
Dara membuatkan sirup dan membawakan beberapa biskuit dihidangkan di atas meja. Tangan Eko dan Agus berebut hendak mencicipi biskuit itu, tapi Sanu dengan sigap memukul ringan tangan mereka berdua.
"Yang punya rumah belum mempersilahkan makan, jangan dimakan dulu."
Dara sekali lagi menahan senyumnya. "Silahkan dimakan."
Eko dan Agus segera mengambil biskuit itu lalu memakannya dengan lahap. Sanu yang melihatnya hanya menggelengkan kepala.
Dara lalu duduk disamping kursi Sanu.
"Agus, Eko! Jangan berisik!" tegur Sanu.
Agus dan Eko sejenak terdiam, menghentikan aktifitas makannya.
Sanu menatap Dara. "Kamu kapan kembali lagi ke kantor, Dara. Semua anak kantor bertanya tentangmu."
Dara menggeleng, "Tidak tau Kak Sanu, Dara tidak dibolehkan bulek kerja sebagai sales. Bulek ingin Dara kerja di kantor tempat bulek bekerja."
"Sayang lho, Dara. Crew kamu sudah banyak, tinggal bangun beberapa orang kamu akan jadi asisten manager."
"Sebenarnya aku juga masih ingin ke lapangan, cuma ..." Dara tiba-tiba menangis, tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
Sanu mengelus lembut punggung Dara. Sanu mengerti apa yang tengah dirasakan Dara. Sebelumnya Sanu jga pernah merasakan hal yang sama seperti Dara.
Sanu mengangkat dagu Dara lalu menatapnya lekat.
"Kak Sanu akan bantu kamu, Dara percayakan dengan Kak Sanu. Dara harus yakin, Buktikan sama keluarga kalau kamu bisa."
Dara terlihat masih bimbang, Dia takut kalau buleknya memberitahu kepada ibunya.
Tiba-tiba buleknya Dara menemui Sanu menatap tajam ke arah Sanu. Bulek Dara bernama Yanti.
"Jadi seperti itu, cara kamu mempengaruhi keponakan saya supaya mau bergabung dengan kalian."
Mereka semua terdiam.
"Saya tegaskan sekali lagi, Dara tidak akan kembali bersama kalian. Apa yang bisa diharapkan dari sales seperti kalian ini," cibir bulek Yanti.
"Saya akan bertanggung jawab dengan Dara, saya pastikan Dara akan berhasil bulek," ucap Sanu tegas.
Suasana hening sesaat. Dara tersentuh dengan ucapan Sanu, matanya berbinar melihat Sanu. Dia tidak menyangka kalau Sanu bisa sepeduli ini dengannya.
Buleknya menatap Sanu tajam. "Bocah kecil sepertimu, berani menanggung masa depan keponakan saya. Hidup tidak semudah yang kamu bayangkan. Jangan berlagak seperti pahlawan."
"Saya tau itu Bulek, tapi saya janji akan membuat Dara berhasil."
"Omong kosong macam apa itu, kamu sendiri saja susah, mau membuat hidup orang lain berhasil. Apa saya tidak salah dengar," cibir bulek.
"Jangan salah bulek, Kak Sanu ini sudah menjadi asisten manager," sahut Eko diiyakan Agus.
"Oya ...? Lihatlah, asisten manager saja penampilannya lusuh seperti ini, apa lagi kamu, Dara, yang belum menjadi apa-apa."
Dara hanya terdiam tanpa melihat bulek nya.
Sanu menatap Dara, memegang tangannya. "Aku tunggu kamu di kantor Dara. Semua orang merindukanmu."
Dara hanya tersenyum kepada Sanu. Percuma jika harus membuka pola pikir bulek Yanti. Buleknya Dara sangat keras kepada pendiriannya.
"Kita pamit dulu, Bulek. Terima kasih atas waktunya." Sanu hendak mencium tangan bulek Yanti tapi, dengan cepat bulek Yanti menarik tangannya.
Sanu hanya tersenyum mendapat penolakan dari buleknya Dara. Sekarang keputusan ada di tangan Dara. Jika Dara punya motifasi yang kuat dia akan kembali, dan Sanu yakin Dara akan kembali.
"Buleknya Dara sombong ya," ucap Eko saat menunggu angkot datang.
"Betul, masak tadi Kak Sanu ingin cium tangan di tolak," balas Agus.
"Sudah, jangan ngomongin orang, tidak baik," ucap Sanu.
Angkot warna coklat dari arah Pasar minggu datang, Sanu duduk di depan sedangkan Eko dan Agus duduk paling belakang.
Malam tiba, Dara membuka jendela kamarnya, melihat langit yang berbintang, melamun duduk di jendela. Nurani ingin sekali kembali proses bersama Sanu. Tapi, naluri terus berperang melawan apa yang di kehendaki nurani.
Bulek Yanti memanggil dari pintu kamar yang tidak dikunci, hendak mengajaknya makan malam. Dara berjalan membuka pintu, tersenyum kepada buleknya, berjalan menuju meja makan, menikmati makan malam buatan buleknya. Suara piring dan sendok beradu dalam satu waktu.
"Kamu sudah buat lamaran buat besok?" tanya bulek.
Dara terdiam sejenak menaruh garpu dan sendok di piring. "Belum, Bulek. Dara masih ingin istirahat dulu."
"Bulek sudah bilang dengan HRD kantor, kamu hanya kirim lamaran saja, setelah itu tinggal bekerja bersama Bulek."
"Iya, Bulek? Tapi, Dara masih belum mau kerja dulu," alasan Dara.
Bulek menghentikan aktifitas makannya.
"Bulek tau, Dara. Kamu ingin kembali bersama mereka, kan?"
Dara menatap buleknya, suasana lengang.
"Sudah berapa kali Bulek bilang, disana tidak ada masa depannya. Lebih baik kamu kerja yang pasti-pasti saja, tiap bulan dapat gaji."
"Ini bukan hanya sekedar gaji, Bulek. Dara nyaman ada disana, teman-teman Dara begitu baik, saling mendukung satu sama lain."
"Dengar ya Dara, Sebelum kamu terjun ke dunia sales, Bulek dulu juga pernah merasakan apa yang kamu alami. Bulek merasa bahagia disana, walaupun kita tidak di gaji. Tapi, setelah Tim bulek mulai besar orang yang dulu mendukung Bulek malah menusuk Bulek dari belakang. Bulek tidak mau kamu merasakan hal yang sama."
"Dara yakin kak Sanu tidak begitu, Bulek. Kak Sanu berbeda, dia begitu memperhatikan semua crew nya. Dara yakin dengan kak Sanu."
"Dara!" Bulek menggebrak meja hingga dara terperanjat. Dara menundukan kepalanya dalam-dalam.
"Kamu sudah berani melawan Orang Tua. Bulek hanya ingin kamu hidup dengan layak, Dara."
Dara masih terdiam menundukan kepala sambil terisak. Bulek pergi membiarkan Dara tetap berada di tempat. Dara sudah tidak tau lagi, harus bagaimana membujuk buleknya agar mengizinkannya ikut dengan Sanu.
Esok harinya, Dara masih tertidur pulas, makanan sudah dihidangkan di meja. Pagi-pagi sekali Yanti sudah berangkat kerja. Yanti hendak menemui Sanu. Bulek Yanti melihat seorang pria memakai kemeja coklat yang seumuran dengannya berada di depan pintu. Pria itu adalah pak Nazar.
"Selamat pagi."
"Pagi, ada yang bisa saya bantu, Bu."
"Saya hanya ingin berbicara dengan anak yang bernama Sanu."
"Kalau boleh tau Ibu ini siapa?" tanya pak Nazar.
"Saya Buleknya Dara."
"Silahkan masuk, Bu." Pak Nazar mempersilahkan Yanti masuk ke ruang observasi.
"Sebentar saya panggilkan Sanu ke atas," ucap pak Nazar.
Sanu datang duduk di depan Yanti. "Pagi Bulek."
Yanti hanya mengangguk dengan wajah serius.
"Saya tidak ada waktu banyak, langsung saja ke pokok pembicaraan."
Sanu mengangguk serius.
"Keponakan saya sepertinya masih ingin kerja di sini. Bagaimana kalau kita membuat persetujuan."
"Persetujuan apa ya, Bulek?"
"Saya izinkan keponakan saya bekerja lagi di sini. Tapi, hanya selama satu tahun. Jika selama satu tahun tidak ada perubahan, saya akan ambil Dara. Dan kamu tidak boleh membujuknya kembali kesini."
Sanu sejenak berpikir. "Baik, saya terima tantangan Bulek.
Bersambung ...