
sore hari, anak kantor mendengar kabar Sanu kecelakaan. Crew Sanu khawatir dengan kondisinya Sanu. Dara nendesak untuk menengok Sanu. Eko dan Agus juga tidak mau kalah. Mereka ingin melihat kondisi Sanu. Pak Nazar menuruti keinginan mereka, menemani Dara, Eko dan Agus melihat keadaan Sanu.
Tibalah mereka berempat ke rumah sakit. Pak Nazar menanyakan kepada receptionist dimana Sanu dirawat. Perawat memberitahukannya, Pak Nazar dkk menuju ruang IGD. Mereka berempat dilarang masuk, menunggu kabar dari dokter yang memeriksa.
Dara melihat seorang perempuan berumur empat puluh lima tahunan duduk dengan wajah layu, matanya merah habis menangis. Dara, Eko Agus dan Pak Nazar duduk di kursi bersama dengan seorang ibu berambut lurus Sebahu itu.
Dara sesekali melirik Ibu itu yang tertunduk lesu. Ibu itu tersenyum simpul menatap Dara dan ketiga temannya.
"Apa Kamu temannya, Sanu?" tanya ibu itu dengan suara serak.
Dara mengangguk tersenyum kepada Ibu itu.
Ibu itu tersenyum menghela napas. "Saya Mira Ibunya Brian."
"Nama saya Dara, Tante." Dara mengulurkan tangannya.
Mira berkenalan dengan pak Nazar, Eko, Agus, dan Dara.
Pak Nazar berpindah posisi hendak berbicang dengan Mira.
"Maaf sebelumnya, Bu. Apa Bari juga mengalami hal yang sama dengan Sanu?"
"Mereka satu mobil, kondisinya kritis." Mira kembali menangis. Pak Nazar memberikan Sapu tangan untuk Mira.
"Kita berdoa bersama, semoga Sanu dan Bari bisa selamat," ucap pak Nazar.
Mira dan yang lain mengaminkan.
Tak berselang lama dua orang tinggi besar datang memakai jaket kulit hitam layaknya preman.
Mira mendongak. "Kalian?"
"Biar kami yang menjaga mas Brian, Nyonya."
"Tidak usah, lebih baik kalian membantu polisi melakukan penyelidikan," ucap Mira pelan.
"Baik, Bu." Dua orang bertubuh besar itu pun pergi.
Agus dan Eko terlihat takut saat dua orang bertubuh besar itu melirik mereka.
"Wajahnya serem ya, Ko?" bisik Agus.
Eko mengangguk tidak berani menatap dua orang itu.
"O iya! Apa kalian sudah makan?" tanya Mira.
"Belum, Bu!" seru Agus.
Dara dengan cepat menonyor kepala Agus.
Mira tersenyum tipis sedikit mendapat hiburan.
"Beli makanan, nanti kalian sakit." Mira memberikan dua lembar uang seratus ribuan.
Agus dengan cepat menerima uang itu. Dara terlihat kesal dengan tingkah Agus dan Eko yang hanya memikirkan perutnya. Pak Nazar jadi tidak enak dengan Mira. Harusnya dia yang memberikan uang kepada Agus dan Eko.
Malam pun tiba, Arya mengendarai mobil bersiap menjemput Kampleng di dekat gang rumahnya. Kampleng terlihat berdiri gagah melipat kedua tangannya di dada sambil menghisap sebatang rokok.
"Kampleng, maaf kalau terlambat," ucap Arya ramah.
Lampu remang-remang dengan sambutan para wanita cantik dan seksi membuat siapapun pria tergoda. Arya mengenal beberapa wanita cantik itu, sepertinya dia sering datang kesini.
Kampleng di ajak duduk oleh dua wanita cantik nan seksi duduk di sofa panjang dengan alunan musik hip hop. Sebotol minuman dituangkan ke dalam gelas. Kampleng meminumnya sambil menciumi dua gadis muda cantik itu. Arya duduk di kursi sebelahnya melihat Kampleng yang tampak gembira.
"Kalau kamu suka, aku bisa sering mengajakmu kemari," teriak Arya yang bersaing dengan suara alunan musik.
Kampleng tertawa lepas. "Dari dulu aku ingin bersenang-senang seperti ini. Tapi temanku cupu-cupu jadi aku juga ikut cupu."
Arya tertawa. "Mulai hari ini dan seterusnya, kamu akan sering menikmati yang namanya surga dunia."
Kampleng dan Arya pun bersulang. dua gadis cantik masih dirangkul sambil dicium Kampleng.
Arya mengajak Kampleng berdansa, bersenang-senang dengan para wanita cantik. Kampleng nenari lincah bersama para wanita cantik yang bergantian menjadi pasangannya. Suasana ruangan yang remang-remang dengan musik hip hop membuat Kampleng sejenak melupakan kehidupan dunia.
Kampleng mulai mabuk berat, dipapah dua orang wanita cantik duduk kembali di mejanya. Arya mulai melancarkan aksinya atas perintah Glenca, memasukan racun sianida ke dalam gelas, lalu menyuruh seorang pelayan diskotik mengantarkan minuman beracun itu ke meja Kampleng. Dua wanita cantik itu kembali melayani Kampleng, mereka tidak tau kalau gelas berisi minuman berwarna merah itu sudah di beri racun oleh Arya.
Salah satu wanita itu menyodorkan minum ke mulut Kampleng. Tanpa ragu Kampleng menenggak minuman itu. Tidak ada masalah saat meminumnya, hingga beberapa menit kemudian tubuh Kampleng mulai merasakan sakit perut yang hebat. Ini bukan sakit perut biasa. Kampleng mulai mual kepalanya berputar hebat, dia hendak menuju toilet, tapi dia terjatuh memegangi dadanya. Dua wanita yang melayani Kampleng panik tidak karuan. Mereka menjerit meminta tolong. Kampleng mulai sesak napas, tubuhnya kejang-kejang mengeluarkan busa putih hingga meninggal dengan mata melotot.
Para pengunjung yang melihatnya menjadi panik. Beberapa berteriak histeris. Satpam pengawas melihat apa yang terjadi. Dia melihat seorang tergeletak dengan mulut berbusa. Satpam pengawas mengecek denyut nadinya Kampleng, tidak berdetak.
Arya yang melihat Kampleng tergeletak pura-pura terkejut. Berteriak histeris mendekap tubuh besar Kampleng.
"Cepat panggil Ambulans!" Arya menangisi kondisinya Kampleng. Satpam penjaga itu menguatkan Arya.
Ambulans datang membawa jenazah Kampleng. Polisi memeriksa keadaan sekitar melakukan evakuasi membatasi ruangan diskotik dengan police line. Arya tersenyum sinis, lalu keluar menuju tempat parkir segera melajukan mobilnya, mengikuti ambulans memastikan Kampleng sudah meninggal.
Dokter yang merawatnya menduga Kampleng meninggal karena keracunan sianida. Arya pura-pura bersimpati di depan dokter, menangisi kepergian Kampleng.
"Dimana keluarga Bapak ini?" tanya dokter.
"Habya saya keluarganya, Dok." Arya menangis sesenggukkan.
"Langsung dikafani di sini atau di bawa ke rumah Bapak untuk melakukan ritual penguburan."
"Langsung saja, Dok? Lagian saya tinggal di apartemen."
"Baiklah kalau begitu, biar petugas medis yang mengurusnya."
Arya mengangguk menyeka sudut matanya. Dia lantas pergi ke kamar mandi untuk menelpone Glenca.
📱"Halo sayang?"
📱"Ada apa kamu menelponeku, apa tugas kamu sudah selesai."
📱"Beres. Tinggal penguburannya saja."
📱"Hahaha ... Bagus. Selesaikan tugas secara rapi."
📱"Baik, Sayang." Sambungan berhenti.
Arya memutuskan tinggal di rumah sakit sampai Kampleng benar-benar di kubur.
Esok harinya, proses pemakaman Kampleng sudah siap. Ambulans membawa jenazah Kampleng ke TPU terdekat. Lubang 2x1 meter pun sudah siap. Petugas medis menguburkan Kampleng dengan sempurna. Arya berada di antara petugas medis itu, berterima kasih karena telah menguburkan saudaranya.
Arya menghirup udara pagi yang segar saat para petugas medis pergi. membuka tangannya lebar-lebar di kuburannya Kampleng.
"Kamu tidak akan pernah mendapatkan apa yang kamu mau. Dasar orang rendahan!" Arya menunjuk-nunjuk kuburan Kampleng.