
Nabila langsung berlari kearah suaminya yang jatuh pingsan di lantai. Nabila terduduk duduk dan kemudian menaruh kepala suaminya di pahanya. Ia melihat wajah suami yang pucat pasi, dan suhu badannya terasa panas.
Nabila langsung mengambil ponsel yang berada di ssku bajunya dan menghubungi seseorang untuk membantunya.
●●●●
"Mas, bangun," ucap Nabila sambil mendorong brankar yang berisikan Azmi yang di bantu oleh suster saat dibawa ke UGD.
"Mbak, mohon tunggu diluar. Jangan khawatir kami akan berusaha merawat suami mbak," ucap suster menahan Nabila agar tak masuk ke ruang UGD.
"Tolong suami saya, Sus," ucap Nabila dengan kada khawatir.
"Sekarang mbak duduk dulu dan berdo'a," saran suster tersebut setelah itu menutup pintu ruangan.
"Bila, sudah do'akan saja semoga Azmi baik-baik saja," ucap Imam yang duduk di sebelah Nabila yang berjarak dua kursi.
"Makasih Mam, karena sudah membantu saya membawa mas Azmi," ucap Nabila menunduk sambil terisak.
"Apa kamu sudah menghubungi orangtua kalian?"
Nabila mengangkat kepalanya saat mendengar
pertanyaan Imam. Kepalanya menggeleng menandakan tidak. Karena sedikit khawatir, Nabila sampai lupa menghubungi orangtuanya.
"Kalau gitu, Nabila telepon mereka dulu yah kak. Dan aku nitip mas Azmi yah," Nabila beranjak dari duduknya lalu menghadap ke arah Imam.
"Iyah, tenang aja," sahut Imam sambil tersenyum.
Nabila melangkah pergi meninggalkan Imam yang berada di ruang tunggu. Nabila pergi keluar sembari mencari sinyal, karena di dalam rumah sakit senyal susah didapat.
"Azmi, Azmi, lo bodoh banget sih, nyia-nyiain cewek se sholehah Nabila," batin Imam memandangi punggung Lalu yang menghilang.
"Ma, angkat dong," ucap Nabila karena mertuanya tak mengangkat telepon darinya.
'Nomor yang anda tuju sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi '
Nabila masih berusaha menghubungi mertuanya. Namun, hasilnya tetap sama, sang mertua dalam keadaan sibuk.
"Sekali lagi," gumam Nabila panik sekaligus takut.
Setelah beberapa kali berusaha, akhirnya mertuanya pun mengangkat telepon dari Nabila.
Setelah menghubungi mertua dan orangtuanya, gadis berkerudung biru itu kembali menuju ruangan dimana Azmi sedang diperiksa dan dirawat.
"Kak Imam, apakah dokternya sudah keluar, bagaimana keadaan mas Azmi. Apa dia baik-baik saja?" Nabila langsung bertanya bertubi-tubi, ia khawatir, takut terjadi apa-apa dengan Azmi. Air matanya kembali mengalir saat mendengarkan jawaban dari Imam.
"Apa, mas Azmi terkena typus dan harus dirawat?" Ucap Nabila kaget.
Pria berambut lurus itu mengangguk. Ia benar-benar merasa kagum pada wanita yang ada di hadapannya ini. Karena walaupun sang suami belum mencintainya bahkan dengan terang-terangan masih berhubungan dengan mantan pacarnya. Tapi, wanita itu tetap mengkhawatirkannya dan merawatnya.
"Apakah aku boleh masuk ke dalam?" Tanya Nabila.
Imam mengangguk.
Nabila langsung masuk ke dalam ruangan. Ia melihat seorang pria yang berstatus suaminya tengah tertidur dengan damai. Entah ia masih pingsan atau karena apa, ia tak tahu.
Tangan Nabila mengusap rambut hitam legam milik
pria itu. Air matanya semakin deras saat melihat jarum infus tertancap dipergelangan tangan Azmi.
"Kenapa mas bandel, sudah aku katakan kita harus ke dokter, dan sekarang as harus seperti ini," gumam Nabila menatap wajah Azmi yang damai.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
Nabila membalikkan badannya saat mendengar salam dan suara pintu yang terbuka.
"Ibu. Bapak."
Senyuman Nabila merekah saat melihat kedua orang yang sangat ia rindukan datang. Kini mereka berada dihadapannya sambil tersenyum.
Nabila langsung memeluk kedua orangtuanya sambil menangis haru. Rindu yang selama ini bersarang di hatinya dan selalu bertambah. Kini telah terobati dengan datangnya mereka.
"Bagaimana keadaan suamimu?" Tanya ibu Maryam, ibu dari Nabila.
Nabila melepaskan pelukannya, lalu mencium tangan kedua orangtuanya.
"Mas Azmi sakit, bu." Jawab Nabila sambil menunduk.
"Sudah berapa hari suamimu sakit?" Kini pak Pramudya yang bertanya pada putrinya.
"Sudah seminggu, pak."
"Kenapa kau tak memberitahu kami kalau Azmi sakit, mungkin kami bisa membantumu," balas ayah Nabila.
Ibu Maryam melangkah menuju brankar dimana Azmi sedang tertidur. Ia mengusap kepala menantunya dengan kasih sayang. Bahkan ia sudah menganggap pria itu seperti anaknya sendiri.
"Maaf. Tapi Nabila gak mau merepotkan ibu dan bapak. Dan ini sudah menjadi tugas Nabila untuk merawatnya, bu. "
"Apakah kamu sudah menghubungi mertuamu?" Tanya pak Pramu sambil duduk di kursi yang berada di samping brankar.
"Sudah, pak. Malam ini mama akan berangkat ke sini," jawab Nabila sambil duduk di sebelah sang ayah. Kepalanya di taruh dipundak pria paruh baya tersebut. Melepas rindu untuk bermanja dengan sang ayah.
"Ngomong-ngomong tadi bapak melihat seorang pria di depan pintu, Tapi saat kami akan menghampirinya pria itu keburu pergi," ucap Pak Pramu sambil mengelus kepala Nabila yang tertutup oleh jilbab yang menutupi rambutnya.
"Dia sahabat mas Azmi pak,"
Orang tua Nabila mengangguk paham.
"Assalamualaikum,"
Ketiga orang tersebut langsung menengok ke arah pintu.
"Waalaikumsalam," jawab mereka kompak.
"Maaf pak, bu. Kalau gitu saya keluar dulu," ucap Imam sambil membalikkan badannya menghadap pintu.
"Tak apa, masuklah." Ucap ibu Maryam.
Seketika Imam menghentikan langkahnya. Ia membalikkan tubuhnya, kembali dan menghampiri kedua orang tua Nabila. Pria itu pun menyalami mereka.
"Apakah kamu sahabatnya menantu saya?" Tanya ibu maryam.
"Iyah Tante, saya sahabatnya Azmi. Kalau boleh tahu, apakah kalian orang tuanya Nabila?" Tanya Imam sesikit ragu.
"Panggil aja, Ibu dan Bapak. Soalnya Ibu gak biasa di panggil seperti itu," ucap ibu Maryam sambil tersenyum.
"Baik, bu." Balas Imam mengangguk.
"Oh ya Nabila, ini ada makanan buat kamu, pasti kamu belum makan, maaf cuman beli satu," Imam rupanya memberikan sebuah kantong kresek yang berisi nasi bungkus dan air mineral dalam botol.
"Makasih," ucap Nabila.
Lalu Nabila mengambil kantong kresek tersebut dan
menaruhnya di atas nakas.
Kring! Kring!
Ponsel Imam bergetar menandakan sebuah pesan masuk. Ia pun membacanya.
"Pak, Bu, Nabila. Saya pamit dulu, soalnya ada urusan." Ucap Imam sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya kembali.
"Iyah, makasih yah, Nak." Ucap Pak Pramu.
"Makasih," ucap Nabila.
"Iyah, kalau gitu saya pergi dulu, Assalamualaikum," Imam pun pergi meninggalkan ruangan. Ia lalu mengambil kembali ponselnya kembali.
"Jangan dulu masuk." Imam membalas pesan tersebut.
"Sial, kenapa Mella kesini sekarang," umpat Imam sambil berjalan cepat sebelum Mella sampai di rumah sakit.
"Kenapa lo nyuruh gue jangan dulu masuk," ucap seorang wanita berpakaian modis tersebut.
"Lebih baik lo sekarang pulang lagi, karena di dalam sedang ada orang tuanya Nabila," jawab Imam sambil menatap perempuan itu..
"Yah gak apa-apa dong, biar mereka tahu siapa aku dan siapa yang dicintai Azmi,"
"Mella, dengar, lebih baik loe pulang lagi dan pergi dari sini, oh ya sekalian aja lo pergi dari kehidupan Azmi dan Nabila," ucap Imam santai.
"Gua gak akan pernah pergi dari kehidupan Azmi. Karena Azmi mencintai gue, dan lebih baik lo bawa Nabila pergi, agar gue bisa menikah dengan Azmi." Ucap Mella yang tak mau kalah.
"Tapi gue gak akan biarin mereka berpisah oke, dan lebih baik lo pergi dari sini, karena kehadiran lo itu pembawa bencana." Balasan Imam pun kini mulai menohok.
Imam tersenyum miring karena berhasil membuat perempuan itu terbawah emosi. Terlihat dari wajah yang merah padam menahan amarah.
"Terserah lo, tapi ingat, bagaimana pun Azmi hanya milik gue bukan Nabila," Mella menghentakkan kakinya dan berlalu meninggalkan Iamam sendirian di taman rumah sakit menuju mobilnya.
"Kita lihat saja nanti," ucap Imam tersenyum miring.
Imam akan berusaha agar Nabila dan Azmi bersatu. Ia harus membuang dan mengusir benalu yang berada di rumah tangga sahabatnya. Ia akan membantu Nabila agar Azmi bisa mencintai istrinya walaupun hanya dengan do'a.
●●●●
Mella langsung masuk ke dalam mobilnya dan menutupi pintu dengan kasar. Ia masih dongkol dengan perkataan Imam tadi.
"Aku tak akan membiarkan Azmi berpaling dariku, aku akan berusaha agar Azmi membenci Nabila dan menceraikannya segera," ucap Mella dengan senyum jahatnya.
"Lihat saja Imam, siapa yang akan mendapatkan Azmi, aku atau wanita murahan itu." Ucap Mella langsung melajukan mobilnya dengan keadaa marah.
●●●●
Jari-jari tangan Azmi mulai bergerak dengan perlahan. Mata yang tertutup kini perlahan mulai mengerjap menetralkan cahaya yang masuk perlahan. Pandangan buram perlahan mulai jelas.
Ruangan serba putih terlihat oleh mata. Aroma khas obat yang menyengat mulai tercium oleh hidung. Azmi menyadari bahwa ia sedang berada di rumah sakit.
Azmi meringis saat merasakan pusing dan rasa nyeri di area tangannya. Matanya melihat ke arah pusat yang terasa nyeri, ternyata rasa nyeri itu karena
tangannya sedang diinfus.
"Mas sudah sadar?" Tanya seorang wanita yang baru saja keluar dari toilet yang berada di ruangan tersebut.
"Iyah," jawab Azmi pelan, namun masih bisa terdengar oleh telinga Nabila.
"Kalau gitu, Bila panggil dokter dulu yah," Setelah berucap demikian, Nabila langsung pergi keluar untuk mencari dokter agar memeriksa suaminya.
Tak lama Nabila datang bersama seorang pria
paruh baya, yang tak lain adalah dokter yang dari awal membantunya. Dokter itu pun melepaskan stetoskop dari telinganya dan mengalungkannya setelah selesai memeriksa Azmi.
"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" Tanya Nabila.
"Alhamdulillah suami Ibu sudah ada kemajuan, walaupun begitu ia masih harus di rawat untuk beberapa hari lagi. Kenapa Ibu tak membawa suaminya ke rumah sakit sebelumnya?" Ucap dokter
tersebut.
"Alhamdulillah. Suami saya tak mau. Sudah saya bujuk tapi ia tetap tak mau pergi ke dokter." Sahut Nabila sambil menatap Azmi.
Dokter pun hanya tersenyum mendengar jawaban Nabila. Ia sudah berpengalaman dengan pasien yang seperti ini. Tak mau pergi ke dokter. Entah karena menyepelekan sakitnya, takut di suntiklah, danbmasih banyak hal lagi.
"Jangan lupa diminum obatnya yah pak, biar cepat sembuh," setelah berucap demikian dokter itu pun pergi meninggalkan dua insan berbeda usia tersebut.
"Itu tas siapa?" Tanya Azmi saat melihat sebuah tas jinjing yang berada di sofa.
"Ibu, dan Bapak kesini menengok mas, mereka sedang pergi ke luar untuk membeli makanan." Jawab Nabila sambil duduk di kursi.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam," jawab Nabila dan Azmi.
"Alhamdulillah, kamu udah sadar." Ucap ibu Maryam saat melihat menantunya sudah membuka siuman.
"Iyah, alhamdulillah, bu." Sahut Nabila.
"Laa ba'sa thohuurun in syaa Allah, tidak mengapa, semoga sakitmu ini membersihkanmu dari dosa-dosa, Insya Allah." Ucap Pak Pramu.
"Aamiin,"
"Do'a apa itu Pak? "Tanya Azmi pelan.
Pak Pramu hanya tersenyum, "itu do'a menjenguk orang sakit nak."
Azmi mengangguk paham. Dalam hati ia merasa
bersyukur karena telah mendapatkan keluarga yang begitu baik.