
pagi menjelang, Saatnya Bari berangkat menuju Bandara Soekarno Hatta. Bondan mengantar keberangkatan Bari menggunakan mobil. Jarak antara bandara dan tempat Bari tidak terlalu jauh, hanya tiga puluh menit perjalanan mobil Bari sudah berada di pintu masuk bandara.
Bari memandang kesegala arah beharap melihat Sanu. Bari melihat jam tangan, masih ada waktu tiga puluh menit sebelum keberangkatan pesawat.
Bari menyuruh Bondan untuk pulang terlebih dulu. Bondan pun menjalankan perintah tuannya. Bari memutuskan menunggu Sanu di depan pintu masuk bandara.
lima belas menit Bari menunggu, langit yang tadinya berawan berubah menjadi gelap. Sebentar lagi akan turun hujan. pesawat lima belas menit lagi akan berangkat.
Bari menghela napas dalam-dalam, mungkin Sanu tidak akan datang. Bari menyeret koper besarnya masuk ke dalam.
"Kak Bari ...!" panggilan suara itu membuat Bari berhenti berjalan, dia lalu menoleh. Terlihat Sanu membawa tas punggung sedang membungkuk mengatur napasnya. Sepertinya dia habis berlari.
Bari menghampiri Sanu. "Aku sudah lama menunggumu, Sanu."
Dengan napas yang masih memburu dia menjelaskan kepada Bari. "Aku dari tadi berputar-putar mencari pintu masuknya."
Bari lupa kalau Sanu sebelumnya tidak pernah naik pesawat. "Maafkan aku, Sanu." Bari terkekeh.
Sanu tersenyum melihat wajah tampan Bari. Sanu merogoh tas punggunggnya lalu memberikan topi berwarna biru. Warna kesukaan Bari.
"Untukku ...?"
Sanu mengangguk.
"Terima kasih, Sanu." Bari langsung memakai topi itu di kepalanya, sambil bergaya di depan Sanu.
Sanu tertawa menutup mulutnya.
"Aku juga punya hadiah untukmu, Sanu."
Sanu mengangkat satu alisnya.
Bari memberikan syal berwarna hijau. Sanu begitu senang menerimanya. Bari memakaikan syal itu melingkar di leher Sanu.
Sanu merasa malu, dia merasa lebih cantik memakai syal pemberian dari Bari.
"Pesawat Tujuan Bandara Juanda akan berangkat lima menit lagi. Harap penumpang yang masih di dalam Bandara segera menuju ke nomor kursi pesawat."
Suara merdu dari announcement memaksa Bari harus berpisah dengan Sanu.
Bari melambaikan tangan, sebentar lagi pesawat akan berangkat. Sanu terus menatap kepergian Bari dari dalam bandara hingga tubuh Bari sudah tidak terlihat dari pandanganya.
Hujan mulai turun, cukup lebat disertai angin. Sanu menunggu hujan reda di dalam bandara duduk di kursi umum. syal pemberian Bari membuat Sanu sedikit lebih hangat. Sanu tidak membawa jaket, hanya memakai pakaian batik berlengan panjang.
Tanpa sadar, embun dari air hujan membuat Sanu tertidur lelap, sampai petugas bandara membangunkan Sanu.
"Jam berapa ini?" tanya Sanu dalam keadaan menguap.
petugas bandara menunjuk jam dinding besar yang ada di dekat pintu masuk.
Sanu langsung beranjak dari tempatnya setelah tau sudah pukul empat sore. Pasti Dara marah lagi denganya. Kunci kost masih di pegang Sanu. butuh Waktu satu setengah jam untuk sampai ke Pasar Minggu, untung saja ini hari minggu jalanan tidak terlalu padat kendaraan.
Sanu bergegas pulang, Mudah-mudahan Dara belum sampai di kost. Sanu berusaha mengejar waktu.
setiba di kost pintu kamar sudah terbuka, Dara terlihat sedang menatap layar hp nya.
"Bagaimana cara kamu membuka pintu nya, Dara?"
"Aku tadi minta kunci serep kepada pemilik kost," ucap Dara yang fokus melihat drakor.
"Bagaimana hari ini pitcingmu, Dara?"
"Hebat sekali kamu, Dara."
"Aku ke teritory yang pernah Kak Sanu garab denganku."
"Dimana?" Sanu menenggak air mineral.
"Koja ... Tadi aku juga mengajak Rina dan Elfa. Kita semua bisa membuktikan hukum rata-rata."
Sanu tersenyum, "Bagus Dara, Minggu depan kalau kamu masuk top guys, aku akan belikan baju untukmu."
"Benarkah ...!"Dara begitu bersemangat dengan tantangan yang Sanu berikan
Sanu mengangguk, "Kita kerjasama, Dara."
Dara mengangguk mantap. Dara begitu antusias ke lapangan, sama antusiasnya Sanu dulu.
Satu minggu berikutnya, Dara menjawab tantangan dari Sanu. Sekarang dia sudah menjadi trainer. Dara mendapat hadiah baju batik Dari Sanu. sedang Sanu, sibuk membawa orang baru.
Bersama dengan Dara Sanu bekerjasama membangun crew. Lima bulan berlalu tepat satu tahun Sanu berada di kantor ini. Sanu sudah menambah tiga crew. Satu crew Sanu langsung, yang dua lagi crew nya Dara. Usia Sanu kini sembilan belas tahun.
Hanya dengan menyibukan diri Sanu sejenak bisa melupakan bayang-bayang Bari. Tapi, saat sepi menghampiri, bayang bari giliran menemani Sanu.
Rina menghampiri Sanu saat duduk melamun di rooftop. Tempat favorit Sanu menyendiri bertanya kepada diri sendiri.
"Hay, Sanu. Sendirian saja."
Sanu tersenyum melihat Rina. "Tidak terasa, Rina. Sudah satu tahun aku ada di sini."
"Iya ... waktu berlalu begitu cepat."
"Kamu tidak berpikir untuk pulang, Rina."
Rina mendongak menatap langit berbintang. "Aku sudah berjanji kepada diri sendiri, pantang pulang sebelum berhasil. Walaupun aku punya leader yang menyebalkan, tapi setidaknya ada teman yang selalu membantuku." Rina menatap Sanu penuh arti.
"Terima kasih, Rina. Aku juga bersyukur punya teman seperti kamu." Sanu memegang lembut bahu Rina.
"Kita harus berjanji kepada langit dan bumi bahwa kita akan menaklukan Ibu Kota yang kejam ini!" Rina mengangkat jari kelingking nya ke atas, diikuti Sanu. Mereka menautkan jari kelingking berjanji akan menjadi manager.
Esok hari pak Nazar mengumumkan bahwa minggu depan akan ada meeting leader, asisten manager dan manager. Mereka yang ikut harus memilki minimal tiga crew. Sanu, Muna dan Rina masuk kategori.
Pak Nazar menjelaskan bahwa meeting akan diadakan di hotel berbintang di kawasan pantai yang ada di Banten. Sanu dan Rina sangat antusias karena bisa bertemu leader dan manager dari kantor cabang Medan, Surabaya dan Semarang.
Para trainer yang belum berkembang, menjaga kantor supaya tetap kondusif. Berita meeting besar di Banten sudah terdengar satu kantor.
Dara dan Elfa yang merupakan seorang trainer juga ingin mengikuti meeting itu.
"Kapan ya kita bisa ikut meeting besar?" tanya Elfa.
"Kapan-kapan," jawab Dara ngasal. Semua tim pak Nazar pun tertawa riang.
Muna masih seperti yang dulu, dia selalu tidak suka jika melihat Sanu bahagia. Tapi, sekarang dia tidak bisa lagi mencelakai Sanu. Panisme yang di buat manager kepada Muna membuatnya harus berpikir seribu kali untuk mencelakai Sanu.
Muna hanya bisa memasang seribu wajah bahagia supaya sikap bencinya tidak diketahui Sanu dan manager.
Muna termasuk beruntung bisa ikut meeting besar para leader dan manager karena dia punya Rina dan ketiga crew nya Rina. Semua crew nya Muna hilang karena dia terkenal pelit dan suka pulang malam.
Hanya Rina yang masih bertahan, itu pun karena Rina punya motivasi yang kuat dalam dirinya. Sedang Muna tidak terlalu suka dengan Rina karena dia berteman dekat dengan Sanu.