Sanubari

Sanubari
Pengakuan Latif



Sanu menggerutu. Sikap Latif sangat berbeda dengan jawabannya. Sanu pun kembali ke rumah. menanyakan kepada ibunya.


Nurjanah berada di dapur sedang memasak air.


"Ibu ...." Sanu berkata dengan lembut.


"Ada apa, Sanu."


"Kenapa dokter Latif sikapnya sekarang berbeda Ibu," pancing Sanu.


"Berbeda bagaimana, Nak. Biasa saja," alasan Nurjanah.


"Tadi Sanu ke rumah dokter Latif, dia sepertinya masih marah dengan Sanu."


Nurjanah menatap Sanu, menggela napas. Nurjanah tidak ada pilihan lain selain menceritakan kepada anaknya.


"Semenjak pulang dari Ibu Kota, Ibu juga merasakan hal yang sama denganmu. Dokter Latif seolah menjauhi kita. Tapi Ibu belum tau alasannya kenapa."


"Dokter Latif pernah mengutarakan perasaannya kepada Sanu, Bu?" Sanu berkata lirih terus terang kepada Nurjanah.


Nurjanah mulai mengerti kenapa sikap dokter Latif berubah.


"Tapi Sanu sudah minta maaf, Bu. Dan dokter Latif sudah memaafkannya."


"Kenapa dokter Latif terlihat marah terhadap keluarga kita, Nak?"


Sanu menggeleng.


Sebenarnya tidak masalah jika Latif membenci Sanu Tapi yang menjadi pertanyaan Sanu, kenapa Latif melibatkan keluarganya sehingga ibunya tidak berani untuk berobat. Pasti ibunya mendapatkan perlakuan tidak adil dari Latif.


Malam telah tiba, Sanu berada di teras mendongak menatap bintang yang bertaburan. Suara gemuruh gunung merapi menemani malam Sanu. Pikirannya kalut, mengingat Bari yang entah ada dimana. Setiap malam Sanu selalu berdoa untuk kesembuhan Bari.


Nurjanah menghampiri Sanu, melihat anaknya terlihat murung. Nurjanah tau anaknya sedang bersedih, setiap malam Sanu selalu di teras rumah, melamun sendiri.


"Makan dulu, Sanu? Ibu dari tadi perhatikan kamu belum makan."


"Nanti saja, Bu. Sanu belum lapar.


"Ibu sudah menaruh nasi di meja untukmu. Kalau tidak seperti itu nanti nasinya bisa dihabiskan Clara. Sekarang Clara makannya sangat banyak lihat saja badannya semakin lama semakin berisi. Padahal baru enam tahun." Nurjanah berusaha menghibur Sanu.


Sanu tersenyum. "Ya tidak apa to, Bu. Clara 'kan masih dalam proses pertumbuhan."


"Clara sudah tidur, Nak. Besok dia harus sekolah. Clara termasuk anak yang pintar di sokolahnya. Sama seperti kamu dulu."


Sanu tersenyum, mendongak menatap wajah ibu yang berada di belakangnya. Hanya Ibu dan Adiknya yang dia punya sekarang. Nurjanah mendorong kursi Roda Sanu menuju dapur.


"Mau Ibu suapi?" Nurjanah mengambil sayur dan lauk untuk Sanu.


"Tidak usah, Bu."


Nurjanah lalu meletakkan piring ke meja. Sanu dengan lahap memakannya. Sebenarnya dia malas untuk makan, Sanu hanya tidak ingin melihat ibunya sedih melihat kondisinya.


"Mau nambah, Nak."


Sanu menggeleng. "Sudah cukup, Bu. Sanu sudah kenyang."


Sanu lalu beranjak ke kamarnya, Nurjanah membersihkan piring sisa makanan. Sanu kembali merenung mendekap syal berwarna hijau pemberian Bari. Menangis lirih, entah sampai kapan Sanu harus seperti ini. Bayangan Bari begitu kuat menghantuinya. Tapi Sanu tidak punya daya untuk memiliknya. Sanu seperti pungguk merindukan bulan. Dia hanya seorang gadis desa, sedangkan Bari anak pengusaha kaya di Ibu Kota.


Tanpa terasa suara Adzan subuh terdengar keras di telinga Sanu. Nurjanah mengetuk pintu kamar Sanu. Mengajak Sanu Sholat berjamaah, Sanu masih merasa ngantuk. Dia hanya tidur satu, dua jam karena merindukan Bari. Clara juga sudah bangun memakai mukena terlihat cantik dan lucu.


"Ayo Kak Sanu jangan malas nanti Tuhan marah," ucap Clara dengan polosnya.


Sanu segera beranjak mengambil air wudhu yang ada di samping warungnya. Nurjanah sudah pergi ke pasar untuk membeli barang belanjaan.


Clara tanpa di suruh sudah bisa mandi sendiri, pake seragam sendiri. walaupun usianya baru enam tahun tapi dia sudah cakap. Sanu mengacungkan jempol untuk Clara.


Clara tersenyum mendekati Sanu. "Minta uang jajan, Kak."


Sanu menjepit hidung Clara yang mancung, lalu memberinya uang jajan. "Clara berangkat jam berapa?"


"Jam enam, biar tidak dimarahi bu guru," jawab Clara.


"Ini sudah mau jam enam, Clara?"


"Clara berangkat dulu ya, Kak Sanu." Clara mencium punggung tangannya Sanu berlari kecil berangkat ke sekolah.


Tak berselang lama Nurjanah datang bersama dengan barang belanjaan. Tukang ojeg langganan Nurjanah membantu memasukan sembako ke warungnya Sanu.


Sanu juga membantu mengarahkan dimana barang yang harus di letakkan. Para pembeli sudah berbondong berbelanja sembako sayur dll. Sanu dan Nurjanah melayani pembeli itu dengan ramah. Sanu sepertinya sudah terbiasa dengan kursi rodanya, gerakannya mulai lincah.


"Cah ayu, bukak e mbok jam lima ben ibu-ibu neng kene ora kawanen (Anak cantik, buka nya jam lima saja biar ibu-ibu di sini tidak kesiangan)" ucap salah satu pelanggan Sanu yang mendapat anggukkan dari ibu-ibu yang lain.


"Nggeh, Bu. Diusahakan," jawab Sanu.


Sanu membuka warungnya sampai siang hari karena barang belanjaannya sudah habis. Untung dari membuka warung tergolong lumayan, bisa menghidupi keluarganya.


"Lumayan juga ya, Bu."


Nurjanah mengangguk. "Itu karena warung kita ramai, kamu pintar jualannya, Sanu. Padahal dulu kamu orang yang pemalu."


Sanu tersenyum.


Sore harinya Sanu menuju gang rumahnya Latif untuk meminta penjelasan darinya. Sanu tidak bisa membiarkan masalah pribadinya disangkutpautkan dengan ibunya.


Latif datang membawa koper berwarna hitam. Latif melihat Sanu di depan rumah kontrakan, langkahnya terhenti.


"Ada apa."


"Aku mau ngomong." Sanu terlihat berani hendak menyampaikan kegelisahannya.


Latif mengajaknya masuk ke kontrakan rumahnya.


"Kak Latif, kalau saya ada salah saya mnta maaf. Tapi tolong jangan libatkan ibu saya, dia tidak tau apa-apa."


"Maksud kamu apa?" Latif mendekatkan tubuhnya ke Sanu tangannya memegang gagang kursi roda. Sanu sedikit takut dibuatnya, Sanu takut kalau Latif berbuat macam-macam dengannya. Apalagi mereka hanya berdua saja di rumah.


"Kak Latif mau ngapain," ucap Sanu sedikit takut.


Latif terus memandang wajah Sanu, tersenyum sinis. Lalu menjauh dari Sanu.


"Baiklah, aku akan berterus terang padamu."


Sanu menghela napas, sedikit merapikan bajunya.


"Aku sakit hati padamu saat kamu menolakku dan memilih pria lain. Aku lebih sakit hati lagi saat aku membantu keluargamu, kamu cacat aku menemani ibumu menjengukmu berharap kamu bisa membuka hati untukku. Tapi apa yang aku dapatkan. Kamu semakin menghancurkanku, bahkan membuatku malu di depan umum. Kamu benar-benar wanita yang tidak punya perasaan!"jelas Latif mengungkapkan isi hatinya.


"Apa hubungannya dengan ibuku."


Latif mengangkat kursi duduk di depan Sanu.


"Karena aku tidak mau berurusan lagi dengan keluarga yang tidak tau terima kasih itu. Aku memblokir nama keluargamu dari puskesmas. Supaya kamu tau bagaimana rasanya disakiti."


Sanu tanpa sadar meneteskan air mata. Tanpa sepatah kata dia pergi dari hadapan Latif.


Sanu tidak menyangka Latif bisa sekejam ini. Kalau begini ibunya harus berobat kemana lagi.


Bersambung ...