My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 97



"ada apa Samuel? Apa itu telpon dari penculik yang menculik Hansel?" tanya Naya.


"Ya, dia menahan Hansel di gedung kosong, gedung xxx,dan dia juga mengatakan jika aku tidak boleh ke sana dengan siapapun termasuk polisi, jika tidak dia akan menghabisi nyawa Hansel."


"Apa? Benar-benar keterlaluan,"


"Naya, biar kan aku pergi, jaga Moza baik-baik, aku akan menyelamatkan Hansel."


Samuel mengatakan itu sambil menatap sang istri yang tengah tertidur pulas.


"Tidak Samuel, kau jangan gegabah, dia pasti akan membunuh mu jika kau pergi ke sana sendiri itu akan berbahaya, aku takut ini hanya akan jadi pancingan agar mereka bisa melukai mu," ucap Naya pintar.


"Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku harus menyelamatkan anaku, Naya,"


"Aku tau, dan kita harus mengatur rencana terlebih dahulu, apa kau paham maksud ku?" tanya Naya lagi.


Samuel pun berfikir sebentar dan kemudian mengangguk paham atas apa yang di ucapkan oleh Naya barusan.


Mereka pun mulai berdiskusi dan saat ini hanya mereka berdua yang tau soal ini.


Sementara itu di sisi lain.


"Boss, mengapa kita harus mengganti rencana?" tanya anak buah Robi kepada Robi.


"Karena aku tau, Samuel saat ini sedang berada di sisi Moza, dia tidak mungkin membiarkan Moza datang, jadi kita ganti saja trik nya, kita bisa meminta nya datang, lalu aku akan membunuh nya, setelah itu membawa Hansel kembali ke pada Moza seolah aku yang menyelamatkan nya dan Samuel tidak akan bisa lagi mengangu ku dan Moza," ucap Robi yang saat ini sudah jadi seperti pesicopat saja.


"Ba, baik boss," jawab anak buah Robi dengan tatapan aneh menatap Robi.


Dua jam pun berlalu.


Samuel kini memberhentikan mobilnya di depan gedung xxx yang sudah lama kosong, gedung itu sudah lama tidak terpakai karena beberapa hal yang tidak bisa di jelaskan.


Ia turun dari mobil nya dan kemudian berjalan menuju gedung tersebut.


"Pintar sekali dia memilih tempat, aku tidak menyangka," batin Samuel sambil berjalan dan melihat sekeliling gedung tersebut yang cahaya lampu nya sangat terbatas.


"Boss, kami sudah menunggu di dalam, ayo cepat masuk," ucap anak buah Robi yang sudah menunggu di pintu masuk dengan beberapa teman nya yang memastikan bahwa Samuel ke sana hanya sendirian.


Samuel pun tidak mengatakan apa-apa selain menuruti keinginan mereka.


Dia pun tiba di sebuah ruangan yang penerangan nya hanya remang-remang.


"Selamat datang di markas ku," ucap seseorang yang duduk di kursi sambil membelakangi Samuel.


"Tunjukkan wajah mu, jangan jadi pengecut," ucap Samuel lagi.


Orang itu pun memutar kursi nya dan kemudian terlihat kah dengan jelas oleh Samuel wajah nya.


"Dokter Robi!" ucap Samuel yang memegang sudah menyangka jika dalang di balik semua ini adalah Robi.


"Apa yang kau inginkan dari ku? Apa kau melakukan ini karena obsesi mu terhadap Moza yang mirip dengan Karina? Apa kau sudah gila?" marah Samuel.


"Kau tau banyak tentang ku, kau begitu pintar ya, semua yang kau katakan adalah benar," jawab dokter Robi lagi.


"Sialan, kembali kan anak kami, atau aku akan membuat mu tidak bisa bernafas lagi,"


"Haha, apa kau tidak tau malu? Di sini kau hanya tamu, mungkin aku lah yang akan membuat mu tidak bisa bernafas lagi, dan akan merebut Moza dari mu," ucap Robi yakin.


Suasana semakin tenang dan mencengkam di tambah lagi Samuel yang mulai terpancing emosi oleh ucapan Robi.


Sementara itu di sisi lain.


Moza terbangun dan melihat hanya ada Naya, mama Ema dan BI Juni di sebelah nya.


"Samuel, di mana Samuel?" ucap nya saat menyadari Samuel tidak ada di samping nya lagi.


"Ssst, diam dan dengar kan suara di ponsel ini," ucap Naya kepada Moza.


Terlihat wajah mereka yang begitu tegang, mama Ema berusaha menahan tangisnya karena khawatir jika akan terjadi sesuatu kepada Samuel, namun mereka sudah melakukan diskusi sebelum nya untuk tidak ada ya h bersuara karena mereka saat ini terhubung dengan panggilan telpon dengan Samuel.


BI Juni hanya bisa meneteskan air mata setelah beberapa kali Samuel menyebutkan nama Robi, tak di sangka majikan kesayangan nya itu berbuat demikian.


Moza pun mulai mendengar kan nya dengan jantung yang berdegup kencang.


Naya berharap di antara Samuel dan Robi tidak akan ada ya h menyakiti satu sama lain karena sesungguhnya Robi adalah orang baik dia hanya sedang berada dalam kebodohan nya karena rasa sakit masa lalu yang tidak bisa di lupakan oleh nya serta obsesi berlebihan karena mengingat mantan istri tercinta serta calon anak yang tak bisa lahir ke dunia.


"Robi, jangan bodoh, hal yang berlalu biar lah berlalu, mengapa kau harus melakukan ini? Apa kau tidak kasihan dengan istri dan anak mu? Dia pasti sedang melihat kebodohan yang telah kau lakukan saat ini kepada keluarga kecil kami," ucap Samuel mulai menjalankan rencana untuk melemahkan Robi.


"Apa maksud mu? Jangan bawa-bawa Karina," marah nya yang kemudian berdiri dari duduknya.


"Aku tidak bawa-bawa dia, jika kau tidak sebodoh ini, apa kau lupa? Kau seorang dokter, tugas mu adalah menyelamatkan semua orang yang membutuhkan mu, apa kau tidak tau? Betapa kecewanya Karina melihat tindakan mu itu?"


"Karina? Dia ada di sini dan Moza adalah Karina Karina ku!" jawab Robi mulai kacau.


"Salah, sadar lah Robi, Karina adalah Karina dan dia istri mu yang sudah tidak ada, dan Moza adalah Moza dia istri ku, kau harus tau itu, apa kau tidak sadar betapa kecewanya Karina memiliki suami egois dan kau secara tidak langsung membuat Karina dan anak mu yang sudah berada di surga jadi tersiksa karena ulah jahat mu," lagi-lagi Samuel mengatakan hal yang membuat Robi perlahan sadar dengan kesalahan nya.


"Kau harus ikhlas atas apa yang terjadi, dan apa kau tau? Ada seorang perempuan yang cukup mencitai mu, selama tiga tahun mengangumi kebaikan mu kehebatan mu sampai dia datang ke sini untuk menemui mu, mengapa kau tidak menyadari itu? Ingat Robi apa yang sudah tuhan ambil dari mu pasti akan dia ganti dengan lebih baik lagi, tapi kebodohan mu saat ini membuat banyak orang menderita,"


Robi menatap Samuel dengan mata yang mulai tidak bisa menyimpan kesedihan yang dia rasakan, apalagi saat Samuel mengatakan jika dirinya sudah membuat istri dan sang anak yang sudah bahagia di surga jadi ikut kembali menderita, di tambah lagi seseorang yang di katakan Samuel sudah mencintai nya dalam diam.


"Aku tau kau dokter yang baik, ayo selesai kan semua ini, dengan baik-baik Robi aku akan membantu mu untuk membuka lembaran baru dalam kehidupan mu," ucap Samuel lagi lagi dia membujuk Robi.


"Samuel, katakan kepada ku, siapa yang mencintai ku diam-diam?" Tanya Robi dengan mata memerah menahan air matanya agar tidak keluar.


Samuel pun mengeluarkan ponsel nya dan memberikan kepada Robi.


Bersambung ....