Sanubari

Sanubari
Bertemu Teman



Hari senin di mulai, hari yang di benci oleh sebagian besar pekerja. Tapi tidak dengan Sanu dan anak pitcing lainnya. Bagi Sanu semua hari sama saja. Setiap hari harus ke lapangan mencari hukum rata-rata.


Kue lapis pemberian tante Mira habis seketika saat Sanu memberikanya kepada Rina dan crew. Bahkan Sanu belum sempat mencicipinya.


Seperti biasanya, Sanu pitcing bersama MD baru bernama Eko dan Agus di daerah Kelapa Gading. Dua kali naik angkutan umum, turun di sebuah mall besar yang terkenal di Ibu Kota.


"Kapan ya bisa kesini," ucap Eko.


"Sekarang juga bisa," jawab Agus.


"Kalau kalian hari ini bisa membuktikan hukum rata-rata di jam siang. Nanti Kak Sanu akan ajak kalian ke mall itu.


"Benar ya, Kak?" sahut Agus dan Eko.


Sanu mengangguk mantap. "Syaratnya kalian berdua harus bisa membuktikan sistem di jam siang. Kalau hanya satu perjanjian batal."


Eko dan Agus pun terlihat semangat. Mereka berdua Segera mempersiapkan buku castamer list pitcing long street.


Benar saja, sebelum waktu dzuhur mereka bedua bisa membuktikan hukum rata-rata. Sesuai janji, Sanu mengajak mereka berdua masuk ke mall melihat isi di dalamnya. Kedua MD Sanu memang berasal dari desa yang jauh dari perkotaan. Wajar saja mereka begitu ingin masuk ke mall yang hanya bisa dilihat dari tv saat mereka masih ada di kampung.


"Kayak pasar ya ...." ucap Eko


"Ngawur! Ya bedalah," ucap Sanu.


Sanu lalu mengajak ke dua MD naik ke lantai dua menaiki eskalator. Kedua MD itu pun terkaget.


"tangganya kok bisa jalan sendiri." ucap Eko.


"Iya." Agus menyahut.


"Ini namanya eskalator, tangga otomatis."


"Kita turun lagi yuk, Gus?" ajak Eko antusias.


Eko dengan senang hati mengangguk. Tapi Sanu mencegahnya.


"Eko, Agus tidak boleh." Sanu menegur MD nya sambil bertolak pinggang.


Agus dan Eko pun tidak berani membantah leadernya.


"Kak Sanu, perutku lapar," ucap Agus. pria berkulit hitam itu memang paling banyak porsi makannya.


Sanu mengajak mereka berdua makan di outlet KFC yang berada di lantai dua.


Kedua MD itu makan dengan lahapnya. Bahkan mereka berdua meminta satu porsi lagi. Sanu hanya bisa menggelengkan kepala. Alat yang ada di tas punggung Sanu masih utuh. Untung saja income pasif Sanu sudah cair. Jadi Sanu bisa ke mesin atm dulu untuk mengambil uang.


"Kenyang ...," ucap Agus memegangi perutnya.


"Kak Sanu tidak makan?" tanya Eko.


Sanu menyunggingkan senyum. "Kak Sanu makan nanti saja."


Sanu melihat cara makan Eko dan Agus saja sudah merasa kenyang.


Sanu melihat jam tangan yang ada di tangan kiri. "Sudah Ashar, ayo kita pulang."


Tiba-tiba langkah Sanu terhenti di sebuah restoran jepang yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Restoran Jepang itu dipenuhi dinding kaca raksasa yang memperlihatkan setiap pengunjung yang datang. Sanu melihat Glenca sedang bermesraan dengan seorang pria. Tapi bukan Atmaja. Umurnya jauh lebih Muda dari papanya Bari, mungkin seumuran dengan Bari. Pria itu merangkul mesra bahu mulus Glenca. Sedangkan Glenca bersandar di bahu pria itu dengan mesranya.


Sanu jadi teringat ucapan Bari tentang siapa sebenarnya Glenca.


"Kak Sanu! Ayo pulang!" panggil Agus.


Sanu tersadar dari lamunannya bergegas menyusul kedua MD nya.


"Kak Sanu ngapain berdiri di rumah makan itu, mau makan ya?" tanya Agus.


Sanu menonyor pelan kepala Agus. "Makan saja yang ada dipikiranmu."


"Kalau tidak makan mati, Kak Sanu."


"Dasar perut karet," cibir Eko.


...***...


Di tempat lain, Pak Atmaja sedang membuka kamar Sanu yang dulu. Terlihat hanya tumpukan baju di lemari dan sebuah dompet yang ada di dalam laci. Atmaja membuka dompet itu dan menemukan foto Sanu. Atmaja segera keluar dari kamar dan menelpone anak buahnya.


"Kampleng, cepat ke rumah. Ada tugas untukmu."


Atmaja berjalan ke keruang tamu duduk di sofa panjang menunggu anak buahnya itu.


Tak berselang lama orang yang disebut Atmaja dari telpone itu datang. Seorang pria bertubuh kekar berusia empat puluh tahunan dengan kumis tebal duduk di depan Atmaja.


"Kamu cari anak ini." Atmaja memperlihatkan foto Sanu yang di dapat dari kamar Sanu dulu.


"Seorang gadis? tanya Kampleng.


"Kamu selidiki dimana dia tinggal serta pekerjaannya sekarang," perintah Atmaja.


"Untuk apa saya harus menyelidiki gadis kecil ini."


"Kamu tidak usah banyak tanya, lakukan saja tugasmu."


"Baik, Tuan." Kampleng pun pamit undur diri.


Atmaja hanya ingin tau, bagaimana Sanu bisa mengenal Bari sedekat itu. Sanu pasti sudah menceritakan keburukanya kepada Bari. Ini akan menjadi bomerang bagi Atmaja. Bari Pasti akan semakin membencinya.


...***...


Di rumah Nyonya Mira, Bari secara mendadak harus kembali ke Surabaya besok pagi. Hari ini Bari harus memesan tiket untuk keberangkatan besok. Bari bisa saja menyuruh Bondan atau Jaka, tapi Bari tidak mau jadi majikan yang hanya bisa menyuruh-nyuruh anak buahnya. Selama Bari masih bisa melakukannya dia akan berjalan sendiri.


"Mau kemana kamu, Brian?" tanya Mira.


"Brian mau beli tiket, Ma. Besok pagi Brian harus kembali ke Surabaya."


"Mendadak sekali. Lebih baik kamu berangkat minggu depan saja, biar nanti Mama yang bicara dengan atasanmu."


"Ya gak bisa gitu dong, Ma ... Brian tidak mau hanya karena Brian anak dari Mira Suganda bisa seenaknya seperti itu. Brian harus tanggung jawab dengan pekerjaan Brian."


Mira tersenyum, merasa bangga dengan anaknya.


"Bari berangkat dulu ya, Ma." Bari mencium punggung tangan Mira. Berangkat menggunakan motor sportnya.


Setelah membeli tiket di tempat terdekat Bari mengirim pesan kepada Sanu.


'Malam Sanu, besok aku berangkat ke Surabaya, tetap semangat ya, hubungi aku jika kamu jadi manager.'


'Iya Kak, Jangan lupa bawa oleh-oleh sekalian ya.' Sambil mengirim emoji tertawa.'


Seseorang menempuk pundaknya dari belakang. Bari sedikit terperanjat lalu menoleh. Seorang pria memakai jas rapi dengan dasi yang panjang.


"Brian! Kemana saja kamu?" tanya pria itu riang.


"Arya ... keren sekali kamu sekarang." Bari melihat pakaian temannya yang tampak lebih modis. Mereka berdua menautkan tangan tanda persahabatan.


"Kamu kemana saja, tidak pernah ada kabar?" tanya Arya.


"Aku lagi sibuk kerja, di Surabaya."


"Ngapain kerja, orang tua mu kan punya perusahaan. Mending kayak aku nerusin usaha bokap."


"Aku lebih suka merintis dari bawah."


"Aku suka gayamu, ngomong-ngomong kapan kita bisa ketemu lagi. Aku pengen ngobrol sama kamu."


"Maaf, Arya. Besok aku mau ke Surabaya. Ini aku pesan tiket." Bari memperlihatkan tiket class ekonomi kepada Arya."


Arya terlekeh meremehkan. "Seorang Brian Atmaja beli tiket pesawat class ekonomi. Apa tidak salah?"


Bari tidak menanggapi omongan Arya. Orang seperti Arya tidak tau makna tentang perjuangan.


"Aku pulang dulu ya. Buru-buru soalnya."