My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 23



Suara lantunan ayat suci Al-Qur'an menggema ruangan rawat Azmi, yang membuatnya terbangun dari tidurnya. Perlahan matanya terbuka dan melihat seorang wanita tengah duduk membelakanginya sambil melantunkan ayat-ayat suci Allah dengan suara yang lembut nan merdu


فَبِاَىِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰن


"Nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan."


Hatinya merasa bergetar saat mendengar lantunan ayat tersebut. Desiran halus dalam darahnya terasa. Adapun rasa tenang dan damai dalam hati saat mendengarnya.


"Assalamualaikum," ucap seseorang disertai dengan suara pintu yang terbuka.


Azmi yang masih terlena dengan suara Nabila menoleh ke arah sumber suara.


"Mama," ucap lirih Azmi saat melihat sang ibu berada di sana.


"Laa ba'sa thohuurun insyaa Allah," ucap ibu Yuni mengusap rambut sang putra tercinta.


Nabila yang sedang membaca Al-Qr'an pun langsung beranjak dan menghampiri mertuanya.


"Alhamdulillah, kau sudah bangun, Mi." Ucap ibu Yuni duduk di kursi yang berada di samping ranjang.


"Mama sejak kapan ada disini?" Tanya Azmi sambil menatap sang ibu.


"Semenjak kau tertidur dan masuk ke dalam alam mimpimu," balas ibundanya.


Bahagia. Itulah yang dirasakan Azmi saat melihat ibunya datang menjenguknya. Rasa rindunya kini telah terobati tatkala bertemu ibunya.


Wanita paruh baya itu tak henti-henti mengusap kepala sang putra yang tengah berbaring lemah dengan selang dan jarum infus menancap di tangannya.


"Hm..  Ibu dan Bapak kemana?" Tanya Azmi tak melihat kehadiran kedua mertunya bahkan tas milik mereka.


"Mereka mama suruh pulang ke rumah kamu. Karena pasti mereka lelah mengurusmu seharian," Balas ibu Yuni.


Raka mengangguk paham.


Malam mulai berganti, pagi mulai menyapa. Matahari sudah datang untuk menyinari bumi.


Kini kedua insan tengah mengelilingi taman rumah sakit. Karena merasa bosan Azmi meminta ingin keluar ruangan yang membuatnya pengap. Sudah dua hari ia di rawat di sana, dan berdo'a agar ia cepat-cepat bisa pulang dari tempat tersebut.


"Sudah berhenti," ucap Azmi setelah mereka berkeliling taman tanpa berbicara.


"Hmm. Nabila aku ingin berbicara padamu," ucap Azmi sambil menatap lurus ke depan.


"Iyah mas, berbicaralah aku akan mendengarkannya." Ucap Nabila.


"Aku ingin kita seperti dulu, berpura-pura menjadi sepasang suami istri yang harmonis di depan orangtua kita."


Deg. Kata-kata itu terulang kembali. Rangkaian kata yang membuatnya sakit hati, bagai tertusuk belati yang menusuk hati. Air mata luluh seketika. Namun, ia berusaha menghapusnya, ia tak ingin terlihat lemah di depan sang pembuat luka. Walaupun ia benar-benar terluka tapi ia ingin hanya dirinya dan Allah yang tahu betapa terluka dan rapuh dirinya.


"Tapi, Mas. Aku tak ingin terus berbohong kepada mereka." Ucap lirih Nabila sambil menunduk.


"Kita hanya melakukan itu sampai aku benar-benar sembuh. Setelah itu kita tak akan berbohong lagi," Azmi berusaha meyakinkan Nabila untuk menyetujui perketaannya.


"Tapi mas, bohong tetap lah bohong. Mau itu lama atau sebentar, yang namanya bohong tetap bohong. Aku tak mau terus membohongi mereka mas. Apalagi mama. Cepat atau lambat mereka akan mengetahuinya."


"Tapi ini demi kebaikan dan kebahagian mereka juga," balas Azmi.


"Tapi mas. Lebih baik menyakitkan karena jujur dari pada menyenangkan tapi dengan kebohongan."


"Sudah lah. Berbicara padamu tak ada gunanya. Aku ingin pergi ke kamar. Di sini lebih pengap daripada kamarku." Ucap Azmi dengan nada marah.


Pria itu marah karena sang istri tak mau menuruti perintah nya.


"Apalagi aku mas. Aku lebih sakit, aku rapuh. Aku ingin pergi dari sini. Namun, hatiku tak menginginkannya." Batin Nabila yang berusaha menahan airmatanya agar tak jatuh.


■■■■■


Kini Nabila tengah melihat bayangan dirinya di depan cermin. Wajahnya kusut seperti tak terurus. Matanya memerah akibat menangis. Setelah mengantarkan Azmi, ia pamit untuk pergi ke kamar kecil. Disini lah ia berada, tempat untuk mengeluarkan segala sesak yang ada di dada. Mengeluarkannya lewat airmata tanpa bersuara.


"Aku tak berharap kau mencintaiku. Tapi aku mohon hargailah diriku sebagai istrimu mas." Batin Nabila memandang dirinya di cermin.


"Ku pikir selama ini kau telah berubah mas. Tapi nyatanya kau masih sama, sama sekali belum menghargaiku dan menganggapku sebagaimana mestinya." Lirih Nabila sambil terisak melepaskan sesak di dada yang bergejolak.


Sungguh diri dan hatinya sudah rapuh tak kuasa menahan gejolak rasa yang menyakiti kalbu. Retak karena tak kuasa menahan beban yang ada di hati. Ingin ia menjerit untuk mengeluarkan uneg-uneg yang ada di hati.


Nabila hanya bisa menangis dan terus menangis. Ia tak 'kan berputus asa dan menyerah. Ia akan berusaha agar Azmi bisa mengahrgainya. Karena man jadda wajada siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil.


Setelah melepas rasa sesak dalam hati. Nabila mencuci wajahnya agar tak terlihat kusut. Lalu pergi keluar menuju ruang rawat Azmi.


Setelah masuk ke ruangan, Nabila langsung menghampiri Azmi yang tengah tertidur pulas. Ia melirik jam tangan. Yang ternyata sudah menunjukkan pukul 11:30, sudah lebih 30 menit ia berada di kamar kecil untuk menangis.


Tangannya mulai mengusap kepala pria itu sambil menatap sayu sang pria. Hatinya mulai sesak kembali saat teringat kata-kata Azmi saat di taman. Tak terasa air mata mulai keluar dari sudut matanya.


"Assalamualaikum,"


Nabila langsung mengusap air matanya saat mendengar suara pintu terbuka dan suara wanita.


"Waalaikumsalam," jawab Nabila.


"Matamu merah, kamu habis menangis Nabila?" Tanya mertuanya saat melihat mata Nabila yang merah.


"Tidak, ma." Jawab Nabila sambil menunduk.


"Mama tahu kamu pasti habis menangis. Bicaralah," ucap mertuanya lembut.


Nabila menunduk berusaha menahan air matanya agar tak jatuh. Namun nihil, aimatanya lolos tanpa izin.


"Mama juga sedih melihat Azmi seperti ini,  Mama juga merasakan apa yang kamu rasakan Bila. Tapi kita jangan berlarut dalam kesedihan. Kita harus mendoakan Azmi agar dia cepat sembuh,"


Wanita paruh baya itu tersenyum, berusaha menguatkan Nabila agar tak bersedih.


"Ma, Bila minta maaf karena tak bisa merawat putra mama dengan baik," ucap Nabila sambil menunduk.


Mertuamya tersenyum, "sudah ini semua bukan salah kamu, jangan menyalahkan diri kamu sendiri. Ini adalah salah Azmi, memang dari dulu dia selalu mementingkan pekerjaannya dari pada dirinya sendiri. Dan inilah akhirnya." Mertuanya memeluk Nabila, "malah mama bangga punya menantu kayak kamu."


Setelah menunaikan sholat dzuhur, ibu Yuni meminta izin untuk pergi ke rumah Azmi, untuk menemui kedua orangtua Nabila, dan mengambil barang yang dibutuhkan oleh Nabila.


Kini ruangan terasa sepi tak ada suara, Azmi masih tertidur dan Nabila kini tengah fokus dengan kegiatannya.


"Mama,"


Nabila langsung menghentikan kegiatannya saat mendengar suara parau Azmi yang memanggil sang ibu.


"Mas, mau apa? Biar Nabila ambilkan," tanya Nabila saat Azmi mulai sepenuhnya sadar.


"Tidak, Mama kemana?" Tanya Azmi saat tidak melihat kehadiran ibunya di ruangan.


"Mama pergi ke rumah kita untuk mengambil sesuatu," jawab Nabila.


"Sambil nunggu mama datang, mas sholat dulu yah," ucap Nabila.


"Mas ... ,"


"Iya benar kata Nabila, mendingan kamu sholat dulu." Timpal ibu Azmi memotong ucapan anaknya.


"Tapi ma, aku gak kuat buat diri," ucap Azmi dengan nada lemah.


"Gak apa apa mas, jika tidak bisa berdiri, bisa dengan duduk, jika tidak bisa maka dengan cara terlentang, jika masih tidak bisa juga maka dengan isyarat atau lirikan mata, Allah telah mempermudah semuanya tapi kita yang membuatnya sulit." Timpal Nabila.


"Tuh dengar apa yang di katakan istrimu, lebih baik sekarang kamu wudhu dulu, biar Nabila yang bawa airnya kesini, iya kan?" Ucap ibu Yuni melirik Nabila.


Nabila mengangguk tanda setuju.


__________


Kini seorang wanita berpakaian syar'i tengah duduk di sebuah taman sedang menunggu seseorang. Sesekali gadis itu melirik jam yang berada di tangannya.


Suara handphone terdengar tanda sebuah pesan masuk.


'Tunggu, jangan pergi dulu, karena aku ingin bicara serius dengab kamu Nabila'


Itulah isi pesan yang baru saja masuk.


'iyah, mbak Mella.'


Balasan Nabila.


Nabola kini tengah menunggu Mella. Saat di rumah sakit, Mella mengirim pesan kepada Nabila bahwa ia ingin bertemu.


"Nabila, sudah lama kah kau menunggu?" Tanya Mella yang tiba-tiba datang sambil tersenyum miring.


"Wa'alaikumsalam, cukup lama," jawab Nabila sambil tersenyum.


"Apa bener Azmi sakit?" Tanya Mella tanpa basa-basi terlebih dahulu.


"Iyah, seperti yang di katakan kak Imam."


Nabila mengetahui jika Imam memberitahukannya kepada Mella bahwa Azmi sedang sakit dan dirawat.


"Sudah ku katakan kau tak becus menjadi istri dari Azmi, dan karena dirimu lah dia sakit kan? Karena dia tak bahagia dengan dirimu."


"Iya aku tak becus menjadi seorang istri karena membiarkan suaminya masih berhubungan dengan mantannya. Soal bahagia atau tidak hanya mas Azmi yang tahu itu." Balas Nabila tegas.


"Bukan kah kau yang tak secara langsung mengijinkannya Nabila, dan memang Azmi tak bahagia denganmu buktinya dia sampai sakit seperti ini." Ucap Mella beralasan.


"Jika memang dia sakit karena tak bahagia. Mengapa sakitnya hanya sekarang bukan dari awal sejak kami menikah. Bukankah begitu? Dan mas Azmi sakit bukan karena tak bahagia tapi karena harus menjadi supir pribadi dari seorang model." Sindir Nabila dengan penekanan pada akhir kalimat.


"Oh jadi lo nyalahin gue! Lebih baik sekarang lo tinggalin Azmi. Percuma lo berjuang buat dapatin hatinya. Lo gak akan bisa!" Ucap Mella yang telah tersurut emosi.


"Sampai kapanpun dia gak akan pernah mencintai lo. Hatinya cuman punya gue, lo paham!" Sambung Mella, sambil menunjuk ke arah wajah Nabila.


Nabila hanya tersenyum saat melihat wajah Mella yang merah padam. Ia tahu bagaimana harus menghadapi makhluk Allah yang satu ini.


"Hatinya bukan milik kamu atau milik ku. Tapi hatinya adalah milik sang Maha pemilik hati, sang Maha Cinta. Hatinya milik Allah. Ingat aku gak akan pernah menyerah untuk mendapatkan hati mas Azmi."


Mella tertawa mendengar ucapan Nabila, "gak usah loh ceramahin gue. Ok."


"Sepertinya aku harus pergi, waktuku tak banyak. Aku harus mengurusi suamiku dulu. Assalamualaikum," ucap Nabila langsung pergi dari hadapan Mella.


Mella mengepal tangannya, wajahnya sudah merah padam karena amarah. Wanita itu menarik napas dan tersenyum miring, "silakan saja, sampai kapan pun Azmi hanya akan mencintaiku dan sebentar lagi dia akan menghempas dirimu dari kehidupannya."


Mella menyeringai sambil menatap Nabila yang mulai menjauh dari hadapannya.


"Lihat saja, aku akan membuatmu di usir dan di benci oleh Azmi. Aku tak kan membiarkanmu mendapatkan hati Azmi. Ingat itu Nabila,"


Setelah itu Mella pergi meninggalkan tempat itu, lalu menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana.