Sanubari

Sanubari
Pulang Kampung.



Enam bulan berlalu begitu cepat, semenjak Sanu pertama kali proses di lapangan. Perkemkbangan Sanu juga begitu cepat, dia sudah memiliki dua trainer dan tiga MD. Sanu membanyangkan, Satu trainer lagi dia akan pengejaran sebagai Asisten Manager.


Setiap hari Sanu pitcing bersama crew nya. Dia sudah jarang pitcing dengan Rina apalagi Bari. Sanu sibuk memperhatikan crew nya.


Rina juga sudah punya satu trainer dan satu MD. Mungkin Rina juga tidak mau kalah dengan Sanu. Bari masih seperti dulu, seorang trainer tanpa crew.


Bari dan Sanu sudah jarang sekali berinteraksi. Setiap Sanu berpapasan dengan Bari, Bari hanya memberi senyum dan ucapan semangat untuk Sanu. Sehabis itu, Bari berlalu begitu saja. Sepertinya Bari memang sedikit menjauh dari Sanu. Entah karena apa Sanu tidak tahu. Namun yang jelas, Sanu tidak menyukai Bari yang bertingkah cuek kepadanya. Sesekali Sanu juga ingin diperhatikan Bari, seperti dulu.


Jam siang saat Sanu baru saja selesai melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim. Suara handpone berdering, Nama Aida tertera jelas di layar handphone nya. Sanu menggeser tombol warna hijau.


"Halo Aida?"


"Sanu, kamu harus pulang?"


"Kenapa, Aida?"


"Ibu kamu sakit, kondisinya semakin parah, Sanu. Kalau tidak segera dibawa ke rumah sakit ..." Aida tidak melanjutkan ucapannya.


Sanu mengerti apa yang dimaksud dengan Aida. Ini masalah biaya pengobatan. Tapi Sanu tidak punya uang untuk pengobatan ibunya. Uangnya selalu habis untuk bangun orang dan memberi makan crew nya.


"Baik Aida aku akan segera pulang."


Dengan berat hati Sanu mau tidak mau meninggalkan crew nya. Sanu berpamitan dengan Mila, seorang trainer didikannya Sanu untuk melanjutkan pitcing. Mila mengerti keadaan Sanu.


Setiba di kantor, Sanu minta izin kepada pak Nazar untuk pulang kampung sementara waktu di karenakan ibunya sakit.


Pak Nazar mencoba mencegah Sanu pulang kampung. Alasan pak Nazar adalah crew Sanu sudah banyak. Pak Nazar takut kalau crew nya merasa kecewa dengan Sanu lalu keluar dari kantor. Sanu tetap kekeh pada pendiriannya. Bagi Sanu ibunya jauh lebih penting dari crew nya sendiri. crew hilang bisa di cari lagi. Tapi, kalau ibunya meninggal, Sani pasti akan menyesal.


Pak Nazar pun akhirnya mengizinkannya pulang. Sanu segera meminta take kepada receptionist kantor untuk sekedar membeli tiket pulang pergi. Sanu segera mengemas barang yang bisa dibawa lalu membeli tiket lewat aplikasi online.


Kereta keberangkatan Sanu tiba pukul tujuh malam. Masih ada banyak waktu. Sanu menelpone Aida bahwa dia berangkat pukul tujuh malam. Aida segera memberitahu ibunya.


Senja telah tiba, Sanu bersiap berangkat, mengunci pintu kost menuju stasiun Pasar senen. Tiba-tiba, Sanu melihat Bari ada di bawah tangga.


"Kak Bari?"


Bari tersenyum melihat Sanu. "Hay Sanu, aku dengar dari pak Nazar kamu akan pulang."


Sanu mengangguk, "Kak Bari tidak ikut jam malam? Ini kan mau mulai?"


Bari mrnggeleng, "Aku kesini untuk mengantarmu ke stasiun, Sanu."


"Kok Bisa." Sanu terkaget.


"Tenang saja, aku sudah izin dengan pak Nazar."


Sanu tersenyum mengulum bibirnya. Mana mungkin pak Nazar mengizinkan Bari bertemu dengannya. Secara, pak Nazar saja berusaha menjauhkan Bari dengan Sanu.


Bari sudah memesan mobil online untuk Sanu menuju stasiun Pasar senen. Sanu dan Bari menaiki mobil duduk di belakang supir.


"Terima kasih, Kak."


Sanu terlihat senang, ternyata Bari masih mempedulikannya. Sanu diam-diam memperhatikan wajah Bari yang terus memandangi kaca jendela mobil.


"Oiya Sanu, nanti kalau kamu sudah sampai tolong kabari aku, ya?"


Sanu mengangguk dengan mantap.


Tiga puluh menit perjalanan Sanu dan Bari sudah berada di depan stasiun Pasar Senen.


"Oiya Sanu, ini untuk kamu." Bari memberikan amplop coklat berisi sejumlah uang.


"Apa ini, Kak."


"Ini ada sedikit uang dari aku, kamu pasti membutuhkannya untuk pengobatan ibu kamu."


Sanu terharu, matanya mulai sembab, Sanu secara spontan mencondongkan tubuhnya memeluk Bari mengucapkan terima kasih.


Bari tersenyum lalu berbisik ditelinga Sanu."Hati-hati ya, Sanu. Aku akan berusaha menjaga crew kamu."


Sanu melepas pelukannya, Bari menatap lekat Sanu lalu menyeka pipinya.


Sanu berjalan masuk ke stasiun, Bari terus melihat punggung Sanu di antara manusia yang lalu lalang, hingga tatapan Bari tidak mampu melihatnya saat Sani berbelok.


Sanu duduk di peron menunggu kereta datang. Suara nyaring kereta berbunyi tut ... tut ... tut... berhenti di stasiun Pasar Senen. Para penumpang segera menaiki kereta sesuai gerbong yang sudah dipilih. Sanu berada di gerbong nomor delapan. Duduk di dekat jendela sambil memandangi manusia yang sibuk dengan aktifitasnya.


'Kereta Argo Lawu jurusan Jakarta- yogjakarta akan segera berangkat lima menit lagi. Harap penumpang yang masih berada di luar segera masuk ke gerbong kereta masing-masing.


Suara merdu dari Annoucer semakin memadati kursi kereta. Lima menit berlalu kereta mulai berangkat. Perjalanan sekitar enam jam untuk sampai ke stasiun Sleman.


Sanu memilih tidur di antara penumpang yang duduk disamping dan di depannya. Hingga udara dingin yang menusuk tulang membangunkan Sanu dari lelapnya. Baru setengah perjalanan, perut Sanu terasa lapar. Sanu lupa sedari malam dia belum makan. seorang Prama menawarkan mie seduh kepada setiap penumpang. Sanu membelinya untuk mengganjal perutnya yang sudah keroncongan.


Tepat pukul satu pagi kereta berhenti di stasiun Maguwo Sleman. Sanu Istirahat sejenak di Mushola stasiun yang sudah penuh dengan manusia yang terlelap. Mereka mungkin juga sama seperti Sanu, menunggu jemputan datang atau memang mereka tidak punya tempat berteduh.


Tanpa sadar, Sanu tertidur bersandar di ujung dinding Mushola. Suara Adzan subuh membangunkan Sanu dari penjagaannya. Sanu segera membersihkan diri menyiram wajah ayunya dengan gemricik air Wudhu.


Setelahnya, Sanu memesan ojek online menuju rumahnya. lima belas menit, pengendara ojeg online menurunkan Sanu di depan rumahnya. Sangat cepat dari pada harus naik angkutan umum yang memgulur waktu sampai setengahnya.


Sanu mencoba membuka pintu rumahnya. Dikunci. Dimana Clara? Adik perempuan Sanu yang masih berumur empat tahun saat Sanu meninggalkan kampungnya. Sanu menuju ke rumah orang tua Aida.


Ibu Aida terlihat sedang menyapu teras rumah.


"Assalamualaikum, Bulek."


Ibu Aida yang bernama Maryati menoleh. "Sanu ...! Syukurlah kamu pulang, Nak. Ibu kamu kemarin malam dilarikan ke rumah sakit, adikmu Clara juga disana. Kasihan ibu kamu, Sanu. Butuh perawatan segera."


"Terima kasih, Bulek." Sanu segera menuju rumah sakit menemui ibu dan adiknya.


Sanu kembali menaiki ojeg online sebab bisa lebih cepat menuju rumah sakit. sesampainya di rumah sakit, Sanu segera ke ruang receptionist menanyakan dimana kamar ibunya.


Kata receptionist itu, ibunya masih dirawat di kamar umum. Sanu menghampiri ibu adik perempuannya.