Sanubari

Sanubari
Bari dan Mama



POV Bari


Hari ini begitu membosankan, setiap hari aku harus ke lapangan sendiri. Dari pintu keluar kereta aku melihat seorang tinggi besar yang aku kenal. Itu anak buah mamaku, Bondan dan Jaka. Mengapa mereka ada di sini. Mereka berdua mamasang mata tajam seperti sedang mencari seseorang. Aku menemui Bondan dan Jaka sekedar hanya menyapa.


"Ada apa kalian kesini?" Aku mengajak Bondan dan Jaka ke ujung stasiun yang tidak ramai dari hiruk pikuk pejalan kaki.


"Kami disuruh nyonya untuk menjemput anda, Mas," ucap Bondan


Aku tersenyum sinis. "Buat apa mama mencariku, Bukankah mama sibuk dengan bisnisnya."


"Maaf Mas, nyonya ingin bicara dengan anda."


"Aku tidak mau pulang," tegasku.


Bondan dan Jaka saling menatap satu sama lain. Tanpa pikir panjang, mereka berdua mencengkram kedua tanganku.


"Apa-apaan ini, lepaskan!" Aku berusaha berontak.


"Maaf Mas, kami hanya menjalankan perintah," ucap Jaka.


Aku dengan sedikit ilmu bela diri menginjak kaki Bondan dan Jaka. Bondan dan Jaka mengerang kesakitan. Aku segera berlari menjauh dari mereka berdua. Bondan dan Jaka terlihat mengejarku dengan kaki pincang.


"Siapkan obat biusnya? Mas Brian pasti tidak jauh dari sini."


Aku mendengar percakapan itu. Aku bersembunyi diantara rumah warga, melihat keadaan dari sudut sempit. Aku mengira mereka berdua mencariku ke arah yang salah.


Aku keluar dari persembunyianku merasa sudah aman. Tiba-tiba dari belakang seseorang menyumpal hidungku menggunakan sapu tangan. Aku tiba-tiba merasakan kantuk yang berat, kepala terasa pusing. Samar-samar aku melihat wajah Jaka memapahku. Hingga aku tidak sadarkan diri.


Saat aku terbangun, aku sudah ada di kamar mewah dengan udara AC yang menyentuh lembut kulitku. Perutku terasa lapar. Tiba-tiba pintu terbuka, seorang wanita memakai kaca mata berambut lurus sebahu dengan pakaian kantor lengkap blazer hitam melekat di tubuhnya terenyum menghampiriku. Itu mama.


"Sudah bangun, Mama bawakan omlette untukmu. Kamu pasti lapar."


"Dimana aku." Aku menatap tajam mama.


"Ini rumah Mama yang baru, sayang."


"Kenapa Mama memaksaku pulang?"


Mama memegang lembut rambutku. "Mama tidak ingin kamu panas-panasan, sayang. Lihatlah rambut kamu, terlihat kering dan lengket."


Aku pura-pura tersenyum kepada Mama, lalu melemparkan selimut yang membungkus tubuhku ke tubuh mama hingga tubuhnya tertutupi oleh selimutku. Aku segera berlari keluar. Tapi, Bondan dan Jaka berjaga di bawah. Ditambah lagi ada satpam yang berjaga di luar.


Mama berteriak memanggil Bondan dan Jaka untuk menangkapku. Aku harus berhadapan dengan dua pria bertubuh besar ini. Tentu saja ini tidak seimbang. Aku mulai terjepit, Mama menghampiriku.


"Kenapa kamu keras kepala, Brian! Mama hanya ingin bicara baik-baik denganmu." Mama meninggikan nada suaranya kepadaku.


Sejenak aku berpikir. "Baik, tapi ada syaratnya."


"Apa ... katakan saja syaratmu itu."


"Setelah pembicaraan ini, Brian mau kembali ke tempat Brian lagi."


"Kamu ingin bertemu dengan Sanu, kan."


Aku terkejut, dari mana mama tau tentang Sanu. Atau selama ini mama mengawasiku.


"Kamu tidak usah terkejut seperti itu, sayang."


"Jadi selama ini Mama mengawasi Brian?"


Mama tersenyum, "Mama pikir Sanu gadis yang tidak buruk buat kamu. Dia cantik, punya rambut yang indah dan juga baik untukmu."


"Berarti Mama sudah tau keputusanku, kan."


"Apa."


"Mama ingin kamu mengurus perusahaan dan Tidak usah kembali ke kantor MLM itu lagi. Atau ..."


"Atau apa."


"Kantor itu akan Mama tutup." Mama menyunggingkan senyum.


"ini namanya Bukan tawaran, tapi ancaman."


"Maaf ya, sayang. Mama harus melakukan ini demi kebaikan kamu."


Aku tersenyum sinis. "Kebaikan apa yang harus mengorbankan banyak orang. Mama itu selalu saja egois, memaksakan kehendak."


"Kamu tau Mama, kan. Apa yang terjadi kalau perusahaan MLM itu mama tutup."


Mamaku bernama Mira. Dia orang yang pintar dan selalu memaksakan kehendak orang lain demi memuluskan rencananya. Mama seorang Owner di salah satu perusahaan besar. Hampir setiap hari mama pulang pergi ke luar Negri hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Mama bisa saja membuat perusahaan MLM tempat Sanu bekerja bangkrut dengan kekuasaan yang dia miliki. Aku tidak punya cara lain selain mengikuti perintahnya.


"Baiklah, Brian akan ikuti apa mau Mama. Tapi, Jangan larang Brian bertemu dengan Sanu."


"Oke, Mama setuju. Besok kamu bisa ikut Mama kerja sebagai Manager cabang."


"Terserah Mama."


Mama tersenyum, "Jangan lupa omlette di makan ya, sayang. Nanti keburu dingin lho."


Aku benar-benar tidak menyukai cara mama membujukku. Selera makanku jadi hilang. Mama terlalu menyombongkan kekuasaannya.


Esok Hari aku diajak mama untuk berkeliling di suatu pabrik pembuatan ban di daerah Kerawang. Semua memberi salam hormat saat mama dan aku lewat. Aku di arahkan di sebuah ruangan sederhana untuk di tempati.


"Ini ruangan kamu bekerja, sayang. Kamu harus belajar dari bawah dulu sebelum memegang perusahaannya Mama. Mungkin tiga empat tahun lagi. Semangat ya Brian."


Aku mengangguk malas.


"Nanti akan ada pengawas dan sekretaris yang akan membantu pekerjaanmu."


"Ya ...," ucapku tidak bersemangat.


"Kalau begitu Mama pergi dulu ya, sayang. selamat bekerja."


Seorang pengawas memperkenalkanku kepada seluruh karyawan pabrik sebagai Manager cabang baru. Semua karyawan tampak tersenyum memberi penghormatan.


Aku mulai mengelilingi ruang pabrik yang luas itu. Tidak ada masalah, semua mesin tampak baru. Maklum pabrik ban ini baru diresmikan satu bulan yang lalu.


Aku di sini menempati rumah dinas yang tidak jauh dari tempatku bekerja, supaya tidak memakan waktu saat aku berangkat kerja. Hari-hari aku lalui bekerja sebagai Manager cabang. perasaan rindu ini mulai menyeruak. Bagaimana kabarnya Sanu? Gadis cantik berambut keemasan itu selalu membuatku berdegup kencang. Sudah satu minggu ini aku tidak bertemu dengan Sanu.


POV Author.


Hari Senin, awal Sanu memulai petualangan baru. Sanu berusaha mengesampingkan hatinya. Mudah-mudahan dia terbiasa dengan ketidak hadiran Bari. Sanu berharap suatu hari nanti Bari menemuinya dan menjelaskan tentang siapa dirinya dan perjalanan hidupnya.


"Hey, Sanu. Ayo kita berangkat. pak Nazar sudah menunggu kita."


"Iya, Rina." Sanu sudah siap dengan blazer hitam pemberian Bari.


Pak Nazar memberi pengarahan kepada semua tim. Intinya menyindir Sanu yang tidak semangat lagi saat ditinggal pujaan hati. Sanu semakin terpojok, tapi itu memang kenyataannya. Apalagi Muna terus saja mengganggu Sanu dengan ucapannya yang menusuk di hati.


Mental Sanu sebelum kelapangan mulai jatuh, dia tidak bisa membuka pola pikir castamer yang di terapinya, komunikasinya buruk. Sampai sore Sanu tetap tidak bisa membuktikan hukum rata-rata. Ini berimbas ke crew Sanu. Ketiga MD Sanu juga tidak bisa membuktikan sistem. Hanya mila, seorang trainer yang bisa membuktikan hukum rata-rata.


Bersambung ....