
Sanu masih pitcing dengan Pak Nazar naik kereta listrik. Kali ini turun di stasiun Bojong gede.
"Kita pitcing di perumahan, Sanu."
"Apa bisa masuk, Pak Nazar. Rumahnya kan tertutup pagar. Kita bakalan kesulitan Pak Nazar."
"Tidak ... yang penting kamu jaga sikap saja. Jangan pernah menyerah sebelum bertanding. Kamu harus buktikan kalau di perumahan pun kamu bisa, Sanu."
Sanu mengangguk dengan yakin.
Sanu dan pak Nazar pitcing, mengetuk pintu rumah yang satu ke pintu rumah yang lain sampai sore hari bertemu di Mushola tempat mereka melakukan persiapan.
"Gimana hari ini?" tanya pak Nazar.
"Sanu bisa satu, Pak Nazar."
Pak Nazar mengacungkan jempolnya sekaligus mengajak Sanu pulang.
Di kantor, Pak Nazar mulai mengevaluasi Sanu.
"Mulai besok kamu pitcing sendiri disana ya, Sanu. Kalau kamu ingin jadi trainer, kamu harus berani mencari teritory sendiri. Yakin saja dengan kemampuan kamu."
"Siap, Pak Nazar.
Sanu berusaha menyakinkan diri. Setiap hari Sanu naik kereta listrik sendiri menuju stasiun Bojong Gede.
Satu minggu sudah dilalui, Sanu konsisten dengan standart sepuluh pcs dua minggu berturut-turut. Sanu merasa puas, besok senin rencana Sanu dan Rina akan di angkat jadi trainer. Rina dan Rombongan hari ini katanya akan pulang. Sore di hari minggu sanu memilih bermain di kantor menunggu kepulangan Rina. Disana juga ada Muna yang terlihat tidak senang dengan kehadiran Sanu.
"Mau apa kamu di sini?"
"Aku mau menunggu Rina pulang, Kak," jawab sanu lirih.
Muna menatap Sanu tajam. Sanu menundukan kepala tidak berani menatap mata Muna. Sanu lalu menuju rooftop, menyegarkan badannya sekaligus mengingat seseorang. Bari orang yang pertama mengajak Sanu ke rooftop. Bari juga yang pertama kali memperkenalkan perusahaan ini ke Sanu.
Suara cempreng Rina terdengar dari lantai tiga. Sanu segera turun menuju sumber suara.
"Rina ...!"
Rina menoleh. "Sanu ...!"
Mereka berdua berpelukan layaknya teletubies.
"Aku Rindu saman kamu, Rina."
"Aku juga, Sanu."
"Kamu tidak berubah, Rina. Badanmu tetap saja kurus."
"Badanku dari dulu sudah seperti ini, Sanu. Kamu jangan mengejekku."
Sanu menutup mulutnya tak kuasa menahan tawa.
"Hay, Sanu?" sapa seseorang pria yang selalu membuat Sanu deg-degan. Itu Bari, dia terlihat hitam dan kurus tapi Sanu tetap suka melihat wajah Bari.
"Kak Bari." Sanu hanya bisa memelankan suaranya.
Muna mendekati Bari, memukul pelan lengan Bari.
"Gimana kabarnya, bro." Bari terlihat akrab dengan Muna. Itu membuat Sanu cemburu.
"Ayo pulang, Rina. Aku bawakan tas kamu." Sanu langsung membawa barang bawaan Rina tanpa pamit dulu. Rina memanggil Sanu tapi tidak di indahkan. Rina pun mengikuti Sanu sampai ke kost.
"Kamu kenapa Sanu? Tiba-tiba sikap kamu berubah menjadi kesal."
"Tidak apa-apa, Rina?"
"Apa kamu cemburu melihat kedekatan kak Bari dan kak Muna?" tebak Rina.
Sanu hanya diam tidak menjawab.
"Baiklah, kalau begitu aku mau mandi dulu."
Tok...
Tok...
Tok...
"Siapa!"
"Ini aku Bari, Sanu?"
"Buka saja, kak! Pintu tidak di kunci." Sanu masih terlihat kesal.
Ceklak ...
"Hay Sanu, kenapa kamu tadi langsung pulang?"
"Aku mau memberi hadiah untukmu, Sanu."
Sanu menoleh mengangkat satu alisnya. Bari memberikan blazer berwarna hitam untuk Sanu.
"Baju?"
Bari mengangguk. "Buat kerja, Sanu. Aku dengar kamu besok diangkat jadi trainer. Jadi aku memberikan ini untukmu."
Sanu tersenyum tipis mengucapkan terima kasih kepada Bari.
"Kalau begitu, aku pulang dulu, Sanu. jangan lupa besok berangkat pagi." Bari selalu mengatakan kata itu.
"Aku dengar tadi ada suara kak Bari?" ucap Rina saat keluar dari kamar mandi.
Sanu mengangguk, "Baru saja pergi."
Rina terfokus dengan blazer yang ada di tangan Sanu. "Itu ditanganmu apa, Sanu."
"Oh, ini ... Kak Bari memberikan hadiah ini untukku. Katanya karena aku jadi trainer."
"Kenapa aku juga tidak dibelikan? Aku kan besok juga jadi trainner?" Rina mendengus kesal.
Sanu mengangkat bahunya. Sanu lalu membuka blazer yang masih terbungkus plastik itu. Sanu senyum-senyum sendiri karena Bari memberikan blazer itu hanya untuknya. Sanu juga suka dengan blazer pilihan Bari.
...***...
Pagi hari Sanu dan Rina siap berangkat penuh semangat. Mereka deg-degan karena hari ini adalah pengangkatannya sebagai trainer baru. Sanu memakai blazer pemberian dari Bari. Blazer itu begitu cocok di badan Sanu.
"Blazer itu pas sekali ditubuhmu, Sanu."
Sanu tersenyum memandangi blazer yang diberikan Bari.
Rina menghela napas dalam. "Kenapa tidak aku saja yang menerima blazer itu, Sanu?"
"Kalau yang menerima kamu, nanti kebesaran."
"Benar juga apa katamu, badanku kan kecil," ucap Rina sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Ayo Rina kita berangkat, pak Nazar sudah menunggu di depan kantor."
"Dari mana kamu tau?"
"Setiap hari kan pak Nazar memang seperti itu?"
Rina kembali menggaruk kepalanya. "Kenapa aku jadi pelupa, ya?"
"Mungkin kamu masih ingin lotrip, Rina."
"Enak saja, justru aku lebih suka berada di sini, Sanu."
"Pagi ...." Suara nyaring pak Nazar membuka lembar baru Sanu dan Rina.
"Pagi Pak Nazar ...?" ucap mereka serentak.
Sanu dan Rina langsung menuju lantai tiga, Bari sudah menyambut mereka berdua dengan senyum hangat.
"Nanti kita pitcing bertiga, ke teritory kamu ya, Sanu?"
Sanu mengangguk. Ini pertama kalinya Sanu pitcing dengan Bari lagi setelah dia lotrip.
"Kita panggilkan trainer baru guys ...!" Suara moderator menggema di lantai tiga.
Sanu dan Rina maju ke depan setelah nama mereka di panggil. Moderator memberi pertanyaan kepada Sanu dan Rina tentang tujuan selanjutnya. Rina menjawab ingin sukses dan membuktikan kepada orang-orang yang meremehkannya. Sanu menjawab ingin secepatnya jadi manager supaya bisa membantu keluarga yang ada di kampung.
Riuh tepuk tangan menggema dengan kedatangan trainer baru. Suasana di kantor menjadi ramai karena anak yang lotrip dari Kerawang sudah kembali. anteran di ruang receptionist pun mengular karena penuh tambahan beberapa orang. Pak Nazar sampai harus membantu mbak Dian nama dari receptionist kantor.
Sanu memasukkan tiga alat terapi beserta testernya ke tas ranselnya. Bari dan Rina sudah menunggu di depan kantor.
"Kita makan di dekat kantor saja, perutku sudah lapar," usul Rina.
"Baik Rina, aku ikuti kemauanmu."
Mereka bertiga makan di warung tenda tidak jauh dari ruko. Rina begitu lahap makannya.
"Kamu cepat sekali makannya, Rina?" tanya Sanu.
"Entahlah Sanu, semenjak aku lotrip, nafsu makanku bertambah. jangan lupa nanti malam nasi padang." Rina mengingatkan Sanu akan janjinya.
"Iya, Rina."
Rina tersenyum, "Baguslah kalau kamu masih ingat."
Bari tampak mendengarkan percakapan lucu mereka berdua.
Bersambung ...