My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 52



"tumben kau main ke kantor mencari ku? Bukan mencari Samuel?" tanya Nara sambil tersenyum meledek.


"Kak, bukan itu, ini bahkan lebih penting dari apapun yang kau katakan barusan," jawab Moza sambil menatap Nara.


Nara yang mendengar itu pun sontak jadi penasaran.


"Ada apa? Soal perempuan itu lagi? Apa dia masih belum minggat dari mansion? Apa perlu aku yang menyeret nya keluar dari mansion sana?" tanya Nara bertubi-tubi.


"Bukan kak, tapi janji jangan mengatakan kepada siapa-siapa jika aku sudah mengatakan nya kepada mu ya, karena ini hal penting, Samuel pun tidak boleh mengetahui nya," ucap Moza kepada Nara.


"Kau ini jangan membuat aku bingung, ayo cepat katakan saja," jawab Nara yang sudah tidak sabar karena penasaran.


"Aku hamil,"ucap Moza.


"Hah? Apa? Apa aku tidak salah dengar? Kau? Kau hamil?" ucap Nara dengan wajah yang terlihat bahagia dengan suara yang besar.


"Astaga ember!" Kesal Moza sambil membekap mulut Nara.


"Ada apa? Mengapa kau malah merahasiakan ini dari Samuel?" tanya Nara lagi.


"Aku hanya ingin memberikan nya kejutan, di hari ulangtahun nya nanti baru aku akan mengatakan nya, dan aku butuh bantuan mu untuk mempersiapkan semua ini," ucap Moza sambil tersenyum.


"Ohh, begitu ternyata, aku sangat senang akhirnya kau dan Samuel akan segera memiliki momongan, rasanya aku tidak bisa menunggu lagi," ucap Nara malah gemas sendiri.


"Kak, mau kan membantu ku mempersiapkan kejutan untuk Samuel?" bujuk Moza dengan wajah imut nya.


"Apa yang tidak untuk mu, aku akan melakukan apapun untuk si manis dan baik hati ini, aku akan memboking sebuah restoran di hari ulang tahun Samuel dan kau tinggal mengajak Samuel untuk datang ke restoran itu seisi mansion pun boleh datang ya," ucap Nara yang inisiatif nya sangat tinggi.


"Kak, kau benar-benar yabg terbaik," ucap Moza yang kemudian memeluk Nara dengan erat.


"Kau juga,"jawab Nara.


Jujur saja, Nara sangat menyayangi Moza, karena Moza hidup nya jadi seaman sekarang bebas dari laki-laki jahat yang selama ini menyiksa hidup nya.


Setelah pertemuan nya dengan Moza di hari itu, Nara benar-benar mempersiapkan semuanya.


"Nara, sudah dua hari kita ijin untuk mendekorasi restoran lah, apa lah, aku lelah di tanyai tuan muda apa yang kita lakukan saat ijin bolos di kantor," ucap Romeo yang saat ini tengah ngedumel.


"Bisa diam tidak? Aku sedang fokus, ini semua juga untuk tuan muda mu itu, dan sebaiknya aku harus mengatakan nya kepada mu, bahwa Moza sedang hamil jadi dia tidak bisa menyiapkan pesta ulang tahun Samuel jadi kita lah yang harus mempersiapkan nya," oceh Nara.


"Apa? Hamil? Bagaimana? Nona Moza hamil? Apa tuan muda sudah tau?" tanya Romeo bertubi-tubi.


"Dasar bodoh!" ucap Nara sambil membekap mulut Romeo.


Seperti kemarin Moza yang menutupi mulut nya, kini malah sebaliknya Nara pula yang menutupi mulut Romeo.


"Bau!" marah Romeo setelah Nara melepaskan tangan nya dari mulut Romeo.


"Makanya, jangan bicara menggunakan folume besar,yang aku katakan adalah rahasia, karena Moza akan membuat ini menjadi surprise di hari ulang tahun Samuel," jelas Nara.


"Ohh, begitu ya," jawab Romeo mengerti.


"Bukan nya itu nanti malam ya?" Romeo kembali bertanya.


"Iya, makanya cepat bantu aku agar ini selesai," jawab Nara menyenggol lengan Romeo.


Mereka pun akhirnya Bekerjasama untuk mempersiapkan semua yang di minta oleh Moza, Moza tidak bisa membantu karena dia harus banyak istirahat.


Sementara itu di sisi lain.


"Ma, nanti malam, mau ikut dengan ku makan malam di restoran? Untuk merayakan ulang tahun Samuel," ucap Moza kepada mama Ema yabg saat itu sedang duduk sambil menonton televisi.


"Segitu sayang nya kah kau dengan nya? Sampai ulang tahun nya pun kau ingat ya,"jawab mama Ema.


"Ya, memang nya kenapa? Jika kau sayang seharusnya kau tidak mengincar nya demi harta kan?" ucap mama Ema yang kemudian berdiri dari duduk nya dan berjalan menghampiri Moza.


"Apa maksud mama berkata seperti itu? Harta apa? Aku tidak pernah mengincar harta siapa pun," jelas Moza kepada mama Ema.


"Halah, sudah lah, aku sudah tau siapa kau sebenarnya, dan mengapa kau menikah dengan Samuel, dengar kan aku Moza, cepat atau lambat kau akan tersingkir kan dari kehidupan Samuel, karena yang pantas dengan Samuel hanyalah Sonya, karena aku tau kau tidak akan bisa punya anak!" ucap mam Ema sambil menujuk wajah Moza.


"Apa? Mengapa mama tiba-tiba yakin seperti itu? Dari mana mama mendapatkan berita tidak benar tentang aku? Apa mama tau sekarang ini sedang ... " ucap Moza terhenti karena tiba-tiba saja Sonya menghampiri mereka.


"Moza, kau ini benar-benar tidak sopan ya? Tante itu mama mertua mu, mengapa kau bicara dengan nada tinggi kepada nya?" tanya Sonya buru-buru mengalihkan pembicaraan.


"Sonya, antar aku ke kamar, aku tidak mau lagi bicara dengan nya," ucap mam Ema sambil memegang dadanya yang terasa sakit karena sudah marah-marah.


"Ayo Tante,aku antar ke kamar," ucap Sonya yang kemudian berjalan membawa Maan Ema pergi dari hadapan Moza.


Sementara Moza hanya bisa menahan emosi nya, dia tidak mungkin melawan orang tua, tapi setidaknya nanti malam semuanya akan terbongkar.


Sementara itu di kamar mama Ema.


"Tante Moza sudah keterlaluan, dia sudah membuat Tante jadi sakit, Tante, aku harus melakukan sesuatu," ucap Sonya kepada mama Ema.


"Ya, Sonya, apa yang bisa kau lakukan, lakukan lah, aku sudah kehabisan cara untuk memarahinya," ucap mama Ema sambil memegang dada nya.


"Tante, seperti nya aku punya ide," ucap Sonya tersenyum menatap wajah mama Ema.


"Apa itu?" tanya mama Ema kepada Sonya.


Sonya pun mendekat kan bibir nya ke kuping mama Ema dan mulai membiasakan sesuatu.


"Ide bagus," jawab mama Ema dengan senyum yang mengembang.


Entah ide apa yang sedang mereka rencanakan.


Malam pun tiba.


"Sayang, aku ingin makan di luar malam ini, apa kau mau menemani ku?" tanya Moza kepada Samuel.


"Tumben sekali mau makan malam di luar,"jawab Samuel sambil tersenyum.


"Ayo lah, kita ajak mama juga ya," ucap Moza sambil memegang tangan Samuel.


Samuel tentu tidak akan bisa menolak keinginan istri nya, tidak ada kata tidak untuk Moza.


"Baik lah, siap-siap sekarang ya, kita akan makan malam di restoran paling mewah yang kau suka," ucap Samuel lagi.


"Biar kan aku yang menentukan restoran nya kali ini ya, kumohon," ucap Moza yang terlihat mengemaskan.


"Baik lah apapun itu," jawab Samuel.


Mereka pun akhirnya bersiap-siap, setelah itu mengajak mama Ema untuk pergi bersama dengan mereka.


"Aku hanya akan ikut, kalau Sonya ikut, aku khawatir dia tinggal sendiri di mansion, karena dia kurang enak badan," ucap mama Ema kepada Moza dan Samuel.


"Tapi ma," ucap Samuel menolak.


" Sudah lah, siapapun boleh ikut, ayo, nanti kita terlambat," jelas Moza.


Samuel kebingungan, kenapa kali ini istri nya tidak marah-marah saat Sonya akan ikut makan malam dengan mereka, apa Moza sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Moza,atau sebaliknya sudah tidak peduli? Ini menjadi tanda tanya bagi Samuel.


Bersambung ....