
Dua Minggu kemudian
"Bagaimana? Apa pihak rumah sakit sudah mau buka mulut untuk mengatakan di mana Naya dan papa nya Semarang?" tanya Samuel kepada Romeo.
Ya, kini Samuel dan Romeo kehilangan jejak tentang di mana papa Hanan dan juga Naya, setelah di nyatakan pindah RS oleh dokter yang merawat Naya kemarin mereka kini tidak tahu lagi harus mencari keberadaan Naya, karena kini, Naya lah yang menjadi kunci keberadaan Moza, menurut rasa dari kecurigaan Samuel.
Dua hari ini Romeo sudah bolak-balik ke RS itu, dan sang dokter dengan jawaban yang sama masih mengatakan jika dirinya tidak biasa menyebarkan data pasien secara sembarangan karena itu akan membahayakan statusnya sebagai seorang dokter, apalagi saat sebelum pergi, pak Hanan, papa nya Naya mewanti-wanti kepada nya jika ada yang bertanya mereka pindah ke RS mana jangan lah mengatakan nya.
Sudah lima rumah sakit di datangi oleh anak buah Romeo untuk mencari keberadaan pasien yang menderita sakit Gagal jantung bernama Naya, namun yang mereka temukan tidak lah sama dengan foto yang di berikan oleh Romeo kepada mereka dan itu jelas bukan Naya.
"Mengapa kau diam? Ayo jawab aku," ucap Samuel yang kini sudah mulai furstasi akan sang istri yang tak kunjung di temukan.
"Maaf tuan muda, sampai sekarang, tidak ada yang mendapat informasi atau menemukan keberadaan nona muda atau Naya," jelas Romeo.
Samuel terdiam, dari sini dia semakin yakin jika Naya tau di mana Moza, jika dia memang tidak ada hubungannya dengan perginya Moza dia mungkin tidak akan pindah rumah sakit, pikir Samuel.
"Jangan menghentikan pencarian, kalau perlu lapor polisi," ucap Samuel lagi.
"tuan muda, sebaik nya jangan berhubungan dengan polisi, karena kita tidak ada bukti penculikan atau apapun, anak buah ku kini tersebar di seluruh sudut kota ini, kita tunggu saja," jelas Romeo.
"Terserah, aku sudah benar-benar ingin mati jika memikirkan semua ini, jika saja aku tidak bodoh, mungkin ini tidak akan terjadi," kini sudah ribuan kali Samuel mengatakan jika dirinya bodoh.
Romeo pun tidak bisa berbuat apa-apa kecuali membantu mencari dan mencari.
Benar kata orang, penyesalan itu selalu datang belakangan.
Balasan untuk Samuel saat ini, sekuat apapun dia mencari, sebanyak apapun anak buahnya dia tidak bisa menemukan Moza, ini adalah balasan dari perbuatannya sendiri.
Sementara itu di kota x
"Sudah seminggu dalam masa perawatan,apa kau merasakan ada perubahan? Maksud ku apa kau merasa lebih nyaman dengan peralatan medis di sini?" tanya Robi kepada Moza.
"Ya, aku merasa sangat nyaman, kepala ku juga sudah tidak terasa sakit lagi, dan kaki ku juga sudah mulai bisa kuat berdiri, dokter Robi terima kasih sudah merawat ku dengan baik di sini," ucap Moza sambil tersenyum puas dengan kebaikan dokter Robi terhadap dirinya.
"Moza, aku bahagia kau sekarang sudah mulai membaik, tapi kau juga harus tau, kandungan mu sangat lemah jadi karena itu kau tidak boleh terlalu banyak pikiran, kau juga tidak boleh lelah, sore nanti kau akan keluar dari RS ini, aku sudah menemukan rumah dan juga seorang pelayan untuk mu," jelas dokter Robi kepada Moza.
"Ya, dokter aku mengerti, entah bagaimana cara aku mengucapkan terima kasih kepada mu, yang jelas kau adalah dokter terhebat yang pernah aku temui, kau bahkan bersusah payah membantu ku, tidak hanya dalam pengobatan, tetapi juga fasilitas untuk ku,"tutur Moza lagi.
"Haha, bisa begitu ya dokter, eh, em baik lah iya, Robi, aku akan memangil sesuai keinginan dokter, eh salah maksud ku Robi," jawab Moza cangung.
Robi terlihat asik memandang wajah Moza yang saat ini tersenyum dengan begitu manis nya.
Jujur saja Robi salut dengan Moza, meskipun begitu banyak cobaan hidup yang dia alami saat ini, dia masih saja bisa tersenyum dan tertawa begitu cantik.
Benar saja, sore harinya setelah keluar dari RS, Robi mengantarkan Moza ke rumah yang akan di tingali Moza.
Tidak butuh waktu lama, mereka pun akhirnya tiba di rumah tersebut, rumah lantai dua yang kecil namun begitu cantik, suasana di sana juga sangat damai sekali banyak pepohonan hijau, cocok untuk seorang ibu hamil yang sedang memulihkan kesehatan nya.
"Astaga, Robi, sepertinya aku tidak bisa tingal di sini, rumah ini sangat mewah,aku tidak punya uang untuk membayar bulanan yang pasti nya lebih dari sepuluh juta," ucap Moza khawatir.
"Haha, apa yang kau katakan? Ini adalah rumah milik teman ku, dia sudah pindah ke tempat lain beberapa hari lalu, jadi dia menitipkan rumah ini kepada ku karena dia tau aku akan pindah tugas ke kota ini, jadi dia bilang dari pada di jual dia meminta aku untuk menempatinya, karena jika dia pulang dia bisa kembali tinggal di sini, tapi kau tenang saja dia akan kembali dalam beberapa tahun dan ini gratis," jelas Robi panjang lebar.
"Apa? Mengapa bisa ada orang sebaik dia? Tapi dia hanya mengijinkan mu untuk tingal di sini, bukan aku," jelas Moza kembali ragu.
" Tentu saja ada, kau terlalu khawatir dengan ku ya, aku ini punya rumah yang sudah di siapkan oleh pemerintah, jadi jangan khawatir, ayo masuk," ucap Robi yang kemudian menarik koper serta memegang tangan Moza membawanya masuk ke dalam rumah tersebut.
Sementara Moza yang mendengar itu, tak lagi bisa menolak nya, dia juga hanya punya Robi di sana tidak mungkin dia sok kuat menolak semua itu, di mana dia akan tinggal nanti jika dia menolak rumah sebagus itu, sementara dirinya kini sedang hamil mana mungkin bisa dapat pekerjaan dalam setahun kedepan.
"Selamat da ... no-nona, Nona Karina?" ucap seorang wanita paruh baya kaget saat melihat Robi yang datang ke rumah tersebut membawa seorang perempuan yang wajah nya sangat tidak asing di mata nya.
"Karina?" bingung Moza sambil menatap Robi dan perempuan tua itu secara bergantian.
Terlihat perempuan itu mengucek-ngucek mata nya beberapa kali sambil menatap Moza.
"BI Juni, ini Moza, dia yang akan menempati rumah ini, aku harap bibi bisa membantu semua pekerjaan nya ya," jelas Robi kepada wanita yang di pangil nya BI Juni itu.
Seketika wanita itu pun kaget, dan buru-buru mendekati Moza.
"Nona ... " ucap perempuan itu lagi sambil memegang tangan Moza.
Sementara Moza malah di buat semakin kebingungan oleh sikap perempuan tersebut yang seolah sudah biasa bertemu dengan nya.
Bersambung ....