
Selesai makan mereka bertiga berangkat naik kereta listrik menuju stasiun Bojong Gede.
"Wah ... aku pernah kesini," ucap Rina.
"Tidak apa-apa, Rina. positif thingking saja," balas Bari.
Mereka bertiga pitcing bersama saling rebut castamer. Rina selalu menggoda Sanu supaya castamernya tidak mau di terapi begitupun sebaliknya dengan Sanu. Hasilnya, sampai siang mereka berdua belum mendapat satupun castamer yang mau di terapi.
Bari menasehati mereka berdua. "Saat intro jangan bercanda, nanti castamer malah menjauh. Sudah terapi berapa orang?"
"Belum Kak Bari?" jawab Rina.
"Coba habis Dzuhur kalian serius."
"Kamu jangan menggodaku, Rina."
"Baiklah, kita akan serius siang ini."
Sanu melihat tas Bari yang terlihat kempes. Sanu lalu mencondongkan badannya berbisik kepada Rina. "Kelihatannya Kak Bari bisa satu."
"Aku juga berpikiran seperti itu, Sanu. Ayo kita jangan mau kalah dengan kak Bari."
Sanu mengangguk.
"Kak Bari ... aku mau cari gang lain saja, supaya lebih fokus," ucap Rina.
"Ya sudah, Rina. yang penting sore kamu sudah di sini."
Rina mengangguk.
"Kamu fighting denganku, Sanu."
"Eh." Sanu terkaget terlihat belum siap menerima ucapan Bari.
"Kenapa, Sanu?" tanya Bari.
"Tidak apa-apa, Kak." Wajah Sanu bersemu merah.
Rina terkekeh. "Kamu salah tingkah ya, Sanu?"
Sanu memicingkan mata menyuruh Rina diam. Bari hanya senyum-senyum sendiri melihat tingkah Rina dan Sanu.
"Ayo mulai," ucap Bari.
Rina pitcing di gang sebrang. Sanu dan Bari melanjutkan gang sebelumnya. Kali ini Sanu bisa lebih fokus berkomunikasi. Bari diam-diam meperhatikan Sanu. Bari hanya melihat cara Sanu pitcing saja, dia sedari siang hanya memperhatikan Sanu berinteraksi dengan castamer.
Sore tiba, Sanu dan Bari sudah berada di Mushola tempat pertama melakukan persiapan. Hari ini Sanu bisa membuktikan hukum rata-rata satu kali. Sanu berterima kasih kepada Bari karena telah membantunya membuka pola pikir castamer, sehingga castamer yang di terapi Sanu bisa membeli alatnya.
"Komunikasi kamu semakin baik, Sanu? puji Bari.
"Kalau Kak Bari tadi tidak membantu, aku belum tentu bisa membuktikan sistem hari ini."
"Bukan masalah bisa atau tidak bisa, Sanu. Ini masalah konsistensi. Aku lihat kamu konsisten menjalankan sistem, tidak mudah down. Itu bagus, Sanu."
Sanu tersenyum kepada Bari.
Rina datang, terlihat wajahnya begitu lesu.
"Kamu kenapa, Rina?" tanya Sanu.
"Aku capek, Sanu. seharian dapat tolakan hingga kepalaku berputar-putar."
Sanu dan Bari tertawa mendengar cerita Rina.
"Salah sendiri tidak mau fighting. Kalau fighting, kan. Kita bisa membantu kamu, Rina."
Rina hanya bisa menghela napas mengajak Sanu dan Bari pulang.
Suasana kereta lenggang, Rina, Sanu dan Bari bisa duduk di kursi kereta berdampingan. Rina langsung tertidur saat udara AC menyambut kulitnya. Sanu berusaha untuk menahan kantuknya. Tapi, dia memang tidak bisa menahan udara AC yang dingin dan sejuk itu. Sanu pun tidur di pundak Bari. Tak berselang lama Bari pun tidur, kepala mereka saling bertautan satu sama lain.
Tanpa sengaja Rina bangun dan melihat Sanu tidur beralaskan pundak Bari. Sambil terkekeh Rina pun memfoto kejadian langka itu buat kenang-kenangan. Sanu tiba-tiba bangun melihat Rina melakukan tindakan isengnya itu. Sanu segera ingin merebut ponsel Rina. Rina berlari di sepanjang gerbong kereta.
Sanu melihat fotonya yang tidur di pundak Bari. dengan rasa malu Sanu menghapus foto itu.
"Cieee ... Sanu." Rina segera berlari sebelum Sanu menyumpal mulutnya.
Bari yang melihat Sanu dan Rina berlari di dalam gerbong kereta, menegur Rina dan Sanu.
"Jangan berlarian di sini, nanti di marahin sama petugas." Sanu dan Rina tidak mengindahkan ucapan Bari. Mereka berdua masih saja berlarian seperti anak kecil.
Satpam kereta pun melihat Sanu dan Rina berlarian. Dengan suara tegas, satpam kereta itu menyuruh Sanu dan Rina duduk atau kalau tidak mereka akan diturunkan secara paksa.
Sanu dan Rina pun segera duduk tanpa banyak bicara lagi. Bari terkekeh melihat wajah masam Sanu dan Rina.
Di kantor, seluruh tim Pak Nazar berkumpul hendak mendengarkan pengarahan dari pak Nazar.
Semua tim duduk bersila membentuk lingkaran.
"Sekarang Sanu dan Rina sudah menjadi trainer, Jadi kalian berdua bukan MD lagi, yang harus di manja lagi. Kalian harus keras terhadap diri sendiri. Belajar berpikir dewasa."
"Siap Pak Nazar." Ucap Sanu dan Rina serentak.
"Muna, kamu juga harus bangun orang supaya segera jadi Asisten Manager."
"Siap."
"Bari ... bangun orang jangan jualan saja bisanya."
"Siap Pak Nazar."
"Tim ini harus saling membantu, supaya solid. Sanu, Rina sudah saatnya kalian merekrut crew."
"Maksudnya pak Nazar?" tanya Rina.
"Syarat Jadi manager itu, harus punya banyak crew. Minimal sepuluh crew supaya bisa bisa pengejaran."
"Berarti kita harus mendidik orang kayak Pak Nazar mendidik Sanu dulu, ya."
"Pak Nazar mengangguk. "Betul Sanu. sebarkan brosur sebanyak-banyaknya supaya bisa mendatangkan pelamar." Pak Nazar memberi brosur lowongan kerja kepada Sanu dan Rina.
Jam malam di mulai, sang modetator memanggil orang yang berprestasi hari ini. Sanu tidak dipanggil maju ke depan, karena untuk ukuran trainer standartnya harus bisa dua pcs.
"Habis ini kita ngapain, Rina?"
Rina mengangkat bahunya. "Entahlah, Sanu. Kita ikuti saja dulu."
Sanu menyetujui ucapan Rina.
Setelah memanggil orang yang berprestasi, trainer masih harus mengikuti program malam berikutnya.
Moderator memanggil seorang manager untuk memberi motifasi kepada para trainer. Manager itu berbicara sekitar satu jam para trainer terlihat serius mendengarkan arahan dari manager.
Jika pagi seorang manager memberi candaan yang membuat para trainer tertawa, pas malam hari seorang manager memberi pengarahan yang serius untuk perkembangan para trainer.
Sanu mulai mengerti arah pembicaraan manager itu. Intinya kita di suruh merekrut crew sebanyak-banyaknya supaya segera menjadi manager.
Selesai jam malam, Sanu menepati janjinya mentraktir Rina di restoran Padang. Rina makan dengan kalapnya. Memesan menu yang mahal tanpa memikirkan kantong Sanu.
Sanu hanya bisa menelan salivanya melihat Rina yang begitu lahap makan. Mungkin Rina ingin balas dendam dengan Sanu karena dia tidak di belikan blazer Bari.
"Pelan-pelan, Rina? tegur Sanu.
"tidak bisa, Sanu. perutku sangat lapar."
Setelah Rina selesai makan, Sanu membayar semua makanan yang di makan Rina. Sial bagi Sanu harga makanannya setara satu profit alat terapi. Untung Sanu masih punya tabungan hasil dua minggu konsisten sepuluh pcs. Jadi Sanu tidak terlalu keberatan membayarnya.
Rina bersendawa memegang perutnya yang sudah kenyang.
"Puas, Rina." cibir Sanu.
Rina mengangguk lalu mengajak Sanu pulang.