
Ali segera munuju rumah almarhum Atmaja, dengan kecepatan tinggi dia melajukan mobilnya. Sesampainya disana Ali mencari Glenca. Dia mengetuk keras pintu kamar Glenca, membuka handle pintu. Namun, dikunci.
"Mas Ali cari non Glenca?" tanya mbok Yem yang melihat Ali meruncingkan tatapannya.
Ali mengangguk.
"Non Glenca dari kemarin pergi, Mas."
"Kemana, Mbok?"
"Mbok juga tidak tau."
"Hahh ...!" pekik Ali.
Tanpa permisi Ali langsung pergi meninggalkan mbok yem.
Ali melanjutkan perjalanannya menuju kediaman Mira. Melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mira terlihat melamun duduk melipat kaki di ruang tamu, mungkin sedang memikirkan kondisi Bari.
"Selamat malam, Bu?" sapa Bari.
Mira menoleh. "Ada apa kamu malam-malam kesini, Ali."
"Saya sudah mendapat perkembangan siapa dalang di balik kecelakaan mobil yang dikendarai Brian, Bu."
"Siapa?" Mira berucap tegas.
"Glenca, dia kemungkinan besar yang menyuruh kampleng mencelakai Bari dan pak Atmaja."
"Wanita licik itu, aku akan membuat dia hidup menderita," ucap Mira dengan nada bergetar dan tatapan tajam ke depan.
Suasana rumah lengang.
"Apa kamu sudah tau, dimana wanita licik itu berada?" tanya Mira.
"Glenca bersembunyi, Bu. Sepertinya dia sudah mengetahuinya."
"Mau bersembunyi di lubang semut pun akan aku cari kamu wanita setan!" pekik Mira.
Ali sedikit terperanjat, baru kali ini dia melihat mantan bosnya marah seperti ini. Ali pun berpamitan pulang, hari sudah larut malam.
Esok harinya di rumah sakit, Sanu masih membuka matanya. Dari semalam Sanu tidak bisa tidur karena memikirkan Bari.
Nurjanah membawakan bubur untuk Sanu. Kali ini Sanu mau mau membuka mulutnya.
"Hari ini cuaca sangat cerah, Sanu. Clara dari tadi berlarian dengan anak yang lainya, dia begitu aktif," ucap Nurjanah menghibur Sanu.
Sanu tersenyum sambil memakan satu sendok bubur yang di sodorkan ibunya.
"Kamu terlihat sudah lebih baik dari kemarin, Nak?"
Sanu mengangguk, tersenyum kepada ibunya. "Badan Sanu sudah tidak lemas lagi, Bu?"
Nurjanah tersenyum. "Syukurlah, Ibu senang mendengarnya."
Dokter datang menyapa Sanu dan Nurjanah. Mereka berdua tersenyum melihat dokter yang hendak memeriksa Sanu. Dokter menyuntikan obat di lengan kiri Sanu, lalu menyuruh Sanu membuka mulutnya.
"Kondisinya mulai stabil, cepat sekali, Sanu," ucap dokter yang merawat Sanu.
Sanu menaikan bahu, lalu tersenyum kepada dokter itu.
"Mungkin karena kemarin dihibur oleh teman-temannya," ucap Nurjanah.
"Oya! Bagus kalau begitu," balas dokter yang merawat Sanu.
"Dok, aku boleh minta satu permintaan?" pinta Sanu.
"Apa Sanu."
"Aku ingin melihat pasien yang bernama Brian Atmaja."
Dokter terdiam, lalu menghela napas. "Baiklah, tapi hanya sebentar saja. kondisi pasien masih kritis, belum ada perkembangan."
Seorang perawat membawakan kursi roda. Sanu duduk di kursi roda itu, Nurjanah mendorong Sanu menuju ruangannya Bari. Sanu masuk mendorong kursi rodanya, hanya Sanu yang boleh masuk atas izin dokter.
Bari terlihat lemah memakai selang infus dan tabung oksigen untuk bernapas. Sama seperti Sanu saat masih dalam kondisi kritis. Tubuh Bari yang dulu kekar, kini menjadi sangat kurus. Sanu memperhatikan Bari, melihat matanya yang masih terpejam. Dalam hati Sanu memberikan semangat untuk Bari Supaya terus berjuang. Sanu mengambil buku kecil yang sengaja dia bawa, lalu menuliskan
'Semangat, Kak Bari pasti bisa melaluinya' Dari orang yang mencintaimu,' Sanu.
Sanu merobek kertas itu, lalu menaruhnya di bawah tempat tidur.
Dokter menghampiri Sanu, berkata waktu jenguk sudah selesai. Sanu mengangguk mendorong kursi rodanya keluar dari ruangan Bari.
Di tempat lain, arya yang masih di tahan di penjara akhirnya mengaku setelah diinterogasi oleh polisi. Arya merasa ditipu oleh Glenca, bahkan Glenca menjual apartemennya.
Polisi segera mencari keberadaan Glenca. Ali datang hendak memberitahu dalang kecelakaan mobil Atmaja. Polisi sudah tau dari Arya. Ali lalu menghampiri Arya yang berada di balik jeruji.
"Dimana Glenca bersembunyi?"
"Mana aku tau? Kamu tidak lihat kondisiku?"
Ali menatap Arya tajam, lalu segera pergi. Ali menelpone Jaka untuk membantu polisi mencari keberadaan Glenca.
Jaka tiba menggunakan ojek online setelah Ali menunggu sekitar lima belas menit.
"Kita mau cari dimana?" tanya Jaka.
Ali melihat sekitar jalan. "Glenca itu licik, dia bisa saja menyamar untuk mengelabuhi kita."
Ali dan Jaka mencari di sepanjang jalan, di Mall dimanapun tempat biasa berada.
"Bagaimana kalau kita cari ke rumah pak Atmaja?" usul Jaka.
Ali mengangguk setuju.
Mereka membuka kamar Glenca mencari tau dimana dia pergi. Terlihat kertas di kamar Glenca berserakan. Sepertinya saat dia pergi sedang terburu-buru. Ali dan Jaka terus mencari petunjuk kemana Glenca pergi. Tapi hasilnya tetap nihil.
"Percuma saja kita mencarinya, tidak ada petunjuk sama sekal," ucap Jaka.
"Kalau begitu kita serahkan saja ini kepada polisi."
Jaka mengangguk.
"Kamu boleh kembali, Jaka? Terima kasih telah menemaniku." Ali tersenyum memegang bahu Jaka.
"Tidak masalah, ini tugas dariku." Jaka pamit menaiki ojeg online.
Di tempat lain Mira sedang berada di rumah sakit untuk menyelesaikan biaya administrasi Bari dan Sanu. Semua biaya telah ditanggung Mira. Nurjanah yang habis memandikan Clara melihat Mira berada di ruang receptionist. Nurjanah menunggu di pintu hendak berbicara dengan Mira.
"Ada apa, Bu Nur?" ucap Mira saat keluar dari ruang teceptionist.
Nurjanah tersenyum merapatkan kakinya. "Tidak apa-apa, Bu. Saya hanya mau bertanya?
"Tanya apa? Ngomong saja."
"Apa anak ibu mau menerima Sanu kembali dengan kondisinya yang sekarang ini?"
"Maksud ibu gimana?"
"Sanu kehilangan kedua kakinya," ucap Nurjanah lirih.
"Apa!" Kenapa saya baru tau." Mira terkejut mendengarnya.
Nurjanah menunduk. Mira berjalan menuju ruangan Sanu.
Sanu sedang duduk melamun memakai kursi Roda.
"Sanu ...."
Sanu menoleh. lalu memutar kursi rodanya.
"Mama ...." Sanu tersenyum menatap Mira.
Mira melihat tidak percaya, matanya membulat, mulutnya membuka. Dokter tidak memberitahunya kalau Sanu kehilangan kakinya. Mungkin karena Mira jarang menjenguk Sanu.
"Apa yang terjadi dengan kakimu, Sanu?"
"Kakiku terjepit mobil, Ma. Dokter memutuskan mengamputasinya sebelum menjalar ke bagian tubuh yang lain," ucap Sanu lirih.
Mira berkecap, lalu menggeleng. Mira terlihat tidak suka dengan kondisi Sanu yang seperti ini.
"Ada apa, Ma?" Sanu bertanya tidak mengerti.
"Sudahlah." Mira keluar dari ruangan Sanu.
Sanu menunduk, ini seperti yang di takutkan Sanu. Mamanya Bari sikapnya mulai berubah. Tidak apa jika Mira tidak menyukainya, asal jangan Bari. rintih Sanu.
Mira berjalan menuju parkir mobil,
"Bagaimana ini? aku tidak mau punya menantu cacat, ini bisa merusak reputasiku. Aku harus bisa menjaukannya dari Brian," gumam Mira.
Mira membuka mobilnya, lalu dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dalam perjalanan dia tidak henti berpikir cara menjauhkan anaknya dari Sanu. Mira tidak ingin anaknya menikah dengan wanita cacat.