
Keesokan harinya
Bandara Xxxxx
Kini pesawat yang di tumpangi oleh Samuel dan mama Ema sudah berhasil mendarat dengan selamat di bandara kota x.
Mereka kelaurga dari pesawat dan segera masuk ke dalam mobil untuk pergi ke villa.
Ya, sebelum pergi ke kota x, Samuel tentu sudah mempersiapkan semuanya, mulai dari sopir pribadi, menyewa villa sebagai tempat tinggal selama di sana dan segala kebutuhan tentunya sudah di persiapkan secara matang oleh anak buah nya yang sebelumnya sudah di kirim ke kota x untuk melakukan segala perintah dari nya.
Ya, jangan heran, mama nya juga Samuel.
Tidak butuh waktu lama mereka pun akhirnya tiba di villa itu, vila yang terlihat sangat besar dan juga mewah dan suasana nya cukup nyaman apalagi untuk mama Ema yang sedang sakit, tujuan Samuel juga tidak hanya satu, sat sampai di kota x dia juga berencana untuk melakukan pengobatan untuk sang mama karena setahu nya kota itu terkenal akan rumah sakit yang luar biasa fasilitas nya.
"Ma, ini tempat tinggal kita selama di sini, bagaimana? Apa mama suka?" tanya Samuel sambil mendorong kursi roda sang mama masuk ke dalam vila.
Sementara sopir pribadi nya kini mengangkut barang-barang mereka.
Mama Ema yang tidak bisa bicara hanya melirik sekeliling dan berusaha untuk mengganguk menandakan bahwa dia suka dengan vila itu.
"Oh iya ma, aku juga sudah mencari kan seorang saja pelayan untuk kita, dia akan memasak dan menemani mama saat aku tidak ada di villa," jelas Samuel lagi.
Benar saja, tidak lama kemudian datang seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang sopan berjalan ke arah Samuel dan mama Ema.
"Selamat datang tuan muda, dan nyonya, saya bi Yati orang yang di bayar oleh anak buah nya tuan muda Samuel untuk bekerja di sini," jelas nya sambil tersenyum dan sangat sopan.
"Terima kasih atas sambutan nya bi, tolong bawa mama saya untuk istirahat ke kamar nya ya, saya masih ada beberapa urusan yang perlu di urus," jelas Samuel kepada BI Yati.
"Baik tuan muda," jawab BI Yati yang kemudian mengambil alih kursi roda mama Ema dan kemudian mendorong nya pelan menuju kamar.
Sementara itu Samuel kembali keluar dari villa dan membantu sang sopir untuk memuat barang-barang nya masuk ke dalam.
Sementara itu di sisi lain.
"Selamat siang, apa pak Romeo sudah datang?" tanya Naya kepada salah satu karyawan yang sedang bekerja di kantor Samuel.
"Oh,Bu Naya ya? Sudah di tunggu pak Romeo di dalam ruangan nya," jelas karyawan tersebut.
Naya berterima kasih dan kemudian berjalan menuju ruang kerja Romeo.
Seperti yang di janjikan oleh Romeo semalam, hari ini Naya bisa mengambil kembali berkas yang sudah di tandatangani oleh nya sebagai wakil dari Samuel.
Sementara itu, Nara yang melihat Naya datang menghampiri karyawan tadi dan bertanya.
"Apa yang dia katakan kepada mu?" tanya Nara kepada karyawan tersebut yang tadi berbicara dengan Naya.
"Oh,itu buk, dia buk Naya dari perusahaan tentanga, dia bertanya apa Mak Romeo sudah datang ke kantor? Jadi saya jawab iya, pak Romeo sudah menunggu nya di ruangan nya," jelas karyawan tersebut secara detail.
"Ohh, begitu rupanya, baik lah, terimakasih," jawab Nara yang kemudian berjalan menuju ruangan Romeo.
Sementara di ruangan tersebut
"Tidak, aku hanya mewakili tuan muda Samuel," jawab Romeo sambil tersenyum tipis.
"Baik lah, kalau begitu aku permisi dulu, soalnya papa ku sudah menunggu berkas ini," jelas Naya yang berpamitan hendak keluar dari ruangan Romeo.
"Baik lah, hati-hati," tutur Romeo lagi.
Namun baru saja Romeo mengatakan hal itu, Naya malah kesandung kursi yang ada di hadapannya dan akhirnya terjatuh.
"Awhh!" Leguh nya sambil memegang kaki nya yang kini sakit terkenal kursi tadi.
"Astaga, Naya! Apa kau baik-baik saja?" tanya Romeo yang kemudian menghampiri Naya dan membantu nya untuk berdiri.
Namun di saat yang bersamaan, pintu ruangan tersebut pun terbuka oleh Nara yang masuk secara tiba-tiba tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Kalian!" ucap nya menunjuk Naya dan Romeo.
"Nara," ucap Naya dan Romeo Seca bersamaan.
"Apa yang kalian lakukan? Romeo mengapa kau memeluk nya?" tanya Nara dengan tatapan sinis.
"Nara, apa yang kau katakan? Aku tidak memeluk nya," jelas Romeo yang saat ini khawatir kalau Nara akan salah paham.
"Sudah lah, lanjut kan saja," ucap Nara yang kemudian berjalan keluar dari ruangan tersebut meningal kan Naya dan Romeo.
"Astaga, Romeo cepat kejar dia, dia sudah salah paham pada Kuta, aku tidak mau ada masalah Samuel pasti akan marah," jelas Naya yang kapok berurusan dengan Samuel.
"Baik lah, kau duduk di sini dulu, aku akan mengejar Nara untuk menjelaskan nya," ucap Romeo yang kemudian berlari keluar dari ruangan tersebut untuk mengejar Nara.
"Ya Tuhan, mengapa nasip ku seperti ini? Baru saja ingin memulai kehidupan baru, sudah membuat hubungan orang lain berantakan? Apa aku harus mencari pasangan? Tapi aku masih memikirkan dokter Robi orang yang membuat aku jatuh cinta pada pandangan pertama," batin Naya sambil mengacak-acak rambut nya.
Sementara itu Nara, dia malah pergi dari perusahaan sehingga Romeo tidak sempat untuk menjalankan nya.
"Astaga dia selalu saja begitu, pergi tampa menunggu penjelasan ku terlebih dahulu," batin Romeo menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Sementara Nara mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi sambil menangis.
"Hikss, sialan, dasar jahat, aku sudah trauma akan perselingkuhan oleh laki-laki, mengapa sekarang malah melihat hal seperti ini? Aku tidak mungkin bisa bohong kepada diriku kalau aku cemburu," ucap Nara sambil menangis dan memukuli stir mobil nya.
Ya, karena insiden tiga tahun itu membuat Nara sangat mudah salah paham dengan Romeo dia sering mengira Romeo akan menjadi mantan suaminya yang berselingkuh dan kejam, bagi perempuan luka boleh hilang namun tidak dengan bekas nya.
Nara pun memilih untuk menyendiri dulu, lagipula dia sebentar lagi akan menjemput Celsy di sekolah.
Oh iya, Celsy kini sudah berusia delapan tahun dan dia sekarang sudah bersekolah di sekolah dasar negeri.
Sementara itu Romeo memilih untuk membiarkan Nara memenangkan dirinya dulu, karena jika dia pergi mengejar nya perusahaan akan tinggal mana pekerjaan nya masih begitu banyak dan Naya masih ada di dalam ruangan nya dengan kaki yang terkilir, mungkin dia akan meminta salah satu karyawan wanita untuk membantu Naya.
Sungguh Romeo kini sangat kesulitan menghadapi situasi Tampa seorang Samuel di sisi nya, tapi mau bagaimana lagi sang boss harus mencari dan mengembalikan kebahagiaan nya yang sempat hilang.
Bersambung ....