
"Nanti kalau ada waktu yang tepat, kita sekeluarga bisa jalan-jalan ke luar Negri."
Sanu mengangguk, tersenyum kepada mira. Suasana kini lebih cair. Mira mengajak Sanu duduk di ruang tamu, duduk berdampingan. Sanu bisa mengobrol panjang lebar dengan Mira. Bahkan sesekali mira tertawa mendengarkan cerita dari Sanu. Hal yang jarang dilihat Bari.
"Kamu menginap saja di sini, Sanu? bujuk Mira.
"Pengennya sih, Mah. Tapi Sanu harus bekerja, Kasihan anak-anak kalau tidak diberi pengarahan."
Mira tersenyum menatap lekat Sanu, mengusap rambut Sanu yang tergerai indah. Kini Mira mulai nyaman dengan Sanu. Ini saatnya untuk membujuk Mira membantu perusahaan Atmaja. Sanu mulai merasa gugup, menggigit bibir bawahnya. Lidahnya mulai terasa keluh. Sanu takut jika Mira tiba-tiba marah saat mendengar nama Atmaja. Tapi Sanu harus mengatakannya.
"Sanu boleh meminta sesuatu dari Mama? Maaf kalau Sanu lancang."
"Katakan saja, mama akan menurutinya."
Sanu menghela napas dalam-dalam memainkan ujung bajunya. "Sebenarnya Sanu kesini ..." Sanu terhenti sejenak
Mira memperhatikan ucapan Sanu.
"Sebenarnya Sanu kesini untuk meminta Mama membantu perusahaan pak Atmaja."
Mira teebelalak, matanya tajam menatap Sanu dengan wajah yang merah. "Kamu disuruh Brian, kan."
Sanu bergidik ngeri saat Mira menatapnya tajam seperti ingin menerkamnya. Sanu dengan cepat mengangguk, dia membutuhkan bantuan Bari.
"Brian ...!" Teriak Mira.
Bari berlari menemui mamanya.
"Kamu jadi laki-laki harus gentle, kenapa kamu menyerahkan urusanmu kepada gadis yang tidak tau apa-apa," ucap Mira.
"Maksud Mama?"
"Kamu yang menyuruh Sanu membujuk mama untuk membantu Atmaja, Kan."
Bari menunduk lesu, duduk disamping Sanu.
Mira menatap Sanu tajam. "Apa kamu lupa, apa yang dilakukan Atmaja terhadapmu, Sanu."
Sanu hanya menundukan kepalanya dalam-dalam.
Jawab!" Mira berteriak lantang.
Sanu terperanjat, berkata dengan lirih. "Sa-Sanu sudah memaafkan perbuatan pak Atmaja, Ma. Sanu juga sering diajak Kak Bari ke rumah pak Atmaja."
Mira melipat kedua tangannya ke dada. "Jadi kalian percaya dengan Atmaja."
"Papa itu sekarang kena stroke, Ma. Sudah tidak bisa apa-apa lagi, hanya bisa dibantu kursi roda," ucap Bari menegaskan.
"Baiklah, karena kalian sudah memaafkan Atmaja, mama akan membantu perusahaan nya."
Bari membulatkan matanya. "Benarkah."
Mira mengangguk, tersenyum kepada Bari.
Begitu senangnya Bari dan Sanu hingga mereka berpelukan. Mira yang melihatnya hanya tertawa senang. Bari dengan sadar mencium kening Sanu di depan mamanya. mengucapkan terima kasih kepada Sanu dan mamanya.
Sebelum kedatangan Sanu, Mira sebenarnya juga ingin membantu Atmaja. Toh, perusahaan Atmaja kelak juga akan menjadi miliknya Bari. Mira sebenarnya hanya berakting saja di depan Sanu dan Bari.
"Ternyata mama ini jago akting ya," ucap Bari.
"Cocok jadi pemain film." Sanu menimpali.
Bari merasa lega sekarang, dia langsung menghubungi Ali yang sedang bermain catur dengan Bondan. Ali langsung menghampiri Bari di ruang tamu, melihat Mira dan Bari sedang bercanda riang.
"Kelihatannya sukses nie?" Ali dan Bari melakukan tos, lalu berpelukan layaknya sahabat.
"Kita langsung saja melakukan pembicaraan pak pengacara," ucap Mira.
Ali menerangkan rincian berapa besar utang di perusahaan Atmaja dan berapa pendapatan yang akan didapat jika Mira menanamkan modal di perusahaan itu. Tentu saja Mira setuju karena sangat menguntungkan untuknya.
"Terima kasih." Ali tersenyum bersalaman dengan Mira.
Mereka pun mengobrol sampai sore. Walaupun Mira masih tidak bisa melupakan perbuatan Atmaja, tapi demi anak-anak dia rela menurunkan egonya.
Bari hendak mengantarkan Sanu pulang, sebab hari hampir malam. Sanu mengikuti langkah Bari sampai ke garasi rumah. Bari meghidupkan mesin motornya. Sanu duduk di belakang milingkarkan tangannya di perut Bari sambil bersandar di punggung Bari.
"Kita makan dulu, yuk! Sudah lama tidak makan Bersama.
Sanu mengangguk setuju.
Bari mengajak Sanu ke restoran seefod yang terkenal di Ibu Kota.
Pelayan restoran menghampiri mereka memberikan menu makanan. Di tengah keramaian, sudut mata Sanu melihat sesosok pria yang pernah dilihatnya.
"Sanu, Kamu kenapa?" tanya Bari.
"Ada selingkuhannya Glenca." jawab Sanu.
Bari menoleh ke belakang. Itu Arya teman kuliahnya Bari. Arya terlihat sedang menikmati makan malam bersama beberapa temannya.
"Sudah biarkan saja, kita pura-pura tidak melihatnya," ucap Bari pelan.
Sanu mengangguk mengikuti perintah Bari.
Tak berselang lama, Glenca datang dengan dres merah pendek di atas lutut membawa tas kecil yang bergelantungan di tangan kirinya. Glenca mencium pipi kanan dan kirinya Arya. Bari menjadi penasaran, dia mencoba menguping pembicaraan mereka. Samar-samar Bari mendengarnya. Pasti mereka sedang merencanakan sesuatu yang buruk.
Setelah selesai makan, Glenca dan dan Arya keluar menaiki mobil. Bari mengajak Sanu untuk mengikuti Glenca dari kejauhan.
Glenca dan Arya berhenti di sebuah apartemen. Bari dan Sanu sudah tidak bisa lagi masuk. harus memiliki cardlock dulu untuk membuka pintu apartemen. Tapi yang jelas Bari sudah tau tempat pesembunyiannya Arya dan Glenca.
Glenca menemui Arya hanya untuk meminta uang. Satu bulan ini uang bulanan yang diberikan Atmaja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Arya hanya bisa memberi uang yang dia punya, jumlahnya tidak seberapa.
"Hanya segini, mana cukup!" Glenca membuang lembaran uang merah di dada Arya.
"Aku hanya punya segitu," ucap Arya jujur.
"Selama ini aku selalu memberikan uang yang banyak untukmu, kamu kemanakan uang itu?"
"Aku buat usaha, tapi gagal," ucap Arya lirih.
"Dasar laki-laki Tidak berguna kamu, Arya!" Glenca kecewa mrnunjuk-nunjuk wajah Arya.
Arya memegang kedua lengan Glenca yang sedang marah tak karuan. "Tenang! Kita masih punya kesempatan untuk menghasilkan uang lagi lewat Atmaja."
"Seenaknya saja kamu memerintahku. Kamu tau Brian sudah Tau rencana kita. Jadi percuma saja." Glenca meronta, melepas cakalan tangan Arya.
"Masih bisa, Sayang. Kita singkirkan Brian dan Atmaja."
"Itu sudah aku rencanakan dengan Kampleng. Aku hanya menunggu waktu yang tepat saja."
"Kamu benar-benar pintar dan licik, Sayang." Arya mendekap tubuh Glenca dari belakang.
Glenca berontak, menyikut perut Arya hingga mengerang kesakitan.
"Kamu jangan sekali-kali menyentuhku," ucap Glenca tersenyum sinis.
Arya masih memegang perutnya yang terasa sakit.
"Lebih baik kamu cari cara, bagaimana menyingkirkan Atmaja dan Brian secara bersamaan."
Dengan menahan sakit Arya mengangguk.
Glenca memungut uang seratus ribuan yang tergeletak di lantai, lalu memasukannya kedalam tas. Dengan wajah ketus Glenca pergi dari apartementnya Arya.
Arya meresa kesal dengan Glenca. Seharusnya malam ini dia bisa bersenang-senang menggerayangi tubuh mulus Glenca. Arya pun melampiskan hasratnya yang sudah di pucuk ke kamar mandi. Entah apa yang hendak dilakukannya.
Bersambung ...