
Hari ini libur, minggu kemarin Sanu belum memenuhi standar untuk mencapai trainer. Sanu hanya bisa menjual empat pcs alat terapi. Minggu ini Sanu berencana melakukan persiapan yang lebih matang.
Rina sudah berpakaian Rapi, apapun yang dipakai Rina, pasti selalu kelongggaran. Itu karena tubuhnya yang kurus dan kecil. Ditambah lagi Rina itu orangnya cuek, jadi dia tidak terlalu mempermasalahkan penampilannya.
Sanu masih belum keluar dari kamar mandinya.
"Sanu! Cepat keluar, kak Bari sudah menunggu di depan kantor!" pangil Rina.
"Iya, Rina. aku sedang ganti baju."
Rina mendengus kesal, sudah satu jam Rina menunggu Sanu di kamar mandi. Untung saja Rina sudah mandi dulu. Kalau menunggu giliran Sanu mandi, Rina mungkin sampai saat ini belum mandi. Sanu memang lama kalau sedang di kamar mandi, entah apa yang diperbuat Sanu di kamar mandi.
Dengan wajah yang tidak berdosa, Sanu keluar menyapa Rina.
"Ayo berangkat, Rina. Katanya kak Bari sudah nunggu?"
Rina mengikuti Sanu sambil memicingkan mata merasa sebal.
Sanu dan Rina melihat Bari sedang ngobrol dengan satpam penjaga.
"Maaf telat, Kak. Gara-gara Sanu nie, mandinya lama." Rina memajukan bibir mengejek Sanu.
"Kok gara-gara aku." Sanu menunduk.
"Tidak apa-apa. Ayo berangkat."
Mereka bertiga menaiki kereta listrik dari Stasiun Pasar Minggu menuju Stasiun Jakarta Kota.
Sore yang cerah di Kota Tua, banyak orang menjajakan makanan, banyak musisi jalanan unjuk kemampuan, dan juga banyak orang berfoto ria untuk sekedar memenuhi bingkai album mereka.
Sanu, Rina dan Bari berjalan melihat suasana Kota Tua sambil makan kerak telur. Makanan khas Ibu Kota. Masuk ke museum Fatahillah, foto dengan manusia silver. Melihat konser musik jalanan hingga tak terasa malam tiba.
Bari melihat penjual pernak-pernik di pinggir trotoar, dia tertarik membeli sesuatu untuk dijadikan buah tangan. Bari berbicara dengan penjual pernak-pernik itu. Entah apa yang mereka bicarakan Sanu dan Rina tidak mendengarnya. Karena terlalu bising orang yang berlalu-lalang.
"Kak Bari beli apa?" tanya Rina.
"Aku mau baru pesan, kalung."
Rina mengangguk lalu mengajak pulang karena hari sudah malam.
Sampai di Stasiun Bari menyuruh Rina mengantri tiket untuk mereka bertiga. Rina mengiyakan permintaan Bari karena Rina dapat satu tiket gratis sebagai imbalan.
Bari dan Sanu duduk di kursi panjang Stasiun Kota Tua.
"Kamu lapar, Sanu."
"Ti-tidak, Kak." Jantung Sanu mulai berdegup kencang duduk berdua dengan Bari.
Bari tersenyum, melihat Sanu menunduk. "Kamu tunggu di sini, ya."
Bari menuju outlet roti untuk mrmbelinya.
"Ini Sanu, makanlah." Bari menawarkan roti O untuk Sanu.
Sanu menerimanya dengan malu-malu. "Terima kasih, Kak."
Rina menghampiri Sanu dan Bari memberikan kartu trip untuk pulang.
"Kak Bari, aku juga ingin roti itu. perut ini dari tadi bunyi minta diisi."
"Tenang Rina, aku juga membelikan untukmu." Bari memberikan satu roti O kepada Rina.
"Tadi aku sudah makan roti di depan outlet."
"Kalau begitu, kita makan dulu saja sebelum pulang," ucap Rina.
"Kenapa Rina, bukankah lebih bagus kita makan di comuter line," ucap Sanu.
"Tidak boleh, Sanu. Di kereta listrik tidak boleh makan dan minum, ada aturannya."
Sanu mengangguk baru tau.
Bari duduk di kursi panjang samping Sanu dan Rina sambil menelan ludah. Sebenarnya Bari belum makan roti itu. Tapi karena Rina meminta, jadi Bari gak enak hati dengan Rina. Bari hanya ingin Rina tidak iri dengan Sanu.
Sepulang dari Kota Tua, Bari pamit menuju kost. Kata pak Nazar Bari ngekost sendiri, dia tidak mau kalau satu kost berdua dengan teman yang lain. Entah apa alasan Bari melakukan itu. Padahal untuk anak pitcing seperti Bari, bakal kewalahan membayar kost sendiri. Rata-rata anak yang masih proses seperti Bari memilh kost berdua atau bertiga dengan kamar yang luas dan terjangkau tentunya. Tapi Bari adalah trainer yang memiliki standar tinggi. Mungkin karena itu Bari memilih kost sendiri. Supaya memaksanya kerja keras di lapangan.
Rina Dan Sanu terlihat menikmati perjalanan hari ini. Mereka merebahkan diri di kasur dengan gaya terlentang.
"Aku tidak menyangka bisa melihat Kota Tua, aku pikir hanya bisa melihat Kota Tua di kalender saja," ucap Sanu.
"Berterima kasihlah dengan kak Bari, Sanu. Dia sudah berbaik hati mengajak kita jalan ketempat yang belum pernah kita kunjungi."
"Kalau dilihat-lihat kak Bari itu berbeda dengan anak pitcing lainnya."
"Maksud kamu, Sanu?"
"Lihat anak pitcing pada umumnya hitam dan kurus. Tapi kak Bari terlihat bersih dan memiliki badan yang bagus."
"Hay Sanu, aku hari ini menahan untuk tidak menggodamu, tapi kenapa kamu memancingku. Jangan bilang kamu benar-benar jatuh cinta dengan kak Bari."
"Aku tidak bermaksud seperti itu, Rina. Apa kamu tidak melihat kalau kak Bari itu berbeda."
"Beda dari mana, Sanu. Mungkin kamu terlalu mengagumi kak Bari. Mengagumi boleh, tapi di kantor kita dilarang untuk pacaran sebelum jadi Manager."
Sanu merubah posisinya menatap Rina. "Kamu tau dari mana, Rina."
"Memangnya kamu belum diberitahu pak Nazar."
Sanu menggeleng.
Rina menepuk keningnya. "Ya ampun ... seharusnya gadis secantik kamu diberitahu lebih awal."
"Memang kenapa alasannya tidak boleh pacaran?" tanya Sanu.
"Kata pak Nazar kalau masih proses pacaran, itu membuat kita tidak fokus. Pada akhirnya salah satu akan dikorbankan, entah itu si pria atau wanita.
Entah kenapa hati Sanu merasakan sakit mendengar penjelasan dari Rina. Apa karena Sanu menyukai Bari hingga dadanya terasa sesak. Bari memang berjasa terhadap Sanu, dia sudah banyak membantu di kala Sanu susah. Bari juga yang memberikan tempat saat Sanu tidak tau harus kemana. Sanu saat ini masih belum mengerti tentang perasaannya.
Sejenak Sanu mengabaikan perasaannya, malam ini Sanu fokus membuat goal untuk menjadi trainer. Seperti apa yang dikatakan pak Nazar harus fokus dan terus mempraktekan sistem di lapangan.
"Hay Sanu, kamu sedang menulis apa?" tanya Rina.
"Aku sedang menulis goal supaya cepat jadi trainer, Rina."
"Ayolah, Sanu. Hidup tidak seserius itu. Kamu baru satu minggu diangkat menjadi MD, nikmati saja dulu. Jadi trainer itu tidak enak, kamu akan sering dimarahi nanti. pak Nazar yang setiap hari ramah terhadapmu, nanti akan selalu memarahimu jika kamu menjadi trainer," ucap Rina
"Aku tidak peduli, Rina. Aku ingin segera sukses untuk mengurangi beban Ibu dan adikku yang ada di kampung."
Rina menghela napas. "Ya sudahlah, terserah kamu. Aku mau mandi dulu."
Rina berjalan menuju kamar mandi, sedang Sanu masih fokus belajar lima langkah komunikasi.