak baik ya menguping pembicaraan orang lain."


"Lari ...!" Mereka pun dengan langkah cepat kembali ke lantai tiga.


Bari tertawa melihat kelakar crew Sanu.


"Kenapa Kak Bari ... mau mengejekku," ucap Sanu mendelik ke arah Bari.


"Kamu memiliki crew yang lucu, Sanu." Bari masih tertawa.


"Bilang saja Kak Bari mau mengejekku." Sanu melempar wajahnya ke kiri.


"Aku minta maaf."


Sanu tersenyum


"Besok sabtu malam kamu mau, kan mengginap di rumah mamaku?"


Sanu menunduk menatap ke bawah. Dia takut kalau mamanya Bari tidak menerimanya. perbedaan dirinya dan Bari bagaikan bumi dan langit. Sanu hanyalah seseorang sales MLM sedang Bari seorang pengusaha muda.


"Tenang saja, Sanu. Mamaku sudah mengenalmu. Dia juga ingin berkenalan denganmu lebih jauh lagi."


"Dari mana mama Kak Bari mengenalku?"


"Sebenarnya Mamaku sudah lama mengawasiku saat aku kerja di sini. Dua orang tinggi besar yang mengejarku, itu anak buah mamaku."


Sanu terkejut menutup mulutnya.


"Jadi sedari awal Kak Bari membohongi orang di kantor ini?" tanya Sanu.


"Bukan seperti itu, Sanu. Aku juga tidak tau kalau mama mengetahui keberadaanku waktu itu."


"Sepertinya Kak Bari harus menjelaskan kepadaku. Kalau tidak, aku tidak mau menemani Kak Bari." Sanu melipat tangannya meminta kejelasan.


"baiklah, Sanu. Kita bicara di tempat yang lebih nyaman."


Sanu mengangguk. Bari mengajak Sanu di sebuah rumah makan. Bari mulai bercerita siapa dia sebenarnya. Kenapa dia pergi dari rumah. Tentang kelakuan papanya yang tukang selingkuh. Tentang mamanya yang hidup dengan dunianya sendiri. Tentang kenapa dia memutuskan untuk tinggal bersama Mamanya. Dan juga tentang mantan pacarnya yang sebentar lagi akan menjadi ibu tirinya.


"Jadi karena itu Kak Bari kabur dari rumah?"


Bari mengangguk, tersenyum kepada Sanu.


"Kak Bari tidak marah, pacarnya direbut papa?" tanya Sanu.


"Awalnya aku marah, tapi dengan seiringnya waktu aku sudah bisa menerima. Aku hanya takut kalau Glenca menikahi papaku hanya untuk menguras hartanya."


"Baiklah, aku akan ikut apa mau Kak Bari."


Bari tersenyum, memegang punggung tangan tangan Sanu yang ada di atas meja. "Terima kasih, Sanu.


Sanu tersenyum ikut memegang punggung tangan Bari. Tangan mereka saling bertumpukan. Mata mereka saling menatap cukup lama. Hingga seorang pelayan yang hendak menawarkan menu makanan membuyarkan tatapan mereka berdua.