Sanubari

Sanubari
Baju Pilihan Sanu.



"Bisakah nanti malam kamu ikut denganku? Aku ingin membelikan baju untuk adikku, kira-kira tingginya sama dengan kamu," ucap Latif.


"Beli baju dimana?" Tanya Sanu.


"Di Alun-alun kota, Aku orangnya payah dalam memilih baju, aku takut adikku tidak suka baju pilihanku. Aku butuh seorang teman."


Sanu mengangguk pelan. "Jam berapa, Dok."


"Habis Isyak saja."


Sanu tersenyum simpul.


"Baiklah, nanti aku kesini lagi? Kalau begitu aku permisi dulu, Sanu. Salam dari bu Nur dan Clara." Dokter Latif beranjak dari rumah Sanu.


Nurjanah yang diam-diam mendengarkan pembicaraan mereka pun tidak tahan menggoda Sanu.


"Baru tadi pagi kenalan, sudah di ajak jalan ...."


"Ibu ...!" Wajah Sanu bersemu merah.


Sanu ingin diajak jalan Latif murni karena ingin membantu memilihkan baju untuk adiknya, bukan karena yang lain. Lagi pula, dokter Latif sudah banyak membantu ibunya melawan penyakit paru-paru basah. Jadi sangat wajar jika Sanu menyanggupi permintaan dokter Latif.


Malam tiba, Suara gemuruh gunung merapi terdengar memekakkan telinga. Sanu sudah lama tidak mendengar suara ini. Terdengar menakutkan bagi siapa saja yang baru mendengarnya. Suaranya mirip seperti Buldozer yang sedang menggali tanah.


Dokter Latif datang membawa motor dengan kemeja berwarna biru yang ujung di masukan ke dalam celana semi jeans itu. Terlihat sangat rapi, mungkin karena kebiasaan seorang dokter yang rapi dan bersih. Sedangkan Sanu hanya memakai kaos biasa dengan syal berwarna hijau dan celana skinny berwarna biru yang ujungnya dilipat hingga memperlihatkan mata kaki.


"Hay, Sanu? Sudah siap."


Sanu mengangguk mantap. Dokter Latif mulai menghidupkan motor maticnya setelah berpamitan dengan Nurjanah.Sanu duduk di belakang dengan tangan bertumpu di atas pahanya. Butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk sampai ke alun-alun kota. Karena tempat tinggal Sanu di dekat lereng gunung merapi.


"Nanti kita makan di sini sekalian ya, Sanu," ucap Latif saat sampai di alun-alun.


"Tidak usah, Dok. Aku sudah makan tadi," ucap Sanu nyengir.


"Kalau begitu kamu temenin aku makan saja."


Sanu menghela napas dalam-dalam. Seberapapun Sanu menolak ajakan seorang pria, ada saja alasan bagi pria untuk membuat sang wanita tidak bisa menolak permintaannya.


Mereka masuk di sebuah toko baju terlebih dahulu.


"Dokter Latif mau beli baju yang bagaimana?" tanya Sanu.


"Dres yang panjangnya selutut."


Sanu mencoba memilihkan dres yang sekiranya cocok untuk adiknya Latif.


"Warna kesukaan adiknya kak Latif apa?" tanya Sanu.


"Kamu suka warna apa?" Latif bertanya balik.


"Hijau," jawab Sanu spontan.


"Ya sudah warna hijau saja."


"Eh ... kenapa seperti itu?" Sanu tidak mengerti dengan maksud Latif.


"Mungkin saja adikku juga suka dengan warna yang kamu pilih."


"Memang dokter Latif tidak bertanya kepada adiknya terlebih dahulu kalau mau beli baju untuknya.


Latif menggeleng. "Aku ingin memberi kejutan untuk adikku."


Sanu pun memilihkan dres berwarna hijau muda yang panjangnya selutut orang dewasa.


"Bagaimana kalau ini?" tanya Sanu saat memilihkan dres hijau muda kepada Latif.


Latif pun membayar dres pilihan Sanu ke kasir.


"Setelah ini kita makan, aku tau kamu belum makan," ucap Latif.


"Dari mana dokter Latif, bisa tau." Sanu mengangkat satu alisnya.


"wajahmu terlihat pucat. Aku ini seorang dokter, jadi aku tau mana orang yang belum makan atau tidak," alasan Latif.


"Bisa begitu ya." Sanu yang tidak mengerti ilmu kedokteran pun percaya.


Dokter Latif dan Sanu mampir ke warung tenda setelah membayar baju ke kasir. mereka memesan ayam bakar, nasi berserta lalapannya. Duduk lesehan sambil menikmati keramaian alun-alun kota.


"Kamu tinggal di Ibu Kota bagian mana?" tanya Latif.


"Aku tinggal di Bagian selatan, Memangnya Kak Latif pernah ke Ibu Kota?" tanya balik Sanu.


"Aku dulu kuliah di Universitas Indonesia," jawab Latif.


"Wow ...! Itu 'kan kampus favorit semua pelajar."


"Kamu tidak ingin kuliah, Sanu?"


Sanu menahan tawanya. "Boro-boro kuliah, dulu aku bisa sekolah SMA saja karena mendapat beasiswa."


Latif tersenyum simpul. "Tapi sekarang kamu mampu, kan?"


"Mungkin ... tapi aku ingin fokus kerja, masih banyak orang yang harus aku bantu."


"Maksudnya." Latif mengangkat satu alisnya.


"Kak Latif tidak perlu tau, ini masalah pekerjaan," ucap Sanu terkekeh.


Latif menaikan bahunya. Pesanan pun sudah siap dihidangkan. Latif dan Sanu untuk sementara menghentkan obrolannya, di gantikan dengan acara makan. Mereka berdua begitu kidmat saat makan, terlihat sekali kalau mereka lapar.


Selesai makan, Latif mengajak Sanu berjalan mengelilingi alun-alun Kota.


"Kenapa Kak Latif bisa sampai kesini?" tanya Sanu.


"Aku di tugaskan oleh IDI. Setiap dokter muda harus bertugas di pelosok supaya mendapat pengalaman.


Sanu mengangguk-anggukan kepala. "Pasti terasa berat ya?"


"Awalnya aku berpikir seperti itu, tapi setelah dijalani, ternyata tidak seperti yang aku pikirkan. Malah semakin hari semakin menyenangkan."


Di tengah pembicaraan, sudut mata Sanu melihat pedagang coklat keliling. Sanu tanpa pikir panjang menghampiri pedagang coklat itu. Sanu membeli beberapa coklat panjang dengan bungkus yang rapi.


"Kamu suka coklat, Sanu?" tanya Latif.


"Suka, tapi coklat ini untuk Clara, dia pasti meminta hadiah jika aku sudah sampai rumah."


"Adikmu itu sangat pintar dan lucu, sama seperti Kakaknya." Latif keceplosan bicara.


Sanu terperanjat. "Maksudmu?"


Latif menjadi salah tingkah, dia hanya bisa tertawa nyengir untuk menutupi rasa gugupnya sambil menggaruk belakang kepalanya. Untungnya Sanu tidak menganggap serius ucapan dari Latif.


Tiba-tiba Kilatan di langit terlihat terang, dengan nada datar, Sanu mengajak Latif pulang. Mereka berdua segera menuju tempat parkir motor. Latif segera menghidupkan mesin motornya, Sanu duduk di belakang. Petir mulai memekakan telinga. Latif menambah kecepatan motornya, tapi apa daya, hujan telah turun membasahi bumi, memberi kehidupan bagi setiap makhluknya. Sanu dan Latif terpaksa berteduh di depan ruko yang tidak berpenghuni. Latif diam-diam melirik wajah cantik Sanu, ada getaran yang tidak biasa berdenyut dalam dada. Hari itu mereka berdua tidak memakai jaket dan juga tidak membawa mantel hujan. Dalam hati, ingin rasanya Latif memeluk Sanu yang kedinginan. Tapi dia mengurungkan niatnya, dia takut kalau dikira tidak sopan.


Di tengah rasa canggung Latif, hujan pun berhenti. Sanu menepuk pundak Latif yang masih terpenjara terhadap pikirannya. Latif terperanjat cukup hebat, Sanu menaikan bahunya tidak mengerti. Padahal Sanu hanya menepuk bahu Latif dengan pelan.


Latif meminta maaf kepada Sanu, lalu menghidukan mesin motornya lagi. Udara menjadi Sangat dingin saat hujan berhenti. Latif terlihat kedinginan, sedangkan Sanu tidak begitu. Syal pemberian Bari cukup untuk melindunginya dari hawa dingin. Sejenak Latif menengok kaca spion melihat Sanu tersenyum sambil menciumi syal yang di pakai.


Bersambung ...