
Sementara Bu Yani hanya bisa melihat penderitaan anak nya yang saat ini juga menjadi penderitaan nya, tak di sangka pembalasan dari Moza begitu kejam terhadap mereka.
"Awas kau Moza kau sudah membuat Semuanya hancur keluarga ku jadi hancur karena kau, aku tidak akan memaafkan mu."Batin Bu Yani yang tak ada habis-habisnya menyimpan dendam.
Novi, dia adalah adik sepupu Moza yang datang dari luar negeri karena di panggil oleh Moza untuk membantu nya, dan saat ini tugasnya sudah selesai dia pun memilih untuk kembali ke luar negeri.
Begitu pintar Moza dan Novi menyimpan identitas mereka berdua mereka bahkan hanya dua kali bertemu dan berkomunikasi dari ponsel untuk hal ini.
Namun di balik itu, keluarga Ferdi sudah mendapatkan karma nya, Ayu masuk rumah sakit jiwa karena tak mampu menahan beban pikiran nya, Naya pergi meningal kan Ferdi setelah tau Ferdi mandul dan juga lumpuh, kini tingal lah Ferdi dan ibunya saja.
Sementara itu di sisi lain.
"Sayang hari ini mama ku akan kembali ke kota ini sendirian dan dia ingin bertemu dengan mu, namun sebelum itu mau kah kau mengakhiri kontrak pernikahan ini dengan ku?"Tanya Samuel kepada Moza sambil memegang kedua tangan Moza.
Moza teridam, ada dua hal yang membuat dirinya kaget, pertama tentang kepulangan mama nya Samuel ke kota ini, dan yang kedua, Samuel ingin mengakhiri kontrak pernikahan secara tiba-tiba padahal belum sampai setahun.
"Mengapa kau diam saja?"Tanya Samuel tak sabar ingin mendengar jawaban Moza.
"Mengapa kau memilih untuk mengakhiri kontrak pernikahan kita? Setelah mama mu kembali ke sini dan ingin menemui aku?" tanya Moza kepada Samuel.
"Haha, kau masih tidak paham ya? Maksud ku, ayo akhiri kontrak pernikahan ini saja, dan jadi lah istri ku yang sesungguhnya," jelas Ferdi kepada Moza sambil memegang kedua tangan Moza dengan tatapan penuh sayang.
Moza terdiam, jujur saja, ia juga sebenarnya sudah sangat ingin mendengarkan ucapan ini sejak lama dari Samuel, karena dia juga sudah sangat nyaman bersama Samuel, perlakuan Samuel yang selalu meratukan nya membuat dirinya tak ingin lagi berpisah dengan sang suami dan sejenak juga Moza sudah melupakan masa lalu kelam itu.
"Apa kau bersedia?" tanya Ferdi kepada Moza yang masih menatap nya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Ka-kau serius mengatakan ini?" tanya Moza kepada Samuel.
Samuel mengangguk kan kepala nya dan menatap lekat Moza sambil tersenyum manis.
"Lupakan masa lalu yang buruk itu, dan ketahuilah aku saat ini hanya mencintai dirimu," bisik Samuel ke telinganya Moza.
Moza yabg mendengar itu, tak bisa menahan air matanya,ia benar-benar merasa hari ini dirinya sudah menemukan titik kebahagiaan yang paling sempurna,ia pun memeluk Samuel dengan erat,dan menumpahkan air mata nya di dada Samuel.
"Jangan menangis, aku berjanji tidak akan membuat mu berada dalam posisi sulit lagi," bujuk Samuel sambil mengelus rambut Moza.
Moza melepas kan pelukan nya dan menatap Samuel dengan mata semabab nya."Aku sangat beruntung kembali menemukan laki-laki seperti mu, mari kita akhiri kontrak itu."
Samuel yang mendengar itu pun, sontak sangat bahagia, wanita yang di cintai dengan hebat oleh nya kini berhasil kembali ke dalam pelukan nya dan menjadi milik nya seutuhnya lagi, ternyata perjuangan nya saat ini tidak lah sia-sia.
Dua jam pun berlalu.
Kini Samuel dan Moza sudah tiba di bandara, untuk menyambut kedatangan mama nya Samuel dari kota xx
"Apa kau gugup?" tanya Samuel yang khawatir melihat Moza yang sedari tadi mondar-mandir tidak jelas di hadapan nya.
"Ini pertama kali nya aku bertemu mama mu, dulu juga saat pacaran dengan mu aku tidak pernah berani bertemu dengan nya, bagaimana jika dia tidak menyukai aku?" tanya Moza lagi, wajah nya terlihat begitu khawatir.
"Jangan khawatir, ada aku, aku sudah menjelaskan semuanya kepada mama ku, tentang pernikahan kita," ucap Samuel memegang kedua tangan Moza, membuat nya agar lebih rileks dan tenang.
"Samuel!" pangil seseorang dari arah belakang Samuel yang tengah berbincang dengan Moza.
"Mama,"Tutur Samuel menghampiri mama nya dan memeluk nya.
Terlihat jelas Samuel benar-benar merindukan mama nya itu.
"Anak ini, ya sudah lama menunggu mama?" tanya mama "Ema"
Ya mama nya Samuel biasa di panggil Ema, kita sebut saja mama Ema ya reader ku tersayang.
"Sudah ma, eh iya, ini ... "ucap Samuel terhenti saat melihat Moza yang masih dalam keadaan cangung dan malu berdiri di belakang nya seperti patung.
"Moza ya?" tanya mama Ema menatap Moza dengan senyum lebar nya.
Melihat kehangatan dari sapaan mama Ema kepada nya, Moza pun sedikit lega, dan berjalan lebih dekat menghampiri mama Ema.
"Selamat datang kembali ke kota xx Tante,"ucap Moza kepada mama Ema.
"Tante? Haha, kau ini ada-ada saja, kau itu adalah menantu ku, pangil aku mama, mengapa malah pangil Tante,"ucap mama Ema sambil memegang pundak Moza.
Moza pun terdiam,jujur saja ia benar-benar bahagia karena ternyata mama Ema tak segalak yang dia bayangkan.
"Ma,dia begitu khawatir dan takut, berfikir kau akan galak dengan nya, karena itu dia terlihat gugup seperti ini,"jelas Samuel.
"Ya sudah, bagaimana kita ke restoran makan siang dulu, kau tau sendiri kan, mama benar-benar tidak bisa makan makanan di dalam pesawat, dan sekarang perut mama ini sudah sangat lapar," pinta mama Ema kepada Samuel.
"Baik lah, ayo ma, masuk mobil, ayo sayang," ucap Samuel kepada mama dan istri nya.
Mereka pun akhirnya bersama-sama masuk ke dalam mobil Samuel, dan menuju restoran yang ada tidak jauh di bandara tersebut karena mama nya Samuel memiliki penyakit lambung dan tidak bisa telat makan Samuel pun buru-buru mencarikan restoran terdekat.
Tidak butuh waktu lama, mereka pun akhirnya tiba di sebuah restoran yang tentunya adalah restoran bunga lima, seorang perempuan penuh wibawa seperti mama Ema mana mungkin mau makan di restoran kecil.
Itu sama saja menginjak harga dirinya, menurut nya.
Saat ini rasa cangung kembali di rasakan oleh Moza, ia tidak tau harus bersikap ramah seperti apa terhadap mama mertua,yang baru di jumpai nya itu, hal ini membuat nya diam mati kutu.
"Samuel, apa Moza dalam keadaan tidak sehat? Dia sedari tadi hanya diam dan tidak banyak bicara," ucap mama Ema kepada Samuel sambil melirik Moza.
Moza yang mendengar itu, semakin merasa tidak enak, hatinya kini campur aduk, memang mama Ema kelihatan nya baik namun ucapan nya agak sedikit ceplas-ceplos saja.
"Maaf ma, Moza memang begitu, sayang ayo bicara lah dengan mama, jangan sungkan, aku akan ke toilet sebentar, kalian mengobrol dulu sambil menikmati makanan nya ya," Ucap Samuel kepada Moza dan mama nya.
Hal ini di lakukan Samuel agar membuat Moza lebih akrab dengan mama nya.
Setelah Samuel pergi ke toilet, Moza malah tambah semakin cangung berdua dengan mama nya Samuel.
"Emm, sejak kapan kalian pacaran? Mengapa kau bisa kenal dengan Samuel? Dan bagaimana bisa langsung menikah?" Pertanyaan itu kini lolos dari bibir mama Ema.
Deg ... Jantung Moza mulai tidak karuan, dia berfikir mengapa pertanyaan yang seperti ini di lontarkan kepada nya? Bukan kepada Samuel dan seharusnya mama nya Samuel mungkin sudah tau banyak tentang dirinya dari Samuel bukan?
Bersambung ....